• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

NU, dan Inovasi di Usia yang Menua

 on Sunday, April 23, 2017  

Oleh: Musannan Abdul Hadi*

Pasti Aswaja – Bukan waktu yang sebentar. Jauh sebelum Indonesia ini ada, jam'iyah ini sudah ada. Berevolusi dengan segala situasi dan kondisi pada zaman yang berbeda dan beberapa kekuasaan. Dikomandani oleh para ulama--insya-Allah waliyullah--sebagai pelanjut perjuangan para Walisongo yang mampu melebur nilai-nilai keislaman dengan kebudayaan tanpa menghilangkan substansi dari agama.

Selalu diombang-ambing oleh gelombang besar untuk ditenggelamkan. Tapi seperti kata pepatah, "Tidak ada pelaut handal tanpa gelombang yang besar". Saat ini jam'iyah NU seperti menjadi musuh bersama akibat dari setiap kebijakan yang dilahirkan karena lebih cenderung kepada stabilitas berbangsa dan bernegara. Sebab, warga NU sudah tahu bagaimana ibadah dalam kondisi terjajah. Lebih baik mempertahankan yang sudah ada, daripada berhalusinasi akan merubah negara dengan dasar yang baru. Apalagi dengan konsep yang belum jelas.

Resolusi jihad yang pernah didengungkan NU telah mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan. berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH. Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, isinya sebagai berikut: “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…” sehingga Surabaya menggelegar pada saat itu. Di mana-mana ada seruan jihad untuk melawan penjajah. Yang lain di mana, tong?

Namun, diusianya yang semakin renta ini, semakin banyak manusia-manusia yang tidak pandai berterima kasih. NU yang nyaris menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI seakan menjadi musuh bersama, selalu disudutkan dengan pukulan-pukulan yang mematikan, termasuk oleh manusia-manusia yang pernah dibesarkan oleh nenek moyangnya dalam tradisi Ke-NU-an. Dan saya menyebutnya dengan nama, anak tidak tahu diuntung, jika tidak mau dikatakan durhaka.

Namanya hidup, pasti tidak pernah lepas dari salah dan dosa. Namun, bagi manusia-manusia yang membuka aib dan telah membeberkan kesalahan atas dasar kemaslahatan itu, semoga sulit menemukan jalan pulang. Terjebak pada sebuah hegemoni pemikiran baru yang akan menyeretnya pada hilangnya rasa taat dan terima kasih pada para ulama. Dan bagi kami, adalah harga mati menjaga NU dalam situasi dan kondisi apapun. NU akan senantiasa hidup di sini, di hati kami warga NU. Yang tidak mau dengan NU, "sono, ke laut aje". He... He... He...

Salah satunya yang bisa kami lakukan dengan cara tetap melestarikan tradisi Ke-NU-an dan memperingati hari kelahirannya. Seperti puncak resepsi yang kami lakukan tertanggal 21 April 2017 yang lalu, setelah beberapa rangkaian kegiatan seperti: Bahtsul Masail yang diselenggarakan di PP. Kebun Baru asuhan Wakil Rais Syuriah PCNU Pamekasan, KH. Misbahul Munir, Lc.; Hotmil Qur'an serentak (Ranting dan MWC) yang diakhiri dengan acara puncak dengan dzikir Harlah di Kantor PCNU; Ziarah Maqbaroh kepada hampir seluruh pengasuh pondok Pesantren yang pernah mengabdikan hidupnya pada NU, dan diakhiri pada malam puncak di PP. Miftahul Anwar, Klompek, Pamoroh, Kadur Pamekasan.

Antusiasme pada malam puncak dihadiri sekitar tujuh ribu warga NU. Bahwa dalam kondisi NU diserang kanan dan kiri masih dicintai oleh warganya dan hal ini menjadi motivasi dan penyemangat tersendiri bagi pengurus NU. Semoga diusianya yang ke-94 ini, jam'iyah NU tetap konsisten menjadi tradisi dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Karena menurut KH. Tovix Hasyim, "Agama tidak boleh jauh dari negara. Sebab, agama hadir untuk meluruskan negara, dan negara hadir sebagai pelindung bagi agama".

Selamat hari ulang tahun yang ke-94 bagi jam'iyah Nahdlatul Ulama. Jayalah selalu.
*Sekretaris LESBUMI PCNU Pamekasan

NU, dan Inovasi di Usia yang Menua 4.5 5 Pasti Aswaja Sunday, April 23, 2017 Oleh: Musannan Abdul Hadi* Pasti Aswaja –  Bukan waktu yang sebentar. Jauh sebelum Indonesia ini ada, jam'iyah ini sudah ada. Be...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme