• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, September 27, 2016

Hari Tani, PMII Se-Jatim Demo Gedung DPRD

Surabaya - Pasti Aswaja - Ratusan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) se-Jawa Timur mendatangi Gedung DPRD Jawa Timur dan melakukan aksi turun jalan di sepanjang koridor Indrapura Surabaya, Senin (26/09/16).

Aksi yang dikomandoi oleh Pengurus Koordinatr Cabang (PKC) PMII Jawa Timur tersebut bertujuan untuk menyuarakan hak-hak para Petani dalam momentum Hari Tani Nasional (24/09) dengan mengangkat tema "Lawan Perampas Tanah Rakyat".

Suasana mendung pada waktu itu terasa memanas ketika para kader PMII mencoba merangsek barisan blokade petugas polisi dari Polda Jawa Timur. Aksi saling dorongpun tidak bisa dihindari, sementara Ir. Soekarwo selaku Gubernur Jatim sedang tidak berada di Gedung DPRD.

Haris Sofwanul Faqih, koordinator aksi menuturkan, bahwa hampir seluruh daerah di Jawa Timur, lahan pertanian dialihfungsikan untuk kepentingan industrialisasi, "keuntungannya untuk para penguasa, sementara limbahnya untuk para rakyat kecil," ujarnya, seperti dikutip dari situs resmi KOPRI PMII Jawa Timur.

Sementara itu, Zainuddin, selaku Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur menambahkan, bahwa ekonomi dalam perspektif pemerintah selalu diidentikkan dengan angka yang bukan berpijak pada realita di lapangan, "pendapatan saja yang terus dikejar dan mendorong pihak asing atas nama investor untuk menanamkan modal. Sehingga mereka melupakan kualitas masyarakat tani," jelas pria asal Sampang, Madura tersebut.

Dalam aksi ini para aktivis PMII memberikan enam tuntutan kepada Pemda Jawa Timur. Pertama, distribusi tanah untuk rakyat secara merata bagi kepentingan pertanian; kedua, mewujudkan Undang–Undang No.05 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar pokok Pokok Agraria yang sejati dan seutuhnya; ketiga, tolak Smelter di Jatim yang akan mengancam lahan pertanian di Banyuwangi; keempat, nasionalisasi aset; kelima, stop liberalisasi tanah; dan keenam, menolak usaha tambang yang tidak pro-rakyat.

Demonstrasi itu akhirnya, bubar setelah adanya penandatanganan kesepakatan antara pihak PKC PMII Jatim dan Komisi B.

“Kegiatan-kegiatan industrialisasi di Jatim akan menjadi sorotan kami dan kami akan terus mengawal kebijakan-kebijakan Pemerintah daerah ke depan. Kami sangat berharap pemerintah dapat berpihak pada rakyat kecil!” tegas Zainuddin. (bor/ahn)
Share:

Sunday, September 25, 2016

Perlindungan dan Pemberdayaan Untuk Petani

Oleh: Muhammad Abror*

Tulisan singkat ini dimuat sebagai bentuk kepedulian terhadap petani yang kurang begitu mendapat perhatian dari pemerintah, mengingat pada hasi Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 24 September 2016 merupakan peringatan Hari Tani Nasional (HTN). Jadi, lebih tepatnya tulisan ini sebagai bentuk refleksi HTN dan kritikan terhadap 'oknum' yang saat ini sudah tidak peduli lagi kepada jantung negara ini, yaitu petani.

Petani adalah warga Negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani dibidang tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan/atau peternakan (bkppp.2013)

Berdasarkan Undang-undang (UU) Republik Indonesia nomor 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, dalam Bab I, Pasal I, Poin 1 disebutkan dengan jelas, bahwa yang dimaksud Perlindungan Petani adalah segala upaya untuk membantu petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan memperoleh prasana dan sarana produksi, kepastian usaha, risiko harga, kegagalan panen, praktik, ekonomi biaya tinggi, dan perubahan iklim.

Yang terjadi saat ini adalah banyaknya petani yang kurang begitu mendapatkan perhatian dan perlindungan, sehingga permasalahan yang dihadapi membuat semangatnya dalam menghasilkan pangan dengan kualitas terbaik dalam negeri semakin menurun. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya lahan kosong petani yang beberapa tahun terakhir menjadi gersang dan tidak dikelola dengan baik.

Masih dalam UU yang sama. Pada poin 2, yang dimaksud Pemberdayaan Petani adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan petani untuk melaksanakan usaha tani melalai pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana prasana pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan lahan pertanian, kemudian akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta penguatan kelembagaan petani.

Dalam hal ini, lagi-lagi petani tidak diperhatikan. Banyak petani yang sudah merasa enggan untuk mengelola lahan pertaniannya. Hal ini dikarenakan kurangnya pendampingan, pengembangan sistem, serta kurangnya pemanfaatan terhadap kelembagaan (salah satunya kelompok tani) yang sudah ada.

Dari tulisan di atas, muncul pertanyaan besar dalam benak penulis, "Dimanakah peran pemerintah dalam Perlindungan dan Pemberdayaan Petani sejauh  ini?"
*Ketua III PC. PMII Pamekasan.
Share:

HTN, Ini Harapan PMII Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Hari Tani Nasional (HTN) dirayakan setiap tanggal 24 September. Hal tersebut ditetapkan sebagai pengingat bahwa pada tanggal itu tahun 1960, Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Soekarno menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960).

Pada tahun 2016 ini, semangat petani untuk mengembangkan usaha taninya semakin menurun, hal inilah yang kemudian mengundang komentar penuh harap dari Sahabat Miftahul Munir, Ketua Umum (Ketum) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC. PMII) Pamekasan.

"Kebutuhan pangan kita tidak bisa lepas dari hasil jerih paya petani, jadi pemerintah harus bisa mensejahterakan hasil tani mereka," jelasnya, kepada Pasti Aswaja, Sabtu (24/09/16).

Menurutnya, petani di Kabupaten Pamekasan saat ini sudah tidak lagi memiliki kegigihan dan pesimis dalam mengelola hasil tani.

"Pamekasan semakin minim petani, para petani sudah pesimisi pada hasil tani mereka untuk bisa membiayai kehidupan mereka, sehingga mereka lebih memilih pergi keluar negeri untu menjadi TKI. Kalau para petani semakin sedikit, kapan Indonesia bisa mandiri dari kebutuhan pangan?!" Ujar pria yang akrab disapa Miftah tersebut.

Mahasiswa asal Desa Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan tersebut menaruh harapan besar terhadap pemerintah, agar para petani lebih diperhatikan.

"Harapan saya, bagaimana pemerintah bisa memberikan bimbingan pada para petani melalu kelompok tani, sehingga hasil tani bisa sesuai harapan dan harga jualpun ikut meningkat," paparnya. "Momentum (HTN. Red.) ini mengingatkan saya pada dawuh Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari. Beliau mengatakan bahwa 'Pak tani itulah penolong negeri." Pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, September 21, 2016

NU, PMII dan Pesantren Adalah Keluarga Besar

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Di kalangan warga NU ada adagium "NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil". Adagium ini secara implisit merupakan sebuah penjelasan bahwa NU adalah organisasinya santri dan pesantren. Sejarah juga menulis bahwa para founding fathers jamiyah ini adalah orang-orang pesantren. Tidak heran jika kemudian warga nahdliyin disebut juga "kaum sarungan".

Menurut Gus Dur, organisasi yang menjadi wadah bagi "kelompok tradisionalis" ini merupakan ORMAS Islam terbesar di dunia. Wajar jika kemudian organisasi ini memiliki banyak lembaga dan Badan Otonom (BANOM) —kepanjangan tangan NU— yang bergerak dalamberbagai bidang mulai kesenian, kebudayaan, profesi, kepemudaan, pelajar, mahasiswa dan lain sebagainya.

Terlepas dari itu semua, ada juga sebuah organisasi kemahasiswaan yang lahir dari "rahim" (baca: BANOM) NU yang bergerak di bidang kemahasiswaan. Organisasi ini adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang disingkat PMII.

Pada awalnya, PMII lahir dari Departemen Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada pelaksanaan Konferensi Besar (KONBES) yang pertama di Kaliurang pada tanggal 14-17 Maret 1960. Akan tetapi, dalam perjalanannya, pada 14 Juli 1972 melalui Mubes ke-III di Murnajati, PMII mendeklarasikan sebagai organisasi independen dan terlepas dari organisasi manapun (Free Stage Adventure). Pernyataan sikap ini dikenal dengan Deklarasi Murnajati.

Kendati demikian, secara "ideologis" maupun "metodologis" PMII tidak lepas dari paham Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA) yang merupakan ciri khas NU. Dengan kata lain, secara kultural-ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. ASWAJA inilah yang menjadi benang merah antara PMII dengan NU; ASWAJA ini juga yang menjadi pembeda antara PMII dengan organisasi kemahasiswaan lainnya. Pada perkembangan terakhir ini, independensi PMII dari NU lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja, sebab kenyataannya keterpautan moral dan kesamaan background, pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.

Pernyataan sikap PMII melalui Deklarasi Murnajati, ternyata belum mampu menjadikan organisasi ini mandiri secara total. Dalam membangun memang 'tak pernah bisa lepas dari tiga aspek asas; 1. Material Investment; 2. Human Skill Investment; 3. Moral Human Investment. Dan selama ini, semua selalu terikat dengan organisasi yang telah melahirkannya (baca: NU). Kenyataan inilah yang kemudian melahirkan keputusan "Interdependensi" PMII. Artinya, PMII tetap menjadi organisasi di luar NU tapi memperjuangkan nilai-nilai dan tujuan NU.

Jadi, tidak berlebihan jika Ketua Umun PB (Pengurus Besar) PMII, Aminudin Ma'ruf, pada perayaan HARLAH PMII ke-55 di Masjid Internasional Al-Akbar Surabaya, menginginkan warga PMII "back to pesantren", mengingat organisasi ini adalah organisasi kemahasiswaan yang lahir dari organisasi yang didirikan Kaum Sarungan untuk mengandi kepada agama, nusa dan bangsa. Apalagi, berdasarkan keputusan Komisi Organisasi pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, muktamirin menyepakati bahwa PMII adalah BANOM NU, meskipun di internal PMII keputusan Muktamar tersebut masih "belum final". Selain itu, dalam Ensiklopedia Nahdlatul Ulama, jelas-jelas di sana ditegaskan bahwa PMII adalah bagian dari NU.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq
*Wakil Sekretaris MWCNU Palengaan & mantan pengurus PC. ASWAJA NU Center Kabupaten Pamekasan Bidang USWAH.
Share:

Nama Baiknya Dilecehkan, PMII Pamekasan Lapor Polisi

Pamekasan — Pasti Aswaja Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC. PMII) Pamekasan mendatangi Mapolres Pamekasan untuk melaporkan pemilik akun facebook Nur Hasan Maysarah Albajuri (ditulis dengan huruf Arab) atas komentarnya yang mengandung unsur hate speech (ujaran kebencian) dan mencemarkan nama baik organisasi kemahasiswaan Nahdlatul Ulama (NU) itu, Selasa malam (20/09/16).

Pencemaran nama baik itu berupa pengubahan kepanjangan PMII, yang seharusnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, menjadi lain dan sangat tidak layak untuk disertakan dalam berita ini.

Langkah itu dilakukan setelah para pengurus berkoordinasi dengan para senioritas dan Majelis Pembina Cabang (MABINCAB) PMII Pamekasan.

"Keluarga besar PMII merasa tersinggung dengan plesetan PMII yang ditulis di medsos (media sosial. Red.)," ujar Akh. Fakih, Ketua MABINCAB PMII Pamekasan.

Dari kasus tersebut, mantan Ketua Umum PC. PMII Pamekasan ini berharap agar setiap orang yang aktif menulis di medsos lebih berhati-hati, "apalagi menyinggung perasaan secara institusi," harapnya. "Dan biar tahu bahwa hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik)," pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE Pasal (28) ayat (2) dan Pasal (45) ayat (2) pencemaran nama baik dan ujaran kebencian melalui media sosial bisa dikenakan hukuman penjara maksimal 6 tahun atau denda sebesar satu miliyar rupiah. (ahn)
Share:

Sunday, September 11, 2016

Pemuda NU Pamekasan Minta Pemerintah Mendata PNS Pendukung HTI

Pamekasan — Pasti Aswaja Gerakan makar anti demokrasi dan anti Pancasila oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang meresahkan. Organisasi ini tidak hanya menyasar masyarakat biasa, tapi juga Pegawai Negeri Sipil (PNS). PNS yang terindikasi berafiliasi terhadap organisasi yang berpusat di Inggris ini menurut Moh. Elman, Ketua PAC. GP. Ansor Proppo, Pamekasan, Jawa Timur, harus segera didata oleh inspektorat, "karena merekalah yang akan menghancurkan NKRI dari dalam," kata pemuda asal Proppo, Pamekasan ini, Sabtu (10/09/16).

Oleh karena itu, Elman meminta pemerintah untuk segera mengevaluasi semua PNS dari semua tingkatan mulai dari tingkat desa, kecamatan, kota dan kabupaten.

Mantan aktivis PMII Pamekasan ini melanjutkan, jika sudah terdata, maka selanjutnya pemerintah harus memberikan pengarahan untuk segera bertobat, "tapi jika mereka tetap melancarkan gerakan makarnya terhadap NKRI, maka pemerintah harus ambil langkah tegas untuk memberikan sanksi terhadap orang tersebut," ujarnya penuh semangat.

Demonstrasi anti demokrasi oleh Muslimah HTI.
Hal ini, masih menurut Elman, menjadi sangat penting karena para PNS itu selama ini hidup dan makan dari uang negara.

"Inspektorat dan kepegawaian dari masing-masing lini dan tingkatan daerah harus segera mendata, karena mereka selama ini mereka makan dari hasil uang Indonesia," kata mantan Presiden Mahasiswa STAIN Pamekasan tersebut. "Kapolda sudah mewacanakan melarang HTI di Jawa Timur, dan ini harus disambut baik oleh semua pihak," pungkasnya. (ahn/mad)
Share:

Thursday, September 8, 2016

Silaturrahim PCNU se-Dunia di Madrasah Shaulatiyah Arab Saudi

Makkah — Pasti Aswaja Silaturrahim Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-dunia dilaksanakan di Madrasah Shaulatiyah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (08/09/16). Pemilihan Madrasah Shaulatiyah ini bukan tanpa alasan, madrasah ini merupakan tempat belajar pendiri NU, Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asyari.

Dalam sambutannya, Syaikh Abdul Majid Mas'ud, pengasuh Madrasah Shaulatiyah, merasa sangat bahagia. Syaikh Majid juga mengucapkan selamat datang pada para pengurus jam'iyah Nahdlatul Ulama.

"NU adalah organisasi besar, terkenal, yang didirikan oleh Syaikh Hasyim Asyari yang pernah belajar di madrasah ini. Setelah ia pulang ke Indonesia, dia dirikan NU. Insya Allah barokah," katanya.

Madrasah Shaulatiyah tampak dari depan.
"Selain Hasyim Asyari, juga banyak para ulama setelah keluar dari madrasah Shaulatiah ini menjadi guru, hakim, ulama di daerahnya masing-masing; ada yang dari Malaysia, Maroko, Turki, dan lain-lain di beberapa tanah Hijaz," Syaikh Majid melanjutkan.

Kegiatan bertema "Napak Tilas Tempat Belajar Hadratus Syaikh KHM. Hasyim Asyari" ini dihadiri oleh Luqman Hakim Saifudin (MENAG RI), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais Am PBNU), Tuan Guru Turmudzi Badrudin Lombok NTB (Mustasyar PBNU), KH Zamzami dan KH Marsyudi (Wakil Ketua PBNU) dan Agus Maftuh (Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi). Hadir juga beberapa perwakilan dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) dari beberapa negara di antaranya: Pakistan, Jordan, Sudan, Lebanon, Tunisia, Syria, Maroko, Mesir, Yaman, Korea, London.

Saat memberikan sambutan, KH. Miftah menyampaikan, NU harus semakin menampakkan dakwah di seluruh dunia dengan konsep tawasuthnya, "karena dunia saat ini di hadapkan pada kelompok yang sama-sama ekstrim," kata mantan Rais PWNU Jawa Timur itu.

Hampir senada dengan KH. Miftah, Menteri Agama, meminta NU menjadi pelopor dalam tegaknya konsep kehidupan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah-tengah arus perubahan yang makin dinamis, "jangan sampe NU ikut-ikutan mnjadi kelompok yang merasa paling benar sendiri," pinta mantan aktivis PMII ini.

Sedang Dubes yang baru menjabat 6 bulan itu mengatakan bahwa ia sebagai Dubes akan memposisikan diri sebagai pelayan warga NU di Arab Saudi.

Iya juga mengatakan, bahwa dia adalah santri NU, "saya adalah santri, dan saya adalah NU," tegasnya. Kalau jadi santri harus tetap jadi santri, kapanpun, dimanapun. Saya sebagai Dubes tetap santri, pak menteri juga santri," lanjut mantan pengurus RMI NU itu. "Ibarat dalam ilmu nahwu, sekali dlamir 'na', tetap dibaca 'na', meskipun dalam posisi nashab, rafa' dan jazm tetap dibaca 'na'," pungkasnya.

Setelah sambutan-sambutan pada pembukaan itu, acara kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif manhaj Aswaja bersama Dr. Fahmi dan kemudian ditutup dengan doa. (vix)
Share:

Wednesday, September 7, 2016

Ketika "Presiden" Gus Dur Disetop Polisi

Pasti Aswaja — Suatu hari, Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Dari rumah Ciganjur, Gus Dur menaiki mobil pribadinya yang dikemudikan Nurudin Hidayat.

Tidak seperti biasanya, kali ini Gus Dur tanpa pengawalan mobil pratoli. Agar cepat sampai lokasi acara, Nuruddin pun menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jalanan ramai, banyak lalu lalang kendaraan lainnya.

Baru berjalan puluhan kilo meter di tengah kota, mobil Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Lewat microfon, polisi berteriak meminta mobil Gus Dur menepi di pinggir jalan.

"Selamat siang Pak," kata seorang polisi yang turun dari mobilnya.

"Siang juga," jawab Nuruddin seraya membuka kaca pintu mobilnya.

"Bapak mengemudi dengan kecepatan tinggi, sangat membahayakan," sahut polisi yang dibalas anggukan Nuruddin.

 Setelah beberapa pertanyaan diajukan, tiba-tiba polisi tadi bengong.

"Itu Pak Gus Dur, ya?” Tanya polisi sambil melihat Gus Dur tengah duduk tertidur di sebelah Nuruddin.

"Iya pak."

Tanpa menanyai kesalahan Nuruddin yang mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi, polisi mempersilahkan Nuruddin melanjutkan perjalanan lagi. Sudah lolos, polisi malah meminta izin untuk mengawal perjalanan Gus Dur sampai ke lokasi.

Saat Gus Dur bangun, ia bertanya perihal kejadian tersebut.  Nuruddin pun menjelaskan kepada Gus Dur panjang lebar hingga polisi mengawalnya. "Oooo. Belum tahu dia (polisi)," kata Gus Dur sambil tertawa ngakak.
Source: NU Online
Share:

Tuesday, September 6, 2016

MENPORA, Imam Nahrawi, Pernah Menjadi Penjual Kaligrafi Keliling

Jakarta — Pasti Aswaja — MENPORA (Menteri Pemuda dan Olahraga), Imam Nahrawi, menceritakan masa kecilnya saat melakukan Tapping berita One On One MNC News di Gedung MNC TOWER, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (05/09/16).

"Orang tua saya tidak pernah henti-hentinya untuk mengingatkan saya tentang ibadah, baik itu Shalat, mengaji, bersholawat, dan lain-lain," tutur mantan Ketua Umum PKC. PMII Jawa Timur ini.

Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga mengisahkan kondisi orang tuanya yang petani waktu dia masih kecil, "orang tua saya adalah seorang petani dan juga membuka warung makan," kenangnya. "Dari kecil ibunda saya mengajarkan bagaimana caranya memasak, bercocok tanam, dan lain-lain," lanjut Cak Imam, sapaan akrabnya.

Pria kelahiran Bangkalan, 8 Juli 1973 ini juga menceritakan bagaimana dia menjadikan pesan-pesan orang tuanya dulu waktu hidupnya masih pas-pasan.

"Sejak kecil saya didorong oleh orang tua bagaimana untuk bekerja, berusaha, dan mencari penghasilan yang halal," ujarnya. "Bahkan saya sempat berjualan Kaligrafi dengan cara berkeliling pasar untuk menjual kaligrafi saya," pungkas ayah 7 orang anak ini. (ahn)
Share:

Monday, September 5, 2016

Niat KH. Bisyri Musthofa Berhasil Menipu Setan

Salah satu perbuatan yang melekat pada diri syetan adalah menipu dan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Tapi kalau syetan ditipu manusia, maka hal itu menjadi menarik disimak.

Alkisah KH Ali Maksum pernah menyampaikan protes kecil kepada KH Bisyri Musthofa. “Kiai, tingkat keilmuan saya dengan sampeyan itu kan hampir ndak ada bedanya. Tapi mengapa sampeyan bisa melahirkan berbagai karya tulis dalam bentuk buku, sementara saya satu saja sulitnya bukan main. Apa rahasianya?”

KH Bisyri Musthofa dengan tersenyum menyampaikan kiat supaya bisa menulis buku dan menerbitkannya. “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menata niat dengan cerdik. Kita harus mampu menipu syetan, yaitu kita niyati menulis buku itu supaya kita dapat uang yang banyak.”

“Tujuannya biar kita bersemangat tinggi. Begitu buku sudah selesai, kita harus mengubah niyat tadi, bahwa kita menulis buku adalah untuk menyebarkan ilmu sambil memohon kepada Allah semoga buku tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat,” kata Kiai Bisyri.

Kenyataan, KH Bisyri Musthofa adalah kiai yang produktif menulis dan karya-karyanya sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama kaum Nahdliyyin. Contoh karya beliau yang terus dicetak ulang seperti Peshalatan, Tarikhul Awliya’, Terjemah Bulughul Maram, Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, dan yang paling fenomenal adalah Tafsir Al Ibriz yang sudah dicetak berulang-ulang dan banyak dikaji oleh warga Nahdliyyin.
Source: NU Online
Share:

Sunday, September 4, 2016

Seperti Apa Jilbab "Punuk Unta" Yang Dimaksudkan Dalam Hadits Imam Muslim?

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا-رواه مسلم
“Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya. Pertama. golongan yang membawa cambuk yang seperti ekor sapi dimana dengan cambuk tersebut mereka mencambuki orang-orang. Kedua, golongan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang,  yang cenderung (tidak taat kepada Allah) dan mengajarkan orang lain untuk meniru perbuatan mereka. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, dan mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal sungguh bau surga akan tercium dari jarak perjalan seperti ini seperti ini (jarak yang jauh). (H.R. Muslim)
Di dalam hadits ini dijelaskan dua golongan ahli neraka. Dan dalam penjelasan ini hanya akan dijelaskan mengenai golongan kedua saja.
Golongan kedua yang tidak akan masuk surga, yang digambarkan dalam hadits tersebut adalah para wanita yang berpakaian tetapi pakaiannya tidak menutupi auratnya, cendrung tidak taat menjalankan perintah dan larangan Allah swt, dan mengajarakan orang lain untuk meniru mereka. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring.
Kalimat “kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring” acapkali dipahami untuk menyamakan wanita-wanita yang memakai jilbab tetapi kelihatan menonjol di belakang jilbab. Pertanyaannya apakah benar penyamaan itu benar? Untuk menjawabnya maka kami akan menjelaskan apa sebenarnya arti dari kata asnimah al-bukht­.
Kata asnimah adalah bentuk plural atau jamak dari kata sanam. Dalam kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur dikatakan sanam al-ba’ir wa an-naqah artinya adalah punggung unta yang paling tinggi atau menonjol. Atau kita terjemahkan dengan punuk unta.
سَنَامُ الْبَعِيرِ وَالنَّاقَةِ أَعْلَى ظَهْرِهَا وَالْجَمْعُ أَسْنِمَةٌ
Sanam al-ba’ir wa an-naqah (punuk unta) adalah punggung unta yang paling tinggi, dan bentuk plural atau jamak dari kata sanam adalah asnimah. (Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, Bairut-Dar ash-Shadir, cet ke-1, tt, juz, 12, h. 306)
Sedang kata al-bukht maknanya adalah salah satu jenis unta yang besar punuknya. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab tafsir-nya yaitu al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an.
وَالْبُخْتُ ضَرْبٌ مِنَ الْإِبِلِ عِظَامُ الْأَجْسَامِ، عِظَامُ الْأَسْنِمَةِ
Al-bukht adalah salah satu jenis unta yang besar badannya yaitu besar punuknya”. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, 12, h. 311)
Berangkat dari penjelasan ini maka sabda Rasulullah saw: “Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring” diartikan dengan “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang besar punuknya dan miring”.  
Lantas bagaimana maksud bentuk kepala yang seperti punuk unta yang punuknya besar dan miring? Sebagaimana pertanyaan di atas. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
Menurut an-Nawawi, tafsir atau penjelasan yang masyhur adalah mereka para wanita-wanita itu membesarkan kepalanya dengan kerudung (khimar), sorban (‘imamah) dan selainnya yaitu dari sesuatu yang digulung di atas kepala sehingga menyerupai punuk-punuk unta.
Sedang menurut al-Marizi, mereka wanita-wanita itu suka memandang laki-laki, tidak menjaga pandangan dan tidak menundukkan kepala-kepala mereka.
Selanjutnya menurut al-Qadli ‘Iyadl adalah mereka memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, maka menjadi seperti punuk unta. Hal ini sebagaimana dikemukan an-Nawawi dalam Syarh Muslim.
وَأَمَّا رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ فَمَعْنَاهُ يُعَظِّمْنَ رُؤُوسَهُنَّ بِالْخُمُرِ وَالْعَمَائِمِ وَغَيْرِهَا مِمَّا يُلَفُّ عَلَى الرَّأْسِ حَتَّى تُشْبِهَ أَسْنِمَةَ الْإِبِلِ الْبُخْتِ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي تَفْسِيرِهِ قَالَ الْمَازِرِيُّ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَعْنَاهُ يَطْمَحْنَ إِلَى الرِّجَالِ وَلَا يَغْضُضْنَ عَنْهُمْ وَلَا يُنَكِّسْنَ رُؤُوسَهُنَّ وَاخْتَارَ الْقَاضِي أَنَّ الْمَائِلَاتِ تُمَشِّطْنَ الْمِشْطَةَ الْمَيْلَاءِ قَالَ وَهِيَ ضَفْرُ الْغَدَائِرِ وَشَدُّهَا إِلَى فَوْقُ وَجَمْعُهَا فِي وَسَطِ الرَّأْسِ فَتَصِيرُ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ قَالَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالتَّشْبِيهِ بِأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ إِنَّمَا هُوَ لِارْتِفَاعِ الْغَدَائِرِ فَوْقَ رُؤُوسِهِنَّ وَجَمْعِ عَقَائِصِهَا هُنَاكَ وَتَكَثُّرِهَا بِمَا يُضَفِّرْنَهُ حَتَّى تَمِيلَ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ جَوَانِبِ الرَّأْسِ كَمَا يَمِيلُ السَّنَامُ
“Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk untu” maka pengertiannya adalah mereka membesarkan kepala-kepala dengan khimar (kerudung) tutup kepala wanita (al-khumur) dan kain sorban (al-‘ama`im) atau yang lainnya dari sesuatu yang digelung (dikonde) di atas kepala sehingga menyerupai punuk unta. Ini adalah tafsir yang masyhur. Menurut al-Maziri kalimat tersebut boleh diartikan dengan mereka memandang laki-laki tidak menahan pandangan atau memejamkan matanya dari melihat laki-laki dan tidak menundukkan kepalanya. Menurut al-Qadli ‘Iyadl bawha “wanita-wanita yang cenderaung (al-mailat)” maksudnya adalah mereka menyisir rambut mereka dengan model sisiran rambut para pelacur. Yaitu memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, maka menjadi seperti punuk unta. Menurut al-Qadli ‘Iyadl, hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan menyerupai punuk unta itu karena tingginya jalinan rambut di atas kepala, terkumpulnya jalinan rambut di situ, dan menjadi kelihatan banyak (lebat) dengan sesuatu yang mereka pilin sehingga miring ke salah satu sisi dari beberapa sisi kepala sebagaimana miringnya punuk”. (Muhyiddin an-Nawawi, al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim, Bairut-Daru Ihya` at-Turats al-‘Arabiy, cet ke-2, 1392 H, juz, 17, h. 191)         
Kalau kita cermati pendapat an-Nawawi yang mengacu kepada pendapat mayoritas ulama dan pendapat Qadli ‘Iyadl maka kita akan menemukan titik kesamaan. Yaitu sama-sama membuat rambut kepala terlihat banyak atau lebat dari yang semestinya dan menaikkannya di atas kepala, bukan di belakang kepala, sehingga menyerupai punuk unta.
Yang membedakan keduanya hanya pada soal teknisnya saja. Kalau yang pertama menambahkan pada rambutnya dengan semisal sorban, kerudung atau yang lainnya yang digelungkan di atas kepala. Sedang yang kedua, dengan rambutnya sendiri, dengan cara  memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, sehingga menjadi menonjol seperti punuk unta dan miring ke salah satu sisi kepalanya.
Dengan demikian berkenaan dengan rambut yang panjang kemudian diikat dan terlihat menonjol di bagian belakang jilbab tetapi tidak menonjol di atas kepala, maka tidak masuk seperti punuk unta. Begitu juga dengan pemakaian daleman cemol. Sebab, tidak menjulang di atas kepala. Namun hal ini sepanjang tidak sampai menampakkan perhiasan kewanitaannya (izhhar az-zinah) dan menimbulkan fitnah.
Demikian penjelasan singkat ini, semoga bisa menambah wawasan kita semua. Dan saran kami jangan menggunakan pakaian termasuk juga jilbab yang terlalu mencolok yang dimaksudkan untuk menarik perhatian dan pandangan lawan jenis.
Source: NU Online
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts