Wednesday, September 21, 2016

NU, PMII dan Pesantren Adalah Keluarga Besar

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Di kalangan warga NU ada adagium "NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil". Adagium ini secara implisit merupakan sebuah penjelasan bahwa NU adalah organisasinya santri dan pesantren. Sejarah juga menulis bahwa para founding fathers jamiyah ini adalah orang-orang pesantren. Tidak heran jika kemudian warga nahdliyin disebut juga "kaum sarungan".

Menurut Gus Dur, organisasi yang menjadi wadah bagi "kelompok tradisionalis" ini merupakan ORMAS Islam terbesar di dunia. Wajar jika kemudian organisasi ini memiliki banyak lembaga dan Badan Otonom (BANOM) —kepanjangan tangan NU— yang bergerak dalamberbagai bidang mulai kesenian, kebudayaan, profesi, kepemudaan, pelajar, mahasiswa dan lain sebagainya.

Terlepas dari itu semua, ada juga sebuah organisasi kemahasiswaan yang lahir dari "rahim" (baca: BANOM) NU yang bergerak di bidang kemahasiswaan. Organisasi ini adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang disingkat PMII.

Pada awalnya, PMII lahir dari Departemen Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada pelaksanaan Konferensi Besar (KONBES) yang pertama di Kaliurang pada tanggal 14-17 Maret 1960. Akan tetapi, dalam perjalanannya, pada 14 Juli 1972 melalui Mubes ke-III di Murnajati, PMII mendeklarasikan sebagai organisasi independen dan terlepas dari organisasi manapun (Free Stage Adventure). Pernyataan sikap ini dikenal dengan Deklarasi Murnajati.

Kendati demikian, secara "ideologis" maupun "metodologis" PMII tidak lepas dari paham Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA) yang merupakan ciri khas NU. Dengan kata lain, secara kultural-ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. ASWAJA inilah yang menjadi benang merah antara PMII dengan NU; ASWAJA ini juga yang menjadi pembeda antara PMII dengan organisasi kemahasiswaan lainnya. Pada perkembangan terakhir ini, independensi PMII dari NU lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja, sebab kenyataannya keterpautan moral dan kesamaan background, pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.

Pernyataan sikap PMII melalui Deklarasi Murnajati, ternyata belum mampu menjadikan organisasi ini mandiri secara total. Dalam membangun memang 'tak pernah bisa lepas dari tiga aspek asas; 1. Material Investment; 2. Human Skill Investment; 3. Moral Human Investment. Dan selama ini, semua selalu terikat dengan organisasi yang telah melahirkannya (baca: NU). Kenyataan inilah yang kemudian melahirkan keputusan "Interdependensi" PMII. Artinya, PMII tetap menjadi organisasi di luar NU tapi memperjuangkan nilai-nilai dan tujuan NU.

Jadi, tidak berlebihan jika Ketua Umun PB (Pengurus Besar) PMII, Aminudin Ma'ruf, pada perayaan HARLAH PMII ke-55 di Masjid Internasional Al-Akbar Surabaya, menginginkan warga PMII "back to pesantren", mengingat organisasi ini adalah organisasi kemahasiswaan yang lahir dari organisasi yang didirikan Kaum Sarungan untuk mengandi kepada agama, nusa dan bangsa. Apalagi, berdasarkan keputusan Komisi Organisasi pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, muktamirin menyepakati bahwa PMII adalah BANOM NU, meskipun di internal PMII keputusan Muktamar tersebut masih "belum final". Selain itu, dalam Ensiklopedia Nahdlatul Ulama, jelas-jelas di sana ditegaskan bahwa PMII adalah bagian dari NU.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq
*Wakil Sekretaris MWCNU Palengaan & mantan pengurus PC. ASWAJA NU Center Kabupaten Pamekasan Bidang USWAH.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Theme Support