• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, November 28, 2017

Nasehat Al-Marhum Kiai Mannan Untuk Dai

Pamekasan – Pasti Aswaja – Menjadi seorang dai bukanlah hal mudah. Ia dituntut cerdas dalam penyampaian pesan dakwahnya. Materi dakwah harus disampaikan dengan penuh hikmah dan tidak menyinggung pihak-pihak tertentu, termasuk ahli maksiat. Tuntutan ini dikarenakan menjadi seorang dai berarti menjadi penerus Rasulullah dalam menjaga kelestarian dan menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, dai harus meneladani akhlaqnya dalam berdakwah.

Hal tersebut selaras dengan pesan almarhum KH. Abdul Mannan Fadholi, Rais Syuriah PCNU Pamekasan periode 2016-2021, kepada salah satu pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pamekasan, KH. Musleh Adnan.

Pesan tersebut dikisahkan oleh Kiai Musleh saat memberikan ceramah agama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad di kediaman H. Fauzi, Palengaan Daja, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (28/11/17).

Kiai kelahiran Jember ini menceritakan menuturkan saat dirinya mendapatkan undangan untuk berceramah, dan secara kebetulan panitia juga mengundang Kiai Mannan. Di sekitar lokasi acara itu sangat dikenal dengan tempat maksiatnya.

Setelah beberapa rangkaian acara, sampailah giliran Kiai Musleh untuk berceramah. Akan tetapi, sebelum naik panggung, Kiai Mannan berbisik kepada alumni PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini dan memintanya supaya tidak membahas hal-hal yang berkenaan dengan tempat maksiat tersebut.

"Sampean bahas tentang Islam kaffah saja. Kita doakan saja (orang-orang ditempat maksiat. Red.) mendapatkan hidayah. Bisa saja nanti ketika mereka mendaptkan hidayah, (mereka. Red.) lebih baik dari kita," tutur Kiai yang lahir 42 tahun silam ini dalam bahasa Madura, menirukan pesan Kiai Mannan, seperti dimuat NU Online Pamekasan. (bor/ahn)
Share:

Sunday, November 26, 2017

Mengenang KH. Abd. Mannan Fadholi

ولدتك أمك يا ابن آدم باكياً # والناس حولك يضحكون
سرورا

فاعمل لنفسك كي تكون إذا بكوا # في يوم موتك ضاحكاً مسرورا

Tak salah apa yang pernah saya dengar dari sesepuh dahulu bahwa manusia itu keberadaannya terbagi menjadi 4: pertama, hidup dan dianggap hidup oleh orang lain; kedua, nati karena ruhnya sudah waktunya berpisah dengan jasadnya; ketiga, hidup tapi orang lain menganggapnya mati malah didoakan oleh orang lain segera mati karena orang lain sudah merasa terganggu atas perbuatan jahatnya; keempat, meninggal tapi tetap dianggap hidup karena banyak jasa yang dia berikan untuk kebaikan orang lain.

Di Hari Guru Nasional ini saya teringat kepada sosok kiai kharismatik, murah senyum, tidak jaim (jaga image) dan low profile (tawadhu'), Almarhum KH. Abdul Mannan Fadholi PP. Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan.

Beliau terpilih menjadi Rais Syuriah bersama KH. Taufik Hasyim sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan pada tanggal 27 bulan Maret tahun 2016. Atas terpilihnya kedua kiai ini warga NU pamekasan berharap NU di Pamekasan semakin baik, meluas, merata dan amanah Muassis NU, KH. Hasyim Asy'ari, yang tertuang dalam Qanun Asasi Nahdhatul Ulama bisa terlaksana menjadi ruh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Gerbang Salam ini. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Pada 15 Juli 2017 KH. Abdul Mannan Fadholi mangkat dipanggil ke Hadratillah. Di pagi itu semua orang yang mendengar kabar wafatnya beliau tak percaya, karena di samping kepergiannya yang begitu mendadak juga karena warga Nahdliyiin tak rela ditinggal beliau dalam waktu sesingkat ini.

Saya sebenarnya kenal dekat dengan beliau tidak begitu lama, karena saya di Pamekasan warga baru dan saya sendiri sungkan sama beliau. Walaupun singkat perkenalan kami, tapi masya Allah, saya sudah banyak belajar tentang akhlaqul karimah kepada beliau.

Nama beliau besar bukan hanya karena beliau putra kiai terkenal dimasanya, KH. Fadholi Siraj, perintis PP. Miftahul Qulub yang beralamat di Jl. Masaran, Dusun Polagan Utara, RT/RW 01/02 Desa Polagan, Galis, Pamekasan dan Putra Mantu Kiai besar, KH. Abdul Hamid Mu'in, Pengasuh PP. Miftahul Ulum Bettet, salah satu pondok pesantren ternama di pamekasan yang didirikan oleh KH. Sirojuddin 33 tahun sebelum kemerdekaan RI tepatnya tahun 1912. Tapi, nama beliau besar karena memang beliau orangnya ikhlas telaten ngurus santri dan masyarakat juga beliau ini dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar memakai cara yang ma'ruf pula.

Pernah suatu malam saya bersama satu panggung dengan beliau dalam acara rutin Majlis Maulid wat Ta'lim Riyadul Jannah Korda Madura di salah satu desa di kecamatan yang ada di Pamekasan dan beliau sendiri sebagai Rais Syuriah MWCNU di kecamatan setempat. Pas giliran saya ceramah beliau berbisik kepada saya: "tolong jangan terlalu keras menyinggung kelompok tertentu yang berbuat maksiat, walaupun santer kabar di tempat ini ada tempat maksiat. Berilah ceramah tentang ajaran Islam yang kaffah saja, tapi dalam hati marilah kita doakan semoga dengan penjelasan Islam kaffah tersebut mereka mendapat hidayah".

Sungguh petuah yang indah dan santun dari beliau ini masih melekat dan berbekas dalam hati saya. Dari dawuh tersebut mencerminkan bahwa beliau tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain walaupun ahli maksiat, karena bisa saja bila pelaku maksiat suatu saat diberi hidayah oleh Allah akan menjadi pribadi baik dan husnul khatimah.

Pada bulan Ramadhan 1438 H. Saya diundang oleh UIM (Universitas Islam Madura), kampus hijau, yang ada di PP. Miftahul Ulum Bettet untuk menyampaikan kajian Ramadhan pada acara buka bersama yang diikuti Majelis Keluarga Pengasuh, rektorat, dosen, karyawan dan sebagian mahasiswa. Pada acara tersebut saya bertemu kembali dengan kiai yang murah senyum ini. Setelah tugas saya selesai, sampailah pada waktu yg ditunggu-tunggu: adzan maghrib. Saya dipersilahkan masuk ke ruang rektor untuk menikmati hidangan buka puasa bersama para masyaikh Bettet. Kurang lebih 20 menit di ruangan tersebut saya asyik berbincang dengan almarhum tentang tema macam-macam mulai tema ke-Nu an, kepesantrenan dan travel umroh. Akhirnya, beliau berpesan kepada saya (ternyata pesan ini menjadi pesan terakhir) "jangan pernah bosan melayani umat".

Sungguh saya walaupun tidak pernah mondok di pesantren beliau dan tidak pernah mengaji langsung kepada beliau, tapi saya akui bahwa beliau adalah guru saya, karena beliau telah mengajarkan banyak hal kepada saya terutama "lisanul haal" atau suri tauladan beliau telah sedikit banyak merubah kehidupan saya.

Untuk beliau: semoga beliau diampuni dosa-dosanya dan masuk surga Allah. Lahul faatihah...
Oleh: KH. Musleh Adnan LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) Pamekasan.
Share:

Friday, November 24, 2017

Warna NU dalam "Kekuasaan"

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Kurang besar apa Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi yang sudah mendunia dan terbesar di dunia ini menunjukkan sebuah fakta yang bahkan semut pun tidak bisa membantah. Bagaimana NU mampu mencetak kader terbaik untuk menjadi bagian dari proses lajunya negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mulai dari level yang paling rendah sampai paling tinggi. Dari tingkat pusat sampai daerah. Mulai dari Indonesia belum merdeka sampai saat ini (baca: zaman now).

Berbicara laju negara tidak lepas dari kekuasaan dalam sebuah pemerintahan. Sebab yang dibutuhkan adalah kontribusi dalam setiap kebijakan. Bagaimana kebijakannya mampu memberikan perubahan yang lebih baik. Dan tidak perlu khawatir bahwa tinjauan yang digunakan dalam keputusan pasti berlandaskan pada dalil-dalil naqli selain dalil aqli. Karena kita tahu bahwa NU adalah organisasi sosial dan keagamaan. Selain negara kita juga bukan negara skuler, yang membiarkan negara berjalan sendiri tanpa intervensi norma agama.

Nah, maka penting kader NU bisa mewarnai proses-proses demokratisasi dalam setiap tingkatan, dan; sampai saat ini kader NU tetap mewarnai. Dalam pada ini, kita bisa melihat sendiri perbincangan di media sosial perihal Pilkada, baik tingkat provinsi atau tingkat kabupaten. Di tingkat Jawa Timur misalnya, yang sangat santer dibicarakan kalau tidak Gus Ipul (panggilan dari Syaifullah Yusuf) pasti Bunda Khofifah (panggilan Khofifah Indar Parawansa). Keduanya adalah kandidat terkuat dalam kontestasi Pilkada Jawa Timur. Lalu, siapa mereka? Mereka adalah kader NU. Iya, kader NU.

Kemudian kita tarik dalam konteks yang lebih sempit lagi, yakni Pilkada Pamekasan. Dalam Pilkada Pamekasan muncul dua tokoh yang sama-sama kuat, yakni KH. Kholilurrahman dan Lora Baddrut Tamam. Tidak perlu lagi dipertanyakan basic organisasinya di mana. Yang jelas para beliau adalah NU dan tidak diragukan lagi ke-NU-annya. Kader terbaik NU ini akan melenggang dalam kontestasi Pilkada Pamekasan untuk tahun pengabdian 2018/2023 mendatang. Kalau di media sosial ramai tentang tokoh atau figur dalam kontestasi Pilkada Pamekasan; saya pastikan tidak lepas dari kedua tokoh ini. Dan keduanya "berdarah" NU.

Mungkin keusilan anda akan bertanya-tanya, "Bagaimana kalau di pusat?" Jangan lupa, bahwa Wakil Presiden kita Bapak Yusuf Kalla adalah warga NU tulen. Masih belum yakin? Silahkan buka google, pasti akan mendapatkan pencerahan dari beliau (Mbah google). Meski tidak sampai presiden, tetapi cukup banggalah.

Tentu, kami bangga sebagai warga NU melihat kenyataan ini. Sebuah kenyataan yang memberikan penjelasan bahwa NU mampu memberikan warna yang terang dalam proses demokratisasi dalam semua tingkatan di Indonesia ini. Persoalan perbedaan karena banyaknya kader yang menjadi pilihan dalam sebuah kontestasi, itu bisa kita kembalikan kepada masing-masing personal. Karena dalam kaidah fikih pun ada khilafiyah yang melahirkan sebuah perbedaan, tapi tidak perpecahan. 

Yang paling mengasyikkan, beberapa hari yang lalu Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammed bin Salman, mengatakan ingin kembali ke "Islam moderat" karena merupakan kunci dalam rencananya untuk memodernisir negara kerajaan itu. Artinya Arab Saudi akan mengadopsi Islam moderat yang di sini dikenal dengan Islam Nusantara yang diperkenalkan oleh NU. Akhirnya Arab Saudi gendeng NU untuk menerapkan Islam Nusantara di negaranya. 

Sehingga, apabila ada sebagian oknum yang selama ini mengolok NU, mencacimaki seenak sendiri, sebaiknya bertanya pada hati kecilnya tentang apa yang sudah dilakukan sebagai kontribusi untuk memberikan perubahan yang lebih baik untuk negara ini. Karena NU sudah banyak berkontribusi sejak Indonesia belum merdeka.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 23 Nopember 2017
*Sekretaris LESBUMI (Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia) PCNU Pamekasan.
Share:

Sunday, November 19, 2017

Diklatsus BARITIM Satkorwil Jatim, Delegasi Pamekasan Terbaik

Tuban – Pasti Aswaja – Pendidikan dan Pelatihan Khusus Banser Maritim (Diklatsus Baritim) yang digelar oleh Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Jawa Timur (Jatim) yang digelar di Tuban sejak Jumat (17/11/17) sudah berakhir, Ahad (19/11/17).

Dari perwakilan delegasi se-Jawa Timur, delegasi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Pamekasan terpilih menjadi peserta terbaik.

Hafid, Wakil Kepala Satkorcab Banser Pamekasan mengungkapkan, prestasi luar biasa ini tidak lepas dari dukungan dan doa para kiai dan ulama-ulama NU Pamekasan.

“Alhamdulillah, anggota Banser yang didampingi langsung oleh Kepala Satkorcab Pamekasan (Jamaluddin. Red.), atas berkat doa para guru, para ulama, para kiai, Banser Pamekasan dapat meraih prestasi ini,” kata mantan aktivis PMII Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan ini kepada wartawan.

Sampai berita ini ditrunkan, lima orang delegasi yang diberangkatkan: Khoirul anam, Moh Taufiq, Ismael, Moh. Amin dan Hasan Basri sedang dalam perjalanan pulang ke Pamekasan, Madura. (bor/ahn)
Share:

Tolak Rekomendasi GP. Ansor Jatim, GP. Ansor Pamekasan Nyatakan Netral

Pamekasan – Pasti Aswaja – Menjelang Pemilihan Umum Bupati (Pilbup) Pamekasan tahun 2018 mendatang, pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pamekasan menyatakan menolak terhadap rekomendasi PW. GP Ansor Jawa Timur untuk mendukung salah satu kandidat calon Bupati di Pamekasan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua PC. GP Ansor Pamekasan, Fathorrahman pada rapat koordinasi dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) di bawah instruksi Ansor Pamekasan, Ahad (19/11/2017) di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95.

"Pengurus-pengurus Ansor ini, baik di tingkat PC dan PAC, sudah memiliki pandangannya masing-masing terkait kandidat Pilbup Pamekasan," ungkap Fathor di hadapan awak media.

Menurutnya, jika Ansor terlibat dukung-mendukung salah satu kandidat dikhawatirkan akan berimbas terhadap perjalanan organisasi yang dipimpinnya. Hal ini juga didasarkan atas instruksi Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah PCNU Pamekasan kepada seluruh pengurus Lembaga dan Banom di lingkungan NU setempat.

"Instruksi Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah, semua pengurus Lembaga dan Banom NU Pamekasan dilarang terlibat politik praktis secara kelembagaan," pungkas Mantan Aktivis PMII tersebut. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, November 15, 2017

Kader PMII Pamekasan Ngopi Bareng Seknas BAANAR

Pamekasan – Pasti Aswaja – Puluhan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, Madura, Jawa Timur mengikuti kegiatan Ngobrol Perkara Islam (NGOPI) bareng Sekretaris Nasional Badan Ansor Anti Narkoba (Seknas BAANAR), Selasa malam (15/11/2017) di Sekretariat PC. PMII Pamekasan, Jl. Brawijaya No. 52b.

Kegiatan yang merupakan program kerja rutinitas Bidang Keagamaan PC. PMII Pamekasan ini membahas tentang peran PMII dalam menangkal radikalisme.

Dalam kesempatan bicara, Ghufron yang didampungi Mohammad Imron, Bendahara Umum PKC PMII Jawa Timur, menyinggung pengaruh besar media yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal-transnasional.

"Karena hampir semua orang saat ini terkoneksi dengan internet yang pengaruhnya luar biasa besar," papar pria yang akrab disapa Gopong tersebut.

Diakhir kesempatan, Gopong mengajak seluruh kader PMII yang hadir untuk juga melawan maraknya penyalahgunaan narkoba.

"Mari ngopi, tinggalkan narkoba," ajak alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen Pamekasan tersebut. (bor/ahn)
Share:

Monday, November 13, 2017

Lawan Narkoba dengan Ngopi Bareng Seknas BAANAR

Pamekasan – Pasti Aswaja – Sekretaris Nasional (Sekmas) Pimpinan Pusan Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR), Ahmad Ghufron Siradj mengajak pemuda Pamekasan, Madura, Jawa Timur untuk melawan narkoba dengan cara unik.

Gopong, sapaan akrab ghufron menggelar Talk Show lawan narkoba sambil ngopi di Waroeng Kampoeng, Jl. Kemuning Pamekasan, Senin (13/11/17) malam.

Menurutnya, perilaku konsumsi kopi saat ini tidak semata sebagai aktivitas rumahan, tetapi juga menjadi bentuk gaya hidup pemuda.

"Kita bisa melihat begitu semarak coffee shop yang menjual jasa tempat meminum kopi. Menariknya, ini tidak semata di kota-kota besar, tetapi berkembang luas ke daerah-daerah juga,” tutur Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen tersebut kepada awak media.

Gopong melanjutkan, bahwa kegiatan ini sebagai upaya mendorong sikap pemerintah dalam menangkal penyalahgunaan narkoba.

“Sekaligus mewujudkan visi besar revolusi mental dengan dorongan mencetak anak-anak muda produktif yang siap menyongsong masa depan,” imbuhnya pemuda yang kerap disapa Lora Jaman Now ini.

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebit K. M. Faizi Al-Kailan, Sastrawan dan Budayawan Madura. (bor/ahn)
Share:

Saturday, November 11, 2017

Refleksi Hari Pahlawan, PMII STAIMU Hadirkan Seknas BAANAR

Pamekasan – Pasti Aswaja – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Pengurus Komisariat PMII STAI-MU Cabang Pamekasan hadirkan Ahmad Ghufron Siradj, Sekretris Nasional Pimpinam Pusat Badan Ansor Anti Narkoba (Seknas PP. BAANAR), Sabtu (11/11/17) di sekretariatnya, Desa Kacok, Palengaan, Pamekasan.

Gopong, sapaan akrab Ghufron Siradj dihadirkan untuk mengisi dialog kepahlawanan dengan Senioritas, Anggota, Kader dan Pengurus Komisariat PMII STAI-MU.

Dalam pemaparannya, Gopong banyak menyinggung tentang pahlawan dan pejuang kemerdekaan yang dilahirkan dari pesantren.

"Saya juga alumni pesantren. Pahlawan jaman now itu harus berjuang mempertahankan Pancasila dari segala bentuk rongrongan. Ada lagi kewajiban kita, yaitu melawan Narkoba. Narkoba itu kampungan,” paparnya.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Mohammad Imron, Bedahara Umum PKC. PMII Jawa Timur. (bor/ahn)
Share:

Thursday, November 9, 2017

Tolak Radikalisme, Masyarakat Pamekasan Deklarasikan KPS

Pamekasan – Pasti Aswaja – Ratusan masyarakat dari berbagai kalangan melakukan longmarch sambil membawa obor dari Pendopo Ronggosukowati, Jl. Kabupaten menuju Monumen Arek Lancor Pamekasan, Kamis (09/11/2017) malam.

Di monumen yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah itu mereka menggelar istighatsah untuk para pahlawan dan mendoakan keselamatan bangsa. Hal itu digelar dalam rangka merefleksi Hari Pahlawan tepat tanggal 10 November besok.

Tidak hanya itu, di sana mereka juga mendeklarasikan berdirinya komunitas yang dinamakan Kompolan Pojok Surau (KPS).

Kompolan (bahasa Indonesia: Perkumpulan) itu menurut RPA. Wazirul Jihad, Koordinator KPS, lahir dari hasil pembacaan masyarakat Pamekasan terhadap kondisi Indonesia saat ini.

Mantan aktivis PMII Surabaya yang akrab disapa Ra Wazir itu melanjutkan, tujuan utama lahirnya KPS adalah untuk menangkal radikalisme dengan langkah menyebarkan ajaran Islam yang damai.

"Kita juga ingin mengembalikan citra yang sudah dilekatkan kepada Islam bahwa Islam itu radikal," imbuhnya.

Berbagai elemen masyarakat di Kota Gerbangsalam itu banyak yang bergabung dengan perkumpulan ini mulai dari guru, aktivis, wartawan, akademisi, pelajar, santri, tokoh masyarakat dan lainnya.

"Bahkan ada Doktor yang bergabung dengan kami, dan Insya Allah akan ada juga profesor yang mau bergabung dengan kami," pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts