• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, June 28, 2017

Petisi IASS Tolak FDS

PRESS RELEASE
IKATAN ALUMNI SANTRI SIDOGIRI (IASS) 
TENTANG:
PETISI PENOLAKAN FULL DAY SCHOOL DI INDONESIA
  1. Menyikapi terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang akan diperkuat dengan Peraturan Presiden, maka Pengurus Pusat IASS mengambil sikap tegas menolak terhadap kebijakan pemerintah ini karena berpotensi kuat akan mematikan Madrasah Diniyah yang banyak terdapat di Indonesia dan juga berpotensi menghapus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam yang justru bertentangan dengan Penguatan Pendidikan Karakter seperti yang diinginkan oleh pemerintah.
  2. Penolakan IASS ini didukung oleh petisi yang ditandatangani oleh 3011 pengasuh pesantren, pimpinan madrasah diniyah, TPQ, organisasi keagamaan NU, PMII, dll, yang ada di wilayah Jawa Timur, yang meliputi Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Bangkalan, Sampang, Sumenep, dan Pamekasan. Ribuan petisi ini terkumpul hanya dalam waktu 4 hari dari tanggal 18-21 Juni 2017.
  3. Pendidikan diniyah telah banyak melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh yang turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI, di antaranya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Pangeran Diponegoro, Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan Buya Hamka. Oleh karena itu eksistensinya patut dilestarikan.
  4. Sila pertama dari Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menyiratkan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan agama, sehingga pendidikan agama wajib tetap dilestarikan. Di samping itu, UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 juga telah mengamanatkan untuk menyelenggarakan pendidikan keagamaan yang salah satunya adalah pendidikan diniyah. Dan Pendidikan madrasah diniyah ini telah terbukti berjasa mencetak generasi bangsa yang agamis dan setia pada NKRI.
  5. IASS akan terus mengawal eksistensi pendidikan agama dan diniyah yang sudah terbukti mampu meningkatkan nilai spiritual dan akhlakul karimah. 
  6. Selain penandatangan petisi ini, berbagai pihak juga telah menyatakan menolak Full Day School, yaitu MUI, PBNU, KPAI, Ansor, PMII, sejumlah kepala daerah, dan lainnya. Apabila kebijakan Full Day School sebagaimana yang telah dijelaskan di atas masih tetap dilaksanakan, hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah dan disintegrasi Bangsa.
  7. Hasil dari petisi ini akan dikirimkan kepada Bapak Presiden RI, Wakil Presiden RI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Menteri Agama RI, dan DPR RI.

Sidogiri, 22 Juni 2017

Ketua PP IASS

ttd

H. Achmad Sa’dullah Abd. Alim

Info lebih lanjut:
M. Luthfilllah Habibi: 08113120201
Photo source: republika.co.id
Share:

Saturday, June 17, 2017

Karena Kalian Islam Identik Dengan Terorisme

Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang mengajarkan keburukan. Semua agama sama-sama mengajarkan kebaikan. Jika ada pemeluk agama tertentu melakukan tindakan terorisme atau tindakan lain yang tidak manusiawi, itu bukan berarti ajaran agamanya yang keliru, tapi pemeluknya. Kekeliruan ini bisa saja didasarkan pada pemahaman terhadap ajaran agama yang dangkal bahkan keliru (Naharog, 2013: 595-596).

Salah satu kekeliruan yang perlu diluruskan khususnya berkenaan makna jihad di dalam Islam. Tidak jarang para pemikir Barat mencampuradukkan antara term terorisme dengan jihad atau perang. Semua itu dilakukan (barangkali) atas dasar kebencian dan tidakadanya rasa empati. Padahal sesungguhnya antara jihad dan terorisme adalah dua hal yang jauh berbeda. Sesungguhnya, salah satu penyebab pencampuradukan antara term jihad dan terorisme adalah kekurangpahaman terhadap ajaran agama dan tidak jarang kondisi ini diperkuat lagi dengan realitas beberapa kelompok fanatik yang menjadikan term jihad sebagai pelindung gerakan aktivitas yang mereka lakukan. Mereka menganggap bahwa kekerasan yang mereka lakukan adalah jihad yang dibenarkan agama termasuk membunuh, menculik, merusak, dan membajak kapal terbang. Tetapi kebenaran tetap kebenaran yang mesti ditegakkan, hingga kemudian menjadi jelas bahwa terorisme dan jihad jauh sangat berbeda (Arake, 2012: 190. Lihat juga Naharog: 2013).

Di Indonesia sendiri, istilah terorisme masih tergolong “baru”. Kacung Marijan (dalam Mubarak, 2012) menjelaskan bahwa kata teror disebutkan dengan istilah system, regime de terreur yang muncul pertama kali pada tahun 1789 di dalam The Dictionnaire of The Academic Francaise. Penjelasan tersebut dalam konteks revolusi Prancis, jadi istilah ini pada waktu itu berkonotasi positif, yakni aksi-aksi yang dilakukan untuk menggulingkan penguasa lalim dan aksi-aksi itu berhasil dilakukan. Jauh sebelum itu, praktik-praktik terorisme sudah terjadi sejak sekitar 66-67 sebelum Masehi, ketika kelompok ekstrem Yahudi melakukan aksi teror, termasuk di dalamnya pembunuhan, terhadap bangsa Romawi yang melakukan pendudukan di wilayahnya (kira-kira di wilayah yang dipersengketakan oleh Israel dan Palestina sekarang). Sejak saat itu, aksi-aksi terorisme di berbagai belahan dunia, yang melibatkan beragam etnik dan agama terus terjadi (Mubarak. 2012: 241), dan akhir-akhir ini kembali menjadi pembicaraan hangat di Republik ini, khususnya setelah tragedi bom panci dan bom bunuh diri di Kampung Melayu. Tragedi yang disebutkan terakhir ini, ISIS sudah menyatakan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Supaya tidak terjadi kesalahan pemahaman, maka penulis akan paparkan beberapa karakteristik terorisme. Terdapat beberapa ciri-ciri suatu tindak kekerasan bisa dikategorikan teroirisme: pertama, kekerasan dilakukan atas tujuan-tujuan dan motif-motif politik, keagamaan, dan ideologi lainnya. Di antara motif-motif tersebut, motif politiklah yang paling banyak disebut oleh para peneliti terorisme. Motif-motif inilah yang menjadi faktor pemisah antara tindakan terorisme dengan tindakan kekerasan lainnya. Kekerasan yang dilakukan dengan tujuan finansial semata tidak termasuk kategori terorisme sekalipun terdapat efek ketakutan yang ditimbulkan; kedua, suatu perbuatan dapat dikatakan terorisme jika dalam prakteknya menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. Di samping itu, kekerasan bisa dikategorikan sebagai tindakan terorisme jika perbuatan tersebut direncanakan. Artinya, terorisme bukanlah suatu tindakan yang ujug-ujug terjadi; ketiga, kekerasan harus memengaruhi sasaran atau audience di luar target langsung (korban). Artinya, korban suatu tindakan terorisme bukan hanya sasaran utama; keempat, terorisme melibatkan aktor-aktor non-combatant, yaitu warga sipil dan tentara yang tidak berada dalam peperangan; kelima, terorisme dilakukan oleh orang-orang yang sangat rasional, bukan yang tidak rasional atau bahkan gila. Selain itu, perbuatan terorisme tidak dilakukan secara sembarangan dan sporadis, tetapi sasaran yang hendak diserang dipilih oleh para teroris (Naharog, 2013: 597).

Berdasarkan laporan Patterns of Global Terrorism 2000, gerakan terorisme bermotif agama dan ideologi paling banyak terjadi. Terdapat 43 kelompok teroris internasional utama yaitu: (1) 27 kelompok sub kelompok misi religius fanatik yang terdiri dari 18 kelompok Islam, 8 kelompok Kristen/Katolik, dan 1 kelompok menganut sekte Aum; (2) 12 sub kelompok berbasis ideologi, yaitu Marxisme dengan berbagai variasinya; dan (3) Empat sub kelompok etno-nasionalisme (Mustofa, 2012: 66).

Berbagai rangkaian peristiwa terorisme selama ini menarik perhatian masyarakat Indonesia di dunia maya. Semua angkat bicara: mulai dari kalangan legislatif, Ormas, akademisi, bahkan mereka yang tidak paham dengan istilah terorisme juga ikut angkat bicara. Latar belakang keilmuan yang berbeda, melahirkan pemahaman yang berbeda pula. Ada yang menyatakan bahwa peristiwa itu hanyalah pengalihan isu yang sengaja “diciptakan” oleh pemerintah, ada pula yang mengatakan bahwa peristiwa itu hanya untuk mencitrakan Islam sebagai agama teroris. Pernyataan ini sebenarnya sangat tidak manusiawi. Kejadian yang menelan banyak korban luka-luka, bahkan korban jiwa dari warga sipil, dianggap hanya sebagai kejadian kecil saja.

Satu lagi. Belum satu minggu ini viral di dunia maya video salah seorang ustadz dengan latar belakang pendidikan magister yang mengisi ceramah Ramadhan di Kota Pekanbaru. Sangat disayangkan, ustadz ini bukannya menyampaikan pesan-pesan agama, tapi malah memprovokasi jamaahnya dengan mengatakan bahwa operasi penangkapan dan penyerangan Densus 88 (anti teror) dilakukan secara sembarangan. Lebih parah lagi ustadz ini melandaskan pesan ceramahnya kepada media sosial.

Janggal. Di satu sisi mereka tidak mau agamanya mendapatkan label teroris, tapi di sisi lain mereka membela aksi teroris.

Rujukan
Imam Mustofa, “Terorisme: Antara Aksi dan Reaksi (Gerakan Islam Radikal Sebagai Respon Terhadap Imperialisme Modern)”, Religia, Vol. 15 No. 1 (April, 2012). 
Abdul Muis Naharog, “Terorisme Atas Nama Agama”, Refleksi, Vol. 13, No. 5 (Oktober, 2013). 
Zulfi Mubarak, “Fenomena Terorisme di Indonesia: Kajian Aspek Teologi, Ideologi dan Gerakan”, Salam, Vol. 15, No. 2 (Desember, 2012). 
Lukman Arake, “Pendekatan Hukum Islam Terhadap Jihad dan Terorisme”, Ulumuna, Vol. 16, No. 1 (Juni, 2012).
Share:

Thursday, June 15, 2017

Sebuah Curahan Hati

Oleh: Vinanda Febriani

"Kriiiiiiinnng.... Kriiiiiiiinnng.... Kriiiiiiiinnng" Bunyi alarm Doraemon-ku mulai berdering. Ku lihat ternyata sudah pukul 05.00 WIB. Akupun bergegas bangun, merapikan tempat tidurku. Setelah itu aku segera mengambil air wudhu kemudian shalat Subuh. Setelah Shalat, aku langsung menuju dapur, membantu bapakku yang sedang menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk keluarga. Kebetulan hari ini hari Minggu.

"Nduk, ada acara apa hari ini?" Tanya bapakku dengan nada halus dan lembut.

"Tidak ada, pak. Di rumah saja." Jawabku.

"Nanti bantu bapak beres-beres rumah ya, nduk." Kata bapakku sambil mengambil cabai giling di kulkas.

"Iya, pak" jawabku.

Aku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Kakaku laki-laki semuanya. Ibuku sudah meninggal 3 tahun yang lalu, karena mengidap penyakit diabetes selama kurang lebih 12 Tahun. Kala itu, aku masih umur 12 tahun (kelas 2 Tsanawiyah). Aku pun 'tak sempat menyaksikan langsung kepergian ibuku, karena kala itu aku berada di Pesantren. Sesalku, aku belum sempat meminta maaf atas segala kesalahanku kepadanya. Semoga saja ibu husnul khatimah di sana.

"Nduk, besok sore kakakmu pulang. Jadi hari ini kita bersih-bersih rumah, ya." Kata bapakku sambil menikmati rokok lintingannya.

"Iya, pak. Jam berapa besok pulang?" Tanyaku.

"Ah, mungkin ba’da Ashar."

Aku kegirangan. Bagaimana tidak, kakak yang selama ini selalu menjadi motivasiku untuk selalu semangat ini akan pulang. Aku jadi teringat dulu ketika kami masih kecil. Kakakku ini sangat menyebalkan dan galak padaku. Ketika kami berhadapan dengan televisi kami selalu berebut remote TV; ketika ada makanan, kami berebut makanan. Pokoknya inilah kakaku yang paling bikin greget, gemes dan nyebelin. 'Tak jarang 'ku dekati dia dan 'ku cubit kecil tangannya, hingga merah dan dia pun merintih kesakitan. Karena dulu aku sangat manja dan nakal. Sampai saat ini pun, kalau aku bertemu dia terkadang 'ku cubit tangannya atau 'ku gelitiki dia. Ha ha ha... Itulah kejahilanku kepada kakakku yang satu ini.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. 'Ku lihat, ternyata kakakku itu menelpon. Ah, ya Tuhan. Baru saja aku berkhayal tentangnya, tiba-tiba ia menelponku.

"Hallo, dek gimana kabarnya?" Itulah pertanyaan yang sangat ku rindukan darinya.

Aku 'tak sabar menunggu kepulangan kakaku ini, dan juga oleh-olehnya yang pasti.

Jam sudah menunjukan pukul 08.00 WIB.

"Nduk, yuk beres-beres rumah." Ajak Bapaku.

"Iya, pak." Jawabku sambil memegang sapu.

Kamipun mulai membersihkan dan menata rumah. Ketika aku membersihkan almari tua milik kakaku, 'ku temukan sebuah foto kakaku ketika masih kecil. "Aduh unyunya... Ih.. Tapi nyebelin." Batinku.

Kakakku yang satu ini memang kakak yang paling crewet dan paling nyebelin. Kalau aku gabung jadi satu dengannya, rumah serasa jadi pasar. Apa-apa diberi komentar. Sampai capek aku denger kakakku ngomel mulu.

Tapi aku suka ketika kakakku sedang berbicara dan bercerita kepadaku tentang "Indonesia". Dia bisa menjabarkan padaku sedikit demi sedikit konflik dan pemencahan masalah di Negara ini, walaupun dia bukanlah "orang penting" di negara ini. Tapi, dialah "orang penting" di masa depanku ini. Dia selalu memberiku motivasi untuk selalu mencintai bangsa ini apapun keadaannya. Ya, begitulah.

Sebelum dia pergi ke Bandung untuk menimba ilmu di sana, banyak 'ku temukan bendera-bendera merah putih yang tersusun rapi dan wangi di almari tua miliknya. 'Ku dapati sebuah coretan kecil dari kakakku yang sudah hampir 12 tahun yang lalu ia tuliskan dan ia simpan dengan baik-baik. Tulisan itu berbunyi:
Dear, Indonesia. 
Kau adalah Negara "sempurna" yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berjuta perbedaan yang sangat beragam. Indonesia adalah negara kaya, negara yang selalu dicintai rakyatnya. Negara ini bukan negara yang mengarah hanya pada satu jenis etnis, agama, dan sebagainya. Namun negara ini negara yang "majemuk". Menurutku, Pancasila sudah sangat sempurna. Tuhan-lah yang mengutus para syuhada’ dan para ulama’ terdahulu, para pejuang perebut kemerdekaan Indonesia. Mereka berani memberontak dan perang terhadap Belanda, karena Tuhan yang mengutus mereka untuk merebut kembali "tanah surga", Indonesia. 
Aku suka semboyan perang mereka: "merdeka atau mati". Semboyan perang yang sangat menggetarkan hati. Siapa, sih yang rela bangsa yang ia cinta dijajah, rakyatnya diperlakukan seperti "babu tanpa bayaran". Mereka dituntut untuk bekerja kepada Belanda tanpa mengenal kata lelah dan tanpa bayaran. Para wanita jadi tawanan murahan. Untung saat itu ada RA. Kartini, pejuang emansipasi wanita yang paling mulia. Jadi wanita saat ini derajadnya sama dengan laki-laki. Mereka dibebaskan untuk bersekolah, menuntut ilmu setinggi langit, bersosialisasi dan bekerja semampu mereka, tanpa ada tekanan dari para Kompeni Belanda. 
Aku bersyukur hidupku di bumi Indonesia, tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan oleh sang "bidadari surga". Entah apa yang akan aku lakukan jika aku lahir dan hidup di Australia, Swedia, Pakistan, atau New Zeland. Mungkin aku tak akan se-cinta ini kepada negri Indonesia. Bahkan, mungkin mengenal sejarah Indonesia yang sangat indah dan menggetarkan hati ini saja tidak. 
Semoga saja nanti, sampai adikku yang terakhir ini beranjak dewasa, nama Indonesia tetap berkibar di dalam lubuk hatinya. Indonesia adalah negara yang patut kita cintai dan kita pertahankan. Indonesia merupakan negara yang aman, nyaman, damai serta toleran. Segala macam kuasa Tuhan yang indah ada disini. Patut kita syukuri dan kita cintai. 
Pesanku kepada adik terakhirku. Semoga dewasamu nanti kau menjadi pribadi yang cinta NKRI dan bertoleransi. Apapun Agama yang terjadi nanti, 'ku mohon jangan pernah membenci NKRI. Karena, di sinilah tempatmu hidup dan melangkahkan kaki, tempatmu bernafas dan bertahan hidup. Kau lahir di Indonesia, maka kau harus cinta Indonesia. 
Salam dari kakakmu yang sangat 'tak ingin masa depanmu gelap karena kau 'tak mau mengenal sejarah peradaban bangsa tempat perta makali menginjakan kakimu. 'Ku mohon nanti, ketika kau dewasa kau selalu mendoakan yang terbaik dan melakukan yang terbaik untuk bangsamu ini. Sejatinya bukan Indonesia yang membutuhkanmu, tapi kaulah yang membutuhkan Indonesia untuk masa depanmu. 
Semoga Tuhan mengijabahi doaku lewat secarik kertas yang sengaja 'ku simpan di bawah tumpukan bendera tercinta ini. Semoga kau bisa membacanya, 'dik. 
Sekian dariku. Semoga kelak kau jadi orang yang sukses dan maju mengungguli diriku.
Itulah secarik kertas berwarna putih pudar yang sudah lama dipendam kakakku di almari tua miliknya. Sekilas memang seperti surat biasa, namun itu menurutku sangatlah berharga. Tulisan ini ditulis tahun 2005 lalu, di mana saat itu aku berusia 5 tahun. Aku bahkan tak menyangka aku bisa menemukan surat kakakku ini.

Ya, benar kata kakakku. Indonesia 'tak butuh aku, tapi akulah yang membutuhkan Indonesia untuk masa depanku. Bagaimana seandainya Indonesia telah hancur, dan aku belum sempat meraih citaku? Apakah aku akan nyaman berada di negara yang hancur ini? Tentu tidak. Jadi, bukan NKRI yang membutuhkan kita, namun kitalah yang sebenarnya membutuhkan Indonesia untuk mempertahankan cita dan masa depan kita, anak kita, cucu kita, cicit kita nanti.

Aku bersyukur atas kuasa Tuhan yang telah menciptakan Indonesia dengan penuh kesempurnaaan. Bahkan, banyak hal yang tidak ada di negara lain, namun hanya bisa di temukan di Indonesia. Sehingga Indonesia menjadi negara yang sangat di segani negara lain. Kita juga wajib mempertahankan itu.

"Nduk, sudah nyapunya?" Tanya Bapak padaku.

"Sudah, pak."

Kami bersantai dan beristirahat sebentar sambil menikmati es degan segar.

"Pak, Mas Devi nanti dijemput dimana?" Tanyaku hanya sekedar iseng.

"Ah... Nanti kan juga dikasih tahu kalau sudah sampai terminal bus." Timpal bapaku santai.

Jujur aku sudah sangat rindu kepada kakakku itu. Setahun, kami hanya bertemu sekali saja dan itu pun terkadang kami egois dengan diri kami sendiri. Menyibukan diri dengan ini itu tanpa saling menyapa satu sama lain. Terkadang aku rindu mencubit tangan kakakku yang crewet itu. Terlebih ketika berebut remote atau bantal.

Ah... Semoga saja nanti kakak pulang bawa banyak jajanan, biar nanti nggak rebutan lagi. He he he... Oh, ya. Surat tadi akan 'ku simpan baik-baik di buku diary kecilku ini. Semoga ini menjadi motivasi dan penyemangatku untuk lebih mengenal dan mencintai "surga ibu pertiwi" ini.

Kak, hati-hati dijalan, ya. Jangan lupa yang di rumah menunggu oleh-olehnya.
Borobudur, 15 Juni 2017.
Share:

Saturday, June 10, 2017

Surat Dari Pelajar NU Untuk Ustadz Khalid Basalamah

Assalamu ’alaikum Wa rohmatullahi Wa barokatuhu, yaa Ustadz.

Yang saya Hormati Ustadz Khalid Basalamah, Sang Ustadz yang cerdas, arif nan bijak. Salam hangat saya untuk Ustadz Khalid Basalamah yang insya Allah selalu diridhoi dan dirahmati Allah SWT, serta senantiasa selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidak sopanan saya yang telah menuliskan surat ini kepada Ustadz Khalid. Saya hanya ingin menyampaikan suatu hal kepada Ustadz Khalid. Yakni terkait dengan Video unggahan ustadz yang selalu memojokkan amaliyah rutinan jami’ah Nahdlatul Ulama. Mohon maaf ustadz, dengan sangat rendah hati dan rendah diri, saya memohon kepada ustadz agar jangan lagi memojokkan amaliyah-amaliah jami’ah lain yang 'tak sejalan dengan njenengan.

Biarkan kami berdakwah dengan kemampuan kami, anda berdakwah dengan kemampuan anda dengan kepercayaan anda. Jangan lagi memojokan kami, kami pun juga 'tak akan memojokan anda. Jangan lagi mencela kami, kami juga 'tak akan mencela anda. Jangan lagi menyerang amaliyah kami, karena kami pun juga 'tak akan menyerang amaliyah anda. Biarkan kami dan jami’ah kami dengan amaliyah kami, sedangkan Anda dan jami’ah anda silahkan berpegang teguhlah pada amaliyah anda. Kami 'tak akan menyalahkan anda, asal anda 'tak menyalahkan kami. Semua orang di dunia ini tiada yang sempurna, jadi jangan anda tuding nantinya jami’ah kami akan masuk neraka sedangkan Jami’ah anda masuk surga. Karena, hanya Allah lah yang maha tahu di mana letak Jami’ah kita nantinya.

Kami 'tak akan mencela ulama anda asalkan anda juga 'tak mencela ulama kami. Mari kita sama-sama berpegang teguh dengan amaliyah Jami’ah kita masing-masing. "Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit". Berdakwah, silahkan boleh saja. Namun, berdakwahlah dengan santun, dengan akhlak, dengan hati dengan cinta. 'Tak usahlah saling menebar kebencian dan provokasi yang sama sekali 'tak mendidik dan 'tak ada gunanya. Sekali lagi, jangan mengusik kami, kami pun 'tak akan lagi mengusik anda.

Maaf ustadz, saya tidak akan menggunakan ayat Al-Qur’an maupun dalil, karena saya baru duduk di kelas 1 SMA, saya pun masih sangat awam dan masih begitu labil. Saya hanya tidak ingin ada apa-apa dengan bangsa Indonesia. Saya tidak ingin bangsa Indonesia porak-poranda seperti negara lain. Jadi, dengan sangat rendah hati dan rendah diri, saya mohon kepada ustadz Khalid Basalamah yang saya hormati dan sangat saya cintai. Marilah kita sama-sama menebarkan, mendakwahkan Islam dengan cara yang halus dan santun, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena setahu saya Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai dan memaafkan. Jadi, untuk apa kita terus bermusuhan bukankah damai itu indah?

Sekali lagi, dengan sangat rendah hati dan rendah diri, saya memohon kepada Ustad Khalid Basalamah dan juga ustadz-ustadz lainnya yang 'tak bisa saya sebutkan satu persatu. Marilah kita bersama-sama menebarkan kesejukan agama Islam. Menyebarkan agama Islam yang penuh cinta, kasih sayang serta penuh toleran. 'Tak usah ada lagi permusuhan di antara kita. 'Tak usah ada lagi pertentangan diam antara kita. 'Tak usah ada lagi caci dan maki, apalagi fitnah di antara kita. Mari sama-sama kita hidup rukun, berdampingan dan selalu gotong-royong dalam mendakwahkan Islam yang santun ini. Biarlah kami, dengan ulama kami, dengan Jami’ah kami. Silahkan anda, dengan ulama anda dan juga Jami’ah anda. 'Tak usah lagi saling cela. Mari kita bulatkan tekad untuk dapat menyatu dan berkumpul kembali di Surga nantinya. Wa insya Allah.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Dengan penuh hormat, rendah hati dan rendah diri, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada Ustadz Khalid atas segala kekhilafan saya dalam menuliskan kata-kata. Mohon maaf apabila ada kata yang sekiranya telah menyinggung hati dan perasaan Ustadz.

Sekian dari saya, semoga Ustadz selalu diberikan rizki yang barokah dan lancar, dipanjangkan umurnya yang bermanfaat, semoga ustadz sehat selalu di sana. Salam hangat saya, dari Borobudur untuk ustadz beserta ulama dan juga Jami’ah ustadz di sana.

Wassalamu ’alaikum Wa rohmatullahi Wa barokatuhu.

Borobudur, 08 Juni 2017.
Vinanda Febriani
Share:

Monday, June 5, 2017

Pancasila dan Komunisme


“1 Juni itu adalah Pancasila-nya PKI.”

Kalimat di atas adalah sepenggal statemen dari “ceramah agama” Alfian Tanjung (AT), salah seorang mantan dosen di Universitas Prof. Dr. Hamka Jakarta Selatan.

Melihat latar belakang riwayat hidup AT (sebagai mantan dosen), sangat jauh dari kata layak jika saya mengomentari statemen tersebut.

Sebenarnya tidak hanya itu saja. Masih ada statemen kotroversial AT berkenaan dengan Pancasila, di antaranya: “... Pancasila yang kelima itu adalah ketuhanan. Ketuhanan nomer lima. Ini adalah Pancasila-nya Marxis”. Statemen ini membuat saya lumayan tersenyum lebar (baca: tertawa). Jika Karl Marx masih hidup, tidak terbayang apa yang akan dilakukannya kepada AT atas pernyataan itu.

Kembali ke statemen AT di awal tulisan ini.

Berbicara kelahiran Pancasila, tidak bisa dilepaskan dari sejarah “kejatuhan” Jepang ke tangan sekutu dengan dibombardirnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Dari sinilah kemudian Perdana Menteri Koiso pada tanggal 7 September 1944 menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Bentuk konkret janji ini, Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau dalam bahasa Indonesia dikenal Panitia Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 29 April 1945 (Muchson, 2009: 35). Sebulan setelah itu (28 Mei 1945), badan yang diketuai Dr. Radjiman Wedyodiningrat dengan 68 anggotanya ini dilantik. Meski dari jumlah itu mayoritas beragama Islam, tetapi hanya 11 orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil masyarakat muslim: Ki Bagus Hadikusumo, KHA. Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, KH. Abdul Halim, KH. Masjkur, H. Ahmad Sanusi, KH. Mas Mansjur, Abikoesno Tjokrosoejoso, Dr. Sukiman, KHA. Wahid Hasjim, dan A. Baswedan. Adapun sisanya yaitu 54 orang mewakili kelompok nasionalis bersama wakil dari umat Kristiani yang berjumlah 3 (tiga) orang, yaitu: AA. Maramis, J. Latuharhary, dan PF. Dahler. Badan ini bertugas mengumpulkan saran, usul, pendapat dari segenap lapisan masyarakat berkenaan kebutuhan memasuki era Indonesia merdeka. Untuk itu anggota BPUPKI mengadakan sidang di sebuah gedung (yang sekarang dinamakan Gedung Pancasila) di jalan Pejambon 6 Jakarta. Dalam sidang yang berlangsung selama 4 (empat) hari (29 Mei s/d 1 Juni 1945) ini persoalan dasar negara menjadi pembicaraan dan perdebatan sengit (Ulya, 2016: 68).

Bermula saat Dr. Radjiman mengajukan pertanyaan mengenai Philosofische Gronslag (landasan filosofis) negara Indonesia yang akan didirikan, perdebatan tersebut lahir. Mayoritas anggota BPUPKI tidak siap menjawab kecuali Ki Bagus Hadikusumo yang sedang menduduki tampuk Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebagai perwakilan islam, Muhammad Yamin, juga Soekarno sebagai wakil golongan nasionalis. Ki Bagus mengusulkan Islam sebagai dasar negara karena mayoritas masyarakat Indonesia muslim. Dalam pidatonya, dia mengatakan bahwa: “… Jika tuan-tuan bersungguh-sungguh menghendaki Negara Indonesia mempunyai rakyat yang kuat bersatu padu berdasarkan persaudaraan yang erat dan kekeluargaan serta gotong royong, dirikanlah negara kita di atas petunjuk al-Quran dan al-Hadis seperti yang sudah saya terangkan tadi” (Djaelani dalam Ulya, 2016: 68). Sedangkan Muhammad Yamin tidak menginginkan Indonesia merdeka nanti berdasarkan agama tertentu, tetapi berdasarkan peri-kebangsaan, peri-kemanusiaan, peri-ketuhanan, peri-kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat (Maarif, 1996: 28).

Perbedaan gagasan ini melahirkan pecahnya suara peserta sidang menjadi 2 kelompok. Lebih jauh lagi, bahkan untuk pertama kalinya perdebatan sengit kaum intelektual (dalam sejarah berdirinya Indonesia) hampir mengarah pada pertikaian antara kubu yang menghendaki dasar Islam dengan kelompok nasionalis yang menolak negara berdasarkan agama tertentu, meskipun di dalam kelompok ini juga banyak anggota yang beragama Islam (Ulya, 2016: 69).

Persilangan pendapat ini nampaknya tidak akan menemui titik terang, hingga pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan pidatonya di hadapan peserta sidang. Bung Karno mengajak peserta sidang untuk saling terbuka dan menerima pihak lain: “Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya tetapi semua buat semua”. Kemudian dia menyampaikan pendapatnya tentang dasar negara yang rumusannya terdiri dari 5 poin yang dinamakannya Pancasila. Lima sila dimaksud yaitu: 1) kebangsaan Indonesia: 2) internasionalisme atau peri-kemanusiaan; 3) mufakat atau demokrasi; 4) kesejahteraan sosial dan 5) ketuhanan (Maarif, 1996: 28). Dengan kejeniusan orasi Soekarno ini maka rumusan umum tentang dasar negara tersebut diterima secara aklamasi oleh peserta sidang. Atas dasar peristiwa tersebut maka saat itu diklaim sebagai hari lahirnya Pancasila. Dari sini pulalah melalui Keputusan Preseiden RI Nomor 24 tahun 2016 tentang Hari Lahir Pacasila, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional. Jadi hari lahir Pancasila didasarkan pada “kemunculan” (pertama kali) nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bukan pada hari ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara tanggal 18 Agustus 1945 (Muchson, 2009: 35).

Yang lucu, penetapan tersebut oleh AT dinilai sebagai bentuk kesewenang-wenangan presiden, karena tidak ada yang dilibatkan dalam penetapan Kepres tersebut di atas. Saya bukan pakar hukum, tapi setahu saya presiden mempunyai hak untuk mengeluarkan “Peraturan” dan “Keputusan” atas nama kelembagaan presiden (UU. No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan).

Lebih lucu lagi, karena dalam Pancasila (yang ditetapkan pada 1 Juni) sila ketuhanan ada di urutan kelima, AT menyatakan bahwa Pancasila itu adalah Pancasila Marxis. Pernyataan ini tidak berdasar. Logika simpelnya, bagaimana mungkin seorang Marxis mau merumuskan negara dengan nilai-nilai agama di dalamnya? (lihat: Muttaqin, 2013) Apa mungkin tokoh sekelas AT tidak paham “isi kepala” Karl Marx? Apa mungkin AT tidak paham pandangan Karl Marx tentang Tuhan dan agama hingga menghubung-hubungkan Pancasila dan Marxis? Wallahu a’lam.

Jadi, pernyataan AT di atas tidak ada landasan academic drafting yang jelas. Dan ini sangat disayangkan bagi seorang mantan dosen. Dengan kata lain, semua pernyataan AT di atas adalah fitnah.

wallahu a'lam bis shawab.

Pamekasan, 04/06/2017.
Daftar Rujukan 
AR, Muchson. “Pacasila dan UUD 1945 Dalam Kehidupan Bangsa dan Negara Republik Indonesia”. Diklat Bahan Ajar—Prodi Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial UNY. Yogyakarta, 2009. 
Ma’arif, A. S. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Jakarta: Gema Insani Press, 1996. 
Muttaqin, Ahmad. “Karl Marx Dan Friederich Nietzsche Tentang Agama”, Komunika, Vol. 7, No. 1. Januari-Juni 2013. 
Ulya. “Pancasila Simbol Harmonisasi Antar Umat Beragama di Indonesia”. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan. Vol. 4, No. 1. Oktober, 2016. 
Salinan UU. No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundan-Undangan.
Salinan Kepres No. 24 tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila
Share:

Thursday, June 1, 2017

Pancasila dan Islam

Oleh: Robikin Emhas (Ketua PBNU)

Pasti Aswaja – Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama di Sukarejo, Situbondo, 16 Rabiul Awwal 1404 H (21 Desember 1983) yang lebih lanjut dikukuhkan dalam Muktamar ke-27 Nahdlatul Ulama di Situbondo tahun 1984 tentang hubungan Pancasila dengan Islam:
  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama;
  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam;
  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia;
  4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya;
  5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.
Source: Robikin Emhas
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts