• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, March 26, 2018

Peserta Ijazah Akbar Pagar Nusa Pamekasan Membeludak, Panitia Kewalahan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ijazah akbar yang digelar PC. Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Pamekasan dibanjiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Panitia yang awalnya hanya menargetkan 700 peserta, akhirnya kewalahan akibat animo warga nahdliyin yang begitu besar, Minggu (25/03/17).

Salman, Ketua PSNU Pagara Nusa Pamekasan, menuturkan bahwa sejak sebelum Magrib sampai menjelang Isya', peserta sudah bertambah menjadi 1.000 orang dari target awal.

Hal itu, menurut Salman, menunjukkan bahwa para pendekar yang hadir benar-benar membutuhkan terhadap Nahdlatul Ulama (NU). Bukan sebaliknya. Selamanya, lanjut Salman, Pagar Nusa akan terus membutuhkan NU serta berkah para ulama.

Akibat membeludaknya peserta mengakibatkan sekitar seribu orang tidak mendapatka kit dan fasilitas lain sebagaimana pamflet publikasi yang disebarkan panitia. Oleh karena itu, alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pamekasan ini meminta maaf kepada segenap peserta. Atas nama panitia, Salman berjanji semua kit dan fasilitas akan diberikan beberapa hari setelah acara tersebut.

Kekurangan dalam acara yang digelar di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan itu, Salman mengakui, murni karena kekhilafan panitia yang kurang tepat memprediksi jumlah peserta.

Berdasarkan informasi dari panitia, peserta pada acara itu tidak hanya dari pelosok Jawa Timur, tapi juga dari luar provinsi, bahkan ada dari Jakarta. Mereka sampai di lokasi acara Sabtu (24/03/17) kemarin dan bermalam di Sumber Anom. (ahn/uki)
Share:

Tuesday, March 20, 2018

NU dari Madura untuk Indonesia

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Di bagian barat pulau Madura ada sebuah kabupaten yang bernama Bangkalan. Berbicara Bangkalan, ini memang tidak lepas dari adanya makam seorang ulama yang dipercaya sebagai seorang wali. Beliau adalah Syaikh Muhammad Kholil bin Abdul Latif, yang makamnya setiap hari dipenuhi oleh para peziarah, baik yang datang dari pulau Madura sendiri atau di luar Madura.

Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai ulama kharismatik kelahiran Madura, ternyata sebelum meninggal, sempat mewariskan sebuah organisasi besar sebagai cikal bakal pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melakukan istikharah, beliau menyuruh salah satu muridnya yang bernama As'ad (pada masa itu) untuk mengantarkan sebuah tongkat dan bacaan ayat al-Quran surat Thaha ayat 17-23, kepada murid beliau juga yang ada di Jombang.

Atas nama legitimasi dari beliau, murid beliau yang—berada di Jombang—bernama Hasyim Asy'ari itu mendeklarasikan organisasi yang sudah mendapatkan restu itu. Organisasi itu kemudian diresmikan di Surabaya pada tanggal 31 Desember 1926, bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1344 H. dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Kemudian Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari atau yang biasa disebut Mbah Hasyim disebut sebagai pendirinya.

Lantas, murid yang bernama As'ad itu siapa? Beliau adalah KHR. As'ad Syamsul Arifin (lahir pada tahun 1897 di Mekah-meninggal 04 Agustus 1990 di Situbondo pada umur 93 tahun) pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ia adalah ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya. Yang beberapa tahun terakhir dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Demikian, sekilas tentang sosok seorang As'ad.

Apakah berlebihan sekiranya dikatakan Madura sebagai pulau NU? Saya kira tidak. Sebab, tokoh inisiator yang menjadikan NU sebagai organisasi ini adalah seorang ulama yang oleh mayoritas orang Madura tidak diragukan lagi kealimannya. Pada saat masyarakat Madura bersepakat dengan kewalian dan kealiman beliau, maka otomatis masyarakat Madura juga sepaham dengan alur pemikiran beliau, termasuk berdirinya NU ini.

Pada saat yang bersamaan dengan diresmikannya NU, ada ulama yang membawanya ke Pamekasan. Beliau adalah KH. Sirojuddin Bettet dan KH. Badruddin Panyeppen. KH. Siroj (panggilan KH. Sirojuddin) sebagai Rais Syuriah dan KH. Badruddin sebagai Ketua Tanfidz-nya. Yang berarti beliau berdua sebagai pimpinan NU pertama di kabupaten Pamekasan.

KH. Sirojuddin ini seangkatan dengan KH. Rofi'i (Sumber Anom) dan Mbah Wachab waktu ngaji ke Mbah Machfud al-Termasi di Makkah. Itu artinya para beliau bukan hanya ngaji bersama, tetapi juga punya kesepahaman dalam membesarkan NU. Hingga sampai saat ini anak cucu beliau masih berkhidmat di NU.

Ketika membicarakan nama beliau, nama beliau senantiasa disandingkan dengan NU. Pertama, KH. Sirajuddin adalah pendiri PP. Miftahul Ulum Bettet. Untuk para santri dari beliau tidak usah khawatir sesat berkhidmat di NU, sudah ada beliau yang mendahuluinya. Termasuk santri (tak langsung) KH. Badruddin pengasuh PP. Miftahul Ulum Panyeppen, beliau adalah NU tulen dari dulu sampai sekarang.

Saya sebagai murid tidak langsung dari beliau (KH. Sirajuddin) bangga berada dalam satu haluan bersama beliau. Tidak hanya saya, pun orang tua saya dari dulu memegang teguh warisan organisasi dengan ideologi Ahlus sunnah wal jamaah ini, dari para leluhur (baca: kakek & nenek). Tentu, hal ini juga disebabkan tokoh masyarakat setempat yang sudah lebih dulu mengamalkan nilai-nilai yang tertanam dalam Nahdlatul ulama.

Semoga menjelang Harlah Nahdlatul Ulama beberapa hari ke depan, NU tetap berkontribusi dalam bidang sosial keagamaan bagi nusa dan bangsa, utamanya dalam menjaga NKRI.

Wallahu a'lam!

Pamekasan, 20 Maret 2018
*Kader muda NU Pamekasan
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts