Sunday, January 20, 2019

Nasionalisme Dalam Pandangan Islam

Nasionalisme Dalam Pandangan Islam

Baca Juga

Nasionalisme adalah paham kebangsaan (persatuan bangsa) dan cinta tanah air. Nasionalisme harus terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban dan berjuang demi bangsa, sehingga tetap lestari dan kemajemukannya baik di bidang agama, suku dan budaya dapat terpelihara menjadi kekuatan riil yang memperkokoh kedaulatannya. Dengan demikian tercipta suasana kehidupan yang damai, saling menghormati, menghargai, melindungi dan mengasihi. Nasionalisme juga laksana ruh yang menghidupkan identitas dan jati diri bangsa dalam kiprahnya di pentas percaturan dunia.

Globalisasi yang membuka kran transformasi dalam berbagai bidang, selain membawa berbagai kemudahan namun resikonya pun tak kalah berat. Seperti ketika tidak sehaluan dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan sehingga merusak tatanan kehidupan beragama serta mencabut akar kecintaan terhadap bangsa. Tampaknya, kondisi seperti ini sangat nyata menimpa sebagian anak negeri. Padahal, sungguh nasionalisme telah dituntaskan oleh Rasulullah SAW:
كان إذا قدِم منْ سفر فنظر إلى جُدْران المدينة أوْضع راحِلته وإن كان على دابّـة حرّكها من حبِّها (رواه البخاري)

"Ketika Rasulullah SAW. pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju ontanya; dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah." (HR. al-Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani (dalam Fath al-Bari, juz III, 705) menegaskan:
وفي الحديث دلالةٌ على فضْل المدينةِ وعلى مشروعِيَّة حبّ الوطن والحنين اليه.

"Dalam hadits itu terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya."

Dalam potret sirah nabiwiyyah lainnya dikisahkan, di tengah perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW. sangat merindukan Makkah, tanah kelahirannya. Jibril AS. datang bertanya: "Apakah Engkau merindukan negerimu?" Rasulullah SAW. menjawab: "Ya." Maka turunlah ayat:
إنّ الّذي فرض عليك القرأن لرادُّك إلى معاد.

"Sesungguhnya Allah yang mewajibkan kepadamu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Makkah)." (QS. al-Qashash: 85)

Menurut Isma'il Haqqi dalam Tafsir Ruh al-Bayan (juz VI, 320), pada ayat itu terdapat isyarat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Bahkan Sayyidina Umar bin al-Khatthab RA. menekankan:
لو لا حُبّ الوطن لخرُبَ بلدُ السُّوء، فبحُبّ الأوطان عُمِرت البُلدان.

"Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur suatu negeri yang terpuruk; maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan."

Sementata menurut pakar hadits, Syaikh Isma'il bin Muhammad al-'Ajluni (Kasyf al-Khafa', juz I, 345) cinta tanah air merupakan hal positif apabila sebabnya adalah menyambung persaudaraan dan mengasihi fakir miskin serta anak yatim.

Walhasil, nasionalisme tidak perlu dipertentangkan dengan Islam, bahkan sebenarnya justru dapat menjadi media mengejawantahkan ajaran-ajarannya. Semangat nasionalisme (hubb al-wathan) juga secara tidak langsung dapat menjadi bagian dari akidah setiap muslim (Ahmiyat Ta'lim al-Difa' 'an al-Wathan, 25).
Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo). Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan Himasal Pusat, 2018).
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive