Category 1

Theme Support

Sebuah Curahan Hati

Oleh: Vinanda Febriani

"Kriiiiiiinnng.... Kriiiiiiiinnng.... Kriiiiiiiinnng" Bunyi alarm Doraemon-ku mulai berdering. Ku lihat ternyata sudah pukul 05.00 WIB. Akupun bergegas bangun, merapikan tempat tidurku. Setelah itu aku segera mengambil air wudhu kemudian shalat Subuh. Setelah Shalat, aku langsung menuju dapur, membantu bapakku yang sedang menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk keluarga. Kebetulan hari ini hari Minggu.

"Nduk, ada acara apa hari ini?" Tanya bapakku dengan nada halus dan lembut.

"Tidak ada, pak. Di rumah saja." Jawabku.

"Nanti bantu bapak beres-beres rumah ya, nduk." Kata bapakku sambil mengambil cabai giling di kulkas.

"Iya, pak" jawabku.

Aku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Kakaku laki-laki semuanya. Ibuku sudah meninggal 3 tahun yang lalu, karena mengidap penyakit diabetes selama kurang lebih 12 Tahun. Kala itu, aku masih umur 12 tahun (kelas 2 Tsanawiyah). Aku pun 'tak sempat menyaksikan langsung kepergian ibuku, karena kala itu aku berada di Pesantren. Sesalku, aku belum sempat meminta maaf atas segala kesalahanku kepadanya. Semoga saja ibu husnul khatimah di sana.

"Nduk, besok sore kakakmu pulang. Jadi hari ini kita bersih-bersih rumah, ya." Kata bapakku sambil menikmati rokok lintingannya.

"Iya, pak. Jam berapa besok pulang?" Tanyaku.

"Ah, mungkin ba’da Ashar."

Aku kegirangan. Bagaimana tidak, kakak yang selama ini selalu menjadi motivasiku untuk selalu semangat ini akan pulang. Aku jadi teringat dulu ketika kami masih kecil. Kakakku ini sangat menyebalkan dan galak padaku. Ketika kami berhadapan dengan televisi kami selalu berebut remote TV; ketika ada makanan, kami berebut makanan. Pokoknya inilah kakaku yang paling bikin greget, gemes dan nyebelin. 'Tak jarang 'ku dekati dia dan 'ku cubit kecil tangannya, hingga merah dan dia pun merintih kesakitan. Karena dulu aku sangat manja dan nakal. Sampai saat ini pun, kalau aku bertemu dia terkadang 'ku cubit tangannya atau 'ku gelitiki dia. Ha ha ha... Itulah kejahilanku kepada kakakku yang satu ini.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. 'Ku lihat, ternyata kakakku itu menelpon. Ah, ya Tuhan. Baru saja aku berkhayal tentangnya, tiba-tiba ia menelponku.

"Hallo, dek gimana kabarnya?" Itulah pertanyaan yang sangat ku rindukan darinya.

Aku 'tak sabar menunggu kepulangan kakaku ini, dan juga oleh-olehnya yang pasti.

Jam sudah menunjukan pukul 08.00 WIB.

"Nduk, yuk beres-beres rumah." Ajak Bapaku.

"Iya, pak." Jawabku sambil memegang sapu.

Kamipun mulai membersihkan dan menata rumah. Ketika aku membersihkan almari tua milik kakaku, 'ku temukan sebuah foto kakaku ketika masih kecil. "Aduh unyunya... Ih.. Tapi nyebelin." Batinku.

Kakakku yang satu ini memang kakak yang paling crewet dan paling nyebelin. Kalau aku gabung jadi satu dengannya, rumah serasa jadi pasar. Apa-apa diberi komentar. Sampai capek aku denger kakakku ngomel mulu.

Tapi aku suka ketika kakakku sedang berbicara dan bercerita kepadaku tentang "Indonesia". Dia bisa menjabarkan padaku sedikit demi sedikit konflik dan pemencahan masalah di Negara ini, walaupun dia bukanlah "orang penting" di negara ini. Tapi, dialah "orang penting" di masa depanku ini. Dia selalu memberiku motivasi untuk selalu mencintai bangsa ini apapun keadaannya. Ya, begitulah.

Sebelum dia pergi ke Bandung untuk menimba ilmu di sana, banyak 'ku temukan bendera-bendera merah putih yang tersusun rapi dan wangi di almari tua miliknya. 'Ku dapati sebuah coretan kecil dari kakakku yang sudah hampir 12 tahun yang lalu ia tuliskan dan ia simpan dengan baik-baik. Tulisan itu berbunyi:
Dear, Indonesia. 
Kau adalah Negara "sempurna" yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berjuta perbedaan yang sangat beragam. Indonesia adalah negara kaya, negara yang selalu dicintai rakyatnya. Negara ini bukan negara yang mengarah hanya pada satu jenis etnis, agama, dan sebagainya. Namun negara ini negara yang "majemuk". Menurutku, Pancasila sudah sangat sempurna. Tuhan-lah yang mengutus para syuhada’ dan para ulama’ terdahulu, para pejuang perebut kemerdekaan Indonesia. Mereka berani memberontak dan perang terhadap Belanda, karena Tuhan yang mengutus mereka untuk merebut kembali "tanah surga", Indonesia. 
Aku suka semboyan perang mereka: "merdeka atau mati". Semboyan perang yang sangat menggetarkan hati. Siapa, sih yang rela bangsa yang ia cinta dijajah, rakyatnya diperlakukan seperti "babu tanpa bayaran". Mereka dituntut untuk bekerja kepada Belanda tanpa mengenal kata lelah dan tanpa bayaran. Para wanita jadi tawanan murahan. Untung saat itu ada RA. Kartini, pejuang emansipasi wanita yang paling mulia. Jadi wanita saat ini derajadnya sama dengan laki-laki. Mereka dibebaskan untuk bersekolah, menuntut ilmu setinggi langit, bersosialisasi dan bekerja semampu mereka, tanpa ada tekanan dari para Kompeni Belanda. 
Aku bersyukur hidupku di bumi Indonesia, tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan oleh sang "bidadari surga". Entah apa yang akan aku lakukan jika aku lahir dan hidup di Australia, Swedia, Pakistan, atau New Zeland. Mungkin aku tak akan se-cinta ini kepada negri Indonesia. Bahkan, mungkin mengenal sejarah Indonesia yang sangat indah dan menggetarkan hati ini saja tidak. 
Semoga saja nanti, sampai adikku yang terakhir ini beranjak dewasa, nama Indonesia tetap berkibar di dalam lubuk hatinya. Indonesia adalah negara yang patut kita cintai dan kita pertahankan. Indonesia merupakan negara yang aman, nyaman, damai serta toleran. Segala macam kuasa Tuhan yang indah ada disini. Patut kita syukuri dan kita cintai. 
Pesanku kepada adik terakhirku. Semoga dewasamu nanti kau menjadi pribadi yang cinta NKRI dan bertoleransi. Apapun Agama yang terjadi nanti, 'ku mohon jangan pernah membenci NKRI. Karena, di sinilah tempatmu hidup dan melangkahkan kaki, tempatmu bernafas dan bertahan hidup. Kau lahir di Indonesia, maka kau harus cinta Indonesia. 
Salam dari kakakmu yang sangat 'tak ingin masa depanmu gelap karena kau 'tak mau mengenal sejarah peradaban bangsa tempat perta makali menginjakan kakimu. 'Ku mohon nanti, ketika kau dewasa kau selalu mendoakan yang terbaik dan melakukan yang terbaik untuk bangsamu ini. Sejatinya bukan Indonesia yang membutuhkanmu, tapi kaulah yang membutuhkan Indonesia untuk masa depanmu. 
Semoga Tuhan mengijabahi doaku lewat secarik kertas yang sengaja 'ku simpan di bawah tumpukan bendera tercinta ini. Semoga kau bisa membacanya, 'dik. 
Sekian dariku. Semoga kelak kau jadi orang yang sukses dan maju mengungguli diriku.
Itulah secarik kertas berwarna putih pudar yang sudah lama dipendam kakakku di almari tua miliknya. Sekilas memang seperti surat biasa, namun itu menurutku sangatlah berharga. Tulisan ini ditulis tahun 2005 lalu, di mana saat itu aku berusia 5 tahun. Aku bahkan tak menyangka aku bisa menemukan surat kakakku ini.

Ya, benar kata kakakku. Indonesia 'tak butuh aku, tapi akulah yang membutuhkan Indonesia untuk masa depanku. Bagaimana seandainya Indonesia telah hancur, dan aku belum sempat meraih citaku? Apakah aku akan nyaman berada di negara yang hancur ini? Tentu tidak. Jadi, bukan NKRI yang membutuhkan kita, namun kitalah yang sebenarnya membutuhkan Indonesia untuk mempertahankan cita dan masa depan kita, anak kita, cucu kita, cicit kita nanti.

Aku bersyukur atas kuasa Tuhan yang telah menciptakan Indonesia dengan penuh kesempurnaaan. Bahkan, banyak hal yang tidak ada di negara lain, namun hanya bisa di temukan di Indonesia. Sehingga Indonesia menjadi negara yang sangat di segani negara lain. Kita juga wajib mempertahankan itu.

"Nduk, sudah nyapunya?" Tanya Bapak padaku.

"Sudah, pak."

Kami bersantai dan beristirahat sebentar sambil menikmati es degan segar.

"Pak, Mas Devi nanti dijemput dimana?" Tanyaku hanya sekedar iseng.

"Ah... Nanti kan juga dikasih tahu kalau sudah sampai terminal bus." Timpal bapaku santai.

Jujur aku sudah sangat rindu kepada kakakku itu. Setahun, kami hanya bertemu sekali saja dan itu pun terkadang kami egois dengan diri kami sendiri. Menyibukan diri dengan ini itu tanpa saling menyapa satu sama lain. Terkadang aku rindu mencubit tangan kakakku yang crewet itu. Terlebih ketika berebut remote atau bantal.

Ah... Semoga saja nanti kakak pulang bawa banyak jajanan, biar nanti nggak rebutan lagi. He he he... Oh, ya. Surat tadi akan 'ku simpan baik-baik di buku diary kecilku ini. Semoga ini menjadi motivasi dan penyemangatku untuk lebih mengenal dan mencintai "surga ibu pertiwi" ini.

Kak, hati-hati dijalan, ya. Jangan lupa yang di rumah menunggu oleh-olehnya.
Borobudur, 15 Juni 2017.

0 Response to "Sebuah Curahan Hati"

Post a Comment

wdcfawqafwef