Wednesday, January 16, 2019

Etika Dakwah Rasulullah Menurut Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand

Etika Dakwah Rasulullah Menurut Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand

Baca Juga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi santun, baik saat berinteraksi dengan sahabatnya maupun dalam berdakwah. Hal ini disampaikan oleh Rais Syuria Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand dalam sebuah video yang diunggah di akun twitter pribadinya, @na_dirs, Ahad (13/01/19).

Dalam video berdurasi dua menit itu, laki-laki yang akrab disapa Gus Nadir ini mengutip sebuah riwayat ketika Nabi Muhammad hendak menjadi imam shalat. Sebelum Rasulullah takbiratul ihram tiba-tiba tercium bau busuk dari arah jamaah karena di antara mereka ada yang "buang angin." Rasulullah diam sejenak, menunggu siapa di antara jamaah yang akan keluar shaf dan kemudian berwudu. Tapi, ternyata tidak ada satupun jamaah yang keluar barisan. Mungkin karena malu atau karena takut di-bully.

"Apa kemudian Nabi Muhammad berteriak dan mengatakan: 'Hei, tadi siapa itu yang buang angin? Ayo cepat wudu! Kami tunggu ini. Ini mau shalat.' Tidak." Tutur Guru Besar di Universitas Monash Australia ini.

Nabi Muhammad, lanjut Gus Nadir, dengan santunnya kemudian berbalik badan dan bertanya kepada para shabatnya: "Siapa yang tadi habis makan daging unta?" Pertanyaan ini, menurut Gus Nadir, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tahu kebanyakan di antara mereka makan daging unta sebelum pergi ke masjid, karena sudah menjadi tradisi di zaman itu.

Mendengar pertanyaan Rasulullah tersebut, banyak sahabat yang mengangkat tangan.

"Kalau begitu, mari bersama-sama kita berwudu kembali," lanjut Gus Nadir menirukan perkataan Rasulullah dalam riwayat tersebut.

Riwayat ini kemudian melahirkan perbedaan pendapat di antara empat ulama mujtahid muthlaq (ulama yang mempunyai otoritas berijtihad). Imam Hambali berpendapat, riwayat ini menunjukkan bahwa makan daging unta dapat membatalkan wudu. Sedangkan Tiga mazhab lain mengatakan tidak. Mereka berpendapat, riwayat imi btidak berkaitan dengan masalah hukum, melainkan masalah adab, masalah akhlak. Dengan cara seperti ini, imbuh Gus Nadir, Nabi Muhammad hendak menjaga kehormatan sahabat yang "buang angin.

"Jadi, tidak dipermalukan, tidak kemudian di-bully. Tapi ditegur dengan cara halus agar kemudian mereka semua sama-sama berwudu dan kemudian memulai shalatnya," jelas peraih dua gelar PhD in Law dari Universitas Wollongong dan PhD in Islamic law dari National University of Singapore ini.

Inilah, lanjut Gus Nadir, pentingnya akhlak dalam berdakwah, santun dalam bersikap. "Semoga kita bisa menirunya," pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, video tersebut sudah 24 ribu kali tayang, 768 twit ulang, dan 1.869 suka. (dur/ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive