• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, May 23, 2018

NU Pamekasan Ajak Nahdliyin Baca Fatihah Untuk Mbah Hasyim

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, mengajak seluruh warga NU Pamekasan mengirimkan al-Fatihah untuk Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari Raisul Akbar dan pendiri Nahdlatul Ulama.

"Malam ini (tanggal 7 Ramadhan. Red.) tanggal wafatnya Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy'ari). Mari kita baca al-Fatihah," ajak mantan aktivis PMII Kediri, Jawa Timur, itu melalui rilisnya, Selasa (22/05/18) malam.

Kiai Taufik mengatakan, hal itu sangat layak dilakukan mengingat jasa-jasa Mbah Hasyim yang sangat besar dalam memperjuangkan dan menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah di Bumi Nusantara.

Selain itu, lanjut Kiai Taufik, doa dan al-Fatihah itu juga sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keberhasilan Mbah Hasyim membakar semangat kaum santri sehingga dapat mengusih penjajah dari Indonesia.

"Tanpa Resolusi Jihad Mbah Hasyim, tidak mungkin ada pertempuran 10 November di Surabaya. Dengan perantara Mbah Hasyim, Allah mengembalikan kemerdekaan negeri ini," lanjutnya.

Mbah Hasyim adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Organisasi yang lahir untuk mempertahankan sekaligus memperjuangkan berlakunya ajaran Islam 'ala thariqati ahlissunnah wal jama'ah serta sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan di Indonesia.

Mbah Hasyim lahir pada Selasa Kliwon 14 Februari 1871 M. bertepatan dengan 24 Dzul Qa’dah 1287 H di Pesantren Gedang Tambakrejo Jombang, Jawa Timur dan meninggal pada 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H. dalam usia 76 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Pesantren Tebu Ireng, Jombang.

Untuk menghormati pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, pemerintah memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964. (ahn/bor)
Share:

Friday, May 18, 2018

Radikalisme Menyasar "Isme-Isme" Generasi Millenial

Oleh: Abd. Syakur*

Tak dapat dipungkiri, bahwa faktanya gerakan-gerakan radikal dimulai sejak masa-masa sekolah. Pengusung radikalisme sedikitnya mengetahui bahwa jiwa-jiwa muda itu masih putih, sedang menunggu pena apa yang akan menggoresnya. Mulai dari Rohis SMP hingga Majlis Tarbiyah di kampus-kampus yang notabene negeri dengan jurusan agama yang minim, bahkan kadang walaupun ada (jurusan agama) mulai dari Dekan hingga dosen mengusung paham radikal yang "disembunyikan''.

Lulusan pesantren sebenarnya banyak yang secara keilmuan levelnya sama dengan mereka yang dosen mata kuliah agama di kampus-kampus negeri, hanya saja mereka tidak bisa ikut bersaing karena ijazah mereka tidak diakui sebagai nilai qualified pegawai. Akhirnya, kampus-kampus itu banyak didominasi oleh dosen yang mondok saja tidak pernah. Bahkan saya sendiri pernah membaca jurnal seorang dosen yang membahas Maqosid al-Syari'ah, tetapi literatur refrensinya adalah buku-buku yang jelas meragukan ditambah tak ada satupun refrensi dari literatur Islam Arab (kitab kuning). Aneh.

Berharap agar paham radikalisme hilang dari kampus-kampus sekaligus berharap alumni-alumni mumpuni dari pesantren direkrut untuk menjadi dosen adalah hal yang terlalu naif. Sebab sayapun tahu keduanya memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Mengingat juga, tradisi pesantren dan mencokolnya radikalisme di kampus-kampus adalah hal yang sangat sulit dirubah. Lalu, adakah solusi yang dapat menjadi alternatif penyelesaian masalah-masalah yang kadung ada dan mengakar?

Orang tua. Ya. Dari keseluruhan solusi yang ada sepertinya hanya orang tua yang memiliki dominasi "problem solving", hingga sepersekian persen. Seharusnya segala fasilitas publik terutama pendidikan masyarakat yang menyasar ibu-ibu, menjadi fokus mereka yang mau menghilangkan radikalisme dari Indonesia. Saya sendiri sudah beberapa kali mengisi perkumpulan ibu-ibu, yang membahas tentang pendidikan anak dan arah perubahan: "Ibu adalah Madrasah Pertamaku". Kurangnya Penanaman kesetian anak pada negara, minimnya cerita-cerita heroik pahlawan nasional, penjelasan agama yang sesuai dengan Islam keindonesiaan yang minim juga menjadi pemicunya.

Untuk itu orang tua harusnya diberi pemahaman bahwa menghabiskan hidup anak-anak mereka di sekolah dan kampus negeri adalah pertaruhan yang sulit, dan memiliki konsekuensi yang cenderung menghasilkan pemikiran-pemikiran radikal dalam beragama karena minimnya asupan pelajaran agama yang benar, walaupun begitu ini bukanlah kesimpulan yang 100% benar. Oleh karnanya, orang tua harusnya memberikan masa-masa dini anaknya di lingkungan pesantren untuk mendapatkan asupan gizi keagamaan yang baik, lalu kemudian boleh melanjutkan di kampus-kampus negeri atau swasta. Walaupun begitu juga 'tak menutup kemungkinan lulusan sekolah negeri melahirkan anak-anak kompeten dan begitu pula pesantren belum tentu menelurkan alumni-alumni yang bagus, hal tersebut masih bergantung pada pesantren apa yang dia datangi.

Sekolah-sekolah negeri dan kampus-kampus negeri itu butuh asupan, dan mereka cenderung memilih ahli yang memiliki skil yang tak dimiliki oleh alumni pesantren, yakni title yang berderet-deret dan artikel yang terpampang di banyak jurnal nasional maupun internasional. Akhirnya mereka noleh kanan-kiri dan undang sana-sini, dan sayangnya undangan itu mendarat di atas meja mereka-mereka yang minim pengetahuan agama dan jiwa nasionalis, atau minimalnya ahli agama, tetapi tak memiliki jiwa nasionalisme yang baik atau bahkan sebaliknya.

Fakta di atas juga bukan berarti mereka yang memiliki paham keagamaan yang baik dan memiliki jiwa nasionalisme yang apik tidak ada, bahkan saya berkesimpulan mereka banyak, tetapi masih belum dilirik secara penuh oleh pegiat-pegiat kampus. Walaupun saya beberapa kali mengikuti seminar-seminar yang diisi oleh mereka yang moderat, tetapi saya masih berharap space untuk mereka lebih besar.
*Alumni Pon. Pes. Miftahul Ulum Panyeppen Palengaan Pamekasan dan mahasiswa Pascasarjana IAIN Madura Pamekasan.
Share:

Wednesday, May 16, 2018

Ansor Karangpenang Ajak Masyarakat Lawan Radikalisme

Sampang — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Karangpenang, Sampang, Jawa Timur, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu melawan bemih-benih radikalisme.

"Tanpa kita sadari, tidak sedikit di sekitar kita, teman sekantor, tetangga dan bahkan saudara kita yg mempunyai kecenderungan paham radikal," kata Ahya', Ketua PAC GP Ansor Karangpenang, Rabu (16/05/18) pagi.

Ahya' mengatakan, awalnya kecenderungan pemahaman ini tersalurkan dalam bentuk ketidaksukaan secara verbal dan komentar-komentar ringan terhadap segala sesuatu yang tidak sepaham dengan kebenaran yang diyakini dan dianggap sebagai kebenaran hakiki, kemudian mengarah menjadi cacian-cacian.

"Puncaknya, ketika keyakinan radikal ini terus tumbuh dan berkembang, bergabung dengan komunitas-komunitas yang sepemahaman, menemukan momentum, mereka tidak akan segan-segan melakukan aksi-aksi teror yang bisa memakan banyak korban seperti yang terjadi di beberapa titik di kota Surabaya," lanjut ayah dua orang anak ini.

Menurutnya, sangat sulit menumpas secara total pemahaman ekstrim, karena setiap kali satu kelompok dihabisi, akan muncul benih baru. Hal itu, lanjut Ahya', disebabkan proses pemahaman terhadap suatu ajaran tidak didasari denganpondasi yang kuat, mudah percaya terhadap media-media yang belum tentu benar dan tidak diketahui sumbernya.

Namun, sebagai anak bangsa, Ahya' dan organisasi yang dipimpinnya, optimis untuk tetap menjaga kerukunan dan kedamaian bangsa. "Kita harus bersatu. Tokoh agama, tokoh muda, aparat pemerintah, lembaga sosial, lembaga pendidikan dan setiap masyarakt harus bisa mencegah muncul dan berkembangnya radikalisme. Setidaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa setiap keberingasan, kekerasan atas dasar apapun, baik agama politik ekonomi, sangat tidak dibenarakan," tegasnya.

Di akhir penyataannya, Ahya' mengecam segala bentuk tindakan terorisme yang terjadi di Mako Brimob, Surabaya dan Sidoarjo belakangan ini.

"Tidak ada kemenangan yang bisa didapatkan dengab bunuh diri, tidak ada kebenaran yang harus diperjuangkan dengan mengorbankan saudara sendiri, dan tidak ada kasih sayang dengan mengorbankan nyawa anak-anak apalagi darah daging sendiri," tutupnya. (ahn/bor)
Share:

Tuesday, May 15, 2018

Mushalla Nahdliyin Palengaan Dilalap si Jago Merah

Pamekasan — Pasti Aswaja — Mushalla yang biasa dijadikan tempat kegiatan ibadah warga Nahdlatul Ulama (NU) Desa Kacok, Palengaan, Pamekasan dilalap si jago merah, Selasa (15/05/18) sekitar jam 01:30 WIB.

Diketahui, mushalla yang konstruksinya dari bahan kayu dan bambu itu diasuh oleh Ustadz Hasyim, salah satu Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) desa setempat.

Diduga kuat, kebakaran mushalla yang juga menjadi tempat mengaji Al-Qur'an anak-anak warga NU itu diakibatkan oleh korsleting listrik.

"Biasanya bulan Ramadhan warga shalat tarawih dan tadarus di sini," tutur Subairi, salah satu jamaah mushalla.

Subairi berharap, ada upaya dari pemerintah untuk membangun kembali mushalla tersebut supaya warga bisa melanjutkan aktivitas keagamaan seperti semula.

"Semua kegiatan keagamaan kita laksanakan di sini," pungkasnua. (bor/ahn)
Share:

Monday, May 14, 2018

NU dan PMII Pamekasan Kecam Rangkaian Bom Bunuh Diri di Surabaya

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan mengecam keras rangkaian bom bunuh diri yang terjadi di Kota Pahlawan, Surabaya. Kecaman itu diungkapkan oleh KH. Taufik Hasyim selaku Ketua PCNU Pamekasan kepada Pasti Aswaja melalui layanan pesan gratis WhatsApp.

Menurut kiai muda yang akrab disapa Ra Taufik itu, pelaku bom bunuh diri itu sama sekali tidak mencerminkan pribadi beragama, "karena tidak ada satupun agama yang mengajarakn kekerasan dan pembunuhan,” tulisnya, Senin (14/05/18) sore.

Ra Taufik juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas tindak kekerasan yang terjadi di tiga gereja dan Polrestabes Surabaya itu. "Cari aktor di balik tindakan terorisme itu hingga ke akar-akarnya," lanjutnya.

Bahkan, Ra Taufik menegeskan, benih-benih radikalisme harus dibasmi, dan PCNU Pamekasan siap menjadi mitra kepolisian untuk membasmi pemikiran-pemikiran radikal.

Senada dengan Ra Taufik, Fadil selaku Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan juga turut mengecam tindak kekerasan yang terjadi berturut-turut selama dua hari itu.

Menurut Fadil, tindak kekerasan terorisme merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak bisa dibenarkan. "Maka dari itu, PMII Pamekasan mengutuk segala bentuk teror yang ada di negeri ini," tegasnya.

Fadil melanjutkan, tragedi yang terjadi selama dua hari berturut-turut itu disebabkan lemahnya deteksi dini oleh pihak kepolisian. "Sehingga, dalam waktu yang hampir bersamaan, 3 titik lokasi terjadi pengeboman, dan keesokan harinya Polrestabes Surabaya yang jadi sasaran," pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan oleh media massa, bahwa telah terjadi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuna, Minggu (13/05/18).

Tidak selesai sampai di situ, kejadian serupa juga terjadi di Polrestabes Surabaya, Senin (14/05/18).  (ahn/uki)
Share:

Tuesday, May 8, 2018

Ketua Ansor Pamekasan: Politik Adalah Wasilah Bukan Ghayah

Pamekasan — Pasti Aswaja — Kader-kader Ansor sebagai pemuda NU harus bisa memposisikan politik secara proporsional dengan berlandaskan pada Sembilan Pedoman Berpolitik Warga NU yang dicetuskan dalam Muktamar NU XVIII di Krapayak Yogyakarta tahun 1989.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pamekasan, Fathorrahman, pada acara Kongkow Pilkada Damai, Selasa (08/05/18) malam, di Cafe 9, Kompleks Kantor PCNU, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95 Pamekasan.

"Kita harus memposisikan politik sebagai wasilah (perantara. Red.), bukan ghayah (tujuan akhir. Red.). Ghayah dari politik itu adalah kesejahteraan bersama," tegas calon Doktor itu.

Maka dari itu, lanjut mantan aktivis PMII tersebut, jika politik diposisikan sebagai wasilah, para pelaku politik yang terlibat dalam kontestasi politik akan menerima kepemimpinan siapapun yang terpilih.

Hadir dalam agenda bertema "Partisipasi GP Ansor Dalam Mewujudkan Pamekasan Damai" itu perwakilan Rijalul Ansor, Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR), Banser dan perwakilan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Pamekasan. Tampak juga turut berkumpul dalam forum itu Ketua Umum PC PMII Pamekasan.

Selain Paong, bertindak juga sebagai pembicara A. Ghufron Siradj, Sekretaris Nasional BAANAR Pusat. (bor/ahn)
Share:

Tuesday, May 1, 2018

Milad 191 Panyeppen Hadirkan Rais Aam PBNU

Pamekasan — Pasti Aswaja — Dalam rangka memperingati Milad atau hari lahir ke-191, Pon. Pes. Miftahul Ulum (PPMU) Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur akan menghadirkan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma'ruf Amin, Kamis (03/05/18) mendatang.

Abdullah Sa'en, Ketua Panitia, kepada awak media mengatakan bahwa panitia sudah sowan kepada Profesor Ilmu Ekonomi Muamalah itu berkaitan soal waktu dan kesiapannya.

"Iya, sudah fix. Jika tidak ada 'uzhur syar'i, insya Allah beliau hadir ke Milad Panyeppen yang ke-191," katanya, Selasa (01/05/18) sore.

Kepala Bidang Kepesantrenan Ma'had Thibyan li Al-Shibyan (pondok cilik PPMU) Panyeppen ini menambahkan bahwa cicit Syaikh Nawai Al-Bantani itu akan menyampaikan mau'izhah bertema "Deklarasi Ekenomi Ummat Dalam Upaya Pemberdayaan Kaum Dhu'afa".

Kiai Ma'ruf diperkirakan akan sampai ke PPMU Panyeppen sekitar jam 09:00 WIB. "Beliau nanti naik pesawat jam 05:30 dari Jakarta," kata Muhtadi, alumni PPMU Panyeppen yang ditugaskan untuk sowan ke KH. Ma'ruf Amin. (bor/ahn)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts