• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Theme Support

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Recent Posts

Popular Posts

Pasti Aswaja's Content

Mengenang KH. Abd. Mannan Fadholi

 on Sunday, November 26, 2017  

ولدتك أمك يا ابن آدم باكياً # والناس حولك يضحكون
سرورا

فاعمل لنفسك كي تكون إذا بكوا # في يوم موتك ضاحكاً مسرورا

Tak salah apa yang pernah saya dengar dari sesepuh dahulu bahwa manusia itu keberadaannya terbagi menjadi 4: pertama, hidup dan dianggap hidup oleh orang lain; kedua, nati karena ruhnya sudah waktunya berpisah dengan jasadnya; ketiga, hidup tapi orang lain menganggapnya mati malah didoakan oleh orang lain segera mati karena orang lain sudah merasa terganggu atas perbuatan jahatnya; keempat, meninggal tapi tetap dianggap hidup karena banyak jasa yang dia berikan untuk kebaikan orang lain.

Di Hari Guru Nasional ini saya teringat kepada sosok kiai kharismatik, murah senyum, tidak jaim (jaga image) dan low profile (tawadhu'), Almarhum KH. Abdul Mannan Fadholi PP. Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan.

Beliau terpilih menjadi Rais Syuriah bersama KH. Taufik Hasyim sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan pada tanggal 27 bulan Maret tahun 2016. Atas terpilihnya kedua kiai ini warga NU pamekasan berharap NU di Pamekasan semakin baik, meluas, merata dan amanah Muassis NU, KH. Hasyim Asy'ari, yang tertuang dalam Qanun Asasi Nahdhatul Ulama bisa terlaksana menjadi ruh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Gerbang Salam ini. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Pada 15 Juli 2017 KH. Abdul Mannan Fadholi mangkat dipanggil ke Hadratillah. Di pagi itu semua orang yang mendengar kabar wafatnya beliau tak percaya, karena di samping kepergiannya yang begitu mendadak juga karena warga Nahdliyiin tak rela ditinggal beliau dalam waktu sesingkat ini.

Saya sebenarnya kenal dekat dengan beliau tidak begitu lama, karena saya di Pamekasan warga baru dan saya sendiri sungkan sama beliau. Walaupun singkat perkenalan kami, tapi masya Allah, saya sudah banyak belajar tentang akhlaqul karimah kepada beliau.

Nama beliau besar bukan hanya karena beliau putra kiai terkenal dimasanya, KH. Fadholi Siraj, perintis PP. Miftahul Qulub yang beralamat di Jl. Masaran, Dusun Polagan Utara, RT/RW 01/02 Desa Polagan, Galis, Pamekasan dan Putra Mantu Kiai besar, KH. Abdul Hamid Mu'in, Pengasuh PP. Miftahul Ulum Bettet, salah satu pondok pesantren ternama di pamekasan yang didirikan oleh KH. Sirojuddin 33 tahun sebelum kemerdekaan RI tepatnya tahun 1912. Tapi, nama beliau besar karena memang beliau orangnya ikhlas telaten ngurus santri dan masyarakat juga beliau ini dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar memakai cara yang ma'ruf pula.

Pernah suatu malam saya bersama satu panggung dengan beliau dalam acara rutin Majlis Maulid wat Ta'lim Riyadul Jannah Korda Madura di salah satu desa di kecamatan yang ada di Pamekasan dan beliau sendiri sebagai Rais Syuriah MWCNU di kecamatan setempat. Pas giliran saya ceramah beliau berbisik kepada saya: "tolong jangan terlalu keras menyinggung kelompok tertentu yang berbuat maksiat, walaupun santer kabar di tempat ini ada tempat maksiat. Berilah ceramah tentang ajaran Islam yang kaffah saja, tapi dalam hati marilah kita doakan semoga dengan penjelasan Islam kaffah tersebut mereka mendapat hidayah".

Sungguh petuah yang indah dan santun dari beliau ini masih melekat dan berbekas dalam hati saya. Dari dawuh tersebut mencerminkan bahwa beliau tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain walaupun ahli maksiat, karena bisa saja bila pelaku maksiat suatu saat diberi hidayah oleh Allah akan menjadi pribadi baik dan husnul khatimah.

Pada bulan Ramadhan 1438 H. Saya diundang oleh UIM (Universitas Islam Madura), kampus hijau, yang ada di PP. Miftahul Ulum Bettet untuk menyampaikan kajian Ramadhan pada acara buka bersama yang diikuti Majelis Keluarga Pengasuh, rektorat, dosen, karyawan dan sebagian mahasiswa. Pada acara tersebut saya bertemu kembali dengan kiai yang murah senyum ini. Setelah tugas saya selesai, sampailah pada waktu yg ditunggu-tunggu: adzan maghrib. Saya dipersilahkan masuk ke ruang rektor untuk menikmati hidangan buka puasa bersama para masyaikh Bettet. Kurang lebih 20 menit di ruangan tersebut saya asyik berbincang dengan almarhum tentang tema macam-macam mulai tema ke-Nu an, kepesantrenan dan travel umroh. Akhirnya, beliau berpesan kepada saya (ternyata pesan ini menjadi pesan terakhir) "jangan pernah bosan melayani umat".

Sungguh saya walaupun tidak pernah mondok di pesantren beliau dan tidak pernah mengaji langsung kepada beliau, tapi saya akui bahwa beliau adalah guru saya, karena beliau telah mengajarkan banyak hal kepada saya terutama "lisanul haal" atau suri tauladan beliau telah sedikit banyak merubah kehidupan saya.

Untuk beliau: semoga beliau diampuni dosa-dosanya dan masuk surga Allah. Lahul faatihah...
Oleh: KH. Musleh Adnan LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) Pamekasan.

Mengenang KH. Abd. Mannan Fadholi 4.5 5 Pasti Aswaja Sunday, November 26, 2017 ولدتك أمك يا ابن آدم باكياً # والناس حولك يضحكون سرورا فاعمل لنفسك كي تكون إذا بكوا # في يوم موتك ضاحكاً مسرورا Tak salah apa...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme