Wednesday, January 16, 2019

Ketua MDS Rijalul Ansor Jelaskan Sejarah Shalawat Asyghil

Ketua MDS Rijalul Ansor Jelaskan Sejarah Shalawat Asyghil

Baca Juga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Bagi warga NU, Shalawat Asyghil sudah bukan sesuatu yang asing. Shalawat ini sering dibaca di masjid-masjid atau mushalla-mushalla NU sebelum mengumandangkan azan. Meski demikian, tidak banyak warga NU yang mengetahui sejarah shalawat ini.

Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Chabib Towus Ainul Yaqin, dalam sebuah video yang diunggah oleh pemilik akun Facebook Jonathan Latumahina, Rabu sore (16/01/19), menceritakan tentang sejarah awal munculnya Shalawat Asyghil.

Shalawat Asyghil, menurut Towus, pertama kali dimunculkan oleh Ja'far Al-Shadiq, yang hidup di masa transisi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, sebagai wujud keprihatinan atas situasi negaranya waktu itu yang carut-marut.

"Akhirnya, beliau hampir di setiap doa qunutnya beliau membaca shalawat ini," lanjut Direktur PT. Sorban Nusantara ini.

Dalam video berdurasi tiga menit itu, Towus juga mengisahkan tentang proses transisi dinasti Umayyah ke dinasti Abbasiyah. Menurutnya, transisi itu bukan melulu persoalan pergantian dinasti, namun juga dalam sektor sosial dan ideologi. Ia mengisahkan, orang-orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung sejati kekhalifahan. Mereka membentuk negara teokrasi.

"Memang, pada masa dinasti Abbasiyah ini, meskipun tampak kesalihan semakin terwujud, ketaatan beragama semakin terwujud; tampaknya seperti itu. Namun kenyataannya seperti apa? Khalifah Baghdad waktu itu ternyata sama sekulernya dengan khalifah Damaskus yang mereka gulingkan. Jadi, ini Ja'far Al-Shadiq memunculkan shalawat ini, sekali lagi, wujud keprihatinan beliau terkait kondisi politik negaranya waktu itu," paparnya.

Tidak hanya itu, dalam video tersebut Towus juga mengkritik kelompok kecil yang menggunakan Shalawat Asghil untuk membangun narasi seakan-akan mereka sedang terzalimi oleh pemerintah yang berkuasa saat ini. Ia menilai, tindakan ini sebagai kebohongan publik.

"Saya tahu kalian-kalian yang menggunakan shalawat ini, kelompok kecil yang saya sebut tadi, kalian ini adalah sebagian pengusung khilafah dan juga simpatisan khilafah. Lalu mau coba membangun narasi pakai shalawat ini. Mau niru bagaimana proses berdirinya dinasti Abbasiyah. Begitu? Mendirikan khalifah di negara ini? Apa yang ada di pikiran kalian? Kalian gunakan shalawat hanya untuk intrik politik. Ini ndak benar," tegasnya dengan nada tinggi.

Towus juga memperingatkan kelompok yang menurutnya memanfaatkan Shalawat Asyghil tersebut. Sebagai warga NU, ia dan organisasi yang dipimpinnya tidak akan mundur dalam mempertahanakan ideologi negara. Ia juga menegaskan, tidak boleh ada satupun kelompok yang ingin mengganti ideologi negara yang sudah menjadi konsensus bangsa di republik ini.

"Jadi, tolonglah. Pakai akal sehat kalian. Jangan coba melakukan satu hal kebusukan, tetapi mem-framing dengan sedemikian manisnya dengan agama. Apa lagi dengan shalawat. Haqqul yaqin, dengan niat kalian, Rasulullah tidak ridha. Ingat itu!" Pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive