• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, December 15, 2018

Tulisan Tak Berjudul

Oleh: KH. M. Musleh Adnan*

John F Kennedy, Presiden AS ke-35, dalam orasinya pada tanggal 20 Januari 1961 berkata: "Jangan tanyakan apa yang negara dapat perbuat untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda perbuat untuk Negara".

Kata-kata di atas menurut beberapa sumber ternyata berasal dari filsuf Marcus Tullius Cicero (3 Januari 106 SM - 7 Desember 43 SM). Cicero adalah orator dan negarawan Romawi Kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato dan prosa.

Terlepas dari mana sumbernya saya menangkap bahwa kata tersebut merupakan spirit bagi warga negara untuk senantiasa mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran memberikan kontribusi positif untuk kemakmuran negara.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kita sebagai warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia, makan di Indonesia, bekerja di Indonesia, menikmati sumber daya alam di Indonesia harus berusaha dalam setiap bentuk tindakan dan pemikiran serta upaya menjadikan Indonesia jaya dan disegani bukan justru ingin mendapat sesuatu dari negara apalagi mau merubah visi negara, bentuk dan ideologi negara yang sudah kuat.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, kami sebagai warga negara Indonesia merasa heran bagi sekolompok orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin yang visioner, inovatif, bekerja tidak hanya menurut aturan (rule), mampu berpikir lateral tidak hanya linier juga mampu berpikir secara divergen tidak hanya konvergen ketika didapuk menjadi pemimpin publik di daerah menjadi Bupati/Wali Kota atau Gubernur bukan tulus ingin membangun daerahnya, tapi setelah sukses menyulap daerahnya menjadi kota atau propinsi yang maju dengan semua program-program unggulan dan intens memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia dengan iklan layanan melalui media, ternyata semua itu hanya sebagai batu loncatan guna meraih jabatan lebih tinggi (Bupati ingin menjadi Gubernur dan Gubernur ingin menjadi Presiden).

Rakyat sudah lama merindukan keteladanan. Mereka butuh teladan untuk mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan lainnya, teladan untuk jujur tanpa pura-pura, teladan untuk berkorban demi kemaslahatan bersama.

Indonesia itu sejak dulu memiliki ciri tersendiri dan warganya mempunyai karakteristik, dimana dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan. Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarya, tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.

Sekarang banyak elit di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila. Ketika suatu golongan dibiarkan diberangus di altar kebencian oleh golongan lain, misalnya, tak banyak yang bisa bangsa ini lakukan.

Ketika saya berada di bangku sekolah dasar di Jember memperoleh pelajaran bahasa daerah dan juga diajarkan beberapa ajaran sesepuh tentang etika yang dalam bahasa agama sebenarnya disebut akhlaq, tapi saat ini sudah raib entah kemana, misalnya andhap asor (sahaja); tepo seliro (tenggang rasa); ngajeni (menghargai kelebihan); narimo ing pandom (menerima rejeki hidup); urip ora ngonyo (hidup seadanya); gotong royong (saling membantu); ngajeni wong tuwo (menghormati).

Saya meyakini semua prinsip di atas bukan hanya milik daerah tertentu (baca: Jawa), tapi merupakan ciri semua orang Indonesia. Namun, saat ini prinsip-prinsip tersebut hilang seiring perkembangan zaman, malah yang tersisa hanyalah pemandangan para generasi bangsa tenggelam dalam kemajuan zaman dan melupakan warisan leluhur.

_________________
* Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Pamekasan.
Share:

Thursday, December 13, 2018

PAC Ansor Proppo Rampungkan Ta'aruf Dengan 27 Ranting

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Proppo, Rabu malam (12/12/18) menggelar ta'aruf kepengurusan ke-4 dengan sembilan ranting, meliputi: Tlangoh, Lenteng, Banyubulu, Rangperang Laok, Rangperang Daya, Samatan, Samiran, Kodik, dan Klampar di Yayasan Tarbiyatus Shibyan, Rangperang Laok, Proppo, Pamekasan. Kegiatan ini menjadi agenda ta'aruf terakir setelah merapungkan pembentukan 27 Pimpinan Ranting di semua desa se-Kecamatan Proppo.

Subhan Maulana, Ketua PAC GP. Ansor Proppo, mengungkapkan rasa syukurnya, karena organisasi yang dipimpinnya mampu melaksanakan lima agenda dalam satu bulan, termasuk pembentukan 27 PR GP Ansor.

"Mudah-mudahan 27 ranting yang sudah dibentuk bisa bahu-membahu memperat tali persaudaran, memperkokoh ukhuwah islamiyah, insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah demi persatuan umat serta menebar kedamaian ke seluruh penjuru dunia ," harapnya.

Syafiuddin, Ketua PC. GP. Ansor Pamekasan mengungkapkan kebanggaannya terhadap GP. Ansor Proppo yang terus-menerus aktif melakukan gerakan sampai ke bawah.

"Atas nama PC GP Ansor Pamekasan, saya mohon dukungan dari semua unsur MWC NU Proppo untuk terus mendukung kegiatan PAC GP Ansor Proppo," ungkap Syafik.

Hadir dalam kesempatan ini, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan yang dalam sambutannya mengajak GP. Ansor agar tetap semangat mengabdi kepada Nahdlatul Ulama.

"Kita aktif di NU ini semata-mata mengharap barokah para muassis NU. Mari kita tingkatkan perjuangan dan pengabdian kita di NU," ajak KH. Taufik. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, December 12, 2018

PSNU Pagar Nusa Jadi UKM Baru di STAIMU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan.

Dikutip Pasti Aswaja dari website resmi STAIMU, Rabu, (12/12/2018), KH. Taufik Hasyim selaku Ketua STAIMU, meminta seluruh mahasiswa di kampus yang ia pimpin supaya bergabung bersama UKM PSNU Pagar Nusa.

Menurutnya, pembentukan UKM baru tersebut bertujuan melatih jiwa dan raga mahasiswa di kampus yang ada di bawah Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) itu supaya menjadi pribadi yang sehat lahir batin.

Kiai Taufik yang juga Ketua PCNU Pamekasan, meminta kepada semua Kaprodi supaya turut serta mendorong seluruh mahasiswa bergabung bersama PSNU Pagar Nusa. Karena, menurutnya, akal yang sehat terdapat dalam raga yang sehat.

“Dan tujuan dari Pagar Nusa ini untuk melatih jiwa dan raga mahasiswa supaya menjadi pribadi yang sehat lahir batin,” lanjutnua. (ahn/bor)
Share:

Sunday, October 21, 2018

Sambut HSN, Yayasan Al-Furqon Gelar Lomba Mars Syubbanul Wathan

Sampang — Pasti Aswaja — Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Yayasan Al-Furqon, Tanjung, Sampang menggelar Lomba Mars Syubbanul Wathan, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan yang diikuti 12 grup perwakilan dari  SMP dan SMK Islam Tanjung Sampang ini dibuka langsung oleh Fudholiy Syahri, Ketua Yayasan.

Dalam sambutannya, Fudholiy mengungkapkan, peringatan HSN ini merupakan rangkaian untuk mendorong santri agar terus berkreasi, khusisnya SMP dan SMK Islam Tanjung, sebagai lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Yayasan Al-Furqon.

"Selain itu, santri juga punya peran penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, terlebih lagi dibawah Komando KH. Hasyim Asyari. Dengan andil tersebut berdasarkan Keppres mulai 2015 lalu, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional," ungkapnya.

Sementara itu, Junaidi, Kepala SMK Islam Tanjung menuturkan, ke depan kegiatan ini tidak hanya berlaku bagi siswa dan santri, namun pihaknya akan menggandeng lembaga pendidikan lain di Kabupaten Sampang dan Pamekasan. 

"Melalui kegiatan semacan ini kami berkeinginan membentengi siswa-siswi dari ancaman radikalisme, dan paham yang bisa membelah bangsa ini," ujar Pengurus MKKS SMK Ma’arif Jawa Timur tersebut.

Pada pembukaan lomba ini hadir Pengurus Yayasan, Dewan Guru beserta Staf TU di bawah naungan Yayasan Al-Furqon Tanjung, Sampang. (bor)
Share:

Tuesday, October 9, 2018

PMII Al-Khairat Kirim Bantuan untuk Palu Melalui PCNU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam Donggala dan Palu di Sulawesi Tengah melalui PCNU Pamekasan, Selasa (09/10/18).

Hasil penggalangan dana sebesar Rp. 2.470.900 ini diterima langsung oleh Sekretaris PCNU Pamekasan, H. Abd. Rahman Abbas, di Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz no. 95 Jungcangcang untuk selanjutnya disalurkan melalui PWNU Jawa Timur.

"Atas nama PCNU Pamekasan, saya ucapkan terima kasih atas kepercayaannya," ucap H. Abd. Rahaman.

Fathorrasyi, Ketua Komisariat PMII IAI Al-Khairat berharap, agar bantuan yang dinerikannya bisa dimanfaatkan oleh korban bencana alam Palu, meski tidak seberapa.

"Semoga bermanfaat dan bisa meringankan beban saudara-saudara yang tertimpa musibah di Palu dan sekitarnya," harap Rosi. (bor)
Share:

Mahasiswa IAIN Madura Salurkan Bantuan Untuk Palu Melalui PCNU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Beberapa mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Bakti Sosial, Selasa siang (09/10/18) mendatangi Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz No. 95, Jungcangcang, Pamekasan.

Kedatangan mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah, Prodi Bahasa Inggris ini dalam rangka menyalurkan bantuan untuk korban bencana alam Palu, Donggala, dan sekitarnya di Sulawesi Tengah dari hasil penggalangan dana melalui PCNU Pamekasan.

Ach. Ali Wafa, Ketua Komunitas Pemuda Bakti Sosial menuturkan, dana tersebut diharapkan bisa meringankan beban korban bencana alam di Palu dan sekitarnya.

Para aktivis kampus itu, lanjut Wafa, menggalang dana selama tiga hari, dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 7.910.900.

Sementara itu, KH. M. Shahebuddin, Wakil Ketua PCNU Pamekasan, yang didampingi H. Abd. Rahman Abbas, Sekretaris PCNU Pamekasan menyatakan, pihaknya akan meneruskan penyaluran bantuan ini melalui PWNU Jawa Timur.

Mantan Rektor Universitas Islam Madura itu berterima kasih kepada para mahasiswa itu karena sudah mempercayakan penyaluran bantuannya kepada PCNU Pamekasan.

"Mudah-mudahan amal bakti ini diterima oleh Allah," ungkapnya. (bor)
Share:

Monday, October 8, 2018

SMK Islam Tanjung Galang Dana Untuk Korban Bencana Palu

Sampang — Pasti Aswaja — Sebagai bentuk kepedulian terhadap korban bencana alam Palu, Donggala, Sulawesi Tengah dan sekitarnya, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Tanjung menggelar penggalan dana.

Kegiatan yang digelar di daerah Desa Bandaran dan Desa dharma Tanjung ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.500.000.

Junaidi Mustaji, Kepala Sekolah SMK Islam Tanjung menuturkan, kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya untuk meringankan kesusahan korban bencana alam di Palu dan sekitarnya.

"Kami juga ingin memberikan pengertian kepada siswa-siswi SMK Islam Tanjung untuk peduli terhadap sesama manusia, baik yang se-agama maupun tidak," tuturnya, Senin (08/10/2018).

Dana yang terkumpul ini nantinya akan disalurkan melalui Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Camplong, Sampang. (bor)
Share:

Wednesday, September 19, 2018

Siapakah Ulama Itu?


Oleh: KH. M. Musleh Adnan*


إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Al-Hafidz Ibnu Katsir di kala menafsirkan ayat di atas, beliau menukil kata Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud ulama adalah orang yang kenal kepada Allah, yang tidak syirik kepada Allah, menghalalkan apa yang Allah halalkan, mengharamkan apa yang Allah haramkan, menjaga wasiat (perintah) Allah, meyakini bahwa dia akan menghadap Allah dan selalu introspeksi diri.

عن ابن عباس قال:العالم بالرحمن من عباده من لم يشرك شيئا وأحل حلاله وحرم حرامه وحفظ وصيته وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله. (تفسير إبن كثير ٣/٥١٨

Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Shawi Al-Mashri Al-Khalwati Al-Maliki menafsirkannya:

والمعنى إنما يعظم الله من العباد العلماء لكونهم أعرف الناس بربهم وأتقاهم له فالواجب على الناس تعظيمهم واحترامهمإقتداء بالله تعالى فإن الله أخبر أنه يعظمهم ويجلهم 
حاشية الصاوي على تفسير الجلالين ٣/٢٨١ دار الكتب العلمية بيروت

Tafsir ayat di atas: "Allah menjelaskan sesungguhnya dari sekian hamba Allah yang benar-benar mengangungkanNya hanyalah Ulama, karena mereka lebih mengenal dan lebih takut kepada Allah. Maka, seharusnya kita mengagungkan ulama karena mengikuti anjuran Allah di mana Allah sendiri memuliakan ulama.

Ahmad Ibnu Hanbal memberikan kriteria orang alim dengan merujuk kepada pendapat-pendapat dari berbagai sumber misalnya:

وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال لا يكون الرجل عالما حتى لا يحسد من فوقه ولا يحقر من دونه ولا يبتغي بعلمه ثمنا 

Seseorang tidak dianggap alim sampai dia tidak dengki kepada orang yang berada di atasnya, tidak merendahkan orang yang status sosialnya berada di bawahnya, dan dia dengan ilmunya tidak ingin menumpuk materi duniawi

Umar bin Khattab bertanya kepada Abdullah bin Salam: "Siapakah orang yang berilmu itu? Beliau menjawab: 'Dialah orang-orang yang mengamalkan ilmunya'." Tafsir Ahmad ibnu Hanbal juz 2 hal 120

Lebih rinci lagi Sayyid Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad mendefinisikan ulama dalam kitabnya Al-Nashaih Al-Diniyyah hal 22 adalah:

فَمِنْ عَلَامَاتِ الْعَالِمِ: أَنْ يَكُوْنَ خَاشِعًا مُتَوَاضِعًا خَائِفًا مُشْفِقًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا قَانِعًا بِالْيَسِيْرِ مِنْهَا مُنْفِقًا الْفَاضِلَ عَنْ حَاجَتِهِ مِمَّا فِي يَدِهِ نَاصِحاً لِعِبَادِ اللهِ رَحِيْمًا بِهِمْ آمِرًا بِالْمَعْرُوْفِ نَاهِيًا عَنْ الْمُنْكَرِ مُسَارِعًا فِي الْخَيْرَاتِ مُلَازِمًا لِلْعِبَادَاتِ وَوَقَّارًا وَاسِعَ الصَّدْرِ لَا مُتَكَبِّرًا وَلَا طَامِعًا فِي النَّاسِ وَلَا حَرِيْصًا عَلَى الدُّنْيَا وَلَا جَامِعًا لِلْمَالِ وَلَا مَانِعًا لَهُ عَنْ حَقِّهِ وَلَا فَظًّا وَلَا غَلِيْظًا وَلَا مُمَارِيًا وَلَا مُخَاصِمًا وَلَا قَاسِيًا وَلَا ضَيِّقَ الصَّدْرِ وَلَا مُخَادِعًا وَلَا غَاشًّا وَلَا مُقَدِّمًا لِلْأَغْنِيَاءِ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَلَا مُتَرَدِّدًا إِلَى السَّلَاطِيْنِ .وَبِالْجُمْلَةِ فَيَكُوْنُ مُتَّصِفًا بِجَمِيْعِ مَا يَحُثُّهُ عَلَيْهِ الْعِلْمُ وَيَأْمُرُهُ بِهِ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُوْدَةِ وَالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةَ مُجَانِبًا لِكُلِّ مَا يَنْهَاهُ الْعِلْمُ عَنْهُ مِنَ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ الْمَذْمُوْمَةِ. ( ص. ٢٢)

Tanda/ciri orang alim (ulama) antara lain: pembawaannya tenang, rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, qana'ah, suka sedekah, membimbing umat, menyayangi mereka, selalu mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan/maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi kemegahan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hati, tidak kasar, tidak suka pamer, tidak memusuhi dan membenci orang, tidak picik, tidak menipu, tidak licik, tidak mendahulukan orang kaya dari pada orang miskin, dan tidak mondar mandir sering mengunjungi pejabat pemerintahan atau penguasa.

Kesimpulannya ulama adalah orang yang memiliki sifat yang diperintah dan didorong oleh ilmu berupa akhlak yang baik dan menjauhi apa yang dilarang ilmu yakni akhlak yang buruk.
*Pemgurus Lembaga Dakwah PCNU Pamekasan.
Share:

Thursday, August 23, 2018

Pembauran Antara Jemaah Laki-Laki dan Perempuan Dalam Shalat

Tanggapan Pemberitaan Maduraku (dot) com

Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Suasana Shalat Id di Masjid Jamik Asy-Syuhada Pamekasan (22/08/18).

Sebelum memaparkan tentang ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dalam shalat, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terdahulu. Saya bukan ahli fikih yang memiliki kapasitas untuk berbicara tentang syariat Islam. Saya cuma alumni pesantren yang waktu mondok lebih sering bolos dan melanggar aturan-aturan yang ditetapkan pesantren. Saya di pesantren juga tidak lama, hanya 8 tahun. Jauh dibanding pemikir-pemikir Islam yang berpuluh-puluh tahun mendalami ilmu agama.

Saya dulu mondok di pesantren asuhan putra Ketua Tanfidziah pertama PCNU Pamekasan (tahun 1926), KH. Badruddin. Dan beliau sekarang melanjutkan perjuangan abahnya di NU sebagai Mustasyar PCNU Pamekasan sekaligus Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Tidak hanya itu, beliau juga besan Romo Yai Miftahul Achyar, Wakil Rais PBNU. Jadi, bisa dikatakan ada "ikatan emosional" antara saya dengan NU.

Selain itu, almarhum kakek saya dari bapak dulu juga aktif di NU sebagai Ketua Ranting. Sedangkan kakek saya dari ibu dulu aktif di GP. Ansor. Perjuangan kakek-kakek saya itu kemudian dilanjutkan oleh bapak saya. Artinya, saya lahir dari keluarga yang tidak diragukan lagi ke-NU-annya, dan semoga saya bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan beliau di NU.

Sekarang masuk ke judul tulisan ini.

Tulisan ini lahir atas pemberitaan yang dimuat oleh media massa online Maduraku (dot) com dengan judul "Di Madura, Shalat Id Laki-Laki dan Perempuan Campur Seperti Ini". Dalam berita itu yang diinformasikan adalah pembauran antara jemaah laki-laki dengan jemaah perempuan tanpa ada pembatas. Kondisi shalat id seperti itu (iktilath antara laki-laki dan perempuan) kemudian oleh reporter media tersebut "disamakan" dengan senam aerobik. Singkatnya, berita itu hanya fokus pada pembauran jemaah dan sama sekali tidak menyebutkan nama NU. (Link berita: https://maduraku.com/2018/08/22/di-madura-shalat-id-laki-laki-dan-perempuan-campur-seperti-ini/). Akan tetapi, saya merasa terpanggil untuk menanggapi berita tersebut karena yang bertindak sebagai Khatib dan Imam Shalat Ied adalah KH. Taufik Hasyim, M.Pd.I, yang 'tak lain adalah Ketua PCNU Pamekasan yang juga cucu pengasuh pesantren tempat saya mondok.

Bagi santri, guru tidak hanya mereka yang mengajar ilmu pengetahuan secara langsung. Lebih dari itu, segala hal yang memiliki hubungan dengan guru, maka hal itu posisinya sama dengan guru. Maka, tidak usah heran jika melihat santri tidak mau duduk di tempat yang pernah diduduki oleh gurunya. Jika orang tua merawat jasmani kita, maka gurulah yang merawat rohani kita. Jika orang tua yang memberi asupan jasmani kita, maka gurulah yang memberi asupan rohani kita. Begitu kira-kira penjelasan guru saya waktu dulu belajar kitab Tarbiyat al-Shibyan. Gus Dur bilang, santri disuruh loncat ke api, dia loncat tanpa pikir panjang; jika yang menyuruh adalah gurunya. Itulah arti guru di mata santri.

Yang jelas, Ketua PCNU Pamekasan bukanlah orang yang tidak paham agama. Beliau pasti menolak jika pelaksanaan Shalat Id tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Artinya, tulisan ini lahir karena dua alasan: pertama, yang menjadi Khatib dan Imam Shalat Id yang diliput oleh media massa tersebut adalah simbol NU Pamekasan, yakni Ketua PCNU Pamekasan; kedua, karena ikatan emosional antara guru dan santri.

Yang menjadi tanda tanya bagi saya adalah waktu pembuatan berita tersebut. Kenapa baru pada pelaksanaan Idul Adha yang disoroti? Bukankah dari dulu kondisi jemaah shalat id seperti itu? Semoga bukan karena Khatib dan imam shalatnya adalah Ketua PCNU Pamekasan. Karena, dunia komunikasi penyiaran meyakini "tidak ada media massa yang bebas nilai", semua media pasti condong pada ideologinya masing-masing.

Meluruskan dan merapikan shaf merupakan salah satu pra-syarat kesempurnaan shalat. Ulama madzhab sepakat tentang hal ini. Maka dari itu, di banyak masjid di beri tanda shaf dan pemisah antara jemaah laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, shaf yang tidak lurus dan tidak rapi, tidak lantas menjadikan shalatnya batal. Tidak begitu. Karena, meluruskan dan merapikan shaf hukumnya sunah.

Lantas, bagaimana jika jemaah bercampur antara laki-laki dan perempuan? Madzhab Hanafi, menghukumi shalat seperti disebutkan batal. Sedangkan madzhab madzhab yang lain menghukumi boleh dan tidak batal (lihat: Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu: 402).

ان وقفت المراة في صف الرجال لم تبطل صلاة من يليها ولا صلاة من خلفها، فلا يمنع وجود صف تام من النساء اقتداء من خلفهن من الرجال، ولا تبطل صلاة من امامها، ولا صلاتها، كما لو وقفت في غير صلاة.

Artinya, jika perempuan shalat dan berdiri di barisan laki-laki, maka shalat orang yang ada di sampingnya tidak batal, begitu juga shalat orang yang ada di belakangnya. Oleh karena itu adanya shaf perempuan yang sempuran tidak bisa menghalangi mengikutinya orang laki-laki yang ada di belakangnya. Juha tidak batal shalat orang yang ada di depan perempuan, begitu juga shalatnya perempuan. Hal ini sebagaimana ia berdiri pada selain shalat. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr, cet. ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402).

Berkenaan dengan shaf shalat, memang ada hadits yang menunjukkan perintah untuk menempatkan shaf perempuan setelah shaf laki-laki;

اخروهن من حيث اخرهن الله

"Akhirkan mereka (perempuan) sebagaimana Allah mengakhirkan mereka."

Hadits ini tidak lantas menjadikan shalat laki-laki —yang ada dibelakang perempuan— menjadi batal. Karena, suatu ketika Ibnu Abbas ra. pernah menjadi makmum Rasulullah dan berdiri di samping kirinya, tetapi Rasulullah tidak menghukumi batal terhadap shalat Ibmu Abbas.

ولامر بتأخير المراة: اخروهن من حيث اخرهن الله لا يقتضي الفساد مع عدمه: لان ترتيب الصفوف سنة نبوية فقط، والمخالفة من الرجال او النساء لا تبطل الصلاة، بدليل ان ابن عباس وقف على يسار النبي ثلى الله عليه وسلم فلم تبطل صلاته. (وهبة الزهيلي — فقه الإسلامي وادلته — ص: ٤٠٢)

Perintah menempatkan perempuan pada barisan yang akhir setalah shaf laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ‘akhirkan mereka sebagaimana Allah mengkahirkannya’, tidak serta merta mengharuskan fasad (rusak) shalat ketika shaf perempuan tidak berada di belakang shaf laki-laki. Karena urut-urutan shaf itu hanya sunnah nabi saja. Sedangkan berbeda dengan sunnah tersebut, baik laki-laki maupun perempuan tidak membatalkan shalat karena ada dalil yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas ra pernah berdiri (bermakmum) di sebelah kiri Nabi tetapi shalatnya tidak batal”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402).

Jadi, campur-baur antara jemaah laki-laki dan perempuan dalam shalat itu tidak masalah, kecuali bagi madzhab Hanafi. Akan tetapi, berita itu juga harus menjadi bahan koreksi bagi takmir Masjid Jamik Asy-Syuhada, karena tidak semua masyarakat paham soal agama. Mungkin bagi mereka yang paham agama, kasus ini tidak menjadi persoalan, dan kemudian akan menjadi persoalan bagi mereka yang tidak begitu paham persoalan agama.

Berkenaan dengan berita di atas, jika ditinjau melalui Analisis Wacana Teun A. van Dijk, ada dua kemungkinan pengambilan framing berita itu: 1. dipengaruhi oleh "Konteks" kekinian negeri ini; 2. "Kognisi Sosial" penulis berita. Kognisi Sosial bisa berupa ideologi atau pemahaman penulis berita. Jika yang dimuat seputar ekonomi, maka pemahaman ekenomi penulis berita mempengaruhi framing berita yang dibuatnya. Begitu juga jika yang ditulis seputar persoalan agama.
*Santri ndeso yang sedang belajar Komunikasi Penyiaran.
Share:

Sunday, August 5, 2018

Rendah Hati. Itulah Ketua PCNU Pamekasan

Oleh : Muhammad Abror*

KH. Taufik Hasyim. Nama tersebut tidak asing di teling nahdliyin (warga NU) Pamekasan. Kiai muda kelahiran 8 Juli 1982 tersebut merupakan Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan yang terpilih sejak 2016 lalu. Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kediri, Jawa Timur tersebut terpilih menjadi Ketua Tanfidziah menggantikan KH. Abd. Ghaffar.

Penulis terinspirasi untuk menulis sikap rendah hati Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah Palengaan, Pamekasan, Madura tersebut setelah beberapa kali kesempatan 'menemani' dalam momentum acara NU, baik di Pamekasan maupun di luar.

Penulis (dua dari kiri) bersama Ketua PCNU Pamekasan (baju koko putih)
Di antara beberapa sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh Kiai Taufik adalah saat menghadiri Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU Jawa Timur yang digelar di tempat beliau nyantri dan menimba ilmu, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pertama, saat rombongan yang penulis ikuti tiba di 'basecamp' rombongan PCNU Pamekasan, dengan senyuman yang khas beliau menyambut dengan tanpa ada rasa sungkan sedikitpun menghaturkan kami untuk masuk dan istirahat setelah perjalanan jauh dari Pamekasan ke Kediri.

Kedua, sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh beliau adalah saat penulis bersama Direktur Aswaja NU Center dan Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Pamekasan diajak untuk mendatangi rumah makan favorit beliau saat masih aktif sebagai mahasiswa di Institut Agama Islam (IAI) Tri Bhakti, Kediri. Di rumah makan yang biasa buka pukul 01.00 dini hari, beliau bersua dengan 3 orang sahabatnya saat nyantri di Lirboyo mengenakan jaket khas Banser. Meski sudah menjabat Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, namun sapaan akrab beliau kepada teman-temannya sedikitpun tidak berubah. Saat bernostalgia, berbagi canda dan tawa dengan sahabat lamanya membuat penulispun ikut tertawa. Di sana, penulis melihat sosok Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan yang sangat rendah hati.

Masih di area konferwil PWNU Jawa Timur. Kerendahan hati lainnya yang beliau tunjukkan adalah saat dipilih oleh KH. Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur terpilih untuk menjadi tim formatur, guna menyusun kepengurusan PWNU Jawa Timur periode 2018-2023. Dengan nada dan cara yang halus beliau menolak keinginan Kiai Marzuki dan memberikan kepercayaan kepada Ketua Tanfidziah PCNU Bangkalan yang notabene lebih senior dari beliau. Penulis yang ada di depan ruang sidang Konferwil ke-17 bersama dengan beberapa rombongan dari PCNU Pamekasan kaget setelah mendengar pernyataan sikap beliau.

Sungguh luar biasa bisa mengenal sosok Kiai muda yang mengajari kader-kader penerus perjuangan NU untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Bangga bisa menjadi bagian dari warga NU Pamekasan di bawah kepemimpinan Kiai Taufik. Mudah-mudahan beliau terus diberi kesehatan, sehingga bisa tetap istikamah dalam memperjuangkan akidah Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah di bumi nusantara ini.
*Penulis merupakan Reporter NU Online Pamekasan yang ditugaskan untuk meliput kegiatan Konferwil PWNU Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Share:

Friday, July 20, 2018

PCNU Pamekasan Geram Lambang NU Dicatut Untuk Kepentingan Politik

Pamekasan – Pasti Aswaja - KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, merasa geram dengan ulah petinggi salah satu partai politik di Pamekasan yang menggunakan lambang NU untuk foto profil akun Facebooknya.

Ra Taufik, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa dirinya tidak rela jika lambang NU digunakan untuk tujuan tidak jelas.

"Apalagi hanya di taruh di foto profil akun medsos," lanjut alumni PMII Kediri itu Jumat (20/07/18) siang, di kediamannya, Pon. Pes. Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan, lambang NU tidak lahir begitu saja, tapi membutuhkan proses panjang dan waktu berbulan-bulan.

"Waktu mendapatkan perintah dari KH. Hasyim Asyari untuk membuat logo NU, KH. Muhammad Ridwan tidak langsung membuat. Beliau masih shalat istkharah dan shalat hajat dulu," imbuhnya.

Ra Taufik merasa sangat miris jika lambang NU hanya digunakan untuk foto akun FB petinggi partai politik yang pengurus pusatnya suka menghina kiai-kiai NU.

Tidak sampai di situ, Ra Taufik juga meminta kepada GP Ansor dan Persatuan Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa untuk melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan.

"Melihat banyaknya warga NU yang bertanya ke saya, maka saya himbau kepada PC GP Ansor dan PC Pagar Nusa untuk segera tabayun ke yang bersangkutan," pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Monday, June 18, 2018

Gus Yahya: Pengasuh Pesantren dan "Pengasuh" Blog Terong Gosong (Jawaban Untuk Pertanyaan Ustadz Tifatul Sembiring)

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring (TS), melalui akun twiternya mempertanyakan dua hal berkenaan kedatangan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke Israel untuk menjadi pembicara dalam forum ilmiah: Pertama, kunjungan itu atas perintah Presiden Indonesia atau kunjungan pribadi; kedua, saat bertemu dengan Netanyahu, apa Gus Yahya sempat bertanya kenapa Israel membantai 60 penduduk Gaza dua hari sebelum puasa. Sebagaimana kids zaman now, kicauan itu disertai hashtag #MauTauBanget.

Tidak sedikit para warganet yang mengecam dua pertanyaan mantan Presiden PKS itu. Mereka mengecam karena TS menggunakan sebutan "mas" kepada Gus Yahya. Sebutan itu oleh warga net dinilai tidak etis dilayangkan pada seorang kiai.

TS tidak mau ambil pusing. Ia santai saja menyikapi banyaknya komentar bernada kecaman itu. Bahkan, TS kembali berkicau yang isinya mempertanyakan kekiaian Gus Yahya dan pesantren mana yang diasuhnya.
Oh baru tahu saya, mas Yahya itu seorang Kiai. Kalau boleh tahu mengelola pesantren di mana ya...
Kicauan pertanyaan —tanpa tanda tanya— ini membuat saya tersenyum. Bagaimana tidak, kok bisa sekelas mantan presiden partai, mantan Menkominfo, dan sekarang sedang mewakili rakyat Indonesia di Senayan tidak tahu sosok kiai yang masih "keluarga Bisri" ini? Bayt ar-Rahmah (organisasi kemanusiaan yang berpusat di AS) saja memuat profil Gus Yahya, kok TS —yang warga Indonesia— tidak tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mengarang sendiri jawaban yang paling "masuk akal" bagi saya, bahwa TS hanyalah manusia biasa yang tidak maha tahu dan tidak luput dari khilaf (tanpa ta' marbuthah).

Baik, kita beranjak ke "persoalan kiai".

Dalam KBBI, kata kiai diartikan: 1) sebutan bagi alim ulama; 2) alim ulama; 3) sebutan bagi guru ilmu gaib (dukun dsb); 4) kepala distrik (di Kalimantan Selatan); 5) sebutan yang mengawali nama benda yang dianggap bertuah (senjata, gamelan, dsb); 6) sebutan samaran untuk harimau (jika orang melewati hutan); 7) teriakan yang dikeluarkan melalui kerongkongan. Istilah ini digunakan dalam olahraga karate (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 767-768).

Gelar kiai, memiliki pemaknaan yang beragam. Dari sisi istilah, secara umum kiai diartikan sebagai penyebutan kepada seseorang yang dihormati yang memiliki ilmu keagamaan. Secara luas, terdapat beberapa penafsirannya. Dalam percakapan di beberapa daerah, ‘ajengan’ memiliki arti sinonim dengan kiai (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 24). Ajengan memiliki makna sebagai orang yang terkenal, yang kemudian diikuti dengan penjelasan “terutama guru agama Islam”. Pemaknaan mengenai kata kiai juga dapat diartikan sebagai seorang ahli, yang berfokus pada bidang keagamaan (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 7).

Mungkin, pertanyaan TS tentang kekiaian Gus Yahya didasarkan pada pendapat Zamakhsyari Dhofier (1982) yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Menurur Dhofier, secara teknis seseorang pantas dan berkembang untuk disebut sebagai seorang kiai apabila ia telah memiliki pesantren. Mungkin pembacaan TS tentang kiai hanya sampai di sini, dan tidak melanjutkan pada pembahasan selanjutnya bahwa, menurut Dhofier, tokoh yang tidak memiliki pesantren tetap dapat disebut kiai, tergantung bagaimana karakter dan dinamikanya masing-masing.

Dari pengertian di atas sudah jelas bahwa kiai tidak harus pengasuh pesantren. Bahkan, benda bertuah dan harimaupun bisa menyandang gelar ini. Sekali lagi, ini juga bisa dijadikan "alasan" untuk memandang TS sebagai manusia biasa.

Jika TS mensyaratkan kiai harus pengasuh pesantren, di teronggosong.com (blog pribadi Gus Yahya) disebutkan bahwa Gus Yahya tidak hanya menjadi Katib 'Aam PBNU, beliau juga "pengasuh" di blognya itu, dan menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Kalau memang Gus Yahya seorang kiai, kenapa dipanggil Gus?

Sebuah artikel yang ditulis oleh Ekky Duta Riswanto (yang dimuat dalam jurnal online Unair) berjudul Strategi Adaptasi Anak Kyai (Gus) Pelaku Kenakalan di Masyarakat (Studi Deskriptif tentang Konsep Diri dan Strategi Adaptasi Anak Kyai (Gus) Pelaku Kenakalan terhadap Stigma yang Ada Di Masyarakat) menjekaskan bahwa istilah Gus digunakan untuk anak kiai yang masih muda.

Sebagaimana istilah kiai, tidak semua orang bisa mendapatkan gelar gus. "Syarat utama" menjadi gus adalah harus keturunan kiai. Sedangkan "Mas Yahya" (meminjam istilah yang digunakan TS), tidak hanya seorang gus, (karena ia anak kiai) Mas Yahya juga sudah layak menyandang gelar kiai, karena statusnya adalah pengasuh pesantren.

Kembali ke pertanyaan di atas, kenapa dipanggil gus?

KH. Abdurrahman bin Wahid bin Hasyim bin Asy'ari atau yang akrab disapa Gus Dur enggan dipanggil "kiai haji" atau “kiai” di depan namanya. Mungkin bagi kebanyakan orang pesantren sangat janggal. Mungkin karena takut kualat. Apa lagi sampai berani memanggil "mas".

Suatu ketika ada yang bertanya kenapa Gus Dur tidak mau dipanggil kiai atau kiai haji? Dengan nada humor khasnya, Gus Dur menjawab: “Kiai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit. Nggak kuat saya. Enakan jadi gus saja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong."

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Sidogiri (salah satu pesantren terbesar dan tertua di Indonesia yang terletak di Pasuruan, Jawa Timur), tidak menggunakan istilah gus untuk memanggil putra kiai dan keluarga pengasuh lainnya. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1718/1745 ini menggunakan istilah mas.

Husnu dzan saya, mungkin TS itba' terhadap tradisi di Pesantren Sidogiri. Semoga.

Pamekasan; 18 Juni 2018
*Muhammad Ahnu Idris: Sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Palengaan.
Share:

Tuesday, June 12, 2018

Benang Merah Agama dan Politik

KH. M. Musleh Adnan*

Salah satu fungsi negara adalah sebagai wadah atau sarana untuk menjamin, melayani, melindungi dan mengarahkan seluruh elemen yang ada dalam bingkai kenegaraan baik rakyat sebagai warga negara, keutuhan wilayah, termasuk seluruh kekayaan negara, juga mempertahankan stabilitas pemerintahan dan menjaga kedaulatan.

السلطان ولي من لا ولي له (اخرجه أصحاب السنن غير النسائي)

"Negara (pemimpin) adalah pelindung bagi mereka yang tidak memiliki pelindung."

Dalam konteks Indonesia, sesuai dengan rumusan yang telah disepakati bersama oleh para pendiri bangsa, termasuk di dalamnya adalah ulama', dibentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara.

“Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan walaupun golongan karya, tetapi kita mendirikan negara semua untuk semua, satu untuk semua, semua untuk satu." (Soekarno dalam Buku Negara Paripurnakarangan Yudi Latif)

Presiden pertama Indonesia mengisyaratkan bahwa Negara Indonesia ini merdeka salah satunya untuk kemakmuran rakyatnya dengan pemersatu di dalamnya, ini yang mendasari negara Indonesia merupakan Negara Kesatuan, di mana kekuasaan terletak pada pemerintah pusat dan tidak pada pemerintah daerah. Namun, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada daerah berdasarkan hak otonomi (negara kesatuan dengan sistem desentralisasi), tetapi pada tahap terakhir kekuasaan tertinggi ada pada pemerintah pusat.

Dari teori kekuasaan, kita mengenal pembagian kekuasaan berdasarkan fungsinya, seperti yang dikemukakan John Locke yang membagi fungsi negara atas tiga fungsi, yakni: fungsi legislatif untuk membuat peraturan, fungsi eksekutif untuk melaksanakan peraturan, dan fungsi federatif, untuk mengurusi urusan luar negeri dan urusan perang dan damai. Dan menurut Jhon Locke, fungsi mengadili termasuk dalam tugas eksekutif. Lalu, teori pembagian kekuasaan John Locke disempurnakan oleh Montesquieu yang kita kenal dengan Teori Trias Politika, di mana membagi kekuasaan berdasarkan tiga fungsi, yaitu: fungsi legislatif untuk membuat undang-undang, fungsi eksekutif untuk melaksanakan undang-undang, dan fungsi yudikatif untuk mengawasi agar semua peraturan ditaati (fungsi mengadili). Menurut Mountesquieu, fungsi federatif yang dikemukakan oleh Jhon Locke disatukan dengan fungsi eksekutif, dan fungsi mengadili dijadikan fungsi yang berdiri sendiri. (Abu Daud Busroh, Ilmu Negara. Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hal. 85)

Dalam fiqh diatur, para penyelenggara negara apapun namanya harus memegang prinsip:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

"Tindakan imam terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan kemaslahatan."

Sistem pemerintahan hanyalah wasilah (media) sedangkan ghoyah (tujuan) terpenting adalah terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran yang berkeadilan dan berketuhanan. Maka utk meraih tujuan tersebut dua hal yang perlu di perhatikan:

Pertama, pemerintah harus adil dan amanah.

(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا) [Surat An-Nisa' 58]

وأما أهل الإمامة فالشروط المعتبرة فيهم سبعة أحدها العدالة على شروطها الجامعة (الأحكام السلطانية في الولايات الدينية ص ٦)

Kedua, pemimpin adalah pelanjut tugas pokok kenabian yaitu menjaga agama dan mengatur dunia. Maka, dibutuhkan pemimpin yang berani, memiliki jiwa besar yang tidak putus asa, dan bisa menerima kritikan serta nasehat orang lain.

Sebagaimana yang dicontohkan Abu Bakar ketika dibai'at sebagai khalifah:

أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم فإن أحسنت فأعينوني وإ أسأت فقوموني

"Wahai rakyat, sekarang aku telah resmi menjadi pemimpin bagi kalian dan aku bukanlah yang terbaik. Maka, apabila nanti kepemimpinanku baik, maka bantulah aku; tapi, bila sebaliknya, maka luruskanlah aku." (Jami' al Masaanid wa al Marasiil juz 13 hal 85).

السِّيَاسَةُ مَا كَانَ مِنْ الْأَفْعَالِ بِحَيْثُ يَكُونُ النَّاسُ مَعَهُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ ، وَإِنْ لَمْ يُشَرِّعْهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا نَزَلَ بِهِ وَحْيٌ ؛ فَإِنْ أَرَدْتَ بِقَوْلِكَ ” لَا سِيَاسَةَ إلَّا مَا وَافَقَ الشَّرْعَ ” أَيْ لَمْ يُخَالِفْ مَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ فَصَحِيحٌ ، وَإِنْ أَرَدْتَ مَا نَطَقَ بِهِ الشَّرْعُ فَغَلَطٌ وَتَغْلِيطٌ لِلصَّحَابَةِ ؛

“Syaikh Abul Wafa ibnu 'Aqil Al Hanbali berkata: As Siyaasah (politik) adalah aktivitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan sekalipun belum diatur oleh Rasulullah SAW. dan wahyu Allahpun belum menyinggungnya. Jika yang Anda maksud 'politik harus sesuai syariat' adalah politik tidak boleh bertentangan dengan nash (teks) syariat, maka itu benar. Tetapi, jika yang dimaksud adalah politik harus selalu sesuai teks syariat, maka itu keliru dan bertentangan dengan yang dilakukan para sahabat." (I’lamul Muwaqi’in, 6/26. Syamilah)

Pernyataan di atas ingin menjelaskan bahwa politik dan Islam 'tak terpisahkan. Karena, dalam sejarah, agama Islam adalah agama yang pernah hadir dalam sebuah institusi negara. Islam mampu menjadi ideologi, pandangan hidup, arah dan tujuan hidup bermasyarakat dan bernegara. Islam dengan seperangkat fikroh dan thoriqoh (ide, peraturan dan tata cara pelaksanaannya) telah memberikan pengaturan yang jelas tentang masalah hubungan antar pemeluk agama. Atas dasar ikatan aqidah ini, Islam menyatukan manusia diseluruh dunia lintas bangsa, ras, dan warna kulit.

Berkaitan dengan masalah ini, Imam al-Ghazali berkata: “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 199).

Tapi, bila agama hanya digunakan untuk kepentingan politik jangka pendek, memenangkan pemilu sangatlah keliru. Apalagi kemudian setelah menang pemilu, agama ditinggalkan seperti yang selama ini terjadi. Tradisi elit-elit politik cenderung mendadak islami menjelang pemilu, mulai dari pakai kopiah, sholat jum’at, sampai kunjungan ke pesantren dan majelis ta’lim. Rakyat membutuhkan pemimpin bukan sekedar sholih secara ritual, tapi pemimpin sholih secara politik, pemimpin yang mau menerapkan ajaran Nabi yang Rahmatan lil 'alamiin pemimpin yang mau mencampakkan ideologi dan sistem kapitalisme.

Prof. Abd A'la (Guru Besar Sejarah Pemikiran Politik Islam sekaligus mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya) menegaskan: "Agama seharusnya menjadi dasar umatnya untuk bersiyasah atau berpolitik, bukan sekadar dijadikan alat. Agama yang mengajarkan kemanusiaan dan kebaikan harus menjadi dasar dan tujuan berpolitik umat, bukan dijadikan alat." Ujarnya.

"Jika cara berpolitik itu tidak selaras dengan tujuan agama, dia memastikan tujuan berpolitik kelompok tersebut tidak akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia." Lanjutnya.
* Pengurus Lembaga Dakwah PCNU Pamekasan.
Share:

Saturday, June 9, 2018

Ansor Karangpenang Santuni 250 Anak Yatim dan 400 Dhuafa

Sampang — Pasti Aswaja — Momentum Ramadhan sebagai bulan baik dimanfaatkan oleh pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Karangpenang , Samoang, Jawa Timur, untuk menyantuni anak yatim dan dhuafa, Sabtu (09/06/18) sore.

Sebanyak 400 dhuafa dan 250 anak yatim didatangkan pada acara yang digelar berkat kerjasama antara KSPS Al-Kautsar dan Himpunan Alumni Karang Durin (HIMAKA) serta Jam'iyah Nurus Sa'adah itu.

"Melalui kerja sama ini, panitia dapat menyantuni saudara-saudara kita dari tiga kecamatan sekaligus: Karangpenang, Robatal, dan Sokobanah," tutur Ahya', Ketua PAC GP Ansor Karang Penang, sesaat se

Dari kegiatan itu, Ahya' berharap organisasi yang dipimpinnya senantiasa dapat berkiprah di ranah sosial kemasyrakatan, "sehingga keberadaan Ansor dapat betul-betul memberikan manfaat langsung pada setiap lapisan masyrakat," lanjut alumni Universitas Madura (Unira) Pamekasan itu.

Ahya' beserta mitra kerjasama kegiatan tersebut berkomitmen, bahwa kegiatan sosial semacam itu akan terus dilaksanakan setiap tahun, pada momentum Ramadhan.

"Mohon doanya ya." Pungkasnya.

Selain dihadiri oleh ratusan masyarakat, juga hadir pada acara yang digelar di Lapangan Tlambah itu seluruh pengurus Ansor, tokoh masyarakat dan pengurus MWCNU setempat. Turut hadir juga KH. Ahmad Fauzan Zaini (selaku Pembina KSPS Al-Kautsar), dan Ketua PC GP Ansor Sampang, KH. Moh.Khoiron Zaini. (ahn/bor)
Share:

Friday, June 8, 2018

Bulan Baik, PMII UIM Pamekasan Santuni Anak Yatim

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Imdonesia (PMII) Fakultas Ekonomi (Uiniversitas Islam Madura) UIM Pamekasan, Jumat sore (08/06/18) menyantuni anak yatim sekaligus buka puasa bersama di Aula PC. Muslimat NU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz No. 95.

Dalam acara itu, sebanyak 25 anak yatim didatangkan. Abdur Rohim, Ketua Rayon PMII Ekonomi UIM, menuturkan bahwa kegiayan itu merupakan komitmen bersama organisasi yang dipimpinnya. 

Selain itu, Rohim tidak menginginkan motto amal shaleh dalam Tri Motto PMII hanya menjadi slogan semata.

Titin Maimunah selaku Ketua Komisariat PMII UIM Pamekasan mengungkapkan apresiasinya atas inisiatif Rayon Ekonomi yang ada di bawah koordinasinya itu.

"Kegiatan yang dilaksanakan sahabat-sahabat Rayon Ekonomi ini menunjukkan kepedulian kader PMII terhadap yang membutuhkan," tuturnya.

Sementara itu, Jatim, mantan Ketua PMII Komisariat UIM menyambut baik kegiatan tersebut.

"Apalagi ini bulan Ramadan, jadi melalui kegiatan ini kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Tuhan," ujar Bendahara PC. PMII Pamekasan itu. (ahn/uki)
Share:

Wednesday, May 23, 2018

NU Pamekasan Ajak Nahdliyin Baca Fatihah Untuk Mbah Hasyim

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, mengajak seluruh warga NU Pamekasan mengirimkan al-Fatihah untuk Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari Raisul Akbar dan pendiri Nahdlatul Ulama.

"Malam ini (tanggal 7 Ramadhan. Red.) tanggal wafatnya Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy'ari). Mari kita baca al-Fatihah," ajak mantan aktivis PMII Kediri, Jawa Timur, itu melalui rilisnya, Selasa (22/05/18) malam.

Kiai Taufik mengatakan, hal itu sangat layak dilakukan mengingat jasa-jasa Mbah Hasyim yang sangat besar dalam memperjuangkan dan menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah di Bumi Nusantara.

Selain itu, lanjut Kiai Taufik, doa dan al-Fatihah itu juga sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keberhasilan Mbah Hasyim membakar semangat kaum santri sehingga dapat mengusih penjajah dari Indonesia.

"Tanpa Resolusi Jihad Mbah Hasyim, tidak mungkin ada pertempuran 10 November di Surabaya. Dengan perantara Mbah Hasyim, Allah mengembalikan kemerdekaan negeri ini," lanjutnya.

Mbah Hasyim adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Organisasi yang lahir untuk mempertahankan sekaligus memperjuangkan berlakunya ajaran Islam 'ala thariqati ahlissunnah wal jama'ah serta sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan di Indonesia.

Mbah Hasyim lahir pada Selasa Kliwon 14 Februari 1871 M. bertepatan dengan 24 Dzul Qa’dah 1287 H di Pesantren Gedang Tambakrejo Jombang, Jawa Timur dan meninggal pada 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H. dalam usia 76 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Pesantren Tebu Ireng, Jombang.

Untuk menghormati pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, pemerintah memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964. (ahn/bor)
Share:

Friday, May 18, 2018

Radikalisme Menyasar "Isme-Isme" Generasi Millenial

Oleh: Abd. Syakur*

Tak dapat dipungkiri, bahwa faktanya gerakan-gerakan radikal dimulai sejak masa-masa sekolah. Pengusung radikalisme sedikitnya mengetahui bahwa jiwa-jiwa muda itu masih putih, sedang menunggu pena apa yang akan menggoresnya. Mulai dari Rohis SMP hingga Majlis Tarbiyah di kampus-kampus yang notabene negeri dengan jurusan agama yang minim, bahkan kadang walaupun ada (jurusan agama) mulai dari Dekan hingga dosen mengusung paham radikal yang "disembunyikan''.

Lulusan pesantren sebenarnya banyak yang secara keilmuan levelnya sama dengan mereka yang dosen mata kuliah agama di kampus-kampus negeri, hanya saja mereka tidak bisa ikut bersaing karena ijazah mereka tidak diakui sebagai nilai qualified pegawai. Akhirnya, kampus-kampus itu banyak didominasi oleh dosen yang mondok saja tidak pernah. Bahkan saya sendiri pernah membaca jurnal seorang dosen yang membahas Maqosid al-Syari'ah, tetapi literatur refrensinya adalah buku-buku yang jelas meragukan ditambah tak ada satupun refrensi dari literatur Islam Arab (kitab kuning). Aneh.

Berharap agar paham radikalisme hilang dari kampus-kampus sekaligus berharap alumni-alumni mumpuni dari pesantren direkrut untuk menjadi dosen adalah hal yang terlalu naif. Sebab sayapun tahu keduanya memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Mengingat juga, tradisi pesantren dan mencokolnya radikalisme di kampus-kampus adalah hal yang sangat sulit dirubah. Lalu, adakah solusi yang dapat menjadi alternatif penyelesaian masalah-masalah yang kadung ada dan mengakar?

Orang tua. Ya. Dari keseluruhan solusi yang ada sepertinya hanya orang tua yang memiliki dominasi "problem solving", hingga sepersekian persen. Seharusnya segala fasilitas publik terutama pendidikan masyarakat yang menyasar ibu-ibu, menjadi fokus mereka yang mau menghilangkan radikalisme dari Indonesia. Saya sendiri sudah beberapa kali mengisi perkumpulan ibu-ibu, yang membahas tentang pendidikan anak dan arah perubahan: "Ibu adalah Madrasah Pertamaku". Kurangnya Penanaman kesetian anak pada negara, minimnya cerita-cerita heroik pahlawan nasional, penjelasan agama yang sesuai dengan Islam keindonesiaan yang minim juga menjadi pemicunya.

Untuk itu orang tua harusnya diberi pemahaman bahwa menghabiskan hidup anak-anak mereka di sekolah dan kampus negeri adalah pertaruhan yang sulit, dan memiliki konsekuensi yang cenderung menghasilkan pemikiran-pemikiran radikal dalam beragama karena minimnya asupan pelajaran agama yang benar, walaupun begitu ini bukanlah kesimpulan yang 100% benar. Oleh karnanya, orang tua harusnya memberikan masa-masa dini anaknya di lingkungan pesantren untuk mendapatkan asupan gizi keagamaan yang baik, lalu kemudian boleh melanjutkan di kampus-kampus negeri atau swasta. Walaupun begitu juga 'tak menutup kemungkinan lulusan sekolah negeri melahirkan anak-anak kompeten dan begitu pula pesantren belum tentu menelurkan alumni-alumni yang bagus, hal tersebut masih bergantung pada pesantren apa yang dia datangi.

Sekolah-sekolah negeri dan kampus-kampus negeri itu butuh asupan, dan mereka cenderung memilih ahli yang memiliki skil yang tak dimiliki oleh alumni pesantren, yakni title yang berderet-deret dan artikel yang terpampang di banyak jurnal nasional maupun internasional. Akhirnya mereka noleh kanan-kiri dan undang sana-sini, dan sayangnya undangan itu mendarat di atas meja mereka-mereka yang minim pengetahuan agama dan jiwa nasionalis, atau minimalnya ahli agama, tetapi tak memiliki jiwa nasionalisme yang baik atau bahkan sebaliknya.

Fakta di atas juga bukan berarti mereka yang memiliki paham keagamaan yang baik dan memiliki jiwa nasionalisme yang apik tidak ada, bahkan saya berkesimpulan mereka banyak, tetapi masih belum dilirik secara penuh oleh pegiat-pegiat kampus. Walaupun saya beberapa kali mengikuti seminar-seminar yang diisi oleh mereka yang moderat, tetapi saya masih berharap space untuk mereka lebih besar.
*Alumni Pon. Pes. Miftahul Ulum Panyeppen Palengaan Pamekasan dan mahasiswa Pascasarjana IAIN Madura Pamekasan.
Share:

Wednesday, May 16, 2018

Ansor Karangpenang Ajak Masyarakat Lawan Radikalisme

Sampang — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Karangpenang, Sampang, Jawa Timur, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu melawan bemih-benih radikalisme.

"Tanpa kita sadari, tidak sedikit di sekitar kita, teman sekantor, tetangga dan bahkan saudara kita yg mempunyai kecenderungan paham radikal," kata Ahya', Ketua PAC GP Ansor Karangpenang, Rabu (16/05/18) pagi.

Ahya' mengatakan, awalnya kecenderungan pemahaman ini tersalurkan dalam bentuk ketidaksukaan secara verbal dan komentar-komentar ringan terhadap segala sesuatu yang tidak sepaham dengan kebenaran yang diyakini dan dianggap sebagai kebenaran hakiki, kemudian mengarah menjadi cacian-cacian.

"Puncaknya, ketika keyakinan radikal ini terus tumbuh dan berkembang, bergabung dengan komunitas-komunitas yang sepemahaman, menemukan momentum, mereka tidak akan segan-segan melakukan aksi-aksi teror yang bisa memakan banyak korban seperti yang terjadi di beberapa titik di kota Surabaya," lanjut ayah dua orang anak ini.

Menurutnya, sangat sulit menumpas secara total pemahaman ekstrim, karena setiap kali satu kelompok dihabisi, akan muncul benih baru. Hal itu, lanjut Ahya', disebabkan proses pemahaman terhadap suatu ajaran tidak didasari denganpondasi yang kuat, mudah percaya terhadap media-media yang belum tentu benar dan tidak diketahui sumbernya.

Namun, sebagai anak bangsa, Ahya' dan organisasi yang dipimpinnya, optimis untuk tetap menjaga kerukunan dan kedamaian bangsa. "Kita harus bersatu. Tokoh agama, tokoh muda, aparat pemerintah, lembaga sosial, lembaga pendidikan dan setiap masyarakt harus bisa mencegah muncul dan berkembangnya radikalisme. Setidaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa setiap keberingasan, kekerasan atas dasar apapun, baik agama politik ekonomi, sangat tidak dibenarakan," tegasnya.

Di akhir penyataannya, Ahya' mengecam segala bentuk tindakan terorisme yang terjadi di Mako Brimob, Surabaya dan Sidoarjo belakangan ini.

"Tidak ada kemenangan yang bisa didapatkan dengab bunuh diri, tidak ada kebenaran yang harus diperjuangkan dengan mengorbankan saudara sendiri, dan tidak ada kasih sayang dengan mengorbankan nyawa anak-anak apalagi darah daging sendiri," tutupnya. (ahn/bor)
Share:

Tuesday, May 15, 2018

Mushalla Nahdliyin Palengaan Dilalap si Jago Merah

Pamekasan — Pasti Aswaja — Mushalla yang biasa dijadikan tempat kegiatan ibadah warga Nahdlatul Ulama (NU) Desa Kacok, Palengaan, Pamekasan dilalap si jago merah, Selasa (15/05/18) sekitar jam 01:30 WIB.

Diketahui, mushalla yang konstruksinya dari bahan kayu dan bambu itu diasuh oleh Ustadz Hasyim, salah satu Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) desa setempat.

Diduga kuat, kebakaran mushalla yang juga menjadi tempat mengaji Al-Qur'an anak-anak warga NU itu diakibatkan oleh korsleting listrik.

"Biasanya bulan Ramadhan warga shalat tarawih dan tadarus di sini," tutur Subairi, salah satu jamaah mushalla.

Subairi berharap, ada upaya dari pemerintah untuk membangun kembali mushalla tersebut supaya warga bisa melanjutkan aktivitas keagamaan seperti semula.

"Semua kegiatan keagamaan kita laksanakan di sini," pungkasnua. (bor/ahn)
Share:

Monday, May 14, 2018

NU dan PMII Pamekasan Kecam Rangkaian Bom Bunuh Diri di Surabaya

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan mengecam keras rangkaian bom bunuh diri yang terjadi di Kota Pahlawan, Surabaya. Kecaman itu diungkapkan oleh KH. Taufik Hasyim selaku Ketua PCNU Pamekasan kepada Pasti Aswaja melalui layanan pesan gratis WhatsApp.

Menurut kiai muda yang akrab disapa Ra Taufik itu, pelaku bom bunuh diri itu sama sekali tidak mencerminkan pribadi beragama, "karena tidak ada satupun agama yang mengajarakn kekerasan dan pembunuhan,” tulisnya, Senin (14/05/18) sore.

Ra Taufik juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas tindak kekerasan yang terjadi di tiga gereja dan Polrestabes Surabaya itu. "Cari aktor di balik tindakan terorisme itu hingga ke akar-akarnya," lanjutnya.

Bahkan, Ra Taufik menegeskan, benih-benih radikalisme harus dibasmi, dan PCNU Pamekasan siap menjadi mitra kepolisian untuk membasmi pemikiran-pemikiran radikal.

Senada dengan Ra Taufik, Fadil selaku Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan juga turut mengecam tindak kekerasan yang terjadi berturut-turut selama dua hari itu.

Menurut Fadil, tindak kekerasan terorisme merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak bisa dibenarkan. "Maka dari itu, PMII Pamekasan mengutuk segala bentuk teror yang ada di negeri ini," tegasnya.

Fadil melanjutkan, tragedi yang terjadi selama dua hari berturut-turut itu disebabkan lemahnya deteksi dini oleh pihak kepolisian. "Sehingga, dalam waktu yang hampir bersamaan, 3 titik lokasi terjadi pengeboman, dan keesokan harinya Polrestabes Surabaya yang jadi sasaran," pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan oleh media massa, bahwa telah terjadi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuna, Minggu (13/05/18).

Tidak selesai sampai di situ, kejadian serupa juga terjadi di Polrestabes Surabaya, Senin (14/05/18).  (ahn/uki)
Share:

Tuesday, May 8, 2018

Ketua Ansor Pamekasan: Politik Adalah Wasilah Bukan Ghayah

Pamekasan — Pasti Aswaja — Kader-kader Ansor sebagai pemuda NU harus bisa memposisikan politik secara proporsional dengan berlandaskan pada Sembilan Pedoman Berpolitik Warga NU yang dicetuskan dalam Muktamar NU XVIII di Krapayak Yogyakarta tahun 1989.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pamekasan, Fathorrahman, pada acara Kongkow Pilkada Damai, Selasa (08/05/18) malam, di Cafe 9, Kompleks Kantor PCNU, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95 Pamekasan.

"Kita harus memposisikan politik sebagai wasilah (perantara. Red.), bukan ghayah (tujuan akhir. Red.). Ghayah dari politik itu adalah kesejahteraan bersama," tegas calon Doktor itu.

Maka dari itu, lanjut mantan aktivis PMII tersebut, jika politik diposisikan sebagai wasilah, para pelaku politik yang terlibat dalam kontestasi politik akan menerima kepemimpinan siapapun yang terpilih.

Hadir dalam agenda bertema "Partisipasi GP Ansor Dalam Mewujudkan Pamekasan Damai" itu perwakilan Rijalul Ansor, Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR), Banser dan perwakilan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Pamekasan. Tampak juga turut berkumpul dalam forum itu Ketua Umum PC PMII Pamekasan.

Selain Paong, bertindak juga sebagai pembicara A. Ghufron Siradj, Sekretaris Nasional BAANAR Pusat. (bor/ahn)
Share:

Tuesday, May 1, 2018

Milad 191 Panyeppen Hadirkan Rais Aam PBNU

Pamekasan — Pasti Aswaja — Dalam rangka memperingati Milad atau hari lahir ke-191, Pon. Pes. Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur akan menghadirkan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma'ruf Amin, Kamis (03/05/18) mendatang.

Abdullah Sa'en, Ketua Panitia, kepada awak media mengatakan bahwa panitia sudah sowan kepada Profesor Ilmu Ekonomi Muamalah itu berkaitan soal waktu dan kesiapannya.

"Iya, sudah fix. Jika tidak ada 'uzhur syar'i, insya Allah beliau hadir ke Milad Panyeppen yang ke-191," katanya, Selasa (01/05/18) sore.

Kepala Bidang Kepesantrenan Ma'had Thibyan li Al-Shibyan (pondok cilik PPMU) Panyeppen ini menambahkan bahwa cicit Syaikh Nawai Al-Bantani itu akan menyampaikan mau'izhah bertema "Deklarasi Ekenomi Ummat Dalam Upaya Pemberdayaan Kaum Dhu'afa".

Kiai Ma'ruf diperkirakan akan sampai ke PPMU Panyeppen sekitar jam 09:00 WIB. "Beliau nanti naik pesawat jam 05:30 dari Jakarta," kata Muhtadi, alumni PPMU Panyeppen yang ditugaskan untuk sowan ke KH. Ma'ruf Amin. (bor/ahn)
Share:

Saturday, April 21, 2018

BAANAR Palengaan Sosialisasikan Bahaya Narkoba Kepada Santri

Pamekasan — Pasti Aswaja — Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Palengaan menggelar sosialisasi bahaya Narkona kepada para santri Pon. Pes. Miftahul Ulum Sekar Anyar Rombuh, Palengaan, Sabtu (21/04/18) pagi.

Acara yang digelar di aula pesantren itu, merupakan upaya untuk mengantisipasi dan mempersempit peredaran Narkoba, "Karena saat ini ada upaya untuk memperluas peredaran Narkoba ke pesantren-pesantren," tutur Abd. Rofiq, Kepala BAANAR Palengaan.

Dalam sambutannya, Fathorrahman, Ketua PC GP Ansor Pamekasan, meminta kepada ratusan santri yang hadir supaya lebih menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif dan menjauhi Narkoba. Menurutnya, hal itu merupakan salah satu ungkapan kecintaan kepada tanah air.

"Tadi kita sudah menyanyikan lagu 'Ya Lal Wathon' bersama-sama. Di lagu itu kan ada kalimat 'hubbul wathon minal iman'? Kalau memang kalian mencintai tanah air, tidak usah neko-neko, apa lagi menggunakan Narkoba," kata Paong, sapaan akrabnya.

Dosen Universitas Madura (Unira) itu melanjutkan, santri adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. "Siapa tahu dari pesantren ini nanti lahir Bupati baru, Gubernur baru, bahkan Presiden baru. Dan ini tidak akan terjadi jika kalian menggunakan Narkoba," kata laki-laki yang akrab disapa Paong ini.

Dalam kesempatan yang sama, KH. Afifurrahman selaku pengasuh pesantren menyampaikan banyak terima kasih, karena pesantrennya ditempati kegiatan sosialisasi tersebut.

Acara yang dimulai jam 08:00 itu dihadiri oleh Kepala BAANAR dan Ketua PC GP Ansor Pamekasan serta jajaran pengurus PAC GP Ansor Palengaan dari unsur BAANAR dan Banser, Kepala Puskemas, dan perwakilan Koramil setempat. Untuk memberikan sosialisasi, panitia mempercayakan kepada Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pamekasan. (ahn/bor)
Share:

Monday, March 26, 2018

Peserta Ijazah Akbar Pagar Nusa Pamekasan Membeludak, Panitia Kewalahan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ijazah akbar yang digelar PC. Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Pamekasan dibanjiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Panitia yang awalnya hanya menargetkan 700 peserta, akhirnya kewalahan akibat animo warga nahdliyin yang begitu besar, Minggu (25/03/17).

Salman, Ketua PSNU Pagara Nusa Pamekasan, menuturkan bahwa sejak sebelum Magrib sampai menjelang Isya', peserta sudah bertambah menjadi 1.000 orang dari target awal.

Hal itu, menurut Salman, menunjukkan bahwa para pendekar yang hadir benar-benar membutuhkan terhadap Nahdlatul Ulama (NU). Bukan sebaliknya. Selamanya, lanjut Salman, Pagar Nusa akan terus membutuhkan NU serta berkah para ulama.

Akibat membeludaknya peserta mengakibatkan sekitar seribu orang tidak mendapatka kit dan fasilitas lain sebagaimana pamflet publikasi yang disebarkan panitia. Oleh karena itu, alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pamekasan ini meminta maaf kepada segenap peserta. Atas nama panitia, Salman berjanji semua kit dan fasilitas akan diberikan beberapa hari setelah acara tersebut.

Kekurangan dalam acara yang digelar di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan itu, Salman mengakui, murni karena kekhilafan panitia yang kurang tepat memprediksi jumlah peserta.

Berdasarkan informasi dari panitia, peserta pada acara itu tidak hanya dari pelosok Jawa Timur, tapi juga dari luar provinsi, bahkan ada dari Jakarta. Mereka sampai di lokasi acara Sabtu (24/03/17) kemarin dan bermalam di Sumber Anom. (ahn/uki)
Share:

Tuesday, March 20, 2018

NU dari Madura untuk Indonesia

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Di bagian barat pulau Madura ada sebuah kabupaten yang bernama Bangkalan. Berbicara Bangkalan, ini memang tidak lepas dari adanya makam seorang ulama yang dipercaya sebagai seorang wali. Beliau adalah Syaikh Muhammad Kholil bin Abdul Latif, yang makamnya setiap hari dipenuhi oleh para peziarah, baik yang datang dari pulau Madura sendiri atau di luar Madura.

Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai ulama kharismatik kelahiran Madura, ternyata sebelum meninggal, sempat mewariskan sebuah organisasi besar sebagai cikal bakal pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melakukan istikharah, beliau menyuruh salah satu muridnya yang bernama As'ad (pada masa itu) untuk mengantarkan sebuah tongkat dan bacaan ayat al-Quran surat Thaha ayat 17-23, kepada murid beliau juga yang ada di Jombang.

Atas nama legitimasi dari beliau, murid beliau yang—berada di Jombang—bernama Hasyim Asy'ari itu mendeklarasikan organisasi yang sudah mendapatkan restu itu. Organisasi itu kemudian diresmikan di Surabaya pada tanggal 31 Desember 1926, bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1344 H. dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Kemudian Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari atau yang biasa disebut Mbah Hasyim disebut sebagai pendirinya.

Lantas, murid yang bernama As'ad itu siapa? Beliau adalah KHR. As'ad Syamsul Arifin (lahir pada tahun 1897 di Mekah-meninggal 04 Agustus 1990 di Situbondo pada umur 93 tahun) pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ia adalah ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya. Yang beberapa tahun terakhir dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Demikian, sekilas tentang sosok seorang As'ad.

Apakah berlebihan sekiranya dikatakan Madura sebagai pulau NU? Saya kira tidak. Sebab, tokoh inisiator yang menjadikan NU sebagai organisasi ini adalah seorang ulama yang oleh mayoritas orang Madura tidak diragukan lagi kealimannya. Pada saat masyarakat Madura bersepakat dengan kewalian dan kealiman beliau, maka otomatis masyarakat Madura juga sepaham dengan alur pemikiran beliau, termasuk berdirinya NU ini.

Pada saat yang bersamaan dengan diresmikannya NU, ada ulama yang membawanya ke Pamekasan. Beliau adalah KH. Sirojuddin Bettet dan KH. Badruddin Panyeppen. KH. Siroj (panggilan KH. Sirojuddin) sebagai Rais Syuriah dan KH. Badruddin sebagai Ketua Tanfidz-nya. Yang berarti beliau berdua sebagai pimpinan NU pertama di kabupaten Pamekasan.

KH. Sirojuddin ini seangkatan dengan KH. Rofi'i (Sumber Anom) dan Mbah Wachab waktu ngaji ke Mbah Machfud al-Termasi di Makkah. Itu artinya para beliau bukan hanya ngaji bersama, tetapi juga punya kesepahaman dalam membesarkan NU. Hingga sampai saat ini anak cucu beliau masih berkhidmat di NU.

Ketika membicarakan nama beliau, nama beliau senantiasa disandingkan dengan NU. Pertama, KH. Sirajuddin adalah pendiri PP. Miftahul Ulum Bettet. Untuk para santri dari beliau tidak usah khawatir sesat berkhidmat di NU, sudah ada beliau yang mendahuluinya. Termasuk santri (tak langsung) KH. Badruddin pengasuh PP. Miftahul Ulum Panyeppen, beliau adalah NU tulen dari dulu sampai sekarang.

Saya sebagai murid tidak langsung dari beliau (KH. Sirajuddin) bangga berada dalam satu haluan bersama beliau. Tidak hanya saya, pun orang tua saya dari dulu memegang teguh warisan organisasi dengan ideologi Ahlus sunnah wal jamaah ini, dari para leluhur (baca: kakek & nenek). Tentu, hal ini juga disebabkan tokoh masyarakat setempat yang sudah lebih dulu mengamalkan nilai-nilai yang tertanam dalam Nahdlatul ulama.

Semoga menjelang Harlah Nahdlatul Ulama beberapa hari ke depan, NU tetap berkontribusi dalam bidang sosial keagamaan bagi nusa dan bangsa, utamanya dalam menjaga NKRI.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 20 Maret 2018
*Kader muda NU Pamekasan
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive