• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, December 31, 2018

Banjir Nahdliyin, Panitia Maulid Nabi NU Palengaan Kewalahan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sekitar 4.500 warga NU atau yang biasa disebut nahdliyin berbondong-bondong menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (WCNU) Kecamatan Palengaan, Ahad malam (30/12/2018), di halaman Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren (Pon. Pes) Miftahul Ulum Kebun Baru, Kacok, Palengaan, Pamekasan.

Jumlah tersebut melebihi target awal panitia yang memprediksi agenda bertema "Menata Tutur Kata Menebar Mutiara Cinta" ini akan dihadiri oleh tiga ribu nahdliyin. Tak ayal, animo nahdliyin tersebut membuat panitia kewalahan. Tidak hanya itu, setelah tiga ribu kursi terisi penuh, peserta yang tidak kebagian kursi harus diarahkan ke serambi gedung madrasah, dan sebagian lain diarahkan ke serambi masjid pesantren yang ada di sebelah gedung tersebut.

Meski demikian, Sudarsono selaku Sekretaris Panitia, merasa senang. Menurutnya, banyaknya peserta yang tidak kebagian kursi menjadi indikasi awal kesuksesan sebuah acara. "Tapi sebaliknya, jika banyak kursi yang tidak terisi, itu artinya acara yang digelar panitia gagal," lanjut mantan aktivis PMII Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan itu.

Selain dihadiri oleh ribuan nahdliyin, pengurus serta Lembaga dan Banom di lingkungan MWCNU Palengaan, tampak duduk di tempat VIP: Ketua dan Wakil Ketua PCNU Pamekasan, Ketua Ranting NU, para kiai dan pengasuh pesantren, Camat, Kapolsek, dan Kepala Desa se-Palengaan. Tampak juga di tempat VIP putri para ibu nyai pengasuh pesantren serta pengurus Muslimat dan Fatayat Palengaan.

Guna memberikan hikmah maulid, panitia mendatangkan Pengasuh Pon. Pes. Alif Lam Mim Surabaya, Dr. KH. Imam Mawardi, M.Ag. Ia merupakan peraih anugerah Santri of The Year 2018 nominasi Santri Inspiratif Bidang Dakwah pada peringatan Hari Santri Nasional Oktober lalu. Selain mengasuh pesantren, kiai asal Sumenep, Madura ini kesehariannya juga berprofesi sebagai dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. (ahn/bor)
Share:

Saturday, December 29, 2018

Biaya Tak Halangi Kader PMII Ini Raih Predikat Cum Laude

Pamekasan — Pasti Aswaja — Kekurangan biaya kuliah hampir menjadi penghalang bagi Habibah dalam menyelesaikan studinya. Menginjak semester 4, mantan pengurus Korps PMII Putri (KOPRI) Pamekasan ini merasa putus asa dan ingin melepas statusnya sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan.

Meski demikian, ia bisa melalui kondisi tersebut, bahkan tidak menghalangi dara asal Desa Palengaan Laok, Pamekasan ini meraih predikat cum laude dalam Wisuda Sarjana S1 ke XII STAIMU Pamekasan di kompleks Pondok Pesantren (Pon. Pes.) Putri Miftahul Ulum Kebun Baru, Kacok, Palengaan, Pamekasan, Sabtu pagi (29/12/2018). Habibah mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88.

Atas capaian itu, Habibah berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dirinya menyelesaikan studi. Habibah mengakui, ada beberapa orang di balik prestasi yang dicapainya. Orang-orang tersebut adalah kedua orang tuanya, Moh. Said (Kepala Desa Palengaan Laok), serta beberapa seniornya di PMII: Anwar (PMII Unira), Miftahul Munir dan Muhammad Ahnu Idris (PMII STAIMU). Tanpa orang-orang tersebut, lanjut alumni Pon. Pes. Miftahul Ulum Sumur Tengah, Palengaan Laok ini, dirinya tidak mungkin bisa menyandang gelar Sarjana Pendidikan.

"Saya berterima kasih kepada Kepala Desa Palengaan Laok, Kak Anwar, Kak Miftah dan Kak Ahnu Idris. Beliaulah orang-orang yang mendukung saya kuliah di STAI Miftahul ini. Tanpa dukungan penuh dari beliau, saya tidak mungkin menyandang gelar mahasiswa dan hari ini menyandang gelar sarjana S1," kata Habibah saat memberikan sambutan mewakili wisudawan lainnya.

Habibah merupakan gadis kelahiran 23 tahun lalu. Sejak di bangku sekolah Habibah sering mengharumkan nama almamaternya melalui segudang prestasi yang ia raih, baik di tingkat lokal maupun nasional. Tahun 2014 ia dinyatakan lulus oleh SMA Miftahul Ulum Sumur Tengah. Selepas SMA dirinya memiliki keinginan besar melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Akan tetapi, keterbatasan ekonomi menjadikan orang tuanya berat memberikan restu.

Melihat potensi dan semangat gadis yang lahir tanggal 16 Juni 1995 ini, para aktivis PMII STAIMU berkonsultasi kepada Kepala Desa (Kades) Palengaan Laok dan alumni-alumni PMII se-Kecamatan Palengaan guna mencari donasi supaya Habibah bisa mewujudkan keinginan besarnya, melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Gayung bersambut. Keinginan para pengurus PMII itu mendapatkan respon positif dari kepala desa dan alumni-alumni PMII, hingga kemudian Habibah bisa mendaftarkan dirinya di STAIMU Pamekasan.

Waktu kuliah, habibah bergabung bersama PMII Komisariat STAIMU. Setiap liburan kampus, ketika mahasiswa lain bersenang-senang, ia mengisi liburannya dengan mencari tambahan biaya hidup. Hampir semua jenis pekerjaan dia lakukan. Bahkan, dia sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Sampang, Madura. (bor/ahn)
Share:

Friday, December 28, 2018

Inna Lillah, Mustayar NU DIY Berpulang ke Rahmatullah

Yogjakarta — Pasti Aswaja — Duka menyelimuti warga nahdliyin Daerah Istimewa Yogyakatara (DIY). Pasalnya, Kamis malam (27/12/18), salah satu tokoh NU yang sedang menjabat Mustasyar DIY, KH Munawir Abdul Fatah, kembali ke rahmatullah di Krapyak Yogyakarta, sekitar pukul 19.20 WIB.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun... Sampun tinimbalan wonten ngarso dalem gusti Allah SWT panjenenganipun KH. MUNAWWIR ABDUL FATAH, Pada 27 Desember 2018,” begitu pesan yang ramai di media sosial.

Dikutip Pasti Aswaja dari krjogja.com, kiai kharismatik yang akrab disapa Pak Wing ini wafat dalam usia 73 tahun setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan di RS Jogja atas sakit yang dideritanya.

Selain mustasyar PWNU DIY, ayah empat orang anak ini juga menjadi salah satu masyayikh Ponpes Al-Munawwir Krapyak. Tidak hanya itu, Pak Wing juga menjadi khatib dan imam shalat jum’at di Masjid pesantren tersebut.

Semasa hidupnya, Pak Wing pernah mengabdikan dirinya kepada negara melalui Departemen Agama (Depag) DIY.

Jenazah pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini rencananya akan dikebumikan di Makam Sorowajan Sewon Bantul, Jumat (28/12/2018) setelah Shalat Jumat atau sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelum dimakamkan jenazah akan dishalatkan terlebih dahulu di Masjid Ponpes Al Munawir Krapyak. (ahn/uki)
Share:

Wednesday, December 26, 2018

Ketua PCNU Pamekasan Prihatin Akhlak Masyarakat Madura

Pamekasan – Pasti Aswaja – Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, menyayangkan tergerusnya akhlak masyarakat Madura akhir-akhir ini. Menurutnya, masyarakat Madura saat ini sudah tidak lagi berpegang teguh pada adat ke-Madura-an yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Sopan santun dan keramahan yang sangat identik dengan Madura akhir-akhir ini tidak terlihat.

Hal itu, disampaikan oleh Ra Taufik, sapaan akrabnya, saat menjadi pemibicara dalam acara Kongkow Persahabatan yang digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Pamekasan bersama komunitas diskusi dan budaya Koloman Pojok Surau (KPS), Selasa malam (25/12/18) di Pendopo Bupati, Jl, Pamong Praja, No. 1, Pamekasan.

Ra Taufik mengaku dirinya resah dengan kondisi masyarakat Madura saat ini. Menurutnya, kondisi tersebut semakin diperkeruh oleh ulah sebagian oknum tokoh agama. “Acara Maulid Nabi yang seharusnya berceramah tentang keutamaan Nabi Muhammad dan akhlak Nabi Muhammad, malah diisi cacian, makian dan hujatan kepada orang-orang tertentu,” paparnya.

Bahkan, lanjut Ra Taufik, tokoh tersebut berani menyebutkan nama. Perilaku semacam ini, menurut alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini, tindakan semacam itu tidak bisa dibenarkan karena membuka aib orang lain di depan umum. “Dan ini bertentangan dengan adat dan budaya Madura yang menjunjung tinggi akhlaq al-karimah. Apa lagi sampai menyebut orang lain kafir, munafik. Itu sangat jauh dari nilai-nilai masyarakat Madura,” imbuhnya.

Di akhir pembicaraannya, Ra Taufik mengajak seluruh kader dan alumni PMII yang hadir dalam kesempatan itu supaya tetap menjunjung tinggi dan berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah. “Dalam Aswaja itu ada tasamuh atau toleransi dan tawassuth atau moderat,” pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Tuesday, December 25, 2018

PKD Ansor Pangarengan Diikuti 100 Peserta

Sampang — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Pangarengan menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), Senin (24/12/2018) di Yayasan Mambaul Ulum Srapong, Desa Gulbung, Pengarengan, Sampang.

Bustomi Falah selaku Ketua PAC GP Ansor Pangarengan sesaat setelah pembukaan mengatakan, acara yang diikuti kurang lebih 100 peserta ini akan berlangsung selama dua hari, yakni sampai Selasa (25/12/2018).

"Alhamdulillah antusisme pemuda Pangarengan untuk bergabung bersama kami sangat besar. Terbukti, acara ini diikuti kurang lebih 100 peserta. Itu diluar prediksi awal," kata Bustomi.

Pemuda yang biasa disapa Cak Bus itu berharap acara ini bisa memberikan wawasan baru kepada para pemuda Pangarengan, sehingga mereka mengerti dan paham tentang Nahdlatul Ulama dan tidak terpengaruh berita hoax.

"Harapan saya, agar para pemuda di Pangarengan ke depan bisa lebih bersemangat berkhidmat di Ansor, dan mengerti tentang apa dan bagaimna NU, sehingga tidak mudah percaya akan berita-berita yang selalu menyudutkan NU," tutur Cak Bus.

Turut hadir waktu pembukaan acara tersebut Ketua PC GP Ansor Sampang Kabupaten Sampang, KH Khoiron Zaini bersama jajarannya, pengurus MWCNU dan Muslimat NU serta perwakilan pengurus Banom dan Lembaga di lingkungan MWCNU Kecamatan Pangarengan. (sai/ahn)
Share:

Monday, December 24, 2018

Pagar Nusa Pamekasan Bawa Pulang 7 Medali Kejuaraan se-Jawa-Bali

Pamekaaan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Pamekasan kembali mengukir prestasi gemilang melalui tujuh pendekarnya dalam kejuaraan Al-Khoziny Cup se-Jawa-Bali. Ketujuh pendekar itu berasal dari tiga Rayon di bawah naungan Pagar Nusa Pamekasan.

Pada kejuaraan yang digelar di PP. Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Kamis-Ahad (20-23/12/2018) tersebut, Rayon Pagar Nusa Pon. Pes Sabilul Muttaqien mempersembahkan dua medali, Rayon Pagar Nusa Pon. Pes Al-Furqon empat medali dan Rayon Pagar Nusa Pon. Pes Annidhomiyah satu medali. Ketujuh medali itu diraih pada kategori yang sama, yaitu kategori tanding.

Salman, Ketua PSNU Pagar Nusa Pamekasan, berterima kasih atas prestasi yang telah diraih oleh anggotanya. Menurutnya, capaian ini tidak lepas dari keseriusan para pendekar itu dalam berlatih. "Tentunya, kami juga tidak mungkin meraih prestasi ini tanpa doa para pengurus Pagar Nusa dan pengurus NU Pamekasan, khususnya doa para masyaikh," lanjutnya.

Ia berharap, tradisi juara Pagar Nusa Pamekasan dalam setiap kejuaraan terus bertahan. "Dan semoga prestasi ini dapat menumbuhkan jiwa juara pada setiap pendekar kami, sehingga bisa terus mengaharumkan nama organisasi melalui olahraha bela diri," pungkasnya.

Berikut 7 pendekar PSNU Pagar Nusa Pamekasan yang berhasil meraih medali dalam ajang Al-Khoziny Cup seJawa-Bali: Safiroh Faiqotul Adawiyah, meraih medali emas kelas B (Usia Dini); Rafina Dwi Yuliati Rahma, meraih medali perak kelas E (Pra Remaja); Siti Qomariyah, meraih medali perak kelas A (Remaja); Fitrah Amanda, meraih medali perak kelas A (Pra Remaja); Dwi Kumala, meraih medali perunggu kelas B (Pra Remaja); Maulidia Ramadhani, meraih medali perunggu kelas C (Usia Dini); Solehah Aprilia, meraih medali perunggu kelas B (Usia Dini). (bor/ahn)
Share:

Sunday, December 23, 2018

KOPRI STAIMU Peringati Hari Ibu Dengan 1.000 Shalawat dan 1.000 Bunga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Korps PMII Putri (KOPRI) Komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan menperingati Hari Ibu dengan cara membaca 1.000 shalawat yang diikuti oleh seluruh anggota dan pengurus di sekretariat Pengurus Komisariat (PK) PMII STAIMU, Jl. Raya Palengaan, Kacok, Palengaan, Sabtu siang (23/12/18).

Setelah bersama-sama membaca shalawat, para mahasiswa itu menuju Puskesmas Palengaan guna membagikan 1.000 bunga kepada pengunjung dan pasien yang sedang dirawat. Di antara mereka juga ada yang membagi-bagikan bunga kepada pengguna jalan yang melintasi jalan raya di depan Puskesmas.

Kepada Pasti Aswaja, Istiana selaku Ketua KOPRI STAIMU mengatakan, kegiatan itu bertujuan mengingatkan masyarakat, khususnya kader-kader PMII STAIMU, terhadap perjuangan seorang ibu yang merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Menururnya, ibu tidak akan terbalaskan sampai kapanpun.

Seribu shalawat, lanjut Istiana, sebagai wasilah kepada Nabi Muhammad supaya Allah memberikan nikmat sehat dan keberkahan kepada ibu-ibu di seluruh dunia, sehingga bisa tetap merawat putra-putrinya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, sebagaimana bunga-bunga yang dibagikan kepada masyarakat.

Selain itu, pembacaan shalawat sebagai ungkapan terima kasih kepada Rasulullah yang telah mengangkat harkat dan martabat kaum ibu. “Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menghormati ibu. Bahkan, Islam menurut Islam, ibu adalah sekolah pertama. Ini artinya ibu adalah penentu karakteristik generasi bangsa,” pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Saturday, December 22, 2018

Hari Ibu, KOPRI Raden Segoro Bagikan Bunga ke Pengguna Jalan

Sampang — Pasti Aswaja — Memperingati Hari Ibu yang bertepatan tanggal 22 Desember 2018, Korp PMII Putri (KOPRI) Komisariat Raden Segoro Sekolah Tinggi Agama Islam Nazhatuh Thullab (STAINATA) Ketapang, Sampang membagikan bunga ke setiap pengguna jalan yang melintas di simpang tiga jalan raya Ketapang, Sabtu (22/12/2018).

Fitriatul Hasanah mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk penghormatan atas pengorbanan sosok ibu demi merawat anak-anaknya. Meskipun, ia mengakui, kegiatan yang digelarnya tidak seberapa dibandingkan perjuangan seorang ibu.

Bunga, menurut Fitri, merupakan simbol kasih sayang dan penghormatan kepada kaum ibu. "Meskipun demikian, kita tidak akan pernah mampu membalas semua perjuangan seorang ibu. Kerana kasih sayang seorang ibu itu kasih sayang sejati yang abadi,” ujarnya.

Fitri berharap, agenda ini dapat mengingatkan masyarakat agar selalu mengenang jasa-jasa ibunya. “Dan tanggal ini seharusnya menjadi momentum menghargai sejarah perjuangan kaum ibu. Dan semoga masyarakat dengan acara ini bisa mengetahui dan mengenang kembali jasa dan perjuangan seorang ibu,” pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Saturday, December 15, 2018

Tulisan Tak Berjudul

Oleh: KH. M. Musleh Adnan*

John F Kennedy, Presiden AS ke-35, dalam orasinya pada tanggal 20 Januari 1961 berkata: "Jangan tanyakan apa yang negara dapat perbuat untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda perbuat untuk Negara".

Kata-kata di atas menurut beberapa sumber ternyata berasal dari filsuf Marcus Tullius Cicero (3 Januari 106 SM - 7 Desember 43 SM). Cicero adalah orator dan negarawan Romawi Kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato dan prosa.

Terlepas dari mana sumbernya saya menangkap bahwa kata tersebut merupakan spirit bagi warga negara untuk senantiasa mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran memberikan kontribusi positif untuk kemakmuran negara.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kita sebagai warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia, makan di Indonesia, bekerja di Indonesia, menikmati sumber daya alam di Indonesia harus berusaha dalam setiap bentuk tindakan dan pemikiran serta upaya menjadikan Indonesia jaya dan disegani bukan justru ingin mendapat sesuatu dari negara apalagi mau merubah visi negara, bentuk dan ideologi negara yang sudah kuat.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, kami sebagai warga negara Indonesia merasa heran bagi sekolompok orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin yang visioner, inovatif, bekerja tidak hanya menurut aturan (rule), mampu berpikir lateral tidak hanya linier juga mampu berpikir secara divergen tidak hanya konvergen ketika didapuk menjadi pemimpin publik di daerah menjadi Bupati/Wali Kota atau Gubernur bukan tulus ingin membangun daerahnya, tapi setelah sukses menyulap daerahnya menjadi kota atau propinsi yang maju dengan semua program-program unggulan dan intens memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia dengan iklan layanan melalui media, ternyata semua itu hanya sebagai batu loncatan guna meraih jabatan lebih tinggi (Bupati ingin menjadi Gubernur dan Gubernur ingin menjadi Presiden).

Rakyat sudah lama merindukan keteladanan. Mereka butuh teladan untuk mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan lainnya, teladan untuk jujur tanpa pura-pura, teladan untuk berkorban demi kemaslahatan bersama.

Indonesia itu sejak dulu memiliki ciri tersendiri dan warganya mempunyai karakteristik, dimana dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan. Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarya, tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.

Sekarang banyak elit di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila. Ketika suatu golongan dibiarkan diberangus di altar kebencian oleh golongan lain, misalnya, tak banyak yang bisa bangsa ini lakukan.

Ketika saya berada di bangku sekolah dasar di Jember memperoleh pelajaran bahasa daerah dan juga diajarkan beberapa ajaran sesepuh tentang etika yang dalam bahasa agama sebenarnya disebut akhlaq, tapi saat ini sudah raib entah kemana, misalnya andhap asor (sahaja); tepo seliro (tenggang rasa); ngajeni (menghargai kelebihan); narimo ing pandom (menerima rejeki hidup); urip ora ngonyo (hidup seadanya); gotong royong (saling membantu); ngajeni wong tuwo (menghormati).

Saya meyakini semua prinsip di atas bukan hanya milik daerah tertentu (baca: Jawa), tapi merupakan ciri semua orang Indonesia. Namun, saat ini prinsip-prinsip tersebut hilang seiring perkembangan zaman, malah yang tersisa hanyalah pemandangan para generasi bangsa tenggelam dalam kemajuan zaman dan melupakan warisan leluhur.

_________________
* Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Pamekasan.
Share:

Thursday, December 13, 2018

PAC Ansor Proppo Rampungkan Ta'aruf Dengan 27 Ranting

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Proppo, Rabu malam (12/12/18) menggelar ta'aruf kepengurusan ke-4 dengan sembilan ranting, meliputi: Tlangoh, Lenteng, Banyubulu, Rangperang Laok, Rangperang Daya, Samatan, Samiran, Kodik, dan Klampar di Yayasan Tarbiyatus Shibyan, Rangperang Laok, Proppo, Pamekasan. Kegiatan ini menjadi agenda ta'aruf terakir setelah merapungkan pembentukan 27 Pimpinan Ranting di semua desa se-Kecamatan Proppo.

Subhan Maulana, Ketua PAC GP. Ansor Proppo, mengungkapkan rasa syukurnya, karena organisasi yang dipimpinnya mampu melaksanakan lima agenda dalam satu bulan, termasuk pembentukan 27 PR GP Ansor.

"Mudah-mudahan 27 ranting yang sudah dibentuk bisa bahu-membahu memperat tali persaudaran, memperkokoh ukhuwah islamiyah, insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah demi persatuan umat serta menebar kedamaian ke seluruh penjuru dunia ," harapnya.

Syafiuddin, Ketua PC. GP. Ansor Pamekasan mengungkapkan kebanggaannya terhadap GP. Ansor Proppo yang terus-menerus aktif melakukan gerakan sampai ke bawah.

"Atas nama PC GP Ansor Pamekasan, saya mohon dukungan dari semua unsur MWC NU Proppo untuk terus mendukung kegiatan PAC GP Ansor Proppo," ungkap Syafik.

Hadir dalam kesempatan ini, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan yang dalam sambutannya mengajak GP. Ansor agar tetap semangat mengabdi kepada Nahdlatul Ulama.

"Kita aktif di NU ini semata-mata mengharap barokah para muassis NU. Mari kita tingkatkan perjuangan dan pengabdian kita di NU," ajak KH. Taufik. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, December 12, 2018

PSNU Pagar Nusa Jadi UKM Baru di STAIMU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan.

Dikutip Pasti Aswaja dari website resmi STAIMU, Rabu, (12/12/2018), KH. Taufik Hasyim selaku Ketua STAIMU, meminta seluruh mahasiswa di kampus yang ia pimpin supaya bergabung bersama UKM PSNU Pagar Nusa.

Menurutnya, pembentukan UKM baru tersebut bertujuan melatih jiwa dan raga mahasiswa di kampus yang ada di bawah Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) itu supaya menjadi pribadi yang sehat lahir batin.

Kiai Taufik yang juga Ketua PCNU Pamekasan, meminta kepada semua Kaprodi supaya turut serta mendorong seluruh mahasiswa bergabung bersama PSNU Pagar Nusa. Karena, menurutnya, akal yang sehat terdapat dalam raga yang sehat.

“Dan tujuan dari Pagar Nusa ini untuk melatih jiwa dan raga mahasiswa supaya menjadi pribadi yang sehat lahir batin,” lanjutnua. (ahn/bor)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive