Wednesday, January 23, 2019

Etika Amar Ma'ruf Nahi Munkar Terhadap Pemerintah

Etika Amar Ma'ruf Nahi Munkar Terhadap Pemerintah

Baca Juga

Rasulullah SAW. bersabda:
منْ رأى مِنْكُمْ مُنْكرًا فلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فإنْ لمْ يسْتطِعْ فبِلِسانِهِ، فإنْ لمْ يستطع فبِقلْبِهِ، وذلِك أضْعفُ الإيْمانِ. (رواه مسلم)

"Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu; jika tidak mampu, maka dengan lisan; dan jika tidak mampu, maka dalam hati harus mengingkarinya. Hal itu merupakan keimanan terlemah." (HR. Muslim)

Maksud nahi munkar adalah berupaya menghilangkan kemungkaran sesuai prosedur syari'at, yang dalam konteks ke-Indonesia-an tentu harus melalui jalur konstitusional agar justru tidak membuka pintu fitnah yang lebih besar. (Fakhruddin al-Razi, Tafsir al-Razi, V: 294)

Menegur pemerintah di saat melakukan kesalahan selayaknya tidak dilakukan dengan cara-cara anarkis, mencaci-maki atau tindakan lain yang meruntuhkan kewibawaannya. Namun dilakukan dengan cara santun, berdialog dengan baik di tempat tertutup dan tidak dengan melakukan demonstrasi yang rawan menimbulkan kericuhan. Rasulullah SAW. bersabda:
منْ كانتْ عِنْدهُ نصِيْحةٌ لِذٌيْ سُلْطَانٍ فلا يُكَلِّمْهُ بِها علانِيَّةً، ولْيَأْخُذْ بِيدِهِ فلْيخْلُ بِهِ، فإنْ قبِلها وإلَّا قدْ كان أدَّى الَّذِي علَيْهِ والَّذِيْ لهُ. (رواه الحاكم، صحيح)

"Barang siapa hendak menasehati pemerintah, maka jangan dengan terang-terangan di tempat terbuka. Namun jabatlah tangannya, ajaklah bicara di tempat tertutup. Bila nasehatnya diterima, bersyukurlah. Bila tidak diterima, maka tidak mengapa, sebab sungguh ia telah melakukan kewajibannya dan memenuhi haknya." (HR. al-Hakim, shahih)

Terlebih bila kesalahan pemerintah tidak begitu prinsip, wajib bagi rakyat mengedepankan nasehat dengan cara yang halus. (al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy, VIII: 313) Rakyat wajib bersabar dalam menghadapi pemimpin yang tidak sesuai harapan, demi menghindari terjadinya kerusuhan dan meredam gejolak konflik horizontal. (Badruddin al-'Aini, Umdah al-Qari Syarh Shahih Bukhari, XXXV: 108)

Agama sangat menjaga wibawa pemerintah di hadapan rakyatnya. Karenanya, dilarang mencaci-maki pemerintah meski menyimpang (zalim). Bahkan ulama salaf melarang keras mendoakan buruk kepada pemerintah, sebab tidak menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive