• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Isu Ninja 98

 on Saturday, January 28, 2017  

Oleh: Taufiqurrahman

Tahun 1998 saya masih remaja bau kencur belum tahu politik. Namun aktivitas bapakku sebagai pengurus NU dan guru ngaji di salah satu surau kecil dengan santri sekitar 60-an, banyak bersentuhan dengan persoalan politik. Bapakku rajin menceritakan bagaimana bangsa ini didirikan, perjuangan guru-guru bapakku menjadi pejuang sabillah, memimpin perang melawan penjajah, hingga mengisi kemerdekaan yang diperjuangkannya.

Menjadi pengurus NU di masa Orde Baru (Orba) merupakan masa-masa sulit (menurutku). Apalagi setelah NU menjadi Ormas yang tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik. Meskipun demikian, politik NU tetap ditakuti oleh Orba. Berbicara politik di masa Orba, misalnya di pertemuan lailatul ijtimak tingkat ranting, bisa berujung tahanan di kantor Koramil dan Kodim setempat. 

Namun magnet ulama yang begitu besar, tidak membuat orang NU keder dengan intimidasi korp berbaju doreng. Bahkan perbincangan dan pencerahan politik terhadap nahdliyyin terus berkembang pesat, terutama di era KH Abdurrahman Wahid menahkodai PBNU.

Rangkaian peristiwa pembunuhan dan pelanggaran Hak Asazi Manusia (HAM) dengan korban orang NU terus bermunculan. Di Sampang ada tragedi Nipah, di Situbondo ada tragedi pembakaran gereja, dan di sejumlah daerah lainnya juga terjadi. Hingga puncaknya di tahun 1998 setelah Orba tumbang melalui people power. 

Orang NU di Jawa dibuat tidak tenang. Termasuk keluarga saya. Rangkaian pembunuhan guru ngaji yang diawali di Banyuwangi, terus merembet ke daerah lainnya. Rangakaian pembunuhan ini dikenal dengan isu NINJA. Bapak saya, menyaksikan sendiri peristiwa di Banyuwangi bagaimana guru ngaji dibunuh. Karena kebetulan mengantarkan santrinya yang kawain ke Banyuwangi. 

Teror pembunuhan terhadap orang NU akhirnya sampai juga ke Madura. Rumah-rumah kiai dijaga ketat oleh warga. Mereka melean semalam suntuk dengan senjata tajam dibawa kesana kemari. Orang-orang bingung mencari ijazah kekebalan. Amalan kekebalan yang tak pernah diamalkan, kembali dibaca.

Keluargaku hidup di tengah-tengah komunitas non NU. Tetangga banyak yang ikut organisasi Sarekat Islam (SI). Dengan demikian, menghadapi teror pembunuhan terhadap kiai NU kami hadapi sekeluarga. Tetangga enggan berjaga di rumah, karena beda kiai NU dengan kiai SI. Tapi bapak saya tak gentar meskipun sendirian. 

"Lihatlah saya anakku, saya santrinya Kiai As'ad Syamsul Arifin dan K Toha Sumber Gayam, tak pernah diajari takut untuk berjuang bersama NU," kata Bapakku waktu itu. 

Saya yang masih lugu tak begitu mencerna secara mendalam pesan itu. Sebagai remaja, saya tak sekuat Bapakku untuk melean semalam suntuk untuk berjaga-jaga. Terlelap sedikit, suara Bapakku menggelergar sehingga saya terperanjat untuk ikut mellean. 

Untuk menghindari kemungkinan terburuk, keluargaku tidak tinggal di dalam rumah. Tetapi tidur di luar rumah. Logikanya, jika ada serangan Ninja yang katanya memiliki ilmu seperti ninja yang diputar di layar tancap, tidak akan menemukan penghuninya.

Setiap malam situasi terus mencekam. Suatu malam, kakak iparku datang hampir tengah malam. Lampu halaman rumah yang dipadamkan, tidak begitu jelas menampakkan wajah siapa yang datang. Kejadian mengerikan hampir terjadi. Kakak iparku hampir ditebas dengan pedang yang tidak pernah lepas dari tangan bapakku. Beruntung iparku lekas menyebutkan namanya.

Kejadian mengerikan tidak sampai menimpa keluargaku. Namun, orang Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, menjadi korban pembunuhan sadis warga di Kecamatan Kadur. Orang ini dimassa, dibunuh, dipotong lehernya kemudian ditendang kesana-kemari. Korban diisukan sebagai kawanan pasukan Ninja yang akan membunuh kiai di Kecamatan Kadur.

Peristiwa inipun perlahan reda dengan sendiriny. Gus Dur, Ketua PBNU tetap menghimbau agar orang NU tetap tenang dan waspada jangan terpancing dengan isu-isu politik yang berkembang. 

Rangkaian pembunuhan kiai-kiai NU di tahun 1998, menurut Bapakku mirip seperti di tahun 1965. Bedanya, kemasan isunya antara Komunisme dan Agama. Peristiwa yang paling mencuat hingga menjadi salah satu pemicu pembantaian ribuan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madura dan Jawa, terbunuhnya tokoh sentral NU, KH. Jufri, pengasuh pondok pesantren Assyahidul Kabir, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan. Pasca peristiwa itu, situasi negara semakin kacau. Banyak aktivis Ansor terlibat dalam aksi pembunuhan di mana-mana. Peristiwa ini masih terus menimbulkan misteri sampai hari ini. 

Akhir-akhir ini, sekelompok masyarakat gencar mengisukan kembangkitan PKI. Bahkan ada tokoh yang mengklaim mengetahui langsung bahwa di istana Presiden setiap malam digelar pertemuan orang-orang PKI. Namun setelah disomasi, tokoh tersebut bungkam. Sebagai sebuah isu, ini patut diwaspadai. Meskipun kita belum tahu dari mana ujung sumbu isu berada. Mudah-mudahan kelak akan terang. 

28 Januri 2017.

Isu Ninja 98 4.5 5 Pasti Aswaja Saturday, January 28, 2017 Oleh: Taufiqurrahman Tahun 1998 saya masih remaja bau kencur belum tahu politik. Namun aktivitas bapakku sebagai pengurus NU dan gur...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme