Saturday, December 3, 2016

Komunikasi dan Pembentukan Karakter Feminis

Komunikasi dan Pembentukan Karakter Feminis
Oleh: Siti Surayah*

ABSTRAK
Kehidupan sehari-hari tidak lepas dari faktor komunikasi, baik verbal maupun non-verbal yang ada di masyarakat, hal ini juga membutuhkan penafsiran yang sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Tak ayal, terkadang pola komunikasi ini terkadang menjadi multi tafsir yang membuat kesalah pahaman dalam suatu gerakan khususnya gerakan feminis yang ada di Indonesia. Peran dan pola komunikasi yang dibentuk juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak khususnya kaum maskulin yang notabenenya adalah laki-laki dengan memahami sadar gender yang masuk dalam inpres tahun 2009.

Kata kunci: gender, feminis, karakter komunikasi feminis

Pendahuluan
Gerakan feminisme masih menjadi perbincangan hangat di era modern ini. Faham feminis menjadi acuan dasar dalam gerakan gender di Indonesia, baik secara sosial, budaya, politik dan ekonomi. Tidak dipungkiri, bahwa paham ini menjadi dasar gerakan perempuan di Indonesia di segala lini. Tak ayal jika di era modern yang ditopang dengan berbagai sistem informasi yang memadai membuat pola gerakan di Indonesia menjadi lebih mudah dalam menyuarakan hak-hak perempuan dan para aktifis perempuan.

Sebagai bahan kajian, secara teoritis, feminis menjadi objek penelitian di mana dihubungkan dengan pengalaman perempuan dalam gerakan gender, kedua menjadi subjek, dimana para feminis mencoba memandang dan menganalisa teori ini dari kacamata perempuan. Selanjutnya, teori ini bersifat kritis pada sifat-sifat yang mengacu pada marjinalisasi terhadap perempuan.

Jika berbicara tentang pola komunikasi saat ini mampu membentuk pola karakter yang berbeda-beda, tergantung dari sisi mana akan bergerak. Proses interaksi yang dipilih oleh sebagian komunitas atau organisasi inilah yang membentuk karakter pola komunikasi untuk mencapai tujuannya.

Hubungan yang dibangun oleh manusia dengan manusia lainnya tidak hanya sebatas interaksi sosial saja, melainkan ada beberapa efek yang mempengaruhi pola karakter yang diberikan oleh komunikan. Salah satu contoh ketika si A sering berinteraksi dengan si B dan itu berlanjut terus menerus, sedikit banyak akan mempengaruhi pola komunikasi yang sama, apalagi menggunakan pola komunikasi yang sistematis. Dalam teori sosiologi hubungan manusia dengan manusia yang lain merupakan suatu keharusan atau tuntutan yang mesti dilakukan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bias hidup sendiri tanpa yang lain, termasuk dengan alam sekitar (Johan:14).

Di Indonesia banyak sekali gerakan-gerakan perempuan yang mengacu pada pola gerakan dan karakter feminis. Baik dari kalangan mahasiswa, masyarakat arus bawah bahkan pejabat-pejabat perempuan yang bergerak dibidang ini. Berbagai macam LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dibidang gender, apalagi inpres tahun 2009 tentang pengarus-utamaan gender yang memberi kesempatan bagi kaum perempuan dalam menduduki posisi kursi pemerintahan.

Sinkronisasi antara peran komunikasi dalam pembentukan karakter gerakan feminis ini tidak lepas dari teori-teori barat yang dikonsumsi perempuan Indonesia. Di sini bias ditelaah bahwa pola komunikasi sangat mempengaruhi pada karakter-karakter gerakan perempuan. Misalnya, jika mengacu pada teori gerakan liberal, pola dan karakter komunikasinya cenderung memaksa dan bebas dalam setiap gerakan, baik dalam pengasahan intelektual maupun ideologi yang dianut. Beda lagi dengan pola karakter komunikasi feminis sosial dan lain sebagainya. Dalam gerakan ini memiliki karakter yang berbeda-beda, tergantung paham mana yang diambil.

Perempuan saat ini sangat mandiri jika melihat pada perkembangan zaman, sistem patriarki mulai menghilang dan konstruk budaya baru mulai berkembang. Bahwa peran perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Berani menunjukan perannya sebagai perempuan dan mulai mengeluarkan aspirasinya dalam memberikan kesadaran pada masyarakat bawah tentang pentingnya berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Pola komunikasi yang diterapkannyapun lebih mudah karena lawan bicaranya adalah perempuan.

Teori sikap feminis berpijak pada empat asumsi yang menurut Janet Saltzman Chafetz (1997) dalam memberikan karakter pada teori feminis manapun: (1) jenis kelamin atau gender merupakan fokus utama dalam teori ini; (2) hubungan jenis kelamin atau gender dipandang suatu yang problematis, dan teori ini berusaha untuk memahami bagaimana jenis kelamin atau gender berhubungan dengan ketidaksetaraan dan kontradiksi; (3) hubungan jenis kelamin atau gender dipandang sebagai sesuatu yang dapat diubah; dan (4) teori feminis dapat digunakan untuk menantang status quo ketika status quo ini melecehkan atau merendahkan wanita (Richard:181).

Gagasan dan ideologi karakter pola komunikasi dari dunia barat banyak mempengaruhi dan mendorong gerakan-gerakan yang mengakar rumput. Mulai dari tatanan atas yang dinaungi oleh pemerintah ataupun PBB, guna menyuarakan hak-hak perempuan. Harapannya agar tidak ada lagi penindasan bagi kaum perempuan yang masih marak di Indonesia. Gerakan emansipasi wanita dalam memperjuangkan hak dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan sudah mengubah cara pandang masyarakat di Indonesia. Pendidikan dan peran di sosial semakin merata. Kesadaran dan pentingnya mengasah intelektual serta keterbukaan wawasan membuat kaum feminis semakin gencar dalam keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, baik secara regional, nasional bahkan internasional. 

Karakter Komunikasi dan Feminisme
Beberapa teori feminis yang menjadi aliran bahkan dijadikan acuan bagi gerakan-gerakan di Indonesia: pertama, feminis liberal; gerakan ini lebih pada pandangan yang mengacu pada kebebasan pada setia individu. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia, demikian menurut mereka, punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan (dalam Steeves,1987:100) feminis liberal menuntut kebebasan dalam segala lini, baik sosial, ekonomi, politik dan budaya, bahkan dalam hal pendidikan. Kedua, feminis radikal; dimana penindasan yang terjadi berawal dari budaya patriarki. Ketiga; feminis sosiali, seperti pemikiran Karl Marx yang menginginkan penghapusan kelas. Feminis sosialis berfikir bahwa tidak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan.

Dari ketiga acuan teori diatas, pada dasarnya terlalu keras jika diterapkan di Indonesia melihat bahwa Nusantara ini memiliki berbagai suku dan budaya yang tentunya memiliki perbedaan dalam hal kearifan lokal, maka ada pemikiran baru yang masuk dalam rekomendasi dunia yakni feminis multikultural di mana hal ini sangat menghargai kearifan lokal atau local wisdom, tujuannya adalah bagaimana setiap teori yang dikonsumsi tetap menghargai dan menciptakan budaya baru tanpa menghapus buda lama, bahkan tetap mempertahankan sebagai kearifan lokal. 

Status yang dilabelkan terhadap perempuan dalam pola dan karakter feminis masih melekat dalam budaya masyarakat, yakni antara superior dan inverior yang membuat salah satu gender ini merasakan sanksi diskriminatif, pola komunikasi superior yang dilabelkan terhadap laki-laki cenderung meremehkan perempuan setiap kali berbicara didepan publik, padahal, pada dasarnya perempuan juga memiliki sikap superior di depan publik. Tidak hanya itu saja, streotype yang konstruk oleh masyarakat terkait sifat maskulin dan feminim juga menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak, khususnya perempuan yang notabene mengandalkan perasaan. Pada akhirnya karakter pola yang dibangun oleh gerakan feminis masih kurang maksimal di ranah publik. 

Kesimpulan
Bahwa peran komunikasi dalam pembentukan karakter feminis masih kurang maksimal dalam lingkup ruang publik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dukungan masyarakat bagi perempuan dalam mengupayakan berkembang dan majunya pola komunikasi dalam gerakan perempuan guna bertujuan meningkatkan peran perempuan baik di ranah publik maupun domestik. Meskipun berbagai macam teori yang menjadi acuan dalam mendukung pengarus-utamaan gender dengan 30% kursi pemerintahan harus diduduki oleh perempuan, pada kenyataannya masih sedikit yang memenuhi standar dan kualitas dalam mengemudi roda pemerintahan. 

Saran 
Perlu adanya kesadara masyarakat bahwa perempuan berperan penting dalam semua lini, baik ekonomi, sosial, budaya, politik serta publik maupun domestik dalam hal kemajuan bangsa dan negara. Kesadaran inilah yang harus dimulai dari pribadi masing-masing, bahwa sadar gender tidak hanya bertumpu pada perempuan, tapi juga laki-laki. 

Daftar pustaka
Djoko purwanto. Komunikasi bisnis.2006.Jakarta.Erlangga
Teuku Syaiful Bahri Jonan.Pembentukan Karakter Melalui Makna, Nilai, dan Hikmah Kehidupan. Google book
https://books.google.co.id/books.peran+komunikasi.false 
http://adiprakosa.blogspot.co.id/2007/12/gender-dan-komunikasi.html 
*Siti Surayah (Lembaga Pengembangan Kaderisasi PKC PMII Jawa Timur)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive

Theme Support