Saturday, December 15, 2018

Tulisan Tak Berjudul

Tulisan Tak Berjudul

Baca Juga

Oleh: KH. M. Musleh Adnan*

John F Kennedy, Presiden AS ke-35, dalam orasinya pada tanggal 20 Januari 1961 berkata: "Jangan tanyakan apa yang negara dapat perbuat untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda perbuat untuk Negara".

Kata-kata di atas menurut beberapa sumber ternyata berasal dari filsuf Marcus Tullius Cicero (3 Januari 106 SM - 7 Desember 43 SM). Cicero adalah orator dan negarawan Romawi Kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato dan prosa.

Terlepas dari mana sumbernya saya menangkap bahwa kata tersebut merupakan spirit bagi warga negara untuk senantiasa mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran memberikan kontribusi positif untuk kemakmuran negara.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kita sebagai warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia, makan di Indonesia, bekerja di Indonesia, menikmati sumber daya alam di Indonesia harus berusaha dalam setiap bentuk tindakan dan pemikiran serta upaya menjadikan Indonesia jaya dan disegani bukan justru ingin mendapat sesuatu dari negara apalagi mau merubah visi negara, bentuk dan ideologi negara yang sudah kuat.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, kami sebagai warga negara Indonesia merasa heran bagi sekolompok orang yang memiliki potensi menjadi pemimpin yang visioner, inovatif, bekerja tidak hanya menurut aturan (rule), mampu berpikir lateral tidak hanya linier juga mampu berpikir secara divergen tidak hanya konvergen ketika didapuk menjadi pemimpin publik di daerah menjadi Bupati/Wali Kota atau Gubernur bukan tulus ingin membangun daerahnya, tapi setelah sukses menyulap daerahnya menjadi kota atau propinsi yang maju dengan semua program-program unggulan dan intens memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia dengan iklan layanan melalui media, ternyata semua itu hanya sebagai batu loncatan guna meraih jabatan lebih tinggi (Bupati ingin menjadi Gubernur dan Gubernur ingin menjadi Presiden).

Rakyat sudah lama merindukan keteladanan. Mereka butuh teladan untuk mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan lainnya, teladan untuk jujur tanpa pura-pura, teladan untuk berkorban demi kemaslahatan bersama.

Indonesia itu sejak dulu memiliki ciri tersendiri dan warganya mempunyai karakteristik, dimana dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan. Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarya, tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.

Sekarang banyak elit di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila. Ketika suatu golongan dibiarkan diberangus di altar kebencian oleh golongan lain, misalnya, tak banyak yang bisa bangsa ini lakukan.

Ketika saya berada di bangku sekolah dasar di Jember memperoleh pelajaran bahasa daerah dan juga diajarkan beberapa ajaran sesepuh tentang etika yang dalam bahasa agama sebenarnya disebut akhlaq, tapi saat ini sudah raib entah kemana, misalnya andhap asor (sahaja); tepo seliro (tenggang rasa); ngajeni (menghargai kelebihan); narimo ing pandom (menerima rejeki hidup); urip ora ngonyo (hidup seadanya); gotong royong (saling membantu); ngajeni wong tuwo (menghormati).

Saya meyakini semua prinsip di atas bukan hanya milik daerah tertentu (baca: Jawa), tapi merupakan ciri semua orang Indonesia. Namun, saat ini prinsip-prinsip tersebut hilang seiring perkembangan zaman, malah yang tersisa hanyalah pemandangan para generasi bangsa tenggelam dalam kemajuan zaman dan melupakan warisan leluhur.

_________________
* Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Pamekasan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts