Thursday, January 31, 2019

Larangan Menyebarkan Berita Yang Belum Dipastikan Kebenarannya

Menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya hukumnya haram kecuali terpenuhi beberapa syarat: 1) punya dugaan berita yang disebarkan adalah berita yang benar, misalkam didapatkan dari sumber terpercaya; 2) tidak mengandung isi yang diharamkan, seperti gunjingan, adu domba dan semisalnya; 3) tidak berdampak keharaman seperti menimbukjan keresahan masyarakat.

Apabila terdapat keraguan atas kebenaran berita yang disebarkan, maka boleh membagikan berita namun dengan menyertakan sumber asalnya selama tidak terdapat isi yang diharamkan serta tidak berdampak keharaman. (Al-Munawi, Faidh al-Qadir, IV: 551)

Apa bila terdapat informasi yang menceritakan perilaku buruk seseorang, maka tidak boleh langsung dipercaya, apalagi membenarkannya dan ikut-ikutan menceritakannya kepada orang lain. Yang harus dilakukan adalah menilai terlebih dahulu apakah perilaku tersebut pantas dan biasa dilakukan pihak yang diberitakan atau tidak. Andai pun biasa dilakukan, maka juga tidak perlu berkomentar, namun lebih memilih sikap diam. Terlebih bila perilaku itu tidak biasa dilakukan oleh pihak yang dikabarkan, maka dengan mengedepankan semangat husnu al-zhan, hendaknya dinyatakan bahwa berita itu tidak dibenarkan. (Abd Wahab al-Sya'rani, al-Akhlaq al-Mabthuliyyah al-Mufadhah: 424)

Dalam menyampaikan pernyataan kepada publik, langkah-langkah yang semestinya dilakukan terlebih dahulu adalah: 1) menimbangnya dengan ukuran syariat; 2) mempertimbangkan dampaknya bagi publik, apakah menimbulkan dampak negatif (mafsadah) atau tidak; 3) tanyakan pada hati, apakah diterima nalar atau tidak; 4) bila bisa diterima, maka disampaikan; dan bila tidak, maka hanya boleh disampaikan kepada kalangan tertentu.

Apabila tidak memenuhi prosedur ini, maka lebih baik diam dan tidak disampaikan. ( Al-Syathibi, al-Muwafaqat, V: 167)
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

Tuesday, January 29, 2019

Mahasiswi IAI Al-Khairat Teliti BMT NU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Saniyah, mahasiswi semester akhir Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Selasa (29/01/19), mendatangi Baitul Mal wat Tamwil (BMT) NU Mandiri milik PCNU Pamekasan guna melakukan observasi guna menyelesaikan penelitian tugas akhir kuliahnya.

Mantan pengurus Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PC. PMII Pamekasan ini beralasan, memilih objek penelitian di PCNU Pamekasan, lantaran kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

Dara kelahiran Batu Bintang, Batumarmar, Pamekasan ini mengaku dirinya dibesarkan di lingkungan keluarga NU. Ia juga menuturkan, dirinya mengenal NU melalui PMII. Alasan pemilihan BMT NU sebagai objek penelitian, lantaran ia ingin tetap menjaga kecintaannya kepada NU.

"Selain sesuai jurusan kuliah, juga bisa membantu mengetahui pelayanan di dalamnya," lanjutnya, saat ditemui Pasti Aswaja ketika sedang observasi di Kantor BMT NU, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95 Pamekasan.

Ia berharap, penelitian yangbdilakukannya bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya warga NU, pelayanan di BMT NU Pamekasan.

Dalam penelitiannya, Saniyah mengambil judul "Pengaruh Pembiayaan Rahn (Gadai) Terhadap Tingkat Kepercayaan Nasabah di Koperasi Syariah Nahdlatul Ulama (NU) Pamekasan". (bor/ahn)
Share:

Sunday, January 27, 2019

Peringatan Harlah Muslimat NU ke-73 Kuasai Jagad Maya

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ratusan ribu ibu-ibu dari seluruh pelosok Nusantara memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) guna mengikuti rangkaian Maulidurrosul dan Peringatan Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU ke-73, Ahad pagi (27/01/19).

Meski sempat diguyur hujan sekira jam 03:00 sampai jam 04:30 WIB, tidak tampak sedikitpun mengurangi semangat mereka mengikuti acara bertema: "Khidmah Muslimat NU: Jaga Aswaja, Teguhkan Bangsa" tersebut.

Agenda ini tidak hanya ramai dibincangkan oleh warga NU di dunia nyata. Kegiatan yang dihadiri Presiden Joko Widodo itu juga menjadi topik pembicaraan jagad maya.

Hashtag yang berhubungan dengan kegiatan tersebut banyak digunakan pengguna Twitter Indonesia pada setiap cuitannya. #HarlahMuslimatNU73 nangkring di posisi pertama dengan 12,7 ribu kicauan pengguna Twitter, disusul #Harlah73MuslimatNU dengan 1.800 tweet, kemudian #MislimatandiGBK 4.152 kicauan dan #JokowiSholatSubuhDiGBK digunakan 4.152 akun.

Berikut rangkaian kegiatan Harlah Muslimat NU ke-73:

Acara Iftitah (pembukaan)
00.00 - 02.30
Jamaah tiba di GBK

02.30 - 04.20
Sholat Tahajud, Sholat Hajat, Istighotsah dan Tahlil (KH Asep Syaifuddin Chalim)

04.20 - 04.45
Sholat Shubuh Berjamaah

04.45 - 05.45
1000 Khotmil Quran Rekor Dunia Muri

05.45 - 06.30
Sarapan dan Perform El Kiswah Gambus

06.30 - 06.45
Perform 999 Tarian Sufi Rekor Dunia dari PP Sabilil Muttaqin- Takeran - Magetan - Jawa Timur featuring Habib Anis Syahab Jakarta dan Majelis Sholawat Baitul Mustofa YPM Sidoarjo (Lagu : Sholawat Gundul Pacul/Sholawat Sunan Kalijogo)

Acara Utama
06.45 - 07.00
Persiapan penyambutan Presiden RI jokowi, Presiden untuk 2019-2024

07.00
Presiden RI tiba di GBK disambut Sholawat Tolaal Badru oleh Tompi

07.00 - 07.05
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya oleh Paduan Suara PC MNU Jombang. Dirigen Adie MS

07.05 - 07.10
Pembukaan (MC Dra Hj Nur Cita Qomariah, M.Kom)

07.10 - 07.20
Doa Khotmil Quran 

07.20 - 07.25
Pembacaan Ayat Suci Al Quran oleh Hj. Maryati Maralie, Qariah terbaik MTQ Nasional 2005

07.25 - 07.35
Pembacaan Mahalul Qiyam oleh Habib Anis Syahab dan Majelis Sholawat Baitul Mustofa

07.35 - 07.45
Menyanyikan Lagu Mars Muslimat NU dan Syubbanul Wathon oleh Paduan Suara PC Muslimat NU Jombang

07.45 - 07.55
Laporan Ketua Panitia (Hj Yeni Wahid)

07.55 - 08. 15
Sambutan Ketua Umum PP Muslimat NU (Hj Khofifah Indar Parawansa).

08.15 - 08.30
Persembahan 999 Tarian Sufi dari PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan Jatim bersama Habib Anis Syahab dengan lagu Deen Assalam dan Assalaamualaik 

08.30 - 08.50
Sambutan sekaligus taushiyah Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA

08.50 - 09.10
Pengarahan Presiden Republik Indonesia Ir H Joko Widodo.

09.10 - 09.20
Persembahan Lagu Hymne Muslimat NU, Mars Banser dan Tanah Airku (Paduan Suara MNU Jombang)

09.20 - 09.30
Doa Oleh : Rais Aam Syuriyah PBNU KH Miftahul Akhyar.

Sampai berita ini diturunkan, Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj. Khofifah Indar Parawansa sedang memberikan sambutan. (uki/ahn)
Share:

Saturday, January 26, 2019

IKA-PMII STAIMU Datangkan KPS Sambut Harlah NU ke-93

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIMU) Pamekasan, Sabtu malam 26/01/19), menyambut Hari Lahir (Harlah) NU ke-93 bersama komunitas musik dan budaya Koloman Pojok Surau (KPS) di kediaman mantan Ketua PC PMII Pamekasan periode 2015-2016, Miftahul Munir, Desa Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

Dalam sambutannya, Atiqullah merasa senang atas inisiatif alumni PMII STAIMU. Menurut dosen IAIN Madura ini, acara tersebut harus terus dilanjutkan guna mempererat ikatan batin antara alumni dan kader PMII yang masih aktif di komisariat maupun di tingkatan pengurus lainnya, baik yang di Cabang maupun Koordinator Cabang.

Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Baikuni selaku Majelis Kehormatan IKA-PMII STAIMU mengatakan, kegiatan semacam itu sudah sering diselenggarakan di lingkungan internal alumni. Akan tetapi, ia menilai baru kali ini acar serupa digelar lumayan meriah dengan mendatangkan KPS.

Kegiatan bertajuk Toju' Bhareng, Nambhai Kerrong ini mengusung tema "Politik Kebangsaan (?)" yang dihadiri seluruh alumni dan kader PMII STAIMU ini mendatangkan Nur Faizin Darain selaku Sekretaris Nasional Badan Ansor Anti Narkoba (BAAMAR), Atiqullah (Ketua IKA-PMII Pamekasan), K. Mukhlis Nashir (Ketua MWCNU Palengaan).

Dalam penyampaiannya, pemateri membahas Politik Kebangsaan perspektif Nahdlatul Ulama, yakni politik yang bertujuan memperjuangkan persatuan dan kesatuan serta kesejahteraan umat. (bor/ahn)
Share:

Kiai Jumali, Islam Dunia Akan Belajar Kepada Islam Indonesia

Sampang — Pasti Aswaja — Akhir-akhir ini hujatan dan cacian diarahkan kepada NU, baik tokoh-tokohnya maupun organisasi. Tidak jarang warga NU dicap sebagai ahli bid'ah, sesat, bahkan dikafirkan. Hal seperti ini, Menurut KH. Ahmad Jumali, sudah terjadi sejak masa kepeimpinan KH. Hasyim Asy'ari sebagai Raisul Akbar di awal berdirinya NU.

KH. Hasyim Asy'ari, lanjut Ketua MWCNU Kecamatan Camplong itu, dinilai akan merubah hukum syariat karena memperbolehkan perempuan belajar menulis. Hukum itu dianggap bertentangan dengan hadits yang berisi larangan belajar menulis bagi perempuan.

Menurut Kiai Jumali, semua perkataan berisi celaan, menjelek-jelekkan dan mengafirkan kelompok lain, sama sekali bukan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah. Karena, menurutnya, NU sangat menghargai perbedaan sealama tidak berkenaan persoalan akidah.

Bahkan, lanjut Kiai Jumali, Indonesia tetap aman meski terdiri ribuan pulau, bermacam bahasa, suku, dan agama, karena berkat keberadaan NU. Dan ia meyakini, suatu saat nanti Islam dunia akan belajar kepada Islam Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kiai Jumali saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Lahir NU ke-93 yang dilaksanakan oleh MWCNU dan PAC GP Ansor Camplong, Sabtu pagi (26/01/19), di Halaman Yayasan Nurul Hijriyah Sejati, Camplong, Sampang. (ahn/uki)
Share:

Larangan Memberontak Pemerintah yang Sah

Al-Imam an-Nawawi menegaskan, ijma' ulama, bahwa tindakan makar/pemberontakan terhadap pemerintah yang sah adalah haram, meski pemerintahan fasik atau zalim:
وأمّا الْخُرُوجُ عليْهِمْ وقِتالُهُمْ فحرامٌ بإجْماعِ الْمُسْلِمِيْن وإنْ كان فسقةً ظالِمِيْن.

"Adapun keluar dari ketaatan terhadap penyelenggara negara dan memeranginya maka hukumya haram berdasarkan ijma' ulama, meskipun mereka fasik dan zalim." (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, XII: 229)

Sebab pemberontakan akan mengobarkan fitnah yang sangat besar, pertumpahan darah, perselisihan antargolongan dan semisalnya. (Muhammad bin Ahmad ar-Ramli, Ghayah al-Bayan, I: 27) Dengan bahasa lain Dr. Wahbah az-Zuhaili menegaskan:
ولا يحُوْزُ الْخُرُوْجُ عنِ الطَّاعةِ بِسببِ أخْطاءٍ غيْر أساسِيةٍ لا تُصادِم نصَّ قطْعِيًّا سواءٌ أكانتْ بِاجْتِهادٍ أمْ بِغيْر اجْتِهادٍ حِفاظًا على وِحْدةِ الأُمَّةِ وعدمِ تمْزِيْقِ كلِماتِها.

"Tidak dibolehkan memberontak pemerintah sebab kesalahan tidak mendasar yang tidak menabrak nash qath'i, baik dihasilkan dengan ijtihad atau tidak, demi menjaga persatuan umat dan mencegah perpecahan dan pertikaian di antara mereka." (Az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami, VI:705)

Dalam ajaran dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tidak pernah ditemukan "kamus" memberontak. Bahkan pelaku pemberontakan disebut Khawarij, meski istilah ini mulanya hanya mengarah kepada kelompok yang membelot dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA., namun secara dinamis juga digunakan untuk setiap kelompok yang melakukan tindakan makar terhadap pemerintah yang sah. (Abu al-Fadhl as-Senori, Syarh al-Kawakib al-Lamma'ah: 13)

Dalam catatan sejarah disampaikan bahwa pada saat kepemimpinan al-Watsiq, para ahli fikih Baghdad bersepakat menemui Imam Ahmad bin Hanbal untuk membicarakan penyimpangan-penyimpangan Sang Raja, al-Watsiq, sekaligus rencana pemberontakan atas kepemimpinannya. Mereka mengadu kepada Imam Ahmad: "Sesungguhnya perkara ini telah memuncak dan tersebar, yaitu ucapan al-Qur'an adalah makhluk dan hal-hal lain yang tidak kami setujui dengan kepemimpinan al-Watsiq". Imam Ahmad menjawab:
"Wajib atas kalian mengingkarinya hanya dalam hati kalian. Jangan melepaskan tangan kalian dari kepatuhan kepada pemimpin kalian. Jangan kalian memecah belah persatuan kaum muslimin. Jangan kalian menumpahkan darah kalian dan kaum muslimin. Renungkanlah akibat dari pemberontakan yang hendak kalian lakukan. Bersabarlah kalian sampai orang baik hidup tentram dan selamat dari bahaya orang-orang jahat. Pemberontakan ini merupakan tindakan yang tidak benar dan menyalahi ajaran para sahabat." (Ibnu Muflih al-Madisi, al-Adah al-Syar'iyyah, I: 221)
Syaikh Abdul Fattah Qudaisy al-Yafi', ulama Ahlussunnah wal Jamaah kontemporer, dalam kitab al-Manhajiyyah al-'Ammah fi al-'Aqidah menyebutkan, bila menilik sejarah, dulu saat pemerintah Islam dipimpin oleh rezim Mu'tazilah Jahmiyyah seperti Khalifah al-Makmun, al-Watsiq dan al-Mu'tashim, tidak satupun ulama Ahlussunnah wal Jamaah memberontak. Mereka juga tidak pernah memfatwakan haram berjamaah di belakang para pemimpin yang bukan Ahlussunnah wal Jamaah itu. Tidak pula mengharamkan agresi militer bersama mereka. Padahal banyak ulama waktu itu, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan ulama besar abad ketiga hijriyyah selainnya. Demikian teladan etika ulama Ahlussunnah wal Jamaah terhadap pemerintah meskipun berbeda pandangan. (Syaikh Abdul Fattah Qudais al-Yafi': 32-33)
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

6 Bus Rombongan Muslimat NU Pamekasan Berangkat ke GBK

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sebanyak enam armada bus membawa rombongan PC Muslimat NU Pamekasan menghadiri Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU ke-73, Ahad (27/01/19) besok, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Sebelum berangkat, rombongan ibu-ibu itu berkumpul di Halaman Aula PCNU Pamekasan. Dipimpin KH. Ach. Muzammil selaku Wakil Rais Syuriah, mereka menggelar doa bersama dan istigasah agar diberikan keselamatan oleh Allah selama dalam perjalanan. Tidak hanya itu, mereka juga memohon keselamatan dan kesejahteraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebelum memimpin acara, Kiai Muzammil mengajak ibu-ibu Muslimat NU agar meluruskan niat dan ikhlas agar perjalanannya bernilai ibadah di sisi Allah. Karena, menurutnya, perjalanan menuju Jakarta bukan refreshing, tapi bentuk pengandian Muslimat NU kepada para ulama pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Kiai Muzammil juga menambahkan, doa bersama tersebut merupakan ciri khas warga Muslimat NU yang membedakannya dengan kelompok-kelompok lain. “Jadi dengan doa inilah yang membedakan antara 'muslimah' lainnya dengan Muslimat NU: bahwa Muslimat NU cinta bangsa ini,” imbuhnya, Sabtu dini hari (26/01/19).

Seusai gelaran acara itu, rombongan diberangkatkan. Sesampainya di Masjid Nasional Surabaya, rombongan tersebut melaksanakan shalat subuh berjamaah. (bor/ahn)
Share:

Friday, January 25, 2019

Mahfud MD Kira "Indonesia Barokah" Nama Restoran

Pamekasan — Pasti Aswaja — Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh terbitnya buletin baru bernama "Indonesia Barokah". Keberadaan tabloid ini oleh banyak politisi dinilai sebagai kampanye hitam untuk menyerang pasangan calon presiden tertentu, sebagaimana buletin Obor Rakyat yang terbit menjelang Pilpres 2014 lalu.

Berbeda halnya dengan Menteri Pertahanan era Presiden Abdurrahman Wahid, Mahfud MD. Mahfud mengaku dirinya tidak tahu-menahu soal tobloid "Indonesia Barokah". Bahkan pria kelahiran Madura ini mengira "Indonesia Barokah" nama sebuah restoran.

Hal itu diungkapkan Mahfud saat ditanya wartawan ketika dirinya menjadi pembicara dalam seminar “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi damai Nusantara Untuk Dunia” di Balairung Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Jumat (25/01/19).


"Saat hadir seminar ttg 'Muhammadiyah dan NU' di Balairung UGM hr ini sy ditanya oleh wartawan ttg 'Indonesia Berkah'. Sy kira itu nama restoran shg sy jawab, 'Sy akan mencoba kelezatannya'. 'Bkn restoran, Pak. Itu nama tabloid baru spt Obor Rakyat', kt wartawan. Duh, ada lagi?" Tulis Mahfud di Twitter pribadinya, @mohmafudmd.

Sampai berita ini diturunkan, kicauan Guru Besar di Fakuktas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini dikomentari oleh 213 pengguna Twitter, 396 twit ulang dan 2.015 suka. (ahn/uki)
Share:

Pembuat Hoax NU Jatim Dukung Prabowo-Sandi, Minta Maaf

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pria pembuat hoax melalui video yang mengklaim NU Jawa Timur mendukung Prabowo-Sandi akhirnya meminta maaf. Pria yang mengaku bernama Wahid Ghozali dari Waru, Sidoarjo ini menyampaikan permohonan maafnya melalui video berdurasi 02:17.


Dalam videonya, pria berkacamata itu meminta maaf kepada Pengurus Wilayah Nahdlatu Ulama Jawa Timur. Ia mengaku tidak tahu, kalau videonya viral.

"Saya sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya apa bila di dalam video itu dianggap ada yang salah, ada yang keliru, ada yang tidak benar. Saya, sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucapnya.

Ia berharap, pengurus NU memaafkan tindakannya itu. Dia juga mengaku memafkan orang yang telah menyebarkan videonya tanpa sepengetahuan dan tanpa izin dirinya.

Video yang diunggah pemilik akun Twitter @elhakimy21, Kamis (24/01/19) itu ditanggapi beragam para netizen. @lts_Jakobus menilai, pria dalam video itu terkesan tidak mengakui kesalahannya dan terkesan menyalahkan orang lain.

"Dia ga meminta maaf atas kontennya yang hoax tapi meminta maaf karna sudah tersebar luas 'tanpa sepengetahuan' dia. Dia meminta maaf JIKA kontennya dianggap ada yg tidak benar dll, jadi intinya dia tidak mengakui kalo kontennya hoax," tulisnya diakhiri emoiticon.

Hal senada juga disampaikan akun @blaworblakasuta. Pemilik akun ini menilai permintaan maaf tersebut tidak tulus. "Menit 38 dst, doi bilang kalo dlm postingan vidionya dianggap ada yg salah dll aneh... Berati doi anggap yg doi posting bener... Kalimat terakhir juga malam playing victim..." tulisnya.

Sebelumnya, beredar video pria mengenakan kaos Prabowo-Sandi di depan Gedung Astranawa Surabaya yang mengaku berada di kantor PWNU Jawa Timur mengklaim Pengurus NU Jawa Timur mendukung Prabowo-Sandi. (bor/ahn)

Berikut video selengkapnya:

Share:

Thursday, January 24, 2019

Harlah ke-4, PMII Raden Segoro Sampang Gelar Dialog Interaktif

Sampang — Pasti Aswaja — Menginjak usianya yang ke-4, Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Raden Segoro Sekolah Tinggi Agama Islam Nazhatut Thullab (STAI NATA) Ketapang, Sampang menggelar Dialog Interaktif di Hotel Melati Ketapang, Senin (21/01/19), yang diikuti oleh ratusan peserta.

Dalam kegiatan yang dimulai jam 08:30 itu, panitia mendatangkan dua orang pemateri: Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom), Abd. Waffar, yang menyampaikan sejarah berdirinya PMII Raden Segoro. Tampak juga duduk di kursi pemateri Bustomi, Sejarawan Madura, yang mengupas sejarah perjalanan hidup Raden Segoro.

Suhartono selaku Ketua Komisariat mengatakan, terlaksananya acara yang digelarnya itu bertujuan menguatkan kecintaan terhadap organisasi dan memupuk solidaritas antara kader dan alumni.

"Semakin bertambahnya umur, seharusnya semakin besar pula rasa cinta dan komitmen menjaga organisasi. Dan berkat Harlah (Hari Lahir. Red.), para pendiri PMII Ketapang dapat bersua kembali satu sama lain dan bisa memberikan kontribusi yang jelas terhadap siswa dan Ormas-ormas yang lainnya. Karena kami juga berhak memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia," jelasnya, seperti dikutip NU Online Pamekasan, Kamis (24/01/19).

Tidak hanya dihadiri oleh anggota dan kader acara itu juga dihadiri oleh alumni dan para pendiri PMII Raden Segoro, Ketua Umum PC PMII Sampang, Abd. Rahman, yang tak lain merupakan alumni PMII Raden Segoro. Selain itu, tampak juha beberapa perwakilan pengurus MWCNU Ketapang, GP Ansor, IPNU-IPPNU, OSIS, HMI dan PMII dari berbagai Komisariat di Sampang. (ahn/dur)
Share:

Larangan Gegabah Menuduh Kafir, Munafik dan Fasik

Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam al-Iqtishad fi al I'tiqad (81) mengatakan:
والَّذِيْ ينْبغِيْ أنْ يمِيْل الْمُحصِّلُ إليْهِ الإحْتِرازُ مِن التَّكْفِيْرِ ما وجد إليْهِ سبِيْلاً. فإنَّ اسْتِباحة الدّّماءِ والْأمْوالِ مِن الْمُصَلِّيْن إلَى الْقِبْلةِ الْمُصَرِّحِيْن بِقوْلِ لا إله إلَّا اللهُ محمدٌ رسُوْلُ اللهِ خطأٌ، والْخطأُ فِيْ ترْكِ ألْفِ كافِرٍ فِيْ الْحياةِ أهْونُ مّن الْخطإ فِيْ سفْكِ محْجمةٍ مِن دمِ مُسْلِمٍ.

"Yang seyogyanya dicenderungi oleh orang yang akan menilai kufur adalah menjaga diri dari mengafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan (ta'wil). Karena sungguh menghalalkan darah dan harta muslim yang shalat dan menghadap kiblat, yang jelas-jelas mengucapkan kedua kalimat syahadat, merupakan kesalahan. Padahal kesalahan membiarkam 1.000 non-muslim lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim."

Tidak dibenarkan memvonis kufur kepada seorang muslim kecuali diyakini kemurtadannya. Bahkan bila terdapat banyak pertimbangan yang mengufurkannya, sementara di sisi lain hanya ditemukan satu pertimbangan yang menolaknya, maka seorang mufti wajib berpijak pada pertimbangan yang dapat mencegah kekafirannya sebagai wujud prasangka baik kepadanya. (Ibnu Najim, al-Bahr al-Raiq, V: 134-135)

Tidak dibenarkan memastikan tuduhan syirik, kafir atau munafik terhadap sesama muslim. Sebab persoalan ini sangat berat. Kita tidak dapat mengetahui secara pasti isi hati setiap manusia. Sesungguhnya yang dapat mengetahui rahasia-rahasia di hati hanya Allah SWT. (Nawawi bin Umar al-Bantani, Maraqi al-'Ubudiyah: 69)

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, di antara ciri khas Ahlussunnah wal Jama'ah adalah tidak saling menuduh sesat, fasik dan kafir karena perbedaan antara mereka.

Bahaya Mencaci Maki

Rasulullah SAW. bersabda:
منْ عيّر أخاهُ بِذنْبٍ لمْ يمُتْ حتّى يعْملَهُ. (رواه الترمذي، حسن)

"Barang siapa menghina saudaranya karena dosa yang diperbuat, maka ia tidak akan mati kecuali melakukam perbuatan yang sama." (HR. Tirmidzi, Hasan)

Ulama menjelaskan, menyebutkan aib orang lain tidak dibenarkam kecuali dalam rangka memberi nasehat seperti menyebutkan kekurangan calon suami/istri kepada pihak yang membutuhkan, menuturkan aib perawi hadits dan semisalnya. Ulama salaf selali sebisa mungkim menutupi aib orang lain. Gemar merusak dan membuka aib orang lain bukanlah perilaku mukmin sejati. (Muhammad bin Ahmad bin Salim al-Hanbali, Ghida' al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, I: 84)
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

Wednesday, January 23, 2019

Viral Video Kantor PWNU Jadi Posko Pemenangan Pilpres, Kiai Syamsudin: "Ngawur"

Pamekasan — Pasti Aswaja — Baru-baru ini di media sosial viral video seseorang mengenakan kaos merah bergambar Prabowo-Sandi. Dalam video itu ia mengaku sedang berada di depan kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Berdasarkan gambar video tersebut, ia tidak sedang berada di Kantor PWNU, melainkan Museum NU yang letaknya bersebelahan dengan kantor Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Prabowo-Sandi.

Laki-laki yang tidak diketahui identitasnya itu membangun narasi, bahwa kiai-kiai dan ulama NU Jawa Timur mendukung Pasang Calon (Paslon) nomer urut 02. Guna memperkuat narasinya, ia menunjukkan sejumlah spanduk dan baliho Paslon 02 yang, menurutnya, menjadi bukti dukungan NU Jawa Timur kepada Prabowo-Sandi.

Video berdurasi 02:05 itu diunggah pemilik akun Abd Hamid Naqsya, Selasa malam (22/01/19). Dalam unggahannya, pemilik akun juga menyertakan gambar Kantor PWNU Jawa Timur dari bagiam depan, lengkap dengan papan nama.

Hamid Naqsya menilai, tindakan laki-laki dalam video itu menunjukkan hasrat politik yang nerlebihan sehingga menghalalkam segala cara.

"Subhanallah, demi menuju hasrat politik kalian berani mengkalaim PWNU sebagai salah satu pendukung calon," tulis Hamid dalam unggahannya.

Pernyataan laki-laki bertopi dan berkacamata dalam video itu dibantah oleh KH. Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur.

Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur ini menilai, laki-laki dalam video tersebut ngawur.

"Itu orang ngawur. Gedung yang di video itu adalah gedung sengketa, yang asalnya adalah milik PKB tapi sekarang dihaki sepihak oleh salah seorang Tim Sukses Pasangan 02. Sebelah utara jalan adalah Gedung Museum NU, sebelah selatan jalan adalah lokasi gedung sengketa itu," tulis Kiai Syamsudin di kolom komentar.

Gambar dengan papan nama PWNU Jawa Timur, menurut Kiai Syamsudin, tidak berada satu lokasi dengan gedung yang ada di video. "Jaraknya saja sudah dua Km dari gedung di video. Orang di video itu ngawur," pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Etika Amar Ma'ruf Nahi Munkar Terhadap Pemerintah

Rasulullah SAW. bersabda:
منْ رأى مِنْكُمْ مُنْكرًا فلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فإنْ لمْ يسْتطِعْ فبِلِسانِهِ، فإنْ لمْ يستطع فبِقلْبِهِ، وذلِك أضْعفُ الإيْمانِ. (رواه مسلم)

"Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu; jika tidak mampu, maka dengan lisan; dan jika tidak mampu, maka dalam hati harus mengingkarinya. Hal itu merupakan keimanan terlemah." (HR. Muslim)

Maksud nahi munkar adalah berupaya menghilangkan kemungkaran sesuai prosedur syari'at, yang dalam konteks ke-Indonesia-an tentu harus melalui jalur konstitusional agar justru tidak membuka pintu fitnah yang lebih besar. (Fakhruddin al-Razi, Tafsir al-Razi, V: 294)

Menegur pemerintah di saat melakukan kesalahan selayaknya tidak dilakukan dengan cara-cara anarkis, mencaci-maki atau tindakan lain yang meruntuhkan kewibawaannya. Namun dilakukan dengan cara santun, berdialog dengan baik di tempat tertutup dan tidak dengan melakukan demonstrasi yang rawan menimbulkan kericuhan. Rasulullah SAW. bersabda:
منْ كانتْ عِنْدهُ نصِيْحةٌ لِذٌيْ سُلْطَانٍ فلا يُكَلِّمْهُ بِها علانِيَّةً، ولْيَأْخُذْ بِيدِهِ فلْيخْلُ بِهِ، فإنْ قبِلها وإلَّا قدْ كان أدَّى الَّذِي علَيْهِ والَّذِيْ لهُ. (رواه الحاكم، صحيح)

"Barang siapa hendak menasehati pemerintah, maka jangan dengan terang-terangan di tempat terbuka. Namun jabatlah tangannya, ajaklah bicara di tempat tertutup. Bila nasehatnya diterima, bersyukurlah. Bila tidak diterima, maka tidak mengapa, sebab sungguh ia telah melakukan kewajibannya dan memenuhi haknya." (HR. al-Hakim, shahih)

Terlebih bila kesalahan pemerintah tidak begitu prinsip, wajib bagi rakyat mengedepankan nasehat dengan cara yang halus. (al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy, VIII: 313) Rakyat wajib bersabar dalam menghadapi pemimpin yang tidak sesuai harapan, demi menghindari terjadinya kerusuhan dan meredam gejolak konflik horizontal. (Badruddin al-'Aini, Umdah al-Qari Syarh Shahih Bukhari, XXXV: 108)

Agama sangat menjaga wibawa pemerintah di hadapan rakyatnya. Karenanya, dilarang mencaci-maki pemerintah meski menyimpang (zalim). Bahkan ulama salaf melarang keras mendoakan buruk kepada pemerintah, sebab tidak menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

Mahfud MD: Baasyir Hanya Bisa Bebas Bersyarat

Pamekasan — Pasti Aswaja — Beberapa hari ini media massa ramai pemberitaan wacana pembebasan bersyarat Abu Bakar Baasyir (ABB) yang terlibat kasus bom Bali 2002 lalu. Menurut pemberitaan beberapa media, wacana pembebasan itu karena alasan kemanusiaan mengingat usia ABB yang sudah lanjut dan melewati 2/3 masa tahanan, yakni 9 dari 15 tahun hukuman penjara.

Pembebasan itu akan didapatkan ABB jika bersedia memenuhi beberapa persyaratan yang diajukan, di antaranya menandatangani surat pernyataan kesetiaan dirinya terhadap NKRI dan Pancasila. Meski demikian, ABB menolak menerima persyaratan yang diajukan.

Menanggapi pemberitaan tersebut, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Mahfud MD, mengatakan, tidak mungkin ABB dikeluarkan dengan bebas murni, sebab bebas murni hanya dalam bentuk putusan hakim jika yang bersangkutan tidak bersalah.

Tanggapan ini disampaikan Mahfud MD melalui akun Twitter pribadinya, @mohmahfudmd, Selasa sore (22/01/19). Menurut Menteri Pertahanan era Gus Dur ini, pembebasan ABB bisa terlaksana bila sesuai dengan hukum yang berlaku, ABB hanya bisa diberi bebas bersyarat. Artinya dibebaskan dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.

Kicauan Mahfud ini mendapatkan komentar beragam para pengguna media sosial, di antaranya pemilik akun @Edwinstreach. Ia mengaitkan wacana pembebasan ABB bisa saja terlaksana melalui hak prerogatif presiden dengan cara memberikan grasi kepada ABB dengan alasan yuridis. Meski demikian, akun ini menilai, jika langkah tersebut dilakukan Presiden, maka akan menjadi blunder.

"Beda antara grasi, bebas murni, dan bebas bersyarat. ABB tak pernah minta grasi krn tak mau mengaku bersalah shg Presiden tak bs memberi grasi. Dia jg tdk bebas murni krn nyatanya sdh diputus bersalah oleh pengadilan. Jd yg mungkin bagi ABB hanya bebas bersyarat," jawab Mahfud.

Sampai berita ini dturunkan, kicauan pemilik followers 2,4 juta tersebut dikomentari oleh 766 penggunna Twitter, 2.520 twit ulang, dan 8.035 suka. (ron/ahn)
Share:

Tuesday, January 22, 2019

Dakwah Dengan Mengedapankan Rahmat

يا أيها الّذين آمنوا قُوا أنفُسَكُمْ وأهْلِيكُم نارًا وقُودُها الـنَّاس والْحِجارةُ عَلَيْها ملائِكةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لا يَعْصُوْن اللهَ ما أمرهُمْ ويفْعلُوْن ما يُؤْمرُوْن. (التحريم: ٦)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah pada apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

Dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah (Aswaja an-Nahdliyah) hendaknya dilakukan dengan metode yang paling efektif, yakni menggunakan cara-cara yang ramah dan dilakukan secara bertahap. Bila sasaran dakwah belum dapat menjalankan seluruh kewajiban-kewajiban syariat, mula-mula hendaknya diajak melakukan kewajiban yang paling penting sebelum kewajiban lainnya. Begitu pula bila belum dapat meninggalkan keharaman secara keseluruhan, maka dinasehati untuk meninggalkan sebagiannya, baru beralih menuju yang lain, demikian seterusnya secara bertahap. (Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi: 315)

Dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah (Aswaja an-Nahdliyah) hendaknya dilakukan dengan mengedepankan etika baik, yaitu mengikuti tradisi masyarakat selama bukan dalam hal kemaksiatan. Saat ditanya tentang budi pekerti baik Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. menjawab:
هُوَ مُوَافقةُ النَّاسِ فِيْ كُلِّ شَيْئٍ ما عدا المعاصِي.

"Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan." (Nawawi al-Bantani, Mirqat Shu'ud al-Tashdiq: 61)

Al-Imam al-Ghazali menegaskan:
وحُسْنُ الخُلُقِ مع النَّاس ألَّا تحْمِلَ النَّاسَ على مُرادِ نفْسِك، بلْ تحْمِل نفْسِك على مُرادِهِم ما لمْ يُخالِفُوْا الشَّرْعَ.

"Etika baik dengan manusia adalah engkau tidak menuntut mereka sesuai kehendaknmu, namun hendaknya engkau sesuaikan dirimu sesuai kehendak mereka selama tidak bertentangan dengan syari'at." (Al-Ghazali, Ayyuha al-Walad, I: 12)

Syaikh Ibnu 'Aqil al-Hanbali sebagaimana dikutip Ibnu Muflih dalam al-Adab al-Syar'iyyah mengatakan:
لا ينْبغِي الخُرُوجُ مِنُ عاداتِ النَّاسِ إلَّا فِيْ الْحرامِ.

"Tidak sepantasnya keluar dari tradisi manusia kecuali dalam keharaman." (Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab al-Syar'iyyah, II: 114)

Bahkan terkadang kesunahan sebaiknya ditinggalkan apabila melakukannya berdampak meresahkan masyarakat. Sebagaimana Nabi SAW. tidak merekonstruksi bangunan Ka'bah dalam rangka menjaga perasaan oran-orang Quraisy. Beliau bersabda:
يا عائِشةُ لوْلا حِدْثانُ قوْمِكِ بالْكُفْرِ لنقضْتُ البيْتَ حتَّى أزِيْدَ مِنَ الْحِجْرِ فإنَّ قوْمكِ قصّرُوا في الْبِناء. (رواه مسلم)

"Wahai 'Aisyah, andai saja masyarakatmu tidak dekat dengan zaman kekufuran, niscaya akan aku renovasi Ka'bah sehingga aku tambahkan bangunan dari Hijr, sebab sungguh kaummu ceroboh dalam membangunnya." (HR. Muslim)

Karena pertimbangan itu pula, Imam Ahmad dan selainnya menyunahkan bagi imam shalat untuk meninggalkan kesunnahan dalam mazhab yang dianutnya bila bertujuan untuk mengambil simpati para makmumya, seperti imamnya meyakini kesunnahan membaca bismillah dengan keras sementara makmum meyakini sebaliknya, yang lebih baik bagi imam adalah mengikuti keyakinan makmumnya. (Ibnu Taymiyah, al-Fatawa al-Kubra, II: 355)

Selain itu, penanaman nilai-nilai agama secara utuh di lingkungan internal Aswaja an-Nahdliyah harus diprioritaskan, yaitu dengan mempertahankan dan membentengi paham Aswaja an-Nahdliyah di tengah derasnya propaganda-propaganda berbagai macam aliran. Dalam hal ini dapat ditempuh beberapa langkah berikut:
  1. Patuh terhadap petunjuk dan bimbingan ulama Aswaja an-Nahdliyaj;
  2. Mengoptimalkan pengamalan ajaran Aswaja an-Nahdliyah;
  3. Tidak serta merta mengamalkan ajaran yang belum diketahui kesesuaiannya dengan Aswaja an-Nahdliyah;
  4. Menggiatkan oengajian dan pendidikan akidah dan amaliah Aswaja an-Nahdliyah di Masjid, mushalla, pesantren, lembaga pendidikan, majelis-majelis taklim dan semisalnya;
  5. Menggiatkan kaderisasi untum menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mampu menjadi pemimpin yang dapat mengayomi sekaligus disegani di tengah masyarakat.
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

Monday, January 21, 2019

Gus Nadir "Sentil" Mustofa Kritik Shalat Duduk Kiai Ma'ruf

Pamekasan — Pasti Aswaja — Direktorat Relawan Nasional Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Mustofa Nahrawardaya, menyoroti KH. Ma'ruf Amin yang salat dalam posisi duduk sebagaimana viral di media-media sosial.

Melalui akun Twitter pribadinya, @AkunTofa, ia mengatakan Kiai Ma'ruf sanggup berdiri ketika debat Capres-Cawapres yang menurutnya urusan dunia, tapi tidak ketika shalat.

"Urusan dunia, kuat berdiri..." tulis Mustofa  pada unggahan du fotonya yang berisi gambar Kiai Ma'ruf ketika melaksanakan shalat sambil duduk, diakhiri tanda pagar #2019PrabowoPresidenRI, Ahad (20/01/19).

Kicauan tersebut ditanggapi oleh Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa Gus Nadir melalui akun Twitter pribadinya @na_dirs. Gus Nadir mendoakan Mustofa agar selalu sehat wal afiat.

Semoga Saudara kita Om @AkunTofa selalu sehat wal afiat baik urusan dunia maupun urusan akhirat, lancar rejekinya, berkah hidupnya, dan dikaruniai umur panjang. Amin Ya Mujib as-Sailn," tulis Gus Nadir, Ahad (20/01/19).

Tidak hanya itu, kicauan Mustofa ini dimuat oleh detik.com, Senin (21/01/19) dengan judul "Salat Sambil Duduk Ma'ruf Disoal, MUI: Ada Dalilnya".

Berita tersebut kemudian dibagikan oleh pemiliki akun Twitter @kunaepii dengan caption bernada satire.

"tapi ya sholat yg bener itu rapet, tolong sbg kiai yg ktnya banyak ilmu sblm sholat KMA ingatkan tmn2 disebelah kiri kanan belakng utk mrpetkan. 'Tutup setiap celah shaf, karena setan masuk di antara shaf kalian, seperti anak kambing'. @na_dirs komen kang Nadir," tulis @kunaepii diakhiri emoticon.

Menanggapi kicauan tersebut, Gus Nadir menjelaskan, merapatkan mata kaki dan bahu dalam shaf shalat tidak wajib, hanya dianjurkan saja, dan tidak termasuk dalam tiga belas rukun shalat.

"Jgn dibiasakan menyalahkan amalan orang lain kalau cuma paham 1 hadits ya Kang," tulis Gus Nadir diakhir emoticon senyum. (ahn/dur)
Share:

Kiai Musleh Adnan: Isi Tulisan Cerminkan Akhlak Penulisnya

Pamekasan — Pasti Aswaja — Menulis merupakan salah satu sarana dalam menyampaikan ide, pendapat, gagasan atau saran dalam bentuk rangkaian kata dan kalimat. Selain itu, menulis juga sebagai proses produksi guna menghasilkan sebuah karya yang bersumber dari pikiran.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh KH. M. Musleh Adnan, muballigh kondang yang sekarang menjadi pengurus Lembaga Dakwah di PCNU Pamekasan, Senin pagi (21/01/19), melalui akun Facebook pribadinya M Musleh Adnan.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo ini menambahkan, tulisan tidak hanya sebatas sarana menyampaikan ide. Lebih dari itu, isi tulisan juga dapat mencerminkan kepribadian penulisnya seperti etika, kebiasaan dan pengetahuannya.

"Tulisan baik itu merupakan simbol mulut yang ada ditangan dan keindahan dalam hati," tulis Kiai Musleh mengutip pernyataan Ali bin 'Ubaidah.

Begitu juga halnya tulisan jelek yang berisi cacian dan makian. Mengutip pendapat Abu al-'Abbas al-Mubarrid, Kiai kelahiran Jember ini mengatakan, tulisan jelek itu menunjukkan akhlak penulisnya yang buruk. (ahn/mad)
Share:

Kewajiban Menghormati Pemerintah

Allah berfirman:
يا أيها الّذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوت الرسول وأولي الأمر منكم... (النساء: ٥٩)

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan pemerintah di antara kalian..." (Qs. al-Nisa': 59)

Rasulullah SAW. bersabda:
إنَ من إجلال الله تعالى إكرام ذي الشّيبة المسلم وحامل القرآن غير الغالي فيه والجافي عنه وإكرام ذي السُّلطان المقسط. (رواه أبو داود، حسن)

"Sungguh di antara implementasi mengagungkan Allah adalah memuliakan muslim yang berusia tua, penghafal al-Qur'an yang tidak melampaui batas dalam al-Qur'an dan tidak mengamalkannya dan memuliakan penguasa yang adil." (HR. Abu Dawud, Hasan)

Kenapa pemerintah harus dimuliakan? Syaikh Abdurra'uf al-Munawi dalam al-Taisir bi Syarh al-Jami' al-Shaghir (II/138) menjelaskan:
لأنّ نظام الدين إنما هو بالعبادة ولا تحصل إلا بإمام مُطاع مُعزّز مُوقّر.

"Karena teraturnya agama hanya dapat dihasilkan dengan ibadah. Sementara ibadah tidak dapat dilakukan tanpa pemimpin yang dipatuhi dan dimuliakan."

Syaikh Abdul Wahhab al-Sya'rani dalam autobiografinya al-Minan al-Kubra (275) memberi teladan nyata dalam menghormati dan mengapresiasi kebijakan pemerintah, meskipun secara sekilas terkesan tidak ideal. Seperti halnya ketika seorang sultan mengangkat Qadhi yang fasik, menurutnya keputusan-keputusan itu hukumnya tetap sah.

Meski demikian, menghormati pemerintah bukan berarti bersikap pasif dan menerima segala keputusannya. Namun, harus diiringi upaya secara berkelanjutan memperjuangkan terbangunnya perundang-undangan sesuai nilai-nilai Islam secara konstitusional. (Abdurrauf al-Munawi, II: 414)
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

Sunday, January 20, 2019

KOPRI STAI-MU, Perempuan Harus Berkontribusi Mencerdaskan Bangsa

Pamekasan — Pasti Aswaja — Perempuan yang selama ini masih dianggap sebagai objek, harus berani bangkit dan menepis anggapan tersebut. Kaum hawa harus mampu berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta menjadi bagian penyelesaian dalam gelombang perubahan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Istiana, Ketua Korps PMII Putri (KOPRI) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan, Ahad siang (20/01/19), di sekretariatnya, Jl. Raya Palengaan, Desa Kacok, Palengaan, Pamekasan.

Istiana menilai, saat ini tidak sedikit masyarakat yang masih memandang sebelah mata kaum perempuan. Perempuan hanya dianggap layak mengisi ruang domestik saja, yakni kasur, sumur dan dapur. Tidak lebih.

"Padahal, Islam sangat memuliakan perempuan. Dalam Islam, ibu adalah madrasah yang pertama dan utama. Artinya, kemajuan suatu negara, tidak hanya bergantung pada kaum adam saja. Kaum perempuan juga punya peran besar," lanjut mahasiswi program studi Pendidikan Agama Islam ini.

Jika melihat ungkapan tersebut, lanjut Istiana, perempuan menjadi penentu nasib suatu bangsa. Bangsa akan maju, jika kaum ibu mampu mendidik anak-anaknya dengan baik sehingga menjadi generasi yang cerdas dan menyadari perannya dalam kehidupan bermasyarakat.

"Perempuan harus berpendidikan. Kenapa? Karena tidak mungkin mendidik anak menjadi generasi penerus bangsa, jika ibunya tidak berpendidikan. Ini artinya, perempuan tidak selamanya di dapur, kasur dan sumur," pungkasnya. (mad/ahn)
Share:

Ansor Proppo Berikan Santunan Kematian Kepada Anggotanya

Pamekasan — Pasti Aswaja — Jajaran pengurus harian Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Proppo, Ahad (20/01/19), mendatangi kediaman Damanhuri, salah satu anggotanya di Desa Billan, yang sedang berduka ditinggal orang tuanya. Mengenakan seragam Ansor yang serba hijau, mereka tahlil bersama dan memberikan santunan kepada ahli waris.

Damanhuri yang juga menjabat Wakil Ketua GP Ansor Proppo menerima santunan berupa sembako tersebut secara simbolis yang diserahkan oleh Subhan Maulana selaku Ketua PAC.

"Pemberian santunan kematian ini merupakn bentuk kepedulian sosial kami terhadap masyarakat. Dan ini kita jadikan program," papar Subhan.

Ia berharap, melalui program ini, bisa sedikit meringankan beban keluarga yang ditinggalkan; dan masyarakat bisa merasakan langsung keberadaan Ansor.

Program santunan kematian tersebut, kata Subhan, mengadopsi agenda Ranting NU Desa Klampar, Proppo. "Kebetulan pengurusnya adalah senior saya waktu ada di Pondok Pesantren Bettet. NU Klampar itu ada iuran rutin untuk setiap anggota. Nah, hasil iuran itu digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti ini," pungkasnya. (ahn/mad)
Share:

Nasionalisme Dalam Pandangan Islam

Nasionalisme adalah paham kebangsaan (persatuan bangsa) dan cinta tanah air. Nasionalisme harus terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban dan berjuang demi bangsa, sehingga tetap lestari dan kemajemukannya baik di bidang agama, suku dan budaya dapat terpelihara menjadi kekuatan riil yang memperkokoh kedaulatannya. Dengan demikian tercipta suasana kehidupan yang damai, saling menghormati, menghargai, melindungi dan mengasihi. Nasionalisme juga laksana ruh yang menghidupkan identitas dan jati diri bangsa dalam kiprahnya di pentas percaturan dunia.

Globalisasi yang membuka kran transformasi dalam berbagai bidang, selain membawa berbagai kemudahan namun resikonya pun tak kalah berat. Seperti ketika tidak sehaluan dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan sehingga merusak tatanan kehidupan beragama serta mencabut akar kecintaan terhadap bangsa. Tampaknya, kondisi seperti ini sangat nyata menimpa sebagian anak negeri. Padahal, sungguh nasionalisme telah dituntaskan oleh Rasulullah SAW:
كان إذا قدِم منْ سفر فنظر إلى جُدْران المدينة أوْضع راحِلته وإن كان على دابّـة حرّكها من حبِّها (رواه البخاري)

"Ketika Rasulullah SAW. pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju ontanya; dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah." (HR. al-Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani (dalam Fath al-Bari, juz III, 705) menegaskan:
وفي الحديث دلالةٌ على فضْل المدينةِ وعلى مشروعِيَّة حبّ الوطن والحنين اليه.

"Dalam hadits itu terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya."

Dalam potret sirah nabiwiyyah lainnya dikisahkan, di tengah perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW. sangat merindukan Makkah, tanah kelahirannya. Jibril AS. datang bertanya: "Apakah Engkau merindukan negerimu?" Rasulullah SAW. menjawab: "Ya." Maka turunlah ayat:
إنّ الّذي فرض عليك القرأن لرادُّك إلى معاد.

"Sesungguhnya Allah yang mewajibkan kepadamu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Makkah)." (QS. al-Qashash: 85)

Menurut Isma'il Haqqi dalam Tafsir Ruh al-Bayan (juz VI, 320), pada ayat itu terdapat isyarat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Bahkan Sayyidina Umar bin al-Khatthab RA. menekankan:
لو لا حُبّ الوطن لخرُبَ بلدُ السُّوء، فبحُبّ الأوطان عُمِرت البُلدان.

"Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur suatu negeri yang terpuruk; maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan."

Sementata menurut pakar hadits, Syaikh Isma'il bin Muhammad al-'Ajluni (Kasyf al-Khafa', juz I, 345) cinta tanah air merupakan hal positif apabila sebabnya adalah menyambung persaudaraan dan mengasihi fakir miskin serta anak yatim.

Walhasil, nasionalisme tidak perlu dipertentangkan dengan Islam, bahkan sebenarnya justru dapat menjadi media mengejawantahkan ajaran-ajarannya. Semangat nasionalisme (hubb al-wathan) juga secara tidak langsung dapat menjadi bagian dari akidah setiap muslim (Ahmiyat Ta'lim al-Difa' 'an al-Wathan, 25).
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo). Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan Himasal Pusat, 2018).
Share:

Saturday, January 19, 2019

Jelang Pelantikan, PMII Jatim 2018-2020 Gelar Taaruf Kepengurusan

Surabaya — Pasti Aswaja — Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur (Jatim) masa khidmat 2018-2020 menggelar Taaruf Kepengurusan, Sabtu (19/01/19).

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Kantor Pimpinan Wilayah (PW) GP. Ansor Jatim, Jl. Masjid Al-Akbar, Gayungan, Kota Surabaya tersebut juga membicarakan pelaksanaan pelantikan pengurus yang diagendakan bulan Februari mendatang.

Abdul Ghoni, Ketua Umum PKC PMII Jatim mengungkapkan, pelaksanaan taaruf ini guna mempererat ikatan kekeluargaan antar pengurus yang direkomendasikan oleh masing-masing Cabang PMII se-Jatim.

"Keberadaan saya sebagai Ketua PKC dan Sahabat Dhini (Ketua KOPRI. Red.) ini hanya simbol. Selebihnya, dalam kerja organisasi kita harus bersama-sama," tegasnya.

Diakhir sesi, suasana keakraban antar pengurus terlihat, saat satu sama lain saling memperkenalkan diri. (bor/ahn)
Share:

Angkat Profil Tokoh Muhammadiyah, Prof. Nadir Apresiasi Majalah Tebuireng

Pamekasan — Pasti Aswaja — Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia dan Selandia Baru mengapresiasi akun instagram Majalah Tebuireng yang mengunggah gambar berisi profil Abdul Karim Malik Amrullah atau yang lebih dikenal Buya Hamka, Kamis (17/01/19) lalu.

Apresiasi tersebut disampaikan oleh penulis buku Shari'a & Constitutional Reform in Indonesia yang akrab disapa Gus Nadir ini melalui akun Twitter pribadinya @na_dirs, Jumat siang (18/01/19).

Profesor di Fakultas Hukum Univeristas Monash Australia ini menilai unggahan Majalah Tebuireng yang mengangkat profil singkat tokoh Muhammadiyah itu sebagai bentuk apresiasi terhadap pandangan atau kelompok yang berbeda.

"Akun IG Majalah Tebuireng (NU) mengapresiasi Buya Hamka (Muhammadiyah) dg mengangkat profil beliau, padahal seabrek-abrek Kiai Tebuireng yg bisa diketengahkan." Tulisnya.

Kicauan Gus Nadir itu, sampai saat ini sudah mendapatkan 1.190 suka dan 408 retweet. (bor/ahn)
Share:

Friday, January 18, 2019

BAANAR Palengaan Ajak Santri Taman Sari Jihad Lawan Narkoba

Pamekasan — Pasti Aswaja — Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Palengaan, Jumat pagi (18/12/19), menggelar Sosialisasi Bahaya Narkoba & Penobatan Duta Santri Anti Narkoba di Aula Pondok Pesantren Putri Sirojut Tholibin Taman Sari, Palengaan, Pamekasan.

Dalam acara itu dinobatkan tiga orang sebagai Duta Santri Antri Narkoba, yakni: Aan Nur Jannah, Nay Sela, Elya Ramadani. Mereka juga diikrar berjihad melawan narkoba.

Abd. Rofiq selaku Kepala BAANAR Palengaan menyampaikan alasannya menggandeng santri memerangi narkoba. Menurut Master Manajemen ini, maraknya peredaran narkoba di kalangan pemuda bukan karena ketidaktahuannya terhadap bahaya narkoba, tapi karena kurangnya pemahaman mereka tentang agama.

"Nah, santri ini pemuda yang paham agama, tinggal kemudian kita (BAANAR Palengaan. Red.) memberikan pemahaman kepada mereka tentang bahaya narkoba," lanjut alumni PMII Universitas Madura (Unira) ini.

R. Fathorrahman, Wakil Pengasuh Pesantren setempat, menyampaikan terima kasih atas inisiatif BAANAR Palengaan memberikan pemahaman bahaya narkoba kepada para santri putri. Ia berharap, setelah acara ini, mereka menjadi garda depan dalam melawan penyalahgunaan narkoba.

Dalam agenda yang diikuti 153 orang santri putri itu dihadiri oleh Miftahul Munir bersama Hasan Al-Mandury selaku Sekretaris PC GP Ansor dan Ridwati selaku Sekretaris Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pamekasan. (bor/ahn)
Share:

Pengurus PMII Pamekasan Periode 2018-2019 Resmi Dilantik

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC. PMII) Pamekasan masa khidmat 2018-2019 resmi dilantik, Kamis malam (17/01/19) di Gedung Islamic Center Pamekasan, Jl. Raya Panglegur, Tlanakan, Pamekasan, Madura.

Mengusung tema "PMII; Melestarikan Budaya, Merawat Bangsa", kegiatan yang dihadiri Pengurus Besar (PB) PMII, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Ketua PCNU, Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan ini sekaligus meluncurkan aplikasi "PMII Pamekasan".

Lian Fawahan, Ketua Cabang definitif PMII Pamekasan menyampaikan, pentingnya menghidupkan budaya literasi pada era digital ini.

"Jadi, kader-kader PMII yang biasa bermain gadget, nantinya bisa menyempatkan membuka aplikasi 'PMII Pamekasan' untuk membaca buku secara digital," ungkap Lian.

Dalam kesempatan ini pula dilaksanakan seminar kebangsaan menghadirkan Ahmad Zaini Rahman, Ketua Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB. IKA-PMII). (bor/ahn)
Share:

Thursday, January 17, 2019

PMII Pamekasan Akan Luncurkan Aplikasi Kaderisasi

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sebagai upaya meningatkan progresifitas kaderisasi, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC. PMII) Pamekasan akan meluncurkan aplikasi kaderisasi.

Peluncuran aplikasi berisi konten database anggota dan materi-materi Ke-PMII-an tersebut akan dilaksanakan bersamaan dengan Pelantikan Pengurus Cabang PMII Pamekasan masa khidmat 2018-2019, Kamis malam (17/01/2019).

Lian Fawahan, Mandataris Ketua Cabang PMII Pamekasan mengungkapkan, pihaknya akan tetap memprioritaskan Kaderisasi sebagai ruh organisasi.

"Pada periode ini, kami mengusung konsep kaderisasi berbasis digitalisasi," ungkap Lian pada sela-sela mempersiapkan acara pelantikan di Gedung Islamic Center, Jl. Jokotole, Pamekasan.

Pemuda asal Sumenep itu menambahkan, pihaknya juga akan berupaya maksimal menghidupkan budaya literasi di Pamekasan. 

"Harapan kami, cara seperti ini bisa membuka ekologi baru budaya literasi," harap Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Madura tersebut.

Aplikasi bernama "PMII Pamekasan" ini nantinya bisa didownload melalui Google Play Store. (bor/ahn)
Share:

Kang Manto Ajak Masyarakat Dukung Capres Dengan Elegan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Prof. Sumanto Al-Qurtuby atau yang akrab disapa Kang Manto, Guru Besar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, menjelang Pemilu April mendatang, meminta masyarakat Indonesia mendukung pasangan Capres-Cawapres dengan elegan.

Sebagai negara demokrasi, masyarakat Indonesia boleh memilih siapa saja calon yang dianggap pantas. Tapi, tentu saja harus dengan cara yang elegan dan tidak mengorbankan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara yang begitu berharga.

"Jangan korbankan ikatan pertemanan dan persaudaraan hanya karena beda pilihan Paslon (pasangan calon. Red.). Jangan sampai saling bermusuhan apalagi sampai cerai hanya karena beda calon idaman," tulis Kang Manto di blog pribadinya, sumantoalqurtuby.com, Rabu (16/01/19).

Dalam hajat lima tahunan ini, menurut Kang Manto, seharusnya tidak perlu ada fitnah, caci-maki, gontok-gontokkan, menyebar berita-berita hoax, dan seterusnya hanya karena ingin Paslon dukungannya menang di kontes Pilpres atau Pilkada.

"Kalian itu 'rakyat biasa' hanya dijadikan sebagai 'kayu bakar' saja oleh para makelar, 'tim sukses', atau petualang politik yang ngaceng kekuasaan dan jabatan. Jadi, untuk apa atau ngapain kalian sampai berantem hingga benjal-benjol, jontar-jontor lambe dan raimu hanya karena mendukung Paslon tertentu? Untuk apa? Coba pikir…" tegasnya.

Penulis buku Arus Cina-Islam-Jawa ini menilai, kemenangan yang diraih dengan cara-cara kotor, biadab, keji dan mungkar, seperti pada pelaksanaan Pilpres di AS, seharusnya tidak terjadi di Indonesia. Kalaupun Paslon yang didukung kemudian menang dengan cara-cara kotor, lanjut Kang Manto, mereka 'tak akan mampu memenangkan akal sehat dan hati-nurani mayoritas rakyat yang masih waras.

"Jadi, sekali lagi, dukunglah Paslon idola Anda dengan cara-cara yang santun dan elegan. Dukunglah capres yang visioner dan kerja keras untuk kemakmuran negeri, serta optimis yang kira-kira mampu membawa Indonesia ke de
pan menjadi negara yang lebih dahsyat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain," pungkasnya. (mad/ahn)
Share:

Menpora, SEA Games 2019 Adalah Sebuah Batu Loncatan

Jakarta — Pasti Aswaja — SEA Games 2019 yang akan digelar di Filipina 30 November mendatang menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, ibarat sebuah batu loncatan menuju tujuan yang lebih besar, yakni Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022.

Pernyataan itu merupakan inti pemaparan Imam saat rapat dengan Komisi X DPR RI yang ditulis melalui akun instagram pribadinya, nahrawi_imam, Rabu (16/01/19).

"Ibarat sedang melakukan lompat jauh, SEA Games 2019 adalah sebuah batu loncatan. Bukannya disepelekan tapi justru jadi langkah penting untuk menuju tujuan lebih besar yakni Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022." Tulis mantan aktivis PMII Surabaya ini.

Indonesia, kata Imam, akan mengirimkan atlet-atlet muda pada gelaran SEA Games 2019. Karena, sebagai Menpora, ia menargetkan Indonesia harus sudah menuju ajang multievent yang lebih besar.

"Indonesia akan mengirimkan atlet-atlet muda pada SEA Games 2019. Karena target kita sekarang memang harus sudah menuju ajang multievent yg lebih besar." Lanjutnya, diakhiri tulisan "IN" yang merupakan singkatan namanya, sebagai tanda bahwa status itu ditulisnya sendiri.

Sampai berita ini diturunkan, postingan itu disukai oleh 3.176 pengguna Instagram, dan 48 komentar. (ahn/mad)
Share:

Wednesday, January 16, 2019

Ketua MDS Rijalul Ansor Jelaskan Sejarah Shalawat Asyghil

Pamekasan — Pasti Aswaja — Bagi warga NU, Shalawat Asyghil sudah bukan sesuatu yang asing. Shalawat ini sering dibaca di masjid-masjid atau mushalla-mushalla NU sebelum mengumandangkan azan. Meski demikian, tidak banyak warga NU yang mengetahui sejarah shalawat ini.

Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Chabib Towus Ainul Yaqin, dalam sebuah video yang diunggah oleh pemilik akun Facebook Jonathan Latumahina, Rabu sore (16/01/19), menceritakan tentang sejarah awal munculnya Shalawat Asyghil.

Shalawat Asyghil, menurut Towus, pertama kali dimunculkan oleh Ja'far Al-Shadiq, yang hidup di masa transisi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, sebagai wujud keprihatinan atas situasi negaranya waktu itu yang carut-marut.

"Akhirnya, beliau hampir di setiap doa qunutnya beliau membaca shalawat ini," lanjut Direktur PT. Sorban Nusantara ini.

Dalam video berdurasi tiga menit itu, Towus juga mengisahkan tentang proses transisi dinasti Umayyah ke dinasti Abbasiyah. Menurutnya, transisi itu bukan melulu persoalan pergantian dinasti, namun juga dalam sektor sosial dan ideologi. Ia mengisahkan, orang-orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung sejati kekhalifahan. Mereka membentuk negara teokrasi.

"Memang, pada masa dinasti Abbasiyah ini, meskipun tampak kesalihan semakin terwujud, ketaatan beragama semakin terwujud; tampaknya seperti itu. Namun kenyataannya seperti apa? Khalifah Baghdad waktu itu ternyata sama sekulernya dengan khalifah Damaskus yang mereka gulingkan. Jadi, ini Ja'far Al-Shadiq memunculkan shalawat ini, sekali lagi, wujud keprihatinan beliau terkait kondisi politik negaranya waktu itu," paparnya.

Tidak hanya itu, dalam video tersebut Towus juga mengkritik kelompok kecil yang menggunakan Shalawat Asghil untuk membangun narasi seakan-akan mereka sedang terzalimi oleh pemerintah yang berkuasa saat ini. Ia menilai, tindakan ini sebagai kebohongan publik.

"Saya tahu kalian-kalian yang menggunakan shalawat ini, kelompok kecil yang saya sebut tadi, kalian ini adalah sebagian pengusung khilafah dan juga simpatisan khilafah. Lalu mau coba membangun narasi pakai shalawat ini. Mau niru bagaimana proses berdirinya dinasti Abbasiyah. Begitu? Mendirikan khalifah di negara ini? Apa yang ada di pikiran kalian? Kalian gunakan shalawat hanya untuk intrik politik. Ini ndak benar," tegasnya dengan nada tinggi.

Towus juga memperingatkan kelompok yang menurutnya memanfaatkan Shalawat Asyghil tersebut. Sebagai warga NU, ia dan organisasi yang dipimpinnya tidak akan mundur dalam mempertahanakan ideologi negara. Ia juga menegaskan, tidak boleh ada satupun kelompok yang ingin mengganti ideologi negara yang sudah menjadi konsensus bangsa di republik ini.

"Jadi, tolonglah. Pakai akal sehat kalian. Jangan coba melakukan satu hal kebusukan, tetapi mem-framing dengan sedemikian manisnya dengan agama. Apa lagi dengan shalawat. Haqqul yaqin, dengan niat kalian, Rasulullah tidak ridha. Ingat itu!" Pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Mahfud MD, Pluralisme Bukan Menganggap Semua Agama Benar

Pamekasan — Pasti Aswaja — Tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa istilah pluralisme berarti menganggap semua agama benar. Anggapan ini diluruskan oleh Mahfud MD, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Menurutnya, pluralisme merupakan sikap menghargai perbedaan sebagai suatu fitrah ciptaan Tuhan yang harus diterima dan dihargai oleh umat manusia serta dapat bekerja sama dalam perbedaan guna mencapai kemajuan.

Hal tersebut dinyatakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2013 ini melalui akun twitter pribadinya, @mohmahfudmd, Rabu siang (16/01/19).

"Pluralisme bukanlah paham bhw semua agama itu benar. Pluralisme adl paham bhw perbedaan adl fithrah yg diciptakan oleh Tuhan sendiri dan kita sbg manusia siap menerima dan menghargai perbedaan2 itu dan bekerjasama dlm perbedaan tsb utk maju bersama. (Lht: Qur'an Srt Almaidah-48)." Tulisnya.

Ia menambahkan, pluralitas merupakan fakta bahwa manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda sebagai fithrah.

"Pluralisme adl paham ttg bagaimana menyikapi dan menghayati fakta pluralitas itu dlm berhubungan dgn orang2 yg berbeda dlm hidup. Jd pluralisme itu adl penyikapan batin dan pikiran atas pluralitas." Lanjutnya di kolom komentar.

Kicauan Mahfud ini mendapatkan tanggapan beragam para netizen. Mayoritas mereka yang berkomentar mendukung pernyataan ayah tiga orang anak itu.

"Yang sama2 saudara iman saja kalau bicara beda pandangan pilpres langsung diCAP #kafir Apalagi kita diskusi masalah pluralisme prof @mohmahfudmd .kayaknya kita semakin jauh dr yg namanya BHINNEKA TUNGGAL IKA," tulis pemilik akun @jaka_zatmaya.

"Agama saya agama paling benar. Urusan pluralisme unt menghrgai perbedaan. Dan agama saya mengajarkan pluralisme sebelum pluralisme itu hadir." timpal akun @hp_arel.

Sampai berita ini diturunkan, kicauan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu sudah mendapatkan komentar sebanyak 216, 2.089 kali retweet, dan 3.892 suka. (bor/ahn)
Share:

Etika Dakwah Rasulullah Menurut Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand

Pamekasan — Pasti Aswaja — Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi santun, baik saat berinteraksi dengan sahabatnya maupun dalam berdakwah. Hal ini disampaikan oleh Rais Syuria Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand dalam sebuah video yang diunggah di akun twitter pribadinya, @na_dirs, Ahad (13/01/19).

Dalam video berdurasi dua menit itu, laki-laki yang akrab disapa Gus Nadir ini mengutip sebuah riwayat ketika Nabi Muhammad hendak menjadi imam shalat. Sebelum Rasulullah takbiratul ihram tiba-tiba tercium bau busuk dari arah jamaah karena di antara mereka ada yang "buang angin." Rasulullah diam sejenak, menunggu siapa di antara jamaah yang akan keluar shaf dan kemudian berwudu. Tapi, ternyata tidak ada satupun jamaah yang keluar barisan. Mungkin karena malu atau karena takut di-bully.

"Apa kemudian Nabi Muhammad berteriak dan mengatakan: 'Hei, tadi siapa itu yang buang angin? Ayo cepat wudu! Kami tunggu ini. Ini mau shalat.' Tidak." Tutur Guru Besar di Universitas Monash Australia ini.

Nabi Muhammad, lanjut Gus Nadir, dengan santunnya kemudian berbalik badan dan bertanya kepada para shabatnya: "Siapa yang tadi habis makan daging unta?" Pertanyaan ini, menurut Gus Nadir, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tahu kebanyakan di antara mereka makan daging unta sebelum pergi ke masjid, karena sudah menjadi tradisi di zaman itu.

Mendengar pertanyaan Rasulullah tersebut, banyak sahabat yang mengangkat tangan.

"Kalau begitu, mari bersama-sama kita berwudu kembali," lanjut Gus Nadir menirukan perkataan Rasulullah dalam riwayat tersebut.

Riwayat ini kemudian melahirkan perbedaan pendapat di antara empat ulama mujtahid muthlaq (ulama yang mempunyai otoritas berijtihad). Imam Hambali berpendapat, riwayat ini menunjukkan bahwa makan daging unta dapat membatalkan wudu. Sedangkan Tiga mazhab lain mengatakan tidak. Mereka berpendapat, riwayat imi btidak berkaitan dengan masalah hukum, melainkan masalah adab, masalah akhlak. Dengan cara seperti ini, imbuh Gus Nadir, Nabi Muhammad hendak menjaga kehormatan sahabat yang "buang angin.

"Jadi, tidak dipermalukan, tidak kemudian di-bully. Tapi ditegur dengan cara halus agar kemudian mereka semua sama-sama berwudu dan kemudian memulai shalatnya," jelas peraih dua gelar PhD in Law dari Universitas Wollongong dan PhD in Islamic law dari National University of Singapore ini.

Inilah, lanjut Gus Nadir, pentingnya akhlak dalam berdakwah, santun dalam bersikap. "Semoga kita bisa menirunya," pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, video tersebut sudah 24 ribu kali tayang, 768 twit ulang, dan 1.869 suka. (dur/ahn)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive