Thursday, January 24, 2019

Larangan Gegabah Menuduh Kafir, Munafik dan Fasik

Larangan Gegabah Menuduh Kafir, Munafik dan Fasik

Baca Juga

Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam al-Iqtishad fi al I'tiqad (81) mengatakan:
والَّذِيْ ينْبغِيْ أنْ يمِيْل الْمُحصِّلُ إليْهِ الإحْتِرازُ مِن التَّكْفِيْرِ ما وجد إليْهِ سبِيْلاً. فإنَّ اسْتِباحة الدّّماءِ والْأمْوالِ مِن الْمُصَلِّيْن إلَى الْقِبْلةِ الْمُصَرِّحِيْن بِقوْلِ لا إله إلَّا اللهُ محمدٌ رسُوْلُ اللهِ خطأٌ، والْخطأُ فِيْ ترْكِ ألْفِ كافِرٍ فِيْ الْحياةِ أهْونُ مّن الْخطإ فِيْ سفْكِ محْجمةٍ مِن دمِ مُسْلِمٍ.

"Yang seyogyanya dicenderungi oleh orang yang akan menilai kufur adalah menjaga diri dari mengafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan (ta'wil). Karena sungguh menghalalkan darah dan harta muslim yang shalat dan menghadap kiblat, yang jelas-jelas mengucapkan kedua kalimat syahadat, merupakan kesalahan. Padahal kesalahan membiarkam 1.000 non-muslim lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim."

Tidak dibenarkan memvonis kufur kepada seorang muslim kecuali diyakini kemurtadannya. Bahkan bila terdapat banyak pertimbangan yang mengufurkannya, sementara di sisi lain hanya ditemukan satu pertimbangan yang menolaknya, maka seorang mufti wajib berpijak pada pertimbangan yang dapat mencegah kekafirannya sebagai wujud prasangka baik kepadanya. (Ibnu Najim, al-Bahr al-Raiq, V: 134-135)

Tidak dibenarkan memastikan tuduhan syirik, kafir atau munafik terhadap sesama muslim. Sebab persoalan ini sangat berat. Kita tidak dapat mengetahui secara pasti isi hati setiap manusia. Sesungguhnya yang dapat mengetahui rahasia-rahasia di hati hanya Allah SWT. (Nawawi bin Umar al-Bantani, Maraqi al-'Ubudiyah: 69)

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, di antara ciri khas Ahlussunnah wal Jama'ah adalah tidak saling menuduh sesat, fasik dan kafir karena perbedaan antara mereka.

Bahaya Mencaci Maki

Rasulullah SAW. bersabda:
منْ عيّر أخاهُ بِذنْبٍ لمْ يمُتْ حتّى يعْملَهُ. (رواه الترمذي، حسن)

"Barang siapa menghina saudaranya karena dosa yang diperbuat, maka ia tidak akan mati kecuali melakukam perbuatan yang sama." (HR. Tirmidzi, Hasan)

Ulama menjelaskan, menyebutkan aib orang lain tidak dibenarkam kecuali dalam rangka memberi nasehat seperti menyebutkan kekurangan calon suami/istri kepada pihak yang membutuhkan, menuturkan aib perawi hadits dan semisalnya. Ulama salaf selali sebisa mungkim menutupi aib orang lain. Gemar merusak dan membuka aib orang lain bukanlah perilaku mukmin sejati. (Muhammad bin Ahmad bin Salim al-Hanbali, Ghida' al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, I: 84)
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive