• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Sunan Al-Muhtadin li Al-Mawwaq: Kitab yang NU Banget

 on Sunday, August 14, 2016  

Oleh: Ahmad Nuriz Zain Tibyan

Ada kitab yang sangat layak untuk segera dibaca, khususnya bagi santri atau warga NU. Sebab kitab ini mengandung konten yang sangat dibutuhkan, untuk Indonesia, khususnya kondisi Indonesia, bahkan dunia saat ini. Akan saya sebutkan di bawah ini beberapa poin-poin penting yang menjadi konten di dalamnya. Sunan al-Muhtadîn fî Maqâmât ad-Dîn, karya Ibnu al-Mawwaq (w. 897 H).

Pertama, kitab ini, saya katakan Indonesia banget, tradisionalis banget, NU banget, pokoknya. Sebab apa? Sebab konten di dalamnya, sangat luas sekali penjabarannya, tentang banyak tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Bagus sekali, karena dalil serta metodologi istidlal-nya juga dijelaskan. Maka, kalau kitab ini dikatakan mengandung unsur “tad’im”, atau upaya penguatan argumentatif terhadap sebagian tradisi-keagamaan kita di Indonesia, dan juga unsur “naqd”, atau upaya counter kepada pemikiran yang tidak sejalan dengan garis mayoritas di Indonesia, itu benar sekali.

Termasuk misalanya, objek kritiknya kitab ini adalah kitab al-I’tisham, karya Imam asy-Syathibi (w. 790 H), yang kontennya sarat dengan kritik terhadap tradisi-sufi di sana (Maghrib Arabi), yang diasumsikan semakin jauh dari tuntunan agama, dan menampung perkara-perkara baru yang tidak dicontohkan oleh salaf. Menolak kesan secara tidak langsung, bahwa sufi mampu bergerak secara otonom, dan sedikit bisa terlepas dari kontrol syariat. Oleh karena itu, al-I’tisham muncul, mengulurkan tangan ingin menyelamatkan. Sehingga tak heran karakter al-I’tisham seperti itu.

Sebetulnya al-I’tisham tidak sendiri. Kitab sejenis al-I’tisham seperti kitab al-Madkhal karya murid besar Abi Jamrah (pemilik kitab Bahjah an-Nufûs), yaitu Imam Ibnul Hajj al-Maliki (w. 737 H). Ada juga, kitab ‘Umdat al-Muridi ash-Shâdiq, karya Zarrouq al-Fasi (w. 899 H). Kitab-kitab ini, memang sarat dengan kritik, terhadap beberapa pemalsu-pemalsu ajaran sufi di dunia Islam, bagian barat sana. Jadi, untuk membaca kitab-kitab ini, kita lihat terlebih dahulu, beberapa aspek yang ada hubungannya dengan pemicu karya itu muncul di permukaan.

Tapi akhir-akhir ini, kitab-kitab di atas, khususnya al-I’tisham, memang sering dialihfahamkan terhadap pemikiran ekstrim kanan. Memang! Kebiasaan Salafi-Wahabi demikian, tidak sportif; pokoknya ada kitab searah dengan (selera) mereka, mereka catut: disyarahi, dita’liq, bahkan kadang diubah. Seperti al-Ibanah-nya Imam al-Asy’ari, ‘Aqidah Imam ath-Thahawi, dan (yang jelas) kitab-kitab Ibnu Taymiyyah, dlsb.

Kedua, banyak keterangan unik dalam kitab ini. Misalnya, pembahasan mengenai kebiasaan pembacaan pujian-pujian seusai shalat, yang sangat populer di Indonesia. Beliau menjadikan hujjah apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar Ra. di waktu ada yang melapor padanya, bahwa ada seseorang yang punya kebiasaan melantunkan nyanyian (taghanni) setiap selesai shalat. Singkat cerita, bahwa setelah Sayyidina Umar tahu sendiri apa yang biasa dibaca oleh orang tersebut, kemudian Sayyidina Umar memperbolehkan.

Ada juga pembahasan tentang tujuh-harian pasca wafat, apa yang disebut dengan tradisi “at-Tashbîh” yaitu kebiasaan di sana, bahwa selama 7 hari pasca wafatnya seseorang, itu ada semacam ritual yang dilakukan selama 7 hari. Bahkan, sampai sekarang, di Maroko ada tradisi yang disebut “Dzikrâ Arba’îniyyah” atau peringatan 40 hari wafatnya mayat. Belum lagi keterangan Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, al-Hawî li al-Fatâwi (2/183), juga membahas tradisi 7 harian. Dalil yang digunakan hujjah adalah:

ﻗَﺎﻝَ ﻃَﺎﻭُﺱِ : ﺍِﻥَّ ﺍْﻟﻤَﻮْﺗَﻰ ﻳُﻔْﺘَﻨُﻮْﻥَ ﻓِﻰْ ﻗُﺒُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺳَﺒﻌﺎ ﻓَﻜَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳُﺴْﺘَﺤَﺒُّﻮْﻥَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻮْﺍ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍْﻻَﻳَّﺎﻡِ - ﺍِﻟَﻰ ﺍَﻥْ ﻗَﺎﻝَ - ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﻴْﺪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﻴْﺮِ ﻗَﺎﻝَ : ﻳُﻔْﺘَﻦُ ﺭَﺟُﻠَﺎﻥِ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻣُﻨَﺎﻓِﻖٍ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻓَﻴُﻔْﺘَﻦُ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖُ ﻳُﻔْﺘَﻦُ ﺍَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﺻَﺒَﺎﺣًﺎ .

Imam Thawus berkata: “Seorang yang mati akan peroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut.” Sampai kata-kata: “Dari sahabat Ubaid bin Umair Ra., dia berkata: 'Seorang mukmin dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan peroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari di waktu pagi.”

Dalil di atas adalah sebuah atsar yang menurut Imam as-Suyuthi derajatnya sama dengan hadis marfu’ mursal, maka sudah dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

ﺍِﻥَّ ﺃَﺛَﺮَ ﻃَﺎﻭُﺱَ ﺣُﻜْﻤُﻪُ ﺣُﻜْﻢُ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﺍﻟْﻤَﺮْﻓُﻮْﻉِ ﺍْﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻭَﺍِﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻰ ﺻَﺤِﻴْﺢٌ ﻛَﺎﻥَ ﺣُﺠَّﺔً ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻻَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺛَﺔِ ﺍَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴْﻔَﺔَ ﻭَﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻭَﺍَﺣْﻤَﺪَ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺷَﺮْﻁٍ ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﻳَﺤْﺘَﺞُ ﺑِﺎْﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻋْﺘَﻀَﺪَ ﺑِﺎَﺣَﺪِ ﺃُﻣُﻮْﺭٍ ﻣُﻘَﺮَّﺭَﺓٍ ﻓِﻰ ﻣَﺤَﻠِﻬَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻣَﺠِﻴْﺊِ ﺁﺧَﺮَ ﺍَﻭْ ﺻَﺤَﺎﺑِﻲِّ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻪُ ﻭَﺍﻟْﺎِﻋْﺘِﻀَﺎﺩ ِ ﻫَﻬُﻨَﺎ ﻣَﻮْﺟُﻮْﺩٌ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﺭُﻭِﻱَ ﻣِﺜْﻠُﻪُ ﻋَﻦْ ﻣُﺠَﺎﻫْﺪِ ﻭَﻋﻦ ﻋُﺒَﻴْﺪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﻴْﺮِ ﻭَﻫُﻤَﺎ ﺗَﺎﺑِﻌِﻴَﺎﻥِ ﺍِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻋُﺒَﻴْﺪٌ ﺻَﺤَﺎﺑِﻴًﺎ .

Kemudian kebiasaan doa dengan dipimpin satu orang, setiap setelah shalat, atau dalam perkumpulan-perkumpulan tertentu. Berdasar pada sebuah riwayat pada waktu Sayyidina Umar Ra. meminta untuk didoakan kepada semua orang yang berkumpul waktu itu, akhirnya Sayyidina Umar diminta memimpin doa untuk mereka semua. Dan juga permintaannya seorang laki-laki pada sahabat Anas Ra. untuk didoakan, kepada semua orang yang berkumpul waktu itu. Ada juga masalah talqin, dan masalah-masalah lainnya, yang sangat marak sekali dilakukan di sini, Indonesia, dengan corak argumentasinya yang sangat khas dari al-Mawwaq.

Ketiga, bagi saya kitab ini mampu menjadikan cara berfikir yang (cenderung) "kolot", baik merasa atau tidak, menjadi lebih luwes, luas, lembut dan santun. Sebab di dalamnya, seakan kitab ini adalah alat pijat refleksi yang bekerja mengendorkan ketegangan saraf cara berfikir, menjadi lebih lunak. Sehingga, kitab ini memang sangat penting dibaca, bukan hanya untuk meng-counter pemikiran keras Salafi-Wahabi, tapi juga bisa dijadikan pijatan refleksi, bagi warga kita sendiri. Misalnya, pemicunya adalah sebab belum tahu klasikal atau maqam tiap orang.

Beberapa maqam, atau tingkatan-tingkatan dalam beragama (tadayyun) bagi setiap umat Islam, perlu diketahui. Karena, kadang kita (saya utamanya) kurang objektif dalam memahami sesuatu, sebab dikira maqam-nya orang itu sama. Padahal, menurut Imam al-Mawardi misalnya, dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din dijelaskan, bahwa salah satu yang perlu dilihat bagi setiap pembicara (Mutakallim) adalah: situasi, kondisi, dan kata yang harus melalu seleksi, sehingga kalimatnya bijaksana dan kontekstual.

Keempat, ada 9 maqam dalam kitab ini, yang disebut dengan urutan ke bawah (Tadalli) kemudian urutan ke atas (Taraqqi) bagi setiap orang yang menjalankan agamanya. Sehingga, kitab ini, kata pengarangnya, bisa disebut “at-Tadalli wa at-Taraqqi”. Salah satu implikasi penting ketika mengetahui beberapa maqam ini, adalah akan mampu membaca tingkatan manusia, sekaligus model pesan-pesannya, dan akan pula tahu bagaimana sikap proporsionalitas dalam menempatkan posisi mereka, dan memahami kata-kata mereka, yang berbicara sesuai dengan tingkatannya masing-masing, dan konteksnya masing-masing pembicaranya.

Di dalam kitab ini, tidak sedikit penjelasan mengenai kata-kata hikmah para pembesar-pembesar agama, yang kadang disalah-artikan. Misalnya, perkataan Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah: “Istighfarku, butuh diistighfari lagi”, yang kadang membuat orang yang maqam-nya rendah menjadi putus asa, tidak PD dengan istighfarnya sendiri, akhirnya memilih tidak istighfar. Tapi dengan mengetahui beberapa tingkatan-tingkatan manusia, maka juga akan mengerti bagaimana cara mendudukkan kalam hikmah mereka. Jadinya, tidak mudah akan menyalahkan.

Sangat memilukan, ketika ada perkataan mulia dari orang mulia, kemudian difahami dengan salah. Apalagi sampai salah faham terhadap yang berkata. Misalnya, al-Burdah karya al-Bushiri, masih ada, dari kalangan Salafi abad ini, bahkan yang terkenal dengan lembutnya (dibanding yang lain), masih mengatakan bahwa dalam al-Burdah ini masih terdapat “ghuluw” atau keterlaluan dalam menyanjung Nabi Muhammad Saw. Ya itu, karena tidak sampai maqam-nya, tidak faham maqamnya, dan -sayangnya- juga tidak pernah mau mengerti maqam al-Bushiri.

Kelima, dalam kitab ini, juga banyak menjelaskan hakikat amar ma'ruf dan nahi munkar. Bahwa tugas ini, adalah tugas mulia, dan jangan sekali-kali menggunakan cara yang tidak mulia. Seperti dijelaskan, seorang pelaku amar ma'ruf atau nahi munkar, harus lebih dulu mengerti, bagaimana cara itu bisa disebut “nahi munkar”, misalnya. Apakah perkara khilafiyah termasuk yang harus diintimidasi atas nama kemunkaran juga?

Beliau, al-Mawwaq, banyak mengajak kita untuk luas cara berfikir, tidak mudah menyalahkan, dan tidak mudah mengambil sikap sesuatu apapun, kecuali didasari dengan ilmu yang konprehensif, dan dengan dada yang lapang. Kitab ini sama sekali tidak menafikan keragaman cara-cara yang bisa saja berbeda, tapi kitab ini, paling tidak memberikan penyeimbangan, dalam hal mengambil sikap. Tidak otoriter, dan tidak keras. Lembut, tapi tidak lembek.

Misalnya ketika ingin menyikapi orang yang maqam-nya masih sangat bawah, sehingga, pertimbangan perjalanan hidupnya masih labil, dan sangat disesuaikan dengan porsinya. Misalnya, katagori orang ini adalah “Dzâlim li Nafsih”, dengan tiga macam bentuknya. Maka cara menyikapi model orang seperti ini, tentu tidak akan sama dengan kelas menengah (Muqtashid) apalagi kelas VIP (Sâbiq).

Misalnya, bagi orang tertentu, dia berada pada satu model kejelekan (tentu harus terus dikembangkan), lebih baik, karena kalau semakin dibiarkan, maka akan melakukan dua, tiga, sampai empat macam dosa, misalnya. Atau orang yang sudah mampu mengambil hukum yang berat (‘Azimah) bagi dirinya, maka jangan sekali-kali memaksa orang lain untuk bersikap seperti dirinya, terhadap orang lain yang persneling-nya masih rendah, apalagi (tambah) mobilnya tidak sehat.

Keenam, kitab ini asyik. Karena nuansa sufinya, sangat kental sekali. Mushannif seringkali menyebut keterangan dari Ihya’-ya Imam al-Ghazali, Hikam-nya Ibnu Athaillah, dan ulama-ulama sufi yang lain. Jadi sekalipun kitab ini lahir di negara Islam bagian barat, yang nuansanya biasanya sering berbeda, tapi kali ini tidak. Al-Mawwaq, banyak, bahkan dominan menyebut tokoh sufi dari timur (Masyriq Arabi).

Ketujuh, kitab al-Mawwaq ini, juga seakan menjadi obat bagi pengidap "penyakit" kritis yang hampir membuat dokter menyerah. Kenapa saya katakan demikian? Sebab dalam kitab ini, banyak menjelaskan tentang bagaimana semestinya sikap hamba Allah yang berlumuran dosa, di hadapan Tuhannya. Mereka yang kadang menggunakan jurus “sekalian aja”, sehingga merasa sekalian menjadi orang buruk, biar tambah buruk saja. Beliau tidak; beliau tetap mengajak untuk tidak boleh berputus asa.

Ada, yang karena sudah merasa punya banyak dosa dalam satu hal, kemudian menjadi lemas, tidak ada spirit untuk berbuat kebaikan dalam hal lain. Padahal, Allah Mahabijaksana, Maha-adil, dan perbuatan baik itu bisa menghapus pebuatan buruk sebelumnya. Bukankah justru akan lebih membuat ia semangat berbuat baik, dalam hal yang ia masih semangat di situ, sekalipun ada dosa pada sebagian yang lain?

Bagi orang lain yang melihatnya, juga tidak akan menjadi memandangnya dengan pandangan merendahkan, sebab ada dosa yang udah diperbuat. Apalagi kita masih diperintahkan untuk baik sangka, dan tidak ada yang tahu penutup hidup seseorang.

Misalnya, orang yang mempunyai ilmu, kemudian tidak menyebarkan ilmunya, dengan alasan karena belum mengamalkan ilmunya, atau belum taat, itu salah. Menurut al-Mawwaq, orang punya ilmu yang tidak menyebarkan ilmunya, sebab merasa belum menjadi orang baik, adalah salah (maksiat) dua kali.

Begitu juga, orang yang tidak bisa hadir (khusyuk) dalam ibadah, misalnya dzikir, maka bukan berarti memilih tidak berdzikir. Seperti dawuh Imam al-Ghazali, bahwa berdzikir dengan hati yang lupa (ghaflah) itu lebih baik daripada lupa dzikir (tidak dzikir sama sekali). Begitu bijaknya al-Mawwaq, Imam al-Ghazali, dalam membimbing hati orang-orang menengah kebawah, kayak kita-kita ini.

Kedelapan, kitab ini juga menjelaskan pentingnya refreshing, piknik, selebihnya dari belajar dan ibadah. Karena manusia punya sifat bosan, dan manusia punya sifat lemah. Sedangkan nafsu perlu disiasati agar tidak mengalahkan manusia. Intinya, kita diajari rileks, bercanda, bahwa bermain pada waktunya itu juga dibutuhkan, dan juga diukur sesuai dengan kebutuhannya. Belajar hidup tidak tegang. Ada benarnya kata-kata “kurang piknik” itu yang kadang memicu bertindak yang tidak proporsional.

Masih banyak lagi konten kitab ini, yang belum saya urai. Maka, sangat baik untuk membaca kitab ini, khususnya warga NU, anak pesantren, anak bangsa, agar lebih mempunyai sikap yang lebih baik lagi. Amin.

Download kitab di sini
Source: SA (facebook)

Sunan Al-Muhtadin li Al-Mawwaq: Kitab yang NU Banget 4.5 5 Pasti Aswaja Sunday, August 14, 2016 Oleh: Ahmad Nuriz Zain Tibyan Ada kitab yang sangat layak untuk segera dibaca, khususnya bagi santri atau warga NU. Sebab kitab ini ...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme