Category 1

Theme Support

Pembauran Antara Jemaah Laki-Laki dan Perempuan Dalam Shalat

Tanggapan Pemberitaan Maduraku (dot) com

Oleh: Muhammad Ahnu Idris

Suasana Shalat Id di Masjid Jamik Asy-Syuhada Pamekasan (22/08/18).

Sebelum memaparkan tentang ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dalam shalat, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terdahulu. Saya bukan ahli fikih yang memiliki kapasitas untuk berbicara tentang syariat Islam. Saya cuma alumni pesantren yang waktu mondok lebih sering bolos dan melanggar aturan-aturan yang ditetapkan pesantren. Saya di pesantren juga tidak lama, hanya 8 tahun. Jauh dibanding pemikir-pemikir Islam yang berpuluh-puluh tahun mendalami ilmu agama.

Saya dulu mondok di pesantren asuhan putra Ketua Tanfidziah pertama PCNU Pamekasan (tahun 1926), KH. Badruddin. Dan beliau sekarang melanjutkan perjuangan abahnya di NU sebagai Mustasyar PCNU Pamekasan sekaligus Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Tidak hanya itu, beliau juga besan Romo Yai Miftahul Achyar, Wakil Rais PBNU. Jadi, bisa dikatakan ada "ikatan emosional" antara saya dengan NU.

Selain itu, almarhum kakek saya dari bapak dulu juga aktif di NU sebagai Ketua Ranting. Sedangkan kakek saya dari ibu dulu aktif di GP. Ansor. Perjuangan kakek-kakek saya itu kemudian dilanjutkan oleh bapak saya. Artinya, saya lahir dari keluarga yang tidak diragukan lagi ke-NU-annya, dan semoga saya bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan beliau di NU.

Sekarang masuk ke judul tulisan ini.

Tulisan ini lahir atas pemberitaan yang dimuat oleh media massa online Maduraku (dot) com dengan judul "Di Madura, Shalat Id Laki-Laki dan Perempuan Campur Seperti Ini". Dalam berita itu yang diinformasikan adalah pembauran antara jemaah laki-laki dengan jemaah perempuan tanpa ada pembatas. Kondisi shalat id seperti itu (iktilath antara laki-laki dan perempuan) kemudian oleh reporter media tersebut "disamakan" dengan senam aerobik. Singkatnya, berita itu hanya fokus pada pembauran jemaah dan sama sekali tidak menyebutkan nama NU. (Link berita: https://maduraku.com/2018/08/22/di-madura-shalat-id-laki-laki-dan-perempuan-campur-seperti-ini/). Akan tetapi, saya merasa terpanggil untuk menanggapi berita tersebut karena yang bertindak sebagai Khatib dan Imam Shalat Ied adalah KH. Taufik Hasyim, M.Pd.I, yang 'tak lain adalah Ketua PCNU Pamekasan yang juga cucu pengasuh pesantren tempat saya mondok.

Bagi santri, guru tidak hanya mereka yang mengajar ilmu pengetahuan secara langsung. Lebih dari itu, segala hal yang memiliki hubungan dengan guru, maka hal itu posisinya sama dengan guru. Maka, tidak usah heran jika melihat santri tidak mau duduk di tempat yang pernah diduduki oleh gurunya. Jika orang tua merawat jasmani kita, maka gurulah yang merawat rohani kita. Jika orang tua yang memberi asupan jasmani kita, maka gurulah yang memberi asupan rohani kita. Begitu kira-kira penjelasan guru saya waktu dulu belajar kitab Tarbiyat al-Shibyan. Gus Dur bilang, santri disuruh loncat ke api, dia loncat tanpa pikir panjang; jika yang menyuruh adalah gurunya. Itulah arti guru di mata santri.

Yang jelas, Ketua PCNU Pamekasan bukanlah orang yang tidak paham agama. Beliau pasti menolak jika pelaksanaan Shalat Id tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Artinya, tulisan ini lahir karena dua alasan: pertama, yang menjadi Khatib dan Imam Shalat Id yang diliput oleh media massa tersebut adalah simbol NU Pamekasan, yakni Ketua PCNU Pamekasan; kedua, karena ikatan emosional antara guru dan santri.

Yang menjadi tanda tanya bagi saya adalah waktu pembuatan berita tersebut. Kenapa baru pada pelaksanaan Idul Adha yang disoroti? Bukankah dari dulu kondisi jemaah shalat id seperti itu? Semoga bukan karena Khatib dan imam shalatnya adalah Ketua PCNU Pamekasan. Karena, dunia komunikasi penyiaran meyakini "tidak ada media massa yang bebas nilai", semua media pasti condong pada ideologinya masing-masing.

Meluruskan dan merapikan shaf merupakan salah satu pra-syarat kesempurnaan shalat. Ulama madzhab sepakat tentang hal ini. Maka dari itu, di banyak masjid di beri tanda shaf dan pemisah antara jemaah laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, shaf yang tidak lurus dan tidak rapi, tidak lantas menjadikan shalatnya batal. Tidak begitu. Karena, meluruskan dan merapikan shaf hukumnya sunah.

Lantas, bagaimana jika jemaah bercampur antara laki-laki dan perempuan? Madzhab Hanafi, menghukumi shalat seperti disebutkan batal. Sedangkan madzhab madzhab yang lain menghukumi boleh dan tidak batal (lihat: Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu: 402).

ان وقفت المراة في صف الرجال لم تبطل صلاة من يليها ولا صلاة من خلفها، فلا يمنع وجود صف تام من النساء اقتداء من خلفهن من الرجال، ولا تبطل صلاة من امامها، ولا صلاتها، كما لو وقفت في غير صلاة.

Artinya, jika perempuan shalat dan berdiri di barisan laki-laki, maka shalat orang yang ada di sampingnya tidak batal, begitu juga shalat orang yang ada di belakangnya. Oleh karena itu adanya shaf perempuan yang sempuran tidak bisa menghalangi mengikutinya orang laki-laki yang ada di belakangnya. Juha tidak batal shalat orang yang ada di depan perempuan, begitu juga shalatnya perempuan. Hal ini sebagaimana ia berdiri pada selain shalat. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fikr, cet. ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402).

Berkenaan dengan shaf shalat, memang ada hadits yang menunjukkan perintah untuk menempatkan shaf perempuan setelah shaf laki-laki;

اخروهن من حيث اخرهن الله

"Akhirkan mereka (perempuan) sebagaimana Allah mengakhirkan mereka."

Hadits ini tidak lantas menjadikan shalat laki-laki —yang ada dibelakang perempuan— menjadi batal. Karena, suatu ketika Ibnu Abbas ra. pernah menjadi makmum Rasulullah dan berdiri di samping kirinya, tetapi Rasulullah tidak menghukumi batal terhadap shalat Ibmu Abbas.

ولامر بتأخير المراة: اخروهن من حيث اخرهن الله لا يقتضي الفساد مع عدمه: لان ترتيب الصفوف سنة نبوية فقط، والمخالفة من الرجال او النساء لا تبطل الصلاة، بدليل ان ابن عباس وقف على يسار النبي ثلى الله عليه وسلم فلم تبطل صلاته. (وهبة الزهيلي — فقه الإسلامي وادلته — ص: ٤٠٢)

Perintah menempatkan perempuan pada barisan yang akhir setalah shaf laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ‘akhirkan mereka sebagaimana Allah mengkahirkannya’, tidak serta merta mengharuskan fasad (rusak) shalat ketika shaf perempuan tidak berada di belakang shaf laki-laki. Karena urut-urutan shaf itu hanya sunnah nabi saja. Sedangkan berbeda dengan sunnah tersebut, baik laki-laki maupun perempuan tidak membatalkan shalat karena ada dalil yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas ra pernah berdiri (bermakmum) di sebelah kiri Nabi tetapi shalatnya tidak batal”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402).

Jadi, campur-baur antara jemaah laki-laki dan perempuan dalam shalat itu tidak masalah, kecuali bagi madzhab Hanafi. Akan tetapi, berita itu juga harus menjadi bahan koreksi bagi takmir Masjid Jamik Asy-Syuhada, karena tidak semua masyarakat paham soal agama. Mungkin bagi mereka yang paham agama, kasus ini tidak menjadi persoalan, dan kemudian akan menjadi persoalan bagi mereka yang tidak begitu paham persoalan agama.

Berkenaan dengan berita di atas, jika ditinjau melalui Analisis Wacana Teun A. van Dijk, ada dua kemungkinan pengambilan framing berita itu: 1. dipengaruhi oleh "Konteks" kekinian negeri ini; 2. "Kognisi Sosial" penulis berita. Kognisi Sosial bisa berupa ideologi atau pemahaman penulis berita. Jika yang dimuat seputar ekonomi, maka pemahaman ekenomi penulis berita mempengaruhi framing berita yang dibuatnya. Begitu juga jika yang ditulis seputar persoalan agama.
*Santri ndeso yang sedang belajar Komunikasi Penyiaran.

0 Response to "Pembauran Antara Jemaah Laki-Laki dan Perempuan Dalam Shalat"

Post a Comment

wdcfawqafwef