• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Pasti Aswaja's Content

Maulid Nabi dan Haul Kiai

 on Sunday, February 19, 2017  

Oleh: Mbah Yai Ahmad Musthofa Bisri)

Haul dilakukan dengan memperingati hari wafat seorang kiai, bukan karena dzurriyah-nya tidak tahu hari kelahiran kiai tersebut. Priyayi yang diperingati hari lahirnya hanya 3, yakni Kanjeng Nabi Isa AS, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan Ibu Kartini. Itu karena kelahiran mereka adalah penanda zaman.

Ketika bangsa Yahudi dalam kondisi krisis dalam berbagai hal, kelahiran Nabi Isa membawa pencerahan. Kelahiran Ibu Kartini juga sebagai penanda zaman, bahwa beliau adalah perempuan diketahui pertama mendirikan sekolah bagi perempuan (yang tercatat).

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menandai zaman gelap menjadi jaman terang benderang. min al-dzulumati il al-nur. Mulai tidak ada tatanan menjadi ada tatanan.

Kalau kiai penerus perjuangan Kanjeng Nabi dan sifatnya tidak ma'shum (terjaga dari dosa). Selama kiai masih hidup, maka tugasnya belum selesai. Tidak ada jaminan bagaimana akhir kehidupannya. Baru setelah beliau tutup usia, jika disaksikan khidmah-nya untuk umat maka baru dihauli.

Kiai itu alladzina yandzuruna ila al-ummah bi’aynir rahmah (melihat orang lain dengan kacamata kasih sayang). Jadi entah ilmunya banyak atau tidak kalau penuh kasih sayang itu kiai. Jadi tidak heran jika kiai itu bisa jadi "puskesmas", "biro jodoh", "guru ngaji", cari hutangan, pertanian, dll.. Itu bisa dilakukan karena kasih sayang.

Ulama-Ulama shalih terdahulu sudah mulai langka. Jaman dulu, kiai besar sekalipun tidak pernah gengsi/malu menyatakan tidak tahu. Sebagai misal Kiai Basyir Kudus jika ditanya tafsir ayat tertentu, beliau akan meminta supaya bertanya kepada Kiai Sya’roni.

Begitu juga Kiai Sya’roni apabila diminta ijazahan amalan tertentu akan mengatakan tidak tahu dan meminta supaya ijazahan kepada Kiai Basyir sebagai ahlinya.

Berbeda dengan sekarang ini, banyak ustadz yang ditanya apapun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena mereka belum faham, bahwa mengatakan “tidak tahu” itu bagian dari ilmu. Sehingga banyak jawaban dari pertanyaan itu asal-asalan, tidak berdasarkan ilmu.

Sebab, belajarnya melalui internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sanadnya hingga Kanjeng Nabi. Sanadnya terputus dari Google. Tahu syariat dari Google, tahu ilmu agama dari Google. Apa kata Google itulah yang disampaikan kemana-mana. Mengutip dari ayat Al Quran dan Hadits secara sembarangan, karena memang tidak tahu ilmunya.
Ditulis oleh Shuniyya Ruhama
Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri, Kendal

Maulid Nabi dan Haul Kiai 4.5 5 Pasti Aswaja Sunday, February 19, 2017 Oleh: Mbah Yai Ahmad Musthofa Bisri) Haul dilakukan dengan memperingati hari wafat seorang kiai, bukan karena dzurriyah -nya tidak t...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme