• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Pasti Aswaja's Content

Karena Kalian Islam Identik Dengan Terorisme

 on Saturday, June 17, 2017  

Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang mengajarkan keburukan. Semua agama sama-sama mengajarkan kebaikan. Jika ada pemeluk agama tertentu melakukan tindakan terorisme atau tindakan lain yang tidak manusiawi, itu bukan berarti ajaran agamanya yang keliru, tapi pemeluknya. Kekeliruan ini bisa saja didasarkan pada pemahaman terhadap ajaran agama yang dangkal bahkan keliru (Naharog, 2013: 595-596).

Salah satu kekeliruan yang perlu diluruskan khususnya berkenaan makna jihad di dalam Islam. Tidak jarang para pemikir Barat mencampuradukkan antara term terorisme dengan jihad atau perang. Semua itu dilakukan (barangkali) atas dasar kebencian dan tidakadanya rasa empati. Padahal sesungguhnya antara jihad dan terorisme adalah dua hal yang jauh berbeda. Sesungguhnya, salah satu penyebab pencampuradukan antara term jihad dan terorisme adalah kekurangpahaman terhadap ajaran agama dan tidak jarang kondisi ini diperkuat lagi dengan realitas beberapa kelompok fanatik yang menjadikan term jihad sebagai pelindung gerakan aktivitas yang mereka lakukan. Mereka menganggap bahwa kekerasan yang mereka lakukan adalah jihad yang dibenarkan agama termasuk membunuh, menculik, merusak, dan membajak kapal terbang. Tetapi kebenaran tetap kebenaran yang mesti ditegakkan, hingga kemudian menjadi jelas bahwa terorisme dan jihad jauh sangat berbeda (Arake, 2012: 190. Lihat juga Naharog: 2013).

Di Indonesia sendiri, istilah terorisme masih tergolong “baru”. Kacung Marijan (dalam Mubarak, 2012) menjelaskan bahwa kata teror disebutkan dengan istilah system, regime de terreur yang muncul pertama kali pada tahun 1789 di dalam The Dictionnaire of The Academic Francaise. Penjelasan tersebut dalam konteks revolusi Prancis, jadi istilah ini pada waktu itu berkonotasi positif, yakni aksi-aksi yang dilakukan untuk menggulingkan penguasa lalim dan aksi-aksi itu berhasil dilakukan. Jauh sebelum itu, praktik-praktik terorisme sudah terjadi sejak sekitar 66-67 sebelum Masehi, ketika kelompok ekstrem Yahudi melakukan aksi teror, termasuk di dalamnya pembunuhan, terhadap bangsa Romawi yang melakukan pendudukan di wilayahnya (kira-kira di wilayah yang dipersengketakan oleh Israel dan Palestina sekarang). Sejak saat itu, aksi-aksi terorisme di berbagai belahan dunia, yang melibatkan beragam etnik dan agama terus terjadi (Mubarak. 2012: 241), dan akhir-akhir ini kembali menjadi pembicaraan hangat di Republik ini, khususnya setelah tragedi bom panci dan bom bunuh diri di Kampung Melayu. Tragedi yang disebutkan terakhir ini, ISIS sudah menyatakan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Supaya tidak terjadi kesalahan pemahaman, maka penulis akan paparkan beberapa karakteristik terorisme. Terdapat beberapa ciri-ciri suatu tindak kekerasan bisa dikategorikan teroirisme: pertama, kekerasan dilakukan atas tujuan-tujuan dan motif-motif politik, keagamaan, dan ideologi lainnya. Di antara motif-motif tersebut, motif politiklah yang paling banyak disebut oleh para peneliti terorisme. Motif-motif inilah yang menjadi faktor pemisah antara tindakan terorisme dengan tindakan kekerasan lainnya. Kekerasan yang dilakukan dengan tujuan finansial semata tidak termasuk kategori terorisme sekalipun terdapat efek ketakutan yang ditimbulkan; kedua, suatu perbuatan dapat dikatakan terorisme jika dalam prakteknya menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. Di samping itu, kekerasan bisa dikategorikan sebagai tindakan terorisme jika perbuatan tersebut direncanakan. Artinya, terorisme bukanlah suatu tindakan yang ujug-ujug terjadi; ketiga, kekerasan harus memengaruhi sasaran atau audience di luar target langsung (korban). Artinya, korban suatu tindakan terorisme bukan hanya sasaran utama; keempat, terorisme melibatkan aktor-aktor non-combatant, yaitu warga sipil dan tentara yang tidak berada dalam peperangan; kelima, terorisme dilakukan oleh orang-orang yang sangat rasional, bukan yang tidak rasional atau bahkan gila. Selain itu, perbuatan terorisme tidak dilakukan secara sembarangan dan sporadis, tetapi sasaran yang hendak diserang dipilih oleh para teroris (Naharog, 2013: 597).

Berdasarkan laporan Patterns of Global Terrorism 2000, gerakan terorisme bermotif agama dan ideologi paling banyak terjadi. Terdapat 43 kelompok teroris internasional utama yaitu: (1) 27 kelompok sub kelompok misi religius fanatik yang terdiri dari 18 kelompok Islam, 8 kelompok Kristen/Katolik, dan 1 kelompok menganut sekte Aum; (2) 12 sub kelompok berbasis ideologi, yaitu Marxisme dengan berbagai variasinya; dan (3) Empat sub kelompok etno-nasionalisme (Mustofa, 2012: 66).

Berbagai rangkaian peristiwa terorisme selama ini menarik perhatian masyarakat Indonesia di dunia maya. Semua angkat bicara: mulai dari kalangan legislatif, Ormas, akademisi, bahkan mereka yang tidak paham dengan istilah terorisme juga ikut angkat bicara. Latar belakang keilmuan yang berbeda, melahirkan pemahaman yang berbeda pula. Ada yang menyatakan bahwa peristiwa itu hanyalah pengalihan isu yang sengaja “diciptakan” oleh pemerintah, ada pula yang mengatakan bahwa peristiwa itu hanya untuk mencitrakan Islam sebagai agama teroris. Pernyataan ini sebenarnya sangat tidak manusiawi. Kejadian yang menelan banyak korban luka-luka, bahkan korban jiwa dari warga sipil, dianggap hanya sebagai kejadian kecil saja.

Satu lagi. Belum satu minggu ini viral di dunia maya video salah seorang ustadz dengan latar belakang pendidikan magister yang mengisi ceramah Ramadhan di Kota Pekanbaru. Sangat disayangkan, ustadz ini bukannya menyampaikan pesan-pesan agama, tapi malah memprovokasi jamaahnya dengan mengatakan bahwa operasi penangkapan dan penyerangan Densus 88 (anti teror) dilakukan secara sembarangan. Lebih parah lagi ustadz ini melandaskan pesan ceramahnya kepada media sosial.

Janggal. Di satu sisi mereka tidak mau agamanya mendapatkan label teroris, tapi di sisi lain mereka membela aksi teroris.

Rujukan
Imam Mustofa, “Terorisme: Antara Aksi dan Reaksi (Gerakan Islam Radikal Sebagai Respon Terhadap Imperialisme Modern)”, Religia, Vol. 15 No. 1 (April, 2012). 
Abdul Muis Naharog, “Terorisme Atas Nama Agama”, Refleksi, Vol. 13, No. 5 (Oktober, 2013). 
Zulfi Mubarak, “Fenomena Terorisme di Indonesia: Kajian Aspek Teologi, Ideologi dan Gerakan”, Salam, Vol. 15, No. 2 (Desember, 2012). 
Lukman Arake, “Pendekatan Hukum Islam Terhadap Jihad dan Terorisme”, Ulumuna, Vol. 16, No. 1 (Juni, 2012).

Karena Kalian Islam Identik Dengan Terorisme 4.5 5 Pasti Aswaja Saturday, June 17, 2017 Oleh: Muhammad Ahnu Idris Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang mengajarkan keburukan. Semua agama sama-sama mengajarkan keb...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme