Tuesday, January 22, 2019

Dakwah Dengan Mengedapankan Rahmat

Dakwah Dengan Mengedapankan Rahmat

Baca Juga

يا أيها الّذين آمنوا قُوا أنفُسَكُمْ وأهْلِيكُم نارًا وقُودُها الـنَّاس والْحِجارةُ عَلَيْها ملائِكةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لا يَعْصُوْن اللهَ ما أمرهُمْ ويفْعلُوْن ما يُؤْمرُوْن. (التحريم: ٦)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah pada apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

Dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah (Aswaja an-Nahdliyah) hendaknya dilakukan dengan metode yang paling efektif, yakni menggunakan cara-cara yang ramah dan dilakukan secara bertahap. Bila sasaran dakwah belum dapat menjalankan seluruh kewajiban-kewajiban syariat, mula-mula hendaknya diajak melakukan kewajiban yang paling penting sebelum kewajiban lainnya. Begitu pula bila belum dapat meninggalkan keharaman secara keseluruhan, maka dinasehati untuk meninggalkan sebagiannya, baru beralih menuju yang lain, demikian seterusnya secara bertahap. (Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi: 315)

Dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah (Aswaja an-Nahdliyah) hendaknya dilakukan dengan mengedepankan etika baik, yaitu mengikuti tradisi masyarakat selama bukan dalam hal kemaksiatan. Saat ditanya tentang budi pekerti baik Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. menjawab:
هُوَ مُوَافقةُ النَّاسِ فِيْ كُلِّ شَيْئٍ ما عدا المعاصِي.

"Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan." (Nawawi al-Bantani, Mirqat Shu'ud al-Tashdiq: 61)

Al-Imam al-Ghazali menegaskan:
وحُسْنُ الخُلُقِ مع النَّاس ألَّا تحْمِلَ النَّاسَ على مُرادِ نفْسِك، بلْ تحْمِل نفْسِك على مُرادِهِم ما لمْ يُخالِفُوْا الشَّرْعَ.

"Etika baik dengan manusia adalah engkau tidak menuntut mereka sesuai kehendaknmu, namun hendaknya engkau sesuaikan dirimu sesuai kehendak mereka selama tidak bertentangan dengan syari'at." (Al-Ghazali, Ayyuha al-Walad, I: 12)

Syaikh Ibnu 'Aqil al-Hanbali sebagaimana dikutip Ibnu Muflih dalam al-Adab al-Syar'iyyah mengatakan:
لا ينْبغِي الخُرُوجُ مِنُ عاداتِ النَّاسِ إلَّا فِيْ الْحرامِ.

"Tidak sepantasnya keluar dari tradisi manusia kecuali dalam keharaman." (Ibnu Muflih al-Maqdisi, al-Adab al-Syar'iyyah, II: 114)

Bahkan terkadang kesunahan sebaiknya ditinggalkan apabila melakukannya berdampak meresahkan masyarakat. Sebagaimana Nabi SAW. tidak merekonstruksi bangunan Ka'bah dalam rangka menjaga perasaan oran-orang Quraisy. Beliau bersabda:
يا عائِشةُ لوْلا حِدْثانُ قوْمِكِ بالْكُفْرِ لنقضْتُ البيْتَ حتَّى أزِيْدَ مِنَ الْحِجْرِ فإنَّ قوْمكِ قصّرُوا في الْبِناء. (رواه مسلم)

"Wahai 'Aisyah, andai saja masyarakatmu tidak dekat dengan zaman kekufuran, niscaya akan aku renovasi Ka'bah sehingga aku tambahkan bangunan dari Hijr, sebab sungguh kaummu ceroboh dalam membangunnya." (HR. Muslim)

Karena pertimbangan itu pula, Imam Ahmad dan selainnya menyunahkan bagi imam shalat untuk meninggalkan kesunnahan dalam mazhab yang dianutnya bila bertujuan untuk mengambil simpati para makmumya, seperti imamnya meyakini kesunnahan membaca bismillah dengan keras sementara makmum meyakini sebaliknya, yang lebih baik bagi imam adalah mengikuti keyakinan makmumnya. (Ibnu Taymiyah, al-Fatawa al-Kubra, II: 355)

Selain itu, penanaman nilai-nilai agama secara utuh di lingkungan internal Aswaja an-Nahdliyah harus diprioritaskan, yaitu dengan mempertahankan dan membentengi paham Aswaja an-Nahdliyah di tengah derasnya propaganda-propaganda berbagai macam aliran. Dalam hal ini dapat ditempuh beberapa langkah berikut:
  1. Patuh terhadap petunjuk dan bimbingan ulama Aswaja an-Nahdliyaj;
  2. Mengoptimalkan pengamalan ajaran Aswaja an-Nahdliyah;
  3. Tidak serta merta mengamalkan ajaran yang belum diketahui kesesuaiannya dengan Aswaja an-Nahdliyah;
  4. Menggiatkan oengajian dan pendidikan akidah dan amaliah Aswaja an-Nahdliyah di Masjid, mushalla, pesantren, lembaga pendidikan, majelis-majelis taklim dan semisalnya;
  5. Menggiatkan kaderisasi untum menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mampu menjadi pemimpin yang dapat mengayomi sekaligus disegani di tengah masyarakat.
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive