• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, January 31, 2017

Harlah NU ke-91, Netizen NU Berhasil "Kuasai" Media Sosial

Pasti Aswaja – Berbagai cara dilakukan oleh warga NU (Nahdlatul Ulama) untuk merayakan Hari lahir (Harlah) NU ke-91 yang bertepatan pada hari ini, Selasa (31/01/17).

Tidak hanya kegiatan-kegiatan seremonial, dunia mayapun menjadi media untuk merayakan Harlah ORMAS terbesar di dunia ini.

Salah satu ekspresi kebahagiaan nahdliyin adalah membubuhi hashtag (tanda pagar) #HarlahNU91 pada setiap postingan di jejaring sosial.

Berdasarkan pantau Pasti Aswaja, hashtag itu seharian "nagkring" di urutan pertama tranding topic di media jejaring sosial twitter.

Sampai berita ini diturunkan, hashtag itu masih belum digantikan oleh tranding topic yang lain. (bor/ahn)
Share:

NU: Stum Indonesia

Oleh: Rijal Mumazziq Z.

Pasti Aswaja – Di Timur Tengah, ketika perang saudara bergolak, para ulama sudah berusaha keras mencegahnya, tapi gagal. Penyebabnya antara lain mereka tidak menghimpun diri dalam wadah yang solid dan punya basis kuat di masyarakat. Di sini, kita beruntung punya NU dan Muhammadiyah yang selain punya akar kuat di masyarakat, keduanya juga sudah mengawal RI sejak kelahirannya hingga saat ini.

Meski secara personal anggota NU dan Muhammadiyah banyak terlibat politik praktis, dan ini merupakan sebuah keniscayaan, namun secara organisatoris keduanya tetap bergerak pada rel kebangsaan. Tak bisa ditawar. Maka, jika dicermati, NU dan Muhammadiyah memilih menahan diri ikut campur dalam politik eceran yang remeh temeh.

Andai kata dalam aksi 411 & 212 NU serta Muhammadiyah latah ikut-ikutan aksi secara organisatoris, maka kelompok "kanan" semakin leluasa memanfaatkan dukungan ini untuk aksinya. Lha wong tanpa dukungan saja, nama NU dan Muhammadiyah sering dicatut untuk aksi intoleransi dan provokasi ini itu, apalagi kalau jelas-jelas mendukung. 

Aksi 411, jika diamati, sebenarnya ada pihak-pihak yang menunggu jatuhnya korban jiwa. Ini jika menelusuri pola chaos yang ada di lapangan. Lihat saja pancingan yang dijalankan kubu jaringan Al-Qaidah dan simpatisan ISIS di Medsos. Mereka menyebarkan hoax seputar aksi 411, juga menambahi kata-kata provokatif "Polisi Berusaha Membunuhi Demonstran!", "Aparat Menembaki Para Mujahid", "Aparat Memprovokasi Umat Islam", "Polisi Lepaskan Tembakan, Mujahidin Terluka", dan beberapa kata-kata lain. Kalau panjenengan paham peta medsos, niscaya kita bakal menemukan benang merah gerakan sistematis yang dijalankan ISIS dan simpatisan Al-Qaidah di sini. Kedua kelompok ini memang saling sembelih di Suriah, tapi di Indonesia mereka mulai merapatkan diri dengan kesatuan isu. Ironisnya, beberapa simpatisan FPI memakan dan menyebarkan secara massif pola semacam ini.

Dalam aksi 411, jika diamati lebih dalam, ada beberapa pihak yang menunggu aksi ini rusuh lalu ada martir. Jika ada yang terbunuh akibat ulah aparat, maka isu yang digoreng semakin yahud, persis awal mula revolusi di Tunisia, di mana seorang penjual sayur dikukuhkan menjadi martir dan lambang revolusi. Jika ada martir dan glorifikasi kisah, maka setelah itu, akan ada aksi internasionalisasi konflik, seperti di Suriah, di mana eksponen garis keras memanfaatkan isu dan hoax untuk mengundang datangnya jihadis internasional. Dampaknya? Rakyat Suriah malah terusir dari tanah airnya.

Sampai saat ini, manakala saya menerima ajakan revolusi melalui WA dengan gambar-gambar bombastis dan susunan kalimat provokatif, saya hanya membalas, "Revolusi apa, cak?!". Nggak peduli yang ngirim sms tokoh terkemuka atau sahabat saya. Ayolah belajar dari Libia, Irak, Afganistan, Yaman, dan Suriah. Berapa juta korban jiwa dalam Gegap Gempita Revolusi yang ditawarkan oleh segelintir orang dengan kepentingan politik pribadi dan kelompoknya, berapa juta saudara-saudara kita yang terlunta-lunta akibat janji Revolusi Rakyat di Suriah? Setelah Muammar Qadhafi terbunuh, apakah Libia damai? Tidak. Di sana kaum Islamis yang egois menyusun pemerintahan sendiri di Sirte, sedangkan kaum sekuler yang keras kepala punya pemerintahan sendiri di Tripoli. Ini belum menghitung dampak kerugian psikologis rakyat Libia akibat segelintir orang menuruti bisikan Barat untuk melakukan revolusi. Dan, tahukan anda, aktor yang memprovokasi perang melawan Qadhafi saat ini sudah berpindah ke Suriah. Libia remuk, Suriah lebur. Bagaimana dengan Yaman? Sama terseok-seoknya. Perang hanya menyisakan luka, trauma dan derita. Kita tentu tidak ingin hal ini menimpa kita. Indonesia memang tidak sesempurna dan seideal imajinasi sebagian bigot yang melakukan teror atas nama agama, tapi di sini, lebih realistis dan nyata untuk menjalankan ibadah dan mewujudkan maslahat.

Tunisia, sumbu awal revolusi di kawasan Arab, nyaris perang saudara. Untung di sana ada lembaga-lembaga yang menjaga kondusifitas negeri sehingga chaos hanya berlangsung sejenak dan tidak menjalar lebih besar. Api kerusuhan dipadamkan melalui dialog nasional oleh gabungan aksi Serikat Buruh Umum Tunisia (Union Générale Tunisienne du Travail/UGTT), Konfederasi Industri Tunisia, Serikat Perdagangan dan Perdagangan Kerajinan (Union Tunisienne de l’Industrie, du Commerce et de l’Artisanat/UTICA), Liga Hak Asasi Tunisia (La Ligue Tunisienne pour la Défense des Droits de l’Homme/LTDH), dan Orde Pengacara Tunisia (Ordre National des Avocats de Tunisie). Kwartet organisasi ini menjalankan inisiasi perdamaian yang juga didukung oleh para ulama yang memilih meredam gejolak di masyarakat. Mereka menghindari kemudaratan daripada sekadar mendahulukan kemaslahatan.

Mesir nyaris perang saudara, untunglah ada dewan ulama di Al-Azhar yang menjadi penyeimbang antara kubu sekuler dan Islamis. Efek sampingnya, ulama Al-Azhar dicaci sebagai pendukung rezim Assisi. Padahal bukan soal dukung mendukung kekuasaan. Yang dikehendaki oleh ulama al-Azhar adalah kondusifitas negeri yang berdiri di atas semua golongan. Jika anda melihat fitnah yang dilancarkan oleh beberapa orang terhadap ulama Al-Azhar, maka mengapa masih heran melihat kiai-kiai NU difitnah dan dicacimaki karena keinginan menempatkan Indonesia sebagai rumah bersama?

NU dan Muhammadiyah harus menjadi pendulum yang menjaga keseimbangan gerak bandul politik yang semakin liar. Sebagaimana dhawuh KH. Syaroni Ahmadi, NU (dan Muhammadiyah) persis silinder/stum. Selinder alias stum memang nggak keren, nggak lincah, dan tampilannya juga nggak mencolok. Jelas, kekuatannya bukan terletak pada tampilan, melainkan pada gerakannya yang lambat tapi mantab dan jelas jalurnya, serta berfungsi memuluskan kemaslahatan "jalan raya" umum, bukan jalur kelompok saja.

Jadi, tetaplah NU dan Muhammadiyah menjadi pencegah kebakaran di satu sisi, dan berfungsi sebagai selinder di sisi lain. Selamat harlah NU (versi masehi), ke-91!

WAllahu A'lam Bishshawab
Share:

Harlah ke-91 NU, LESBUMI Pamerkan Bermacam Karya Kuno

Jakarta – Pasti Aswaja – Sejumlah naskah kuno yang berisi berbagai ajaran Islam baik yang berhubungan dengan fiqh, akhlak dan tasawuf dipamerkan dalam even Pra Harlah yang diselenggarakan oleh Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) dan PBNU di lantai 8 Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat.

Diantara naskah-naskah tersebut terdapat mushaf Al-Quran tua yang ditulis tahun 1825 oleh Kiai Abdullah (Kudus), tafsir Al-Quran tua yang berhuruf pegon serta kitab Mas Buchori yang ditulis dalam huruf Jawa kuno.

Dipamerkan juga replika mushaf Al-Qur'an awal koleksi KH. Said Aqil Siradj, yakni mushaf yang disusun pada masa Sahabat Rasulullah SAW yang belum memiliki tanda baca sama sekali sebagaimana Al-Quran yang ada sekarang.

Selain naskah-naskah kuno, pada ruang pamer juga terpajang sejumlah senjata seperti keris, tombak dan kujang yang berasal dari masa kerajaan Mataram, Demak, Majapahit dan Pajajaran.

Juga tampak karya seni berupa lukisan dan wayang menyemarakkan ruang pajang yang bertempat di bagian luar pintu masuk ruang diskusi helatan Pra Harlah NU 91 itu.

Para pengunjung pameran yang sebagian besar juga hadir sebagai peserta Ngaji Sejarah dan Sinema pada hari Senin (30/01/17) tampak antusias melihat-lihat pajangan keris dan naskah-naskah kuno tersebut dengan tanda tanya dan kekaguman yang besar.

Selain berusaha meminta informasi terkait benda-benda bernilai sejarah tersebut kepada panitia, mereka juga menyempatkan diri berfoto di samping lukisan diri KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang berukuran cukup besar. Rencananya pameran masih akan digelar hingga sore hari ini (31/01/17). (ahn/mam)

Berikut gambar-gambarnya:















Source: @Lesbumi
Share:

Monday, January 30, 2017

NU Sanggalangit, Paku Bumi, Bolopendhem, Sing Mbahurekso, Pondasi, Sokoguru NKRI

Oleh: Shuniyya Ruhama*

Sejarah NU sudah dimulai sejak NKRI belum ada. NU adalah jawaban atas kebutuhan mendasar dari Umat Islam setelah Kerajaan Turki Utsmani dihapuskan. Dunia Islam digemparkan dengan direbutnya Hijaz oleh Wahaby dalam kudeta berdarah. Situs-situs Islam dihancurratakan. Ulama Nusantaralah yang bereaksi. Membentuk Komite Hijaz untuk menuntut Raja Saud sehingga berhasil memaksa Raja tersebut untuk: Membatalkan rencana penghancuran atas makam Nabi Muhammad SAW, memperbolehkan orang Islam naik haji ke Makkah-Madinah, dan memberi kebebasan bermadzhab bagi penganut non-Wahaby.

Komite Hijaz dibubarkan, dan berganti nama dengan Nahdlatul ‘Ulama pada tahun 1926. Dalam kepemimpinan KH Hasyim Asy’arie, NU mampu melakukan banyak hal yang luar biasa, namun tidak tercatat dalam sejarah. Diantaranya: berhasil meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk memasukkan hukum nikah menurut syariat Islam yang disesuaikan dengan hukum masa itu. Jadi, bukan semata-mata adopsi dari hukum Belanda saja. Tercatat juga, berhasil memberi masukan untuk masalah hukum waris yang disesuaikan dengan syariat Islam. Tak ketinggalan juga memberi masukan yang bagus sekali mengenai pajak Rodi, yakni pajak bagi orang Hindia Belanda yang ada di luar negeri. 

Saat bangsa Indonesia menyongsong kemerdekaannya tak ketinggalan NU memiliki peran yang luar biasa besarnya, antara lain: menggerakkan secara massif berdirinya sekolah-sekolah formal non pesantren, baik sekolah umum maupun kejuruan. Kemudian untuk mempersatukan umat Islam, maka NU menggandeng organisasi Islam di Indonesia untuk membentuk  Majlis al Islamy al A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937, memperkokoh ukhuwah Islamiyah untuk merespons tekanan-tekanan Pemerintah Belanda atas umat Islam. 

Saat Jepang menguasai Hindia Belanda, maka MIAI tetap menjalankan tugas. Sayangnya berusaha mengkampanyekan kehebatan Dai Nippon. Terutama dengan memperalat ulama terkenal untuk melegitimasi penjajahan yang mereka lakukan. Kembali NU bangkit, mempelopori pembubaran MIAI dan dengan lihainya membentuk Masyumi yang berusaha menjawab persoalan masyarakat luas pada saat itu dengan menekankan nilai-nilai nasionalisme menuju Indonesia merdeka. 

Bahkan para ulama memobilisasi para santri dan pemuda Islam untuk melakukan latihan militer. Tujuannya hanya satu: menuju Indonesia merdeka. Yang penting bisa menguasai persenjataan modern. Di kemudian hari lahir banyak sekali kesatuan bersenjata dari pemuda Islam dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. 

NU melalui Masyumi aktif dalam berbagai forum untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, membuat  Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar 1945. NU-lah yang berhasil menjadi jalan tengah, win-win solution bagi kelompok Islam dan Nasional sekuler. Maka berhasillah NKRI terwujud.

Melihat Indonesia merdeka, Belanda tidak rela. NU melalui resolusi jihad menyerukan jihad semesta melawan Sekutu. Penjajah berhasil dipukul mundur dan Indonesia diakui kedaulatannya oleh seluruh bangsa di dunia.

Perjuangan NU tidaklah berhenti. Sikap para intelektual petualang dianggap meresahkan di tubuh Masyumi. Bahkan dhawuh para Ulama sering tidak digubris lagi. Maka NU di bawah kepemimpinan KH Wahab Hasbullah menyatakan keluar dari Masyumi dan mendirikan partai sendiri. 

Keputusan ini dinilai sangat mengejutkan, karena benar-benar menggembosi kekuatan Masyumi sebagai partai terbesar pada masa itu. Namun, keputusan ini menjadi indah di kemudian hari saat ternyata ada beberapa tokoh Masyumi yang terlibat pemberontakan Permesta. NU selamat.

Pada tahun 1965, kembali NU memiliki peranan penting dalam melawan paham Komunis yang telah banyak membantai kaum muslimin dan mencederai akidah Islam. 

Pada Pemilu 1971 Partai NU menjadi partai pemenang kedua di Indonesia. Capaian yang luar biasa, hingga mengkhawatirkan pemerintah Orde Baru yang mulai menancapkan kekuasan otoritariannya. Maka Partai NU difusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan bersama beberapa partai Islam lainnya.  

Melihat kecurangan tersebut, KH Abdurrahman Wahid bersama beberapa Kyai melakukan manufer dengan mereformasi NU yang dikenal dengan Kembali ke Khittah NU 1926. NU kembali sebagai Jam’iyyah Diniyah yang bergerak di sosial keagamaan, bukan di Partai Politik. Sikap ini berhasil menyelamatkan NU dari keterpurukan.

NU kembali lebih fokus berkhidmah untuk bangsa Indonesia. NU juga dengan gamblang menerima Pancasila sebagai asas tunggal. NU tetap kritis kepada pemerintah. 

Ketika gelombang reformasi tahun 1998, Indonesia diguncang berbagai macam isu. NU kembali tampil. KH Abdurrahman Wahid menjaga khittah NU untuk tidak menjadi Partai Politik. Beliau mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa untuk mewadai suara warga NU, dengan tetap memperbolehkan warga NU memilih partai di luar PKB. Orang di luar NU juga dipersilahkan untuk menjadi anggota ataupun simpatisan partai ini. Terbukti NU mampu menjawab tantangan jaman dan permasalahan umat.
Jaman terus berganti, waktu terus berlalu NU dengan segala dinamikanya berhasil membuktikan sumbangsihnya yang luar biasa dalam perjuangan bangsa ini. Tak terkata lagi sumbangsih nyata NU dalam peradaban bangsa Indonesia.

Bayangkanlah jika negeri ini tanpa ada NU, tentu tak akan bisa dibayangkan. Bisa jadi sudah tinggal cerita saja. Karena itu, sebagai warga NU, kita wajib bangga dan wajib meneruskan perjuangan para pendahulu kita. Dari NU untuk NKRI.

Jika NKRI goncang maka NU-lah yang bertanggungjawab. Bagi NU, NKRI adalah Harga Mati.
*Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri Kendal.
Share:

Saturday, January 28, 2017

Isu Ninja 98

Oleh: Taufiqurrahman

Tahun 1998 saya masih remaja bau kencur belum tahu politik. Namun aktivitas bapakku sebagai pengurus NU dan guru ngaji di salah satu surau kecil dengan santri sekitar 60-an, banyak bersentuhan dengan persoalan politik. Bapakku rajin menceritakan bagaimana bangsa ini didirikan, perjuangan guru-guru bapakku menjadi pejuang sabillah, memimpin perang melawan penjajah, hingga mengisi kemerdekaan yang diperjuangkannya.

Menjadi pengurus NU di masa Orde Baru (Orba) merupakan masa-masa sulit (menurutku). Apalagi setelah NU menjadi Ormas yang tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik. Meskipun demikian, politik NU tetap ditakuti oleh Orba. Berbicara politik di masa Orba, misalnya di pertemuan lailatul ijtimak tingkat ranting, bisa berujung tahanan di kantor Koramil dan Kodim setempat. 

Namun magnet ulama yang begitu besar, tidak membuat orang NU keder dengan intimidasi korp berbaju doreng. Bahkan perbincangan dan pencerahan politik terhadap nahdliyyin terus berkembang pesat, terutama di era KH Abdurrahman Wahid menahkodai PBNU.

Rangkaian peristiwa pembunuhan dan pelanggaran Hak Asazi Manusia (HAM) dengan korban orang NU terus bermunculan. Di Sampang ada tragedi Nipah, di Situbondo ada tragedi pembakaran gereja, dan di sejumlah daerah lainnya juga terjadi. Hingga puncaknya di tahun 1998 setelah Orba tumbang melalui people power. 

Orang NU di Jawa dibuat tidak tenang. Termasuk keluarga saya. Rangkaian pembunuhan guru ngaji yang diawali di Banyuwangi, terus merembet ke daerah lainnya. Rangakaian pembunuhan ini dikenal dengan isu NINJA. Bapak saya, menyaksikan sendiri peristiwa di Banyuwangi bagaimana guru ngaji dibunuh. Karena kebetulan mengantarkan santrinya yang kawain ke Banyuwangi. 

Teror pembunuhan terhadap orang NU akhirnya sampai juga ke Madura. Rumah-rumah kiai dijaga ketat oleh warga. Mereka melean semalam suntuk dengan senjata tajam dibawa kesana kemari. Orang-orang bingung mencari ijazah kekebalan. Amalan kekebalan yang tak pernah diamalkan, kembali dibaca.

Keluargaku hidup di tengah-tengah komunitas non NU. Tetangga banyak yang ikut organisasi Sarekat Islam (SI). Dengan demikian, menghadapi teror pembunuhan terhadap kiai NU kami hadapi sekeluarga. Tetangga enggan berjaga di rumah, karena beda kiai NU dengan kiai SI. Tapi bapak saya tak gentar meskipun sendirian. 

"Lihatlah saya anakku, saya santrinya Kiai As'ad Syamsul Arifin dan K Toha Sumber Gayam, tak pernah diajari takut untuk berjuang bersama NU," kata Bapakku waktu itu. 

Saya yang masih lugu tak begitu mencerna secara mendalam pesan itu. Sebagai remaja, saya tak sekuat Bapakku untuk melean semalam suntuk untuk berjaga-jaga. Terlelap sedikit, suara Bapakku menggelergar sehingga saya terperanjat untuk ikut mellean. 

Untuk menghindari kemungkinan terburuk, keluargaku tidak tinggal di dalam rumah. Tetapi tidur di luar rumah. Logikanya, jika ada serangan Ninja yang katanya memiliki ilmu seperti ninja yang diputar di layar tancap, tidak akan menemukan penghuninya.

Setiap malam situasi terus mencekam. Suatu malam, kakak iparku datang hampir tengah malam. Lampu halaman rumah yang dipadamkan, tidak begitu jelas menampakkan wajah siapa yang datang. Kejadian mengerikan hampir terjadi. Kakak iparku hampir ditebas dengan pedang yang tidak pernah lepas dari tangan bapakku. Beruntung iparku lekas menyebutkan namanya.

Kejadian mengerikan tidak sampai menimpa keluargaku. Namun, orang Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, menjadi korban pembunuhan sadis warga di Kecamatan Kadur. Orang ini dimassa, dibunuh, dipotong lehernya kemudian ditendang kesana-kemari. Korban diisukan sebagai kawanan pasukan Ninja yang akan membunuh kiai di Kecamatan Kadur.

Peristiwa inipun perlahan reda dengan sendiriny. Gus Dur, Ketua PBNU tetap menghimbau agar orang NU tetap tenang dan waspada jangan terpancing dengan isu-isu politik yang berkembang. 

Rangkaian pembunuhan kiai-kiai NU di tahun 1998, menurut Bapakku mirip seperti di tahun 1965. Bedanya, kemasan isunya antara Komunisme dan Agama. Peristiwa yang paling mencuat hingga menjadi salah satu pemicu pembantaian ribuan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madura dan Jawa, terbunuhnya tokoh sentral NU, KH. Jufri, pengasuh pondok pesantren Assyahidul Kabir, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan. Pasca peristiwa itu, situasi negara semakin kacau. Banyak aktivis Ansor terlibat dalam aksi pembunuhan di mana-mana. Peristiwa ini masih terus menimbulkan misteri sampai hari ini. 

Akhir-akhir ini, sekelompok masyarakat gencar mengisukan kembangkitan PKI. Bahkan ada tokoh yang mengklaim mengetahui langsung bahwa di istana Presiden setiap malam digelar pertemuan orang-orang PKI. Namun setelah disomasi, tokoh tersebut bungkam. Sebagai sebuah isu, ini patut diwaspadai. Meskipun kita belum tahu dari mana ujung sumbu isu berada. Mudah-mudahan kelak akan terang. 

28 Januri 2017.
Share:

Thursday, January 26, 2017

Kang Said dan Habib Rizieq Dua Benteng Aswaja

Oleh: Imron Rosyadi

Bismillahirrohmanirrohim.

Pantang bagi saya untuk membenci Al Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, sebagaimana pantang bagi saya untuk membenci Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA,

Anda mau membenci salah satu atau keduanya langsung, silahkan itu hak anda, tapi jangan paksa saya untuk membenci salah satu atau bahkan sampai membenci keduanya.

Di dalam beberapa hal saya sering berbeda pandangan terhadap keduanya, tetapi tidak lantas membuat saya langsung membenci begitu saja.

Saya paham betul, saya menyukai Habib Rizieq Shihab selain karena beliau dzurriyyatur Rasul (keturunan Rasulullah) juga saya sering menyimak isi tausiyah-tausiyahnya yang sarat keilmuan dengan rujukan-rujukan kitab Aswaja, beberapa kali bertemu secara langsung uraian hikmah yang beliau paparkan dengan santun dan jelas.

Begitu juga dengan KH. Said Aqil Siradj, beliau bak seperti kitab kuning berjalan, dalam beberapa kesempatan menyimak tausiyah beliau secara langsung, seringkali beliau memaparkan dengan hafal betul berdasarkan teks asli dalam sebuah Kitab dengan penjelasan makna lengkap dengan juz berapa dan halaman berapa.

Terkait beberapa hal yang kurang enak didengar dari beliau berdua, saya menganggap hal itu akibat pemberitaan-pemberitaan yang berbau fitnah, hasutan, cacian, dan hinaan sehingga tersulut akan emosi sebuah keadaan.

Awalnya saya khawatir sejak kejadian 411 dan 212, saya menduga Habib Rizieq Syihab hanya dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok pembenci Aswaja dengan dalih menyatukan Umat Islam, dibuatlah 'branding' Habib Rizieq Syihab sebagai ujung tombak dalam situasi ini.

Tetapi kekhawatiran saya berubah drastis, ketika tanggal 2 Desember 2016, bayangkan ratusan ribu Umat Islam yang dulunya membenci maulid nabi pada saat itu ikut serta dalam mengagungkan Rasulullah melalui syair-syair shalawat yang sebagian dari umat Islam menganggap sebagai bid'ah sesat dan menyesatkan.

Beliau berhasil menyatukan jutaan umat Islam dari berbagai madzhab, aliran, ormas, kelompok, dan golongan umat Islam pada saat itu, sehingga tidak heran jika saat ini beliau sedang disasar untuk dijatuhkan melalui berbagai permasalahan.

Tak beda jauh dengan KH. Said Aqil Siradj, anda mungkin banyak yang membenci akibat hasutan-hasutan dan fitnahan-fitnahan yang sering menimpa beliau. 

Perlu anda ketahui bahwa beliau adalah Ketua Umum PBNU yang sah dan legal telah direstui oleh para kiai-kiai sepuh yang tidak diragukan lagi kapasitas kealimannya melalui wadah Ahlul Halli Wal 'Aqdi yang terdiri dari 9 Ulama Sepuh diantaranya:

  1. KH Makruf Amin dari Jakarta 
  2. KH Nawawi Abdul Jalil dari Pasuruan 
  3. Tuan Guru Turmudzi dari NTB 
  4. KH Kholilul Rahman dari Kalimantan Selatan 
  5. KH Dimyati Rois dari Jawa Tengah 
  6. KH Syaikh Ali Akbar Marbun dari Medan 
  7. KH Maktum Hannan dari Cirebon 
  8. KH Maemun Zubair dari Jawa Tengah 
  9. KH Mas Subadar dari Pasuruan   

Saran saya, anda tidak usah ikut-ikutan membagikan berbagai berita negatif yang anda sendiri belum tahu akan kebenarannya. Saya berbicara atas nama pribadi, tidak mewakili siapapun, dan tidak mewakili apapun.

Mungkin saya berbeda pandangan dengan sebagian dari anda, silahkan jika anda ingin membenci saya, tapi saya sangat berusaha untuk tetap tidak membenci anda.

Tidak usah eyel-eyelan antara pecinta kiai dan pecinta habaib.

Yang jelas orang NU tulen pasti cinta habaib, dan para habaib juga pasti mencintai NU.

Jangan terpengaruh hasutan-hasutan yang bertujuan untuk menghancurkan Nahdlatul Ulama dengan membenturkan antara NU dan para habaib.

Anda mau mengikuti pandangan saya? Silahkan. Anda berbeda pandangan dengan saya? Juga silahkan.

Gunakanlah sosial media dengan bijak dan santun.
-- Tegal, 25 Januari 2017 --
Share:

Tuesday, January 24, 2017

Peran Istri di Balik Kesuksesan Suami

Pasti Aswaja – Suatu hari di danau yang penuh dengan ratusan buaya ada pertandingan, bagi siapa yang berani menceburkan diri ke danau dan naik lagi ke tepi danau akan mendapatkan hadiah Rp.100 juta.

Setelah ditunggu sekian lama tidak ada seorang pun yang berani terjun ke danau. 

Tiba-tiba terdengar suara "byyyyuur" dan terlihat ada seorang laki-laki terjun ke danau kemudian dengsn sekuat tenaga ia berenang menuju tepi danau degan raut muka yang pucat karena dikejar ratusan buaya yang kelaparan, dengan napas tersengal sengal, akhirnya sampai juga di tepi danau.

Pengunjung bersoraaaak, sambil berdiri dan bertepuk tangan...kagum dan takjub dengan keberania laki-laki tersebut.

panitia memberi salam kepadanya demikian pula diberikan hadiah Rp. 100juta.

Tetapi dia marah sekali.  berkata sambil setengah berteriak: "Saya mau tahu, siapa tadi yang sengaja mendorong saya ke danau?"

Setelah menengok ke belakang terlihat isterinya, mengacungkan jari, sambil tersenyum bahagia karena mendapatkan uang 100 jt.

Benarlah kata pepatah "DI BELAKANG SUAMI YANG SUKSES, ADA SEORANG ISTERI YANG SELALU MENDORONGNYA."
Oleh: Abi Husna
Share:

Sunday, January 22, 2017

Ribuan Nahdliyin "Banjiri" Daurah Aswaja PCNU Pamekasan

Pamekasan – Pasti Aswaja – Pengurus Cabang Aswaja NU Centre Kabupaten Pamekasan gelar Daurah Aswaja An-Nahdliyah bersama KH. Marzuki Mustamar, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, Minggu siang (22/01/17) di Kantor PCNU, Jl. R. Abd. Aziz no 95 Pamekasan.

Setelah paginya mengisi Daurah ASWAJA di STAIN Pamekasan bersama PC. IPNU Pamekasan, KH. Marzuki langsung bertolak menuju Kantor PCNU Pamekasan. (Baca juga: Ratusan Pelajar Hadiri Daurah ASWAJA PC. IPNU Pamekasan)

KH. Ihyauddin Umam, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan mewakili memberikan sambutan atas nama PCNU Pamekasan. Menurutnya, sangat penting untuk memberikan bekal ASWAJA kepada seluruh Nahdliyin (sebutan untuk warga NU).

"Oleh karena itu, kami (PCNU Pamekasan. Red.) mengadakan acara daurah ini, agar aqidah warga NU," tegasnya.

Dalam acara ini, seluruh peserta yang hadir, terdiri dari ; PCNU, Banom, Lembaga, MWC NU, PRNU, PARNU dan perwakilan dari pesantren basis NU se-Pamekasan diberikan buku Mukhtashor Al-Muqtathofat li Ahli Al-Bidatah, karangan KH. Marzuki Mustamar secara gratis. (bor/ahn)
Share:

Ratusan Pelajar Hadiri Daurah ASWAJA PC. IPNU Pamekasan

Pamekasan – Pasti Aswaja – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC. IPNU) Kabupaten Pamekasan gelar Dauroh ASWAJA bersama KH. Marzuki Mustamar, Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, Minggu pagi (22/01/17) di Auditorium STAIN Pamekasan.

Digelarnya acara ini merupakan respon PC. IPNU Pamekasan dari situasi bangsa saat ini.

"Kita ketahui bersama, saat ini banyak bermunculan kelompok, aliran dan organisasi transnasional. Oleh karena itu, acara ini digelar untuk membentengi pelajar dari gerakan-gerakan yang membahayakan NKRI," jelas Kadarisman, Ketua PC. IPNU Pamekasan dalam sambutannya.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, KH. Taufiq Hasyim, mengapresiasi atas digelarnya acara ini.

"Saya menyambut baik acara ini (Daurah Aswaja. Red.), karena digelarnya acara ini menunjukkan kebangkitan pelajar NU di Pamekasan," jelas alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut.

Sampai berita ini diturunkan, ratusan pelajar yang hadir masih sangat antusias mendengarkan penyampaian dari KH. Marzuki Mustamar. (bor/ahn)
Share:

Thursday, January 19, 2017

Kang Said Bimbing Anggota DPRD Kota Kediri Baca Syahadat

Jakarta – Pasti Aswaja Setelah benerapa hari lalu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj, membimbing dua warga negara Jepang membaca dua kalimat syahadat, kini Kiai yang akrab disapa Kang Said itu kembali membimbing seorang laki-laki untuk membaca dua kalimat syahadat, Kamis (17/01/17) di kantor PBNU, Jl. Kramat Jaya, No. 164.

Hal ini disampaikan oleh Robikin Emhas melalui akun facebooknya.

"Alhamdulillah, hari ini, Kamis, 20 Rabi'ul Akhir 1438 H / 19 Januari 2017 M, di Kantor PBNU, anggota DPRD Kota Kediri atas nama Sudjono Teguh Widjaja, telah memeluk agama Islam, dibawah bimbingan KH. Said Aqil Siroj," tulis ketua Lembaga Bantuan Hukum NU (LBHNU) itu 2 jam yang lalu.

Sontak saja gambar itu menuai banyak komentar dari para netter. Mereka bersyukur dan mendoakan Sudjono.

Selain menambahkan gambar, mantan Ketua Umum PMII Malang itu juga mengunggah video prosesi pembacaan syahadat oleh Sudjono.

Untuk diketahui, Sudjono Teguh Widjaja adalah anggota DPRD dari partai Golkar Kota Kediri periode 2014-2019. Waktu Pemilu 2014 yang lalu, ia memperoleh 3.346 suara dari Dapil Kota Kediri 2.

Berikut videonya: (ahn/zai)

Share:

Tuesday, January 17, 2017

Menjelaskan Arti "ML" Pada Anak Kecil

Sepulang sekolah, seorang anak perempuan yang masih duduk di Kelas 3 SD bertanya pada ibunya, "Ma, mau tanya, maksudnya ML itu apa ya?"

Mendengar hal itu, ibunya kaget dan bingung mau menjelaskan mengenai hal itu.

"Bagaimana, ma? Kok mama diam saja?" kata si anak mendesak ibunya.

"Wah. Kamu dengar dari mana istilah itu?"

"Kok pakai bertanya, kan tinggal jelasin saja? Aku pengen tau artinya apa."

"Hmm, tapi bagaimana ya? Ok deh. Kamu mama anggap sudah cukup dewasa untuk tahu. Ini adalah pendidikan seks, mama kasih tahu. ML itu artinya Making Love atau berhubungan badan. Dilakukan kalau kamu sudah menikah agar mempunyai keturunan. Bahayanya adalah banyak pasangan yang tidak menikah tetapi melakukan ML..." Kata sang ibu menjelaskan panjang-lebar.

"Hal seperti itu dosa, anakku, dan disebut sebagai dosa zina. Karena kamu anak perempuan, maka kamu harus bisa jaga diri, jangan sampai ML jika belum menikah. Nah, sekarang gantian mama ingin tahu. Kamu tahu dari mana istilah ML itu?"

Si anak dengan tenang membuka tasnya dan menunjukkan selebaran iklan kepada ibunya, "Ini lho, ma... Di gambar botol air mineral ada 300 ml, 600 ml yang gede 1500 ml...."
Share:

Sunday, January 15, 2017

Gus Dur Belajar Dari Pembohong

Pasti Aswaja – Salah satu akhlaqul karimah dan sikap rendah hati (tawadlu') yang diteladankan kepada kita semua dari Mbah Wali Gus Dur ialah sikap penghormatan dan jiwa besar sekalipun beliau tahu sedang dibohongi. Hanya untuk menyenangkan dan tidak ingin merendahkan orang yang berbuat jahat kepada beliau di depan orang lain. 

Suatu hari, ada seseorang yang bercerita sesuatu kepada Gus Dur. Cerita panjang lebar yang berlebihan dan tampak sekali kebohongannya. Shuniyya dan sahabat lainnya yang berada di lokasi mendengarnya sangat risih, dan rasanya pingin menegur orang tersebut. Lah, kami saja tahu kalau itu bohong apalagi Gus Dur. Namun, Gus Dur justru tampak menyimak penuh perhatian, dan seakan-akan percaya dengan orang tersebut.

Setelah orang itu pergi, Shuniyya bertanya, “Gus, bukankah orang tadi berdusta kepada panjenengan?”

“Iya,” jawab beliau singkat.

“Terus kenapa Gus Dur diam saja?" Tanya kami penasaran.

“Saya harus banyak belajar dari dia,” jawab beliau

“Belajar apa Gus?” Tanya Shuniyya dan sahabat lainnya semakin penasaran.

Beliau menjawab kalem, “wong dia bohongin saya saja bisa ikhlas begitu, masak saya nggak bisa ikhlas dibohongin dia."
Shuniyya Ruhama 
Kendal, 14 Januari 2017
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts