• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Antara Peringatan 17 Agustus dan Kiai Subchi Parakan

 on Saturday, August 13, 2016  

Oleh: KH. Ahmad Baso

Ingat 17 Agustus, Harus Ingat Juga Kiai. Ulama Sakti Bambu Runcing Ini Juga Gurunya Jenderal Besar Sudirman.

Almaghfurlah KH. Subchi Parakan (+ 1855-1959)

Kiai Haji Subchi —sering juga ditulis Subeki atau Subuki— adalah pengasuh Pesantren Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kiai sosialis ini dikenal sebagai “Kiai Bambu Runcing” tempat ribuan pejuang kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 menimba ilmu, doa-doa dan jampi-jampi untuk senjata mereka sebelum terjun ke medan laga.

Kiai Subchi lahir di Parakan Kauman, Temanggung, sekitar tahun 1850. Berdasarkan penuturan KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974), waktu bertemu dengan Kiai Subchi di tahun 1945, usia Kiai Bambu Runcing ini sudah menginjak angka 90-an. Sementara dalam penuturan KH. Muhaiminan Gunardo Parakan, Kiai Subchi wafat pada tahun 1959 dalam usia kurang lebih 109 tahun. Berarti tahun kelahiran beliau diperkirakan 1850.

Kiai Subchi adalah putra sulung KH. Harun Rasyid, seorang penghulu mesjid di desanya, dengan nama kecil Muhammad Benjing. Setelah berumah tangga beliau berganti nama menjadi Somowardojo. Setelah naik haji beliau berganti nama lagi untuk kedua kalinya menjadi Subchi. Ketika masih bayi dalam gendongan ibunya sekitar tahun 1855 beliau dibawa mengungsi dari kejaran tentara Belanda dari satu desa ke desa lainnya. Maklum, waktu itu kakeknya, Kiai Abdul Wahab, putra Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta, adalah salah seorang anggota pasukan Pangeran Diponegoro yang ikut dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan penjajahan Belanda. Sisa-sisa pasukan Diponegoro usai penangkapan sang pangeran di tahun 1830 berpencar di beberapa tempat melanjutkan perlawanan di desa-desa sambil menghindar dari kejaran tentara Belanda. Termasuk kakek beliau yang mengundurkan diri bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga akhirnya ke Parakan, sebuah persimpangan tapal batas Karesidenan Banyumas, Kedu, Pekalongan, dan Semarang. Daerah dataran tinggi di kaki Gunung Sindoro itu menjadi tempat bertemunya bermacam-macam sisa prajurit Diponegoro dari berbagai daerah. Tidaklah mengherankan jika penduduk Parakan mempunyai unsur kebudayaan yang bercampur antara ketulusan rakyat Banyumas, kesabaran rakyat Kedu, keberanian rakyat Pekalongan, dan keterampilan rakyat Semarang. Karakter kebudayaan seperti inilah yang diwarisi keluarga Kiai Subchi.

Sejak kecil Kiai Subchi dididik oleh ayahnya langsung dalam disiplin keagamaan yang tinggi. Setelah itu beliau nyantri di Pondok Pesantren Sumalangu, Kebumen, Jawa Tengah, di bawah asuhan Syekh Abdurrahman (ayahanda KH. Mahfudh Sumalangu yang terkenal itu). Ada yang menyebut beliau pernah nyantri di Magelang, kemungkinan pada KH. Maksum (wafat 1929), pendiri pesantren awal di Magelang, yang juga merupakan paman KH. Muhammad Siradj Payaman Magelang. Sejak nyantri beliau sudah mengamalkan wirid yang diamalkan setiap malam, yakni  membaca al-Quran satu juz, sehingga dalam sebulan bisa  khatam 30 juz.

Kiai Subchi kemudian menikah dan dikaruniai delapan orang putra-putri: Nyai Waruyan, Zain, H. Abdurrahman, H. Syadzali, Nyai Suwaidah, Nyai Sofiyah, Nyai Umi Kultsum, dan Nyai Sulaiman. Setelah istri pertama beliau wafat, Kiai Subchi menikah lagi dengan seorang janda yang agak tua yang sudah punya dua orang putra, yaitu Walimin atau KH. Nur Ngadirejo (ayahanda KH. Mubasyir dan juga mertua dari Kiai Ali Parakan) dan Ny. Walimah (yang kemudian dinikahkan dengan Syadzali, putra beliau dari istri pertama). Dari istri yang kedua ini beliau tidak dikaruniai seorang anak. Untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya, beliau menggarap sawah dan bercocok tanam padi dan beberapa tanaman produktif lainnya.

Tidak heran kalau beliau sukses sebagai petani, hingga dikenal kiai yang kaya. Tanahnya ada di mana-mana, terlebih di sekitar Kauman. Tapi kekayaan tersebut tidak membuat beliau kikir. Masyarakat sekitar Parakan juga mengenal beliau sebagai pemurah dan suka membantu orang-orang yang kesusahan. Jiwa sosialnya tinggi. Di usia tuanya, tanah-tanah itu diberikan kepada penduduk sekitar yang tidak mampu dalam bentuk kontrak musyarakah atau sistem bagi hasil. Hasilnya dibagi dua antara beliau sebagai pemilik tanah dan pihak penggarap tanah. Kadang hasilnya berupa keuntungan dalam bentuk cash, kadang juga dalam bentuk pembagian tanah. Kiai Subchi memberi keuntungan yang terakhir ini kepada orang-orang yang tidak punya tanah. Inilah ide awal beliau tentang keadilan sosial atau sosialisme. Ini berbeda tajam dari sistem kapitalisme yang melihat manusia dalam dua kategori: majikan pemilik modal, termasuk tanah, dan kaum buruh yang dilepaskan haknya atas tanah.

Menurut Kiai Subchi, tidak ada artinya berbicara kesejahteraan, pemerataan pendapatan  atau keadilan sosial kalau warga Indonesia tidak punya alat produksi berupa tanah. Dan tanah itu harus dibagi bersama dengan mempertimbangkan aspek kekeluargaan sesama warga Indonesia. Dari sini kemudian muncul ide tentang tanah berfungsi sosial yang menjadi inti ide sosialisme atau distribusi pendapatan. Dan praktik musyarakah atau bagi hasil yang sudah dikenal bangsa kita sejak berabad-abad merupakan instrumen utama untuk mewujudkan distribusi atau pemerataan pendapatan itu. Seorang wartawan Amerika yang kemudian menjadi sarjana politik terkemuka, George McTurnan Kahin, dalam memoarnya berjudul Southeast Asia: A Testament (2003), pernah bertemu dengan Kiai Subchi. Mereka berdua berdiskusi tentang tatanan sosial-politik yang adil, termasuk ide sosialisme yang digali dari dalam tradisi pesantren itu. Seperti ide tentang musyarakah – yang kemudian bermetamorfosa menjadi “masyarakat” dalam bahasa kita. Waktu itu Kahin, yang mengkader banyak mahasiswa Indonesia di Cornell dalam ilmu politik, datang bersama Roeslan Abdulgani, menjabat Sekjen Departemen Penerangan, ke Parakan pada minggu pertama Desember 1948. Ide sosialisme Kiai Subchi dan pesantren ini kemudian diwujudkan oleh para pendiri bangsa ini (founding fathers) ke dalam konstitusi negara baru kita dalam Pasal 33 ayat satu: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”.

Kiai Subchi mendirikan pesantren di Parakan Kauman, sambil menggelar pengajian di mesjid jami’ Kauman, Parakan. Awalnya berupa pengajian kitab suci al-Quran dan kitab-kitab sederhana untuk anak-anak, lalu berkembang menjadi pesantren yang menyediakan pondok atau asrama untuk santri-santri yang berasal dari luar desa. Beliau juga membantu KH. Ali (wafat 1955) mendirikan Pesantren Zaidatul Ma’arif Parakan, yang hingga kini masih berdiri. Selain itu beliau juga aktif di organisasi umat Islam. Pada tahun 1913 beliau pernah ikut pertemuan Sarikat Islam (SI) di Parakan beserta kawan-kawannya, yang dihadiri oleh pimpinannya, H.O.S. Cokroaminoto. Waktu itu pemimpin SI ini rajin menggelar rapat dan pengkaderan (kader-vorming) di beberapa kota di Jawa. Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada tahun 1926, Kiai Subchi lalu ikut mendirikan NU di Temanggung, bersama beberapa kiai lainnya. Beliau menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Temanggung, didampingi KH. Ali (pendiri Pesantren Zaidatul Ma’arif Parakan) sebagai wakil rais dan KH. Raden Sumomihardho (ayahanda KH. Muhaiminan Gunardo, wafat 1946) sebagai sekretarisnya. Sementara KH. Nawawi (wafat 1968) bertindak sebagai ketua tanfidziyah pertama. Keempat ulama perintis NU Temanggung inilah yang kemudian dikenal sebagai “kiai-kiai bambu runcing” di masa revolusi kemerdekaan.

Kiai Subchi juga menaruh perhatian besar terhadap kaderisasi anak muda NU melalui Anshor NU (waktu itu disingkat ANO). KH. Saifuddin Zuhri misalnya menginformasikan bahwa sewaktu menjadi instruktur pengkaderan Anshor di Temanggung sekitar tahun 1941, menteri agama di era Sukarno ini menjumpai Kiai Subchi juga ikut mendampingi anak-anak muda NU itu selama kegiatan kaderisasi – meski saat itu usia beliau sudah tergolong sepuh.

Di masa pendudukan tentara Jepang, ada seruan mobilisasi pemuda untuk pertahanan negara dalam menghadapi Sekutu. Kiai Subchi dibantu beberapa kiai sepuh  ikut menggalang kekuatan pemuda yang didukung pemerintahan Jepang. Sewaktu Jepang menyerah dan Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, mobilisasi pemuda itu kemudian ditujukan untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia. Apalagi waktu itu ada ancaman kembalinya tentara Belanda yang membonceng kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia. Saat itulah para ulama berkumpul dari seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya yang dipimpin oleh Hadlratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari. Rapat ulama itu pada tanggal 22 Oktober 1945 kemudian menyatakan Resolusi Jihad bela agama dan negara. Tidak ketinggalan pula para ulama Temanggung. Di bulan November 1945 mereka membentuk Barisan Bambu Runcing atau Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Kiai Subchi duduk sebagai penasehat pertama, sementara Kiai Nawawi ketua. Karena minimnya perlengkapan persenjataan, maka dipilihlah bambu runcing sebagai senjata utama bagi para anggota laskar rakyat itu. Saat itu pasukan Sekutu menguasai kota Magelang, lalu menyingkir ke Ambarawa, sejak Oktober hingga November 1945. Di awal Desember 1945 ada rencana menyerbu tentara Sekutu dan mengusir mereka dari Ambarawa yang punya posisi strategis kala itu. Jarak ibukota Kabupaten Semarang itu ke Parakan sekitar 40 kilometer. Maka meletuslah pertempuran yang dikenal dengan Palagan Ambarawa pada 12-15 Desember 1945, yang membuat tentara Sekutu menyerah hingga ke Semarang.

Sebelum berangkat ke medan laga, berdasarkan fatwa KH. Subchi dan keputusan musyawarah pengurus NU, tiap malam diadakan mujahadah di kalangan para anggota laskar dan para kiai di Langgar Wali, Kauman, Parakan. Siang harinya mereka puasa mutih dan malamnya shalat hajat, shalat tahajjud, membaca wirid-wirid, termasuk Hizbun Nasr, dan Hizbul Bahri, serta bacaan Shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali dengan berjamaah serta membaca Shalawat Munjiyat sebanyak seribu kali. Dalam pelaksanaan mujahadah itu Kiai Subchi bertindak selaku penasehat utama. Bersama Kiai Sumomihardho dan beberapa kiai sepuh, beliau diminta memimpin prosesi penyepuhan senjata bambu runcing yang dibawa para pejuang. Penyepuhan dilakukan dengan membasuh senjata tersebut dengan air suci lalu memberinya doa-doa, mantra atau wirid tertentu agar bertuah dan efektif untuk membela diri maupun untuk menyerang musuh. Biasanya selama proses mengisi benda tersebut pelaku menjalankan puasa dan menghafal doa-doa disertai latihan pengisian tenaga dalam. Setelah benda yang diisi dengan energi spiritual melalui doa dan wirid tersebut dianggap sudah memadai, maka perlu dicek kekuatannya dengan menggunakan tenaga dalam. Prosesi penyepuhan itu disebut juga menyuwuk, dari kata suwuk, yakni memberkahi dan memberi doa-doa di bagian ujung bambu runcing.

Dari sinilah kemudian kisah awal mengapa Kiai Subchi identik dengan Kiai Bambu Runcing.

Bambu runcing memang pernah dipakai dalam latihan ketentaraan Seinendan pada zaman pendudukan tentara Jepang. Tetapi khusus penggunaan senjata rakyat itu dengan doa, wirid dan pengisian energi spiritual atau tenaga dalam, memang baru dimulai di Parakan, Temanggung. Dan nama Kiai Subchi-lah yang pertama muncul ketika disebut senjata ini untuk tujuan perjuangan kemerdekaan melawan penjajah bangsa asing.

Setelah itu ada kabar beredar di Temanggung bahwa Kiai Hasyim Asy’ari akan berkunjung ke Parakan untuk memberikan wejangan kepada BMT. Kemudian pengurus BMT serta para ulama segera mengadakan musyawarah. Hasilnya, mereka sepakat jangan sampai pendiri NU itu yang datang ke Parakan, tapi para kiai Parakan yang harus sowan kepada beliau di Tebuireng, Jombang. Maka berangkatlah KH. Subchi, KH. Nawawi, KH. Ali, serta KH. Syahid Baidowi. Setelah bertemu dengan pengasuh Pesantren Tebuireng ini, mereka diminta untuk menyepuh bambu runcing yang dilakukan dengan tata cara seperti di Parakan. Dan Kiai Subchi pun diminta memimpin penyepuhan itu. Sejak saat itu nama Kiai Subchi yang identik dengan bambu runcing mulai tersohor di Jawa Timur.

Usai kunjungan para kiai Parakan ke Jombang di akhir bulan November 1945, tidak berapa lama kemudian  berdatangan rombongan pemuda pejuang Laskar Hizbullah Jombang ke Parakan memakai pakaian serba hitam, termasuk peci hitam. Datang pula komandan Laskar Hizbullah wilayah Banyumas dan Kedu, KH. Saifudin Zuhri, bersama Mr. Wongsonegoro, Gubernur Jawa Tengah sejak 13 Oktober 1945. Lalu datang juga KH. Wahid Hasyim yang diantar KH. Saifudin Zuhri bersama KH. Masjkur (pimpinan pusat Laskar Sabilillah sebelum diangkat sebagai Menteri Agama di tahun 1947), KH. Zainul Arifin (komandan tertinggi Laskar Hizbullah), Mr. Kasman Singodimejo (tokoh Masyumi dan komandan Laskar Hizbullah, waktu itu menjabat Jaksa Agung), dan juga Anwar Tjokroaminoto (wartawan dan putra H.O.S. Cokroaminoto). Tujuan utama para tamu ini adalah bertemu dengan Kiai Subchi untuk meminta doa dan barakah beliau, termasuk meminta perkenan beliau untuk “menyuwuk”  para anggota laskar rakyat yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air. Mendengar permintaan tersebut, beliau menangis tersedu-sedu sambil berujar, “Mengapa mesti saya? Kenapa kalian tidak datang saja kepada KH. Siradj Payaman dan KH. Dalhar Watucongol [dua ulama Magelang yang sama-sama wafat pada tahun 1959], karena keduanya adalah ulamanya Gusti Allah (Kenging menopo panjenengan kok mboten sowan lan nyuwun dating KH. Siradj Payaman utawi sowan KH. Dalhar Watucongol; panjenenganipun kekalih meniko ulama'ipun Gusti Allah).”

Namun, tampaknya beliau tidak bisa menghindar. Menjelang pertempuran Ambarawa di bulan Desember 1945, Panglima Divisi V Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Kolonel Sudirman –sebelum menjadi Panglima Besar setahun kemudian – juga sempat singgah dari markasnya di Purwokerto ke markas BMT di Parakan dalam perjalanan menuju perang Ambarawa. Beliau sempat sowan dan minta barakah kepada Kiai Subchi. Kiai Saifudin Zuhri maupun Kiai Muhaiminan Gunardo menyebut kedatangan Kolonel Soedirman beserta pasukannya membawa peralatan tempur lengkap. Itu terjadi setelah bawahan beliau, Letnan Kolonel Isdiman, selaku komandan pasukan TKR dalam pertempuran Ambarawa gugur diserang Sekutu pada tanggal 26 November 1945. Komando pertempuran Ambarawa lalu diambilalih oleh tentara kader PETA ini. Mungkin karena keberkahan kiai Parakan ini, konon dalam cerita masyarakat, Jenderal Sudirman setiap kali akan terjun ke medan laga, terlebih dahulu mencari sumur warga untuk mengambil air wudhu.

Di masa-masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia setiap hari ada ribuan pejuang mampir ke Parakan dalam perjalanan mereka ke front-front pertempuran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan ada yang datang dari Jawa Barat. Di antaranya Pasukan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman, dan Laskar Pesindo di bawah pimpinan Krissubanu. Dalam buku otobiografinya, Hidup tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (2008), Ajip Rosidi pernah menulis pengalaman keluarganya di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, yang berjuang bersama laskar rakyat dan ikut berangkat ke Parakan naik kereta api.

Peran Kiai Subchi seperti ini kemudian menjadi incaran tentara Belanda. Dalam agresi militer kedua yang dilancarkan Belanda pada Desember 1948, mereka memasuki kota Parakan dan menggebrak rumah beliau. Kiai Subchi sempat menyelamatkan diri dan mengungsi keluar kota bersama beberapa kiai. Namun putra beliau, Kiai Abdurrahman, gugur tertembak setelah melakukan perlawanan. Ia merupakan syuhada pertama sejak Gerakan Bambu Runcing dari Kauman Parakan digelar. Presiden Sukarno kemudian menganugerahinya gelar pahlawan perintis kemerdekaan.

Kiai Subchi wafat pada hari Kamis tanggal 6 April 1959 (7 Syawal 1379 H) dalam usia kurang lebih 109 tahun dan dimakamkan di pemakaman Sekuncen, Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Parakan, Temanggung. Senjata bambu runcing dan foto beliau dipajang di Museum Monumen Yogya Kembali di Yogyakarta.
Source: akun fb pribadi KH. Ahmad Baso.

Antara Peringatan 17 Agustus dan Kiai Subchi Parakan 4.5 5 Pasti Aswaja Saturday, August 13, 2016 Oleh: KH. Ahmad Baso Ingat 17 Agustus, Harus Ingat Juga Kiai. Ulama Sakti Bambu Runcing Ini Juga Gurunya Jenderal Besar Sudirman. A...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme