• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Peran Kaum Santri Bagi Kemerdekaan Indonesia

 on Monday, August 22, 2016  

Oleh: HM. Jailani*

Pondok pesantren itu sejak awal didirikan di samping untuk mendalami ilmu agama juga ada misi melawan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Beda dengan sekolah umum, di Indonesia tidak sedikit sekolah umum yang justru  didirikan oleh penjajah untuk kepentingan penjajah juga.

Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti oleh penjajah Belanda adalah kaum santri. Salah satu contoh fakta sejarah —mari pembaca telusuri— dari ketiga orang santri berikut ini:

Pertama, ada seorang santri, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. KH. Hasan Besari adalah peletak dasar pendirian Pesantren Gontor.

Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kiai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun (1825-1830 M).

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III.

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri. Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.

Adapun nama lengkapnya adalah Kiai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Jika pembaca  pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu —istilah sekarang di Bakorwil— di situ ada tiga peninggalan Diponegoro yaitu: al-Quran, Tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib). Ini bukti yang tidak terbantahkan bahwa beliau adalah benar benar santri sejati.

Dua, Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri. Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Di antaranya, di Jogjakarta ada seorang kiai bernama Romo Kiai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan. Beliau punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kiai. Sungguh amat sayang, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di Sekolah-sekolah umum,  yang diterangkan hanya "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani"Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh. Sehingga siapa Ki Hajar yang sebenarnya tidak banyak di ketahui oleh murid.

Maka untuk itu rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran "tut wuri handayani", juga punya ajaran al-Quran Al-Kabir dan al-sunnah.

Tiga, Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis. Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.

Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur —yang kita semua hafal— adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu, Tuhan

Lagu itu disusun oleh cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justru membangun masjid. Hebat.

Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur.

Sampai pada kalimat "hayya 'alasshalâh", terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.

Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:

17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.

Maka peran para kiai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.

Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anak Anda ke pondok pesantren.

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur, Jakarta, minta didampingi putra kiai.

Tampillah putra seorang kiai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?

H. Mohammad Hatta putra seorang kiai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

Sayang, sejarah Bung Hatta sebagai seorang putra kiai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah.

Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh  Allah Swt.

Akhirnya, Bung Hatta menjadi Wakil Presiden pertama.

Coba pembaca pelajari tentang resolusi jihad (wajib perang melawan penjajah), pasti semakin paham bahwa peran kiai dan kaum santri sangat besar dalam meraih kemerdekaan ini. Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda ke Pondok-pesantren.

Semoga bermanfaat. Amin.
*Mantan staf BATARTAMA ATM Pondok Pesantren Sidogiri.

Peran Kaum Santri Bagi Kemerdekaan Indonesia 4.5 5 Pasti Aswaja Monday, August 22, 2016 Oleh: HM. Jailani* Pondok pesantren itu sejak awal didirikan di samping untuk mendalami ilmu agama juga ada misi melawan dan mengusi...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme