• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Gus Yahya: Pengasuh Pesantren dan "Pengasuh" Blog Terong Gosong (Jawaban Untuk Pertanyaan Ustadz Tifatul Sembiring)

 on Monday, June 18, 2018  

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring (TS), melalui akun twiternya mempertanyakan dua hal berkenaan kedatangan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ke Israel untuk menjadi pembicara dalam forum ilmiah: Pertama, kunjungan itu atas perintah Presiden Indonesia atau kunjungan pribadi; kedua, saat bertemu dengan Netanyahu, apa Gus Yahya sempat bertanya kenapa Israel membantai 60 penduduk Gaza dua hari sebelum puasa. Sebagaimana kids zaman now, kicauan itu disertai hashtag #MauTauBanget.

Tidak sedikit para warganet yang mengecam dua pertanyaan mantan Presiden PKS itu. Mereka mengecam karena TS menggunakan sebutan "mas" kepada Gus Yahya. Sebutan itu oleh warga net dinilai tidak etis dilayangkan pada seorang kiai.

TS tidak mau ambil pusing. Ia santai saja menyikapi banyaknya komentar bernada kecaman itu. Bahkan, TS kembali berkicau yang isinya mempertanyakan kekiaian Gus Yahya dan pesantren mana yang diasuhnya.
Oh baru tahu saya, mas Yahya itu seorang Kiai. Kalau boleh tahu mengelola pesantren di mana ya...
Kicauan pertanyaan —tanpa tanda tanya— ini membuat saya tersenyum. Bagaimana tidak, kok bisa sekelas mantan presiden partai, mantan Menkominfo, dan sekarang sedang mewakili rakyat Indonesia di Senayan tidak tahu sosok kiai yang masih "keluarga Bisri" ini? Bayt ar-Rahmah (organisasi kemanusiaan yang berpusat di AS) saja memuat profil Gus Yahya, kok TS —yang warga Indonesia— tidak tahu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mengarang sendiri jawaban yang paling "masuk akal" bagi saya, bahwa TS hanyalah manusia biasa yang tidak maha tahu dan tidak luput dari khilaf (tanpa ta' marbuthah).

Baik, kita beranjak ke "persoalan kiai".

Dalam KBBI, kata kiai diartikan: 1) sebutan bagi alim ulama; 2) alim ulama; 3) sebutan bagi guru ilmu gaib (dukun dsb); 4) kepala distrik (di Kalimantan Selatan); 5) sebutan yang mengawali nama benda yang dianggap bertuah (senjata, gamelan, dsb); 6) sebutan samaran untuk harimau (jika orang melewati hutan); 7) teriakan yang dikeluarkan melalui kerongkongan. Istilah ini digunakan dalam olahraga karate (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 767-768).

Gelar kiai, memiliki pemaknaan yang beragam. Dari sisi istilah, secara umum kiai diartikan sebagai penyebutan kepada seseorang yang dihormati yang memiliki ilmu keagamaan. Secara luas, terdapat beberapa penafsirannya. Dalam percakapan di beberapa daerah, ‘ajengan’ memiliki arti sinonim dengan kiai (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 24). Ajengan memiliki makna sebagai orang yang terkenal, yang kemudian diikuti dengan penjelasan “terutama guru agama Islam”. Pemaknaan mengenai kata kiai juga dapat diartikan sebagai seorang ahli, yang berfokus pada bidang keagamaan (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 7).

Mungkin, pertanyaan TS tentang kekiaian Gus Yahya didasarkan pada pendapat Zamakhsyari Dhofier (1982) yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Menurur Dhofier, secara teknis seseorang pantas dan berkembang untuk disebut sebagai seorang kiai apabila ia telah memiliki pesantren. Mungkin pembacaan TS tentang kiai hanya sampai di sini, dan tidak melanjutkan pada pembahasan selanjutnya bahwa, menurut Dhofier, tokoh yang tidak memiliki pesantren tetap dapat disebut kiai, tergantung bagaimana karakter dan dinamikanya masing-masing.

Dari pengertian di atas sudah jelas bahwa kiai tidak harus pengasuh pesantren. Bahkan, benda bertuah dan harimaupun bisa menyandang gelar ini. Sekali lagi, ini juga bisa dijadikan "alasan" untuk memandang TS sebagai manusia biasa.

Jika TS mensyaratkan kiai harus pengasuh pesantren, di teronggosong.com (blog pribadi Gus Yahya) disebutkan bahwa Gus Yahya tidak hanya menjadi Katib 'Aam PBNU, beliau juga "pengasuh" di blognya itu, dan menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Kalau memang Gus Yahya seorang kiai, kenapa dipanggil Gus?

Sebuah artikel yang ditulis oleh Ekky Duta Riswanto (yang dimuat dalam jurnal online Unair) berjudul Strategi Adaptasi Anak Kyai (Gus) Pelaku Kenakalan di Masyarakat (Studi Deskriptif tentang Konsep Diri dan Strategi Adaptasi Anak Kyai (Gus) Pelaku Kenakalan terhadap Stigma yang Ada Di Masyarakat) menjekaskan bahwa istilah Gus digunakan untuk anak kiai yang masih muda.

Sebagaimana istilah kiai, tidak semua orang bisa mendapatkan gelar gus. "Syarat utama" menjadi gus adalah harus keturunan kiai. Sedangkan "Mas Yahya" (meminjam istilah yang digunakan TS), tidak hanya seorang gus, (karena ia anak kiai) Mas Yahya juga sudah layak menyandang gelar kiai, karena statusnya adalah pengasuh pesantren.

Kembali ke pertanyaan di atas, kenapa dipanggil gus?

KH. Abdurrahman bin Wahid bin Hasyim bin Asy'ari atau yang akrab disapa Gus Dur enggan dipanggil "kiai haji" atau “kiai” di depan namanya. Mungkin bagi kebanyakan orang pesantren sangat janggal. Mungkin karena takut kualat. Apa lagi sampai berani memanggil "mas".

Suatu ketika ada yang bertanya kenapa Gus Dur tidak mau dipanggil kiai atau kiai haji? Dengan nada humor khasnya, Gus Dur menjawab: “Kiai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit. Nggak kuat saya. Enakan jadi gus saja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong."

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Sidogiri (salah satu pesantren terbesar dan tertua di Indonesia yang terletak di Pasuruan, Jawa Timur), tidak menggunakan istilah gus untuk memanggil putra kiai dan keluarga pengasuh lainnya. Pesantren yang berdiri sejak tahun 1718/1745 ini menggunakan istilah mas.

Husnu dzan saya, mungkin TS itba' terhadap tradisi di Pesantren Sidogiri. Semoga.

Pamekasan; 18 Juni 2018
*Muhammad Ahnu Idris: Sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Palengaan.

Gus Yahya: Pengasuh Pesantren dan "Pengasuh" Blog Terong Gosong (Jawaban Untuk Pertanyaan Ustadz Tifatul Sembiring) 4.5 5 Pasti Aswaja Monday, June 18, 2018 Oleh: Muhammad Ahnu Idris* Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring (TS), melalui akun twiternya me...


No comments:

Post a Comment

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme