Thursday, February 28, 2019

Syekh Musthafa Zahran, Konsep Khilafah Hizbut Tahrir Tidak Utuh

Banjar — Pasti Aswaja — Selain Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi, tokoh Islam lain yang didatangkan dalam pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Kinbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2019 di Pon. Pes. Miftahul Huda, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, ialah Syekh Musthafa Zahran dari Mesir, seorang pakar dan peneliti aliran-aliran klasik dan kontemporer dalam Islam.

Syaroni As-Samfuri melaporkan, dalam salah satu forum di Munas dan Konbes NU, Syekh Zahran mengawali penyampaiannya dengan menyebutkan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Perubahan masa dari Daulah Khilafah Utsmaniyah ke Republik berkembang di berbagai tempat dan negara.

Diantara aliran kontemporer yang disebutnya ialah Hizbut Tahrir (HT), organisasi politik yang didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani. Syekh Zahran menilai, HT tidak memiliki konsep utuh tentang khilafah. Kelompok ini hanya mengambil semboyan yang terdapat dalam khazanah-khazanah kitab klasik Islam lalu mecocokkannya sesuai selera mereka sendiri.

"Lalu dijual tanpa memahami dengan baik konsep-konsep dari jargon yang dijualnya itu!" Lanjut Syekh Zahran, Rabu (27/02/19).

Dalam forum yang sama, Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi menambahkan, HT didirikan Taqiyuddin al-Nabhani di Palestina. Namun kelompok ini menerima gaji dari Kerajaan Britania (Inggris). Sedangkan Inggris tidak memedulikan sama sekali tentang Khilafah Islamiyah.

Sedikit berbeda dengan HT, menurut Syekh Taufiq, al-Qaeda merupakan kelompok teroris buatan Amerika yang diterjunkan di Afghanistan. Dan fenomena hadirnya Islamic State Irak and Sham (ISIS) oleh Abubakar al-Baghdadi tidak lepas dari sponsor dan dukungan Amerika. (bor/ahn)
Share:

Ulama Suriah Samakan Indonesia Dengan Surga

Tasikmalaya — Pasti Aswaja — Salah satu tokoh internasional yang akan mengisi acara Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2019 di Banjar ialah Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syekh Said Ramadhan Al-Buthi yang syahid terkena ledakan bom saat sedang mengisi pengajian di masjid.

Sebelum meneruskan perjalanannya menuju lokasi Munas di Pondok Pesantren (Pon. Pes.) Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Banjar, Ketua Persatuan Ulama Suriah ini mengunjungi Pon. Pes. Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya dan diterima oleh salah satu pimpinan pesantren, KH. Abdul Aziz Affandy.

Dalam sambutannya, Syekh Taufiq mengungkapkan kekagumannya terhadap Indonesia, sampai-sampai ia menyamakan negeri ini dengan surga.

"Nahnu al-an natahayyaru fi al-jannah am fi al-dunya (saya sekarang bingung, sedang di surga atau di dunia? Red.)", katanya dengan suara bergetar dan parau, Rabu (27/02/19).

Pantauan Syaroni As-Samfuri, saat mengungkapkan kekagumannya itu, tampak bahasa tubuhnya menunjukkan kebahagiaan bisa berkunjung dan bertatap muka dengan para santri yang begitu banyak, mereka dengan tenang, damai dan nyaman mengaji, tidak seperti di negaranya yang sedang dilanda perang.

Syekh Taufiq Al-Buthi hadir bersama Syekh Musthafa Zahran dari Mesir. Seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya di Indonesia, ulama yang juga mengajar di Universitas Damaskus ini mengenakan peci hitam khas Nusantara. (ahn/uki) 
Share:

Lagi, Ketum PBNU Sebut Khofifah Capres 2024

Banjar — Pasti Aswaja — Dalam sambutannya pada acara Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU, Rabu (27/02/19), KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menyebut Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sebagai Calon Presiden (Capres) 2024.

Hal itu disampaikan Kiai Said saat menyapa jajaran ketua Lembaga dan Badan Otonom (Banom) di lingkungan NU dalam sambutannya. Ketika sampai giliran Khofifah, yang tak lain sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU, Kiai Said menyebutnya Capres '24-34. Sontak saja perkataan Kiai Said disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Tidak hanya kali itu saja, pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta ini juga pernah menyebut Gubernur Jawa Timur itu sebagai Capres '24 pada perayaan Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Ahad, (27/91/19).

Selain itu, Kiai Said juga menyampaikan, Pilpres tidak boleh berhenti dalam ajang suksesi kekuasaan semata. Lebih dari itu, menurutnya, Pilpres merupakan momentum penegakan kedaulatan rakyat.

Kiai Said juga menyampaikan, masalah Rancangan Undamg-Undang (RUU) Antimonopoli dan persaingan usaha agar kezaliman ekonomi segera terselesaikan. Apalagi di era globalisasi, pasar bebas mengandung kezaliman karena semua diberi kebebasan. (ahn/uki)
Share:

LPBINU Pastikan Arena Munas-Konbes Bebas Sampah

Banjar — Pasti Aswaja — Persoalan sampah tidak hanya menjadi diskursus belaka dalam perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2019 di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat. Tapi, sebagai langkah konkret menuntaskan persoalan tersebut, panitia menerjunkan ratusan Tim Operasi Bebas Sampah yang terdiri: pengurus Bank Sampah Nusantara (BSN), Lembaga Penanggulan Bencana dan Perubahan Iklam Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dan santri. Tim ini akan selalu memastikan arena Munas dan Konbes NU 2019 bebas sampah.

Tim yang ada di bawah koordinasi LPBINU ini tersebar di beberapa titik krusial di arena acara. Mereka akan bekerja hingga perhelatan Munas dan Konbes NU selesai pada 1 Maret 2019.

Dikutip Pasti Aswaja dari NU Online, Kamis (28/02/19), salah seorang relawan LPBINU yang bertugas mengkoordinasi pasukan, Bara Sadera mengatakan, tim ini sudah terbagi menjadi beberapa satuan tugas. Satuan tugas tersebut telah memahami tugasnya masing-masing dalam mengelompokkan beberapa jenis sampah seperti: sampah kertas, kardus, gelas plastik, botol plastik, dan sampah-sampah elektronik seperti kabel dan lain-lain.

Sampah-sampah tersebut sudah tersortir sejak tahap pembersihannya sehingga akan mudah mengelola pada tahap selanjutnya.

Sejumlah titik konsentrasi pasukan semut LPBINU ini di antaranya: lokasi pembukaan Munas NU, NU Expo, lokasi bazar dan pasar rakyat, serta lingkungan pesantren secara umum.

Salah satu program unggulan LPBINU memang mengelola sampah. Saat ini lembaga tersebut mempunyai lembaga bernama Bank Sampah Nusantara. Lembaga pengelolaan sampah ini tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga mengubah sampah memiliki nilai jual. (bor/ahn)
Share:

Dua Peran NU Menurut Ketum PBNU

Banjar Pasti Aswaja Nahdlatul Ulama didirikan dengan dua mandat besar, yaitu peran dan tanggung jawab keagamaan (mas’uliyah diniyah) serta peran dan tanggung jawab kebangsaan (mas’uliyah wathaniyah). NU bukan hanya terpanggil mengurus masalah ‘ubudiyah, fikrah dīniyah, atau harakah Islâmiyah, tetapi juga masalah-masalah kebangsaan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj, saat memberikan sambutan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2019, Rabu siang (27/02/19) di Banjar, Jawa Barat.

Dalam kapasitas yang dimungkinkan, menurut Kiai Said, NU selalu berupaya membantu program-program pemerintah yang mendukung kesejahteraan rakyat. NU juga memastikan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan kesepakatan final yang tidak boleh dirongrong siapa saja.

“Karena itu, siapa saja yang mengancam NKRI, berniat menggerogoti dan merobohkan NKRI, akan berhadapan dengan NU,” tegas Guru Besar Tasawuf Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini.

Sebagai pelaksanaan mandat keagamaan dan kebangsaan, Munas Alim Ulam dan Konbes NU 2019 di Kota Banjar, Jawa Barat kali ini, forum akan membahas sejumlah masalah penting yang diklasifikasi dalam Masail Waqi’iyah (mencakup bahaya sampah plastik, niaga perkapalan, bisnis money game, dan sel punca); Masail Maudluiyah (masalah kewarganegaraan dan hukum negara, konsep Islam Nusantara, dan politisasi agama), dan Masuil Diniyah Qanuniyah (RUU Anti-Monopoli dan Persaingan Usaha agar kezaliman ekonomi global dapat dicegah dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual).

“Di bagian Rekomendasi, NU tengah mengkaji agar Pemerintah mempertimbangkan kembali pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi defisit pasokan energi dalam jangka panjang,” imbuhnya.

Pembahasan tentang sampah plastik, menurut Pengasuh Pesantren Luhur al-Tsaqafah Jakarta ini, karena keprihatinan NU terhadap status Indonesia sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Sekitar 130.000 ton sampah plastik setiap harinya dihasilkan Indonesia, separuhnya dibuang dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya dibakar secara ilegal atau dibuang ke sungai dan laut yang merusak ekosistem.

“Ketika sampah mikroplastik berubah menjadi nanoplastik dan kemudian dimakan ikan dan seterusnya dikonsumsi manusia, limbah plastik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Mengingat semakin mendesaknya polusi plastik, NU mendesak Pemerintah melakukan upaya yang lebih keras untuk menekan dan mengendalikan laju pencemaran limbah plastik di Indonesia,” lanjutnya.

Selain itu, Indonesia sebagai negara yang rawan bencana alam, semua pihak terutama Pemerintah harus berupaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana masyarakat terutama di daerah berisiko tinggi terdampak bencana. Nahdlatul Ulama mendorong agar hal itu dilakukan dengan cara: meningkatkan kapasitas (pengetahuan dan skill) masyarakat dalam menghadapi bencana berbasis kearifan lokal terutama melalui pesantren dan madrasah; Pemerintah Daerah harus menjadikan pengurangan risiko bencana terintegrasi dalam rencana pembangunan; melakukan simulasi rutin penanganan bencana; menyepakati sistem peringatan dini dan mekanisme penyelamatan diri saat terjadi bencana agar masyarakat dapat menyelamatkan diri; dan mengalokasikan anggaran yang memadai.

Tampak hadir dalam acara bertema “Memperkuat Ukhuwah Wathaniyah Untuk Kedaulatan Rakyat” itu: Presiden RI beserta menteri Kabinet Kerja, Pimpinan Lembaga Negara, Duta Besar negara-negara sahabat, pejabat TNI, Polri, pimpinan Partai Politik, Gubernur Jawa Barat, dan para kepala Daerah di Jawa Barat. Tampak juga di deretan kursi VIP: Rais ‘Aam PBNU beserta seluruh jajarannya, Pengurus Tanfidziyah PBNU beserta pimpinan Lembaga dan Banom di lingkungan NU, pimpinan Wilayah NU dan para pengasuh pondok pesantren di seluruh Indonesia. (ahn/dur)
Share:

Tak Ingin Seperti Suriah, HIMA TBIN IAIN Madura Gelar Seminar Nasional

Pamekasan — Pasti Aswaja — Semakin memanasnya situasi politik di Indonesia, mengilhami Himpunan Mahasiswa (HIMA) Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) IAIN Madura Pamekasan melaksanakan kegiatan seminar nasional bertema "Jangan Suriahkan Indonesia" di Auditorium kampus, Selasa malam (27/02/19).

Tiga aktivis NU bertindak sebagai pembicara dalam acara tersebut: KH. Abdul Rasyid (PPM Aswaja), Najih Arromdloni (Ikatan Alumni Syam Indonesia), dan Rijal Mumazziq Zionis (Rektor IAIN Al-falah jember).

Tampak hadir juga: Zainul Hasan selaku Wakil Dekan 3 Fakultas Tarbiyah yang juga menjabat Wakil Ketua PCNU Pamekasan, Hafidz Efendi selaku Ketua Prgram Studi (Prodi) TBIN, dosen, undangan, ORMAWA (Organisasi Mahasiswa), dan ratusan mahasiswa baik dari internal kampus setempat maupun dari luar.

Ach. Muammil selaku Ketua Panitia mengatakam, acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan peringatan hari lahir TBIN yang bertajuk "Ngemotih Are Lahir TBIN". Sebelum acara ini, panitia menggelar bakti sosial donor darah dan Don-Candon Budaya.

Ia juga meminta maaf mengingat acara yang digelarnya seharusnya dihadiri KH. Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur, yang membatalkan kedatangannya karena ada agenda lain. (ahn/uki)
Share:

Wednesday, February 27, 2019

Munas-Konbes, NU Jawa Timur Akan Usulkan Ahwa Jadi Lembaga

Banjar — Pasti Aswaja — KH. Marzuki Mustamar selaku Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Rabu (27/02/19) mengatakan, Indonesia harus tetap menjaga identitasnya, masyarakat Islam tetap berkembang tanpa kehilangan identitasnya sebagai warga negara Indonesia. Sehingga, antara ke-Idonesia-an dan ke-Islam-an menyatu dan terwujud dalam Islam Nusantara.

Hal itu, tutur Kiai Marzuki akan disampaikan utusan PWNU Jawa Timur pada pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Banjar, Jawa Barat, 27 Februari – 1 Maret 2019.

Dikutip Pasti Aswaja dari situs RMI NU Jawa Timur, Pengasuh Pesantren Sabilur Rosyad Gasek Malang ini menyampaikan, ada sejumlah usulan yang hendak disampaikan dalam forum tertinggi kedua setelah Muktamar ini.

PWNU Jawa Timur menginginkan agar konsep Ahlul Halli wal 'Aqdi (Ahwa) menjadi badan tersendiri. Ahwa, tutur Kiai Marzuki, akan dilembagakan ditentukan secara periodik. Sehingga, Ahwa bisa menentukan dan menunjuk Rais, bila Rais Syuriah yang meninggal dunia atau berhalangan.

Dengan begitu, lanjut Kiai Marzuki, Ahwa bersidang dan langsung menyelesaikan kekosongan kepemimpinan dalam tubuh NU tanpa harus menunggu pelaksanaan Muktamar Luar Biasa (MLB) yang pelaksanaannya bisa menghabiskan banyak biaya. (ahn/dur)
Share:

Monday, February 25, 2019

Lawan Radikalisme, Gubernur Jawa Timur Gandeng NU

Surabaya — Pasti Aswaja — Gubernur Jawa Timur, Khofifan Indar Parawansa menyampaikan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran strategis menghadapi tantangan ideologi yang saat ini mulai terancam oleh lahirnya benih-benih radikalisme di kalangan pelajar, khususnya tingkat menengah pertama dan atas.

Hal itu disampaikan di hadapan para kiai dan tokoh NU saat dirinya bersama Wakil Gubernur, Emil Elestianto Dardak, bersilaturrahim ke Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Jl Masjid Al-Akbar Timur No. 9, Gayungan, Kota Surabaya, Senin (25/02/19).

Benih-benih radikalisme, kata gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu, bisa mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dapat memecah belah persatuan umat yang selama ini sudah terbangun baik.

Khofifah berharap, kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama NU ini dapat melahirkan pikiran-pikiran modernisasi dan toleran yang dibangun berdasarkan nilai-nilai spritualitas dan religius.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu optimistis kerjasama yang dijalinnya dengan NU bisa memberikan dampak positif dalam membangun kemajuan Jawa Timur, bangsa dan negara, bahkan sekala internasional.

Dipilihnya NU sebagai mitra kerja sama, karena NU kata mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya ini, telah terbukti memberikan kontribusi strategis bagi bangsa, mulai awal kemerdekaan, masa pembangunan, hingga sekarang. NU, lanjutnya, tetap akan menjadi salah satu tumpuan membangun kehidupan yang damai dan menghadirkan Islam rahmatan lil 'alamin. (ahn/uki)
Share:

Bersama Ansor Pamekasan, Caleg Nahdliyin Deklarasi Pemilu Damai

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pamekasan menyelenggarakan Deklarasi Damai Pemilu 2019 bersama Calon Anggota Legislatif (Caleg) Nahdliyin, Ahad malam (24/02/2019) di Cafe 9 Kompleks Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz No. 95.

Dalam sambutannya, Syafiuddin selaku Ketua PC GP Ansor Pamekasan mengatakan, acara yang digelarnya bertujuan mempererat hubungan antar sesama kader Nahdlatul Ulama (NU). Juga yang tidak kalah penting, menurut Syafi', ialah saling mendukung dan menguatkan dalam memperjuangkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah melalui jalur politik.

"Caleg NU jangan ikut-ikutan menyebar hoax. Kita jaga kondusifitas dan kedamaian Pamekasan. Mari kita tunjukkan bahwa kita bisa berkontestasi dengan santun dan mengedepankan etika," lanjutnya

K. Munafi' saat memberikan arahan kepada para Caleg Nahdliyin menyampaikan, sejak penyelenggaraan Muktamar ke-27 tahun 1984 di Situbondo NU menyatakan diri kembali ke Khitthah tahun 1926, yakni secara kelembagaan NU tidak terlibat politik praktis.

"Tapi warga Nahdlatul Ulama secara pribadi harus mengisi semua pos-pos di pemerintahan mulai dari legislatig, eksekutif, yudikatif dan pos-pos lainnya di pemerintahan," lanjut Wakil Ketua PCNU Pamekasan tersebut.

Inisiatif PC GP Ansor Pamekasan mendapatkan apresiasi Abdullah Saidi selaku Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Pamekasan. Abdullah mengaku, sudah lama menginginkan pelaksanaan acara serupa agar Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April mendatang berjalan sukses, keamanan dan kondusifitas kabupaten berjargon Gerbang Salam itu tetap terjaga dan tidak terganggu hanya karena perbedaan pandangan politik.

"Saya selaku Bawaslu sangat setuju dan mendukung acara ini," tuturnya disambut tepuk tangan hadirin.

Sebelum acara berakhir, para Caleg Nahdliyin bersama-sama membaca teks deklarasibPemilu 2019 damai yang dipimpin oleh Sukma Firdaus selaku Komisioner Bawaslu Pamekasan. Setelah teks dibacakan, mereka saling bergandengan tangan sebagai simbol kekompakan antar sesama kader NU. (dur/ahn)
Share:

Sunday, February 24, 2019

Harlah IPNU, Kepala MA-MU Bettet Ajak Siswanya Setelah Lulus Gabung PMII

Pamekasan — Pasti Aswaja — Mukhtar, Kepala Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Ulum Pondok Pesantren (Pon. Pes) Bettet Pamekasan, mengajak para siswanya, pasca lulus nanti, bergabung bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ketika melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ajakan ini ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam peringatan hari lahir (Harlah) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ke-65 oleh Pimpinan Komisariat (PK) IPNU MA Miftahul Ulum Bettet, Ahad pagi (24/02/19) di Aula Sirojuddin Universitas Islam Madura (UIM) kompleks pesantren setempat.

"Sekarang kalian aktif di organisasi pelajar NU. Jadi, nanti setelah kalian lulus dan melanjutkan kuliah, kalian juga harus bergabung dengan organisasi mahasiswa NU di sana. Apa organisasi kemahasiswaan NU di kampus? Di kampus ada PMII. Kalian tahu apa itu PMII?" tanyanya.

"Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia," jawab hadirin serentak.

Dalam acara bertema "Peran Pelajar Nahdlatul Ulama Untuk Negeri" itu, Mukhtar memperingatkan hadirin, yang didominasi pelajar kelas akhir itu, supaya mereka tidak sampai kader-kader IPNU salah masuk organisasi ketika melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Karena menurutnya, satu-satunya organisasi kemahasiswaan berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah hanya PMII.

Hadir dalam acara yang dikemas dengan Seminar Ke-IPNU-an itu  beberapa perwakilan pengurus PC IPNU Pamekasan, Hadiri selaku Pembina PK IPNU MA Miftahul Ulum Bettet bersama jajaran guru lainnya. Bertindak sebagai pemateri, Sekretaris Redaksi Pasti Aswaja (Muhammad Ahnu Idris) bersama pengurus PC IPNU Pamekasan. (bor/uki)
Share:

Friday, February 22, 2019

UKM PSNU Pagar Nusa STAI-MU Resmi Dibuka

Pamekasan — Pasti Aswaja — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan secara resmi dibuka, Jumat siang (22/02/19) di halaman kampus, diikuti sekitar 30 orang anggota.

Meski kondisi halaman basah karena sebelumnya diguyur hujan, tapi tidak mengurangi semangat anggota baru itu mengikuti pembukaan tersebut.

M. Khoiri, Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) PSNU Pagar Nusa Pamekasan mengatakan, masuknya PSNU Pagar Nusa ke STAI-MU memiliki nilai positif tersendiri. UKM ini, menurut Khoiri, dapat menjadi wadah mengembangkan bakat dan minat mahasiswa, khususnya bela diri.

"UKM ini juga sebagai wadah untuk mengenalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja. Red.). Khususnya (Aswaja. Red.) An Nahdliyah, karena Pencak silat Pagar Nusa merupakan salah satu Badan Otonom NU yang khusus di bidang ini (pencak silat. Red.)," tutur Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura (Unira) ini.

Mantan aktivis PMII Pamekasan ini berharap, pasca dibukanya UKM Pagar Nusa di STAI-MU ini, bisa meningkatkan prestasi mahasiswa dan tetap istikamah dalam mensyiarkan NU, khususnya di lingkungan kampus.

Hadir dalam acara pembukaan itu: Salman, Ketua PC PSNU Pagar Nusa Pamekasan bersama beberapa pengurus lainnya serta jajaran pelatih. (ahn/dur)
Share:

GMNU Kenalkan NU ke Generasi Milenial Melalui E-Money

Pamekasan — Pasti Aswaja — Banyak cara memperkenalkan Nahdlatul Ulama (NU) kepada para pemuda di era milenial ini. Salah satu contohnya ialah langkah Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU). Perkumpulan pemuda NU ini Maret mendatang akan meluncurkan uang elektronik atau E-Money bernama BRIZZI GMNU.

"Salah satu tujuanya untuk mengenalkan Nahdlatul Ulama kepada para generasi milenial di era digital, agar mampu bersaing," tutur inisiator sekaligus pengelola E-Money BRIZZI GMNU, Zain As-Syuja'i saat dihubungi Pasti Aswaja via WhatsApp, Jumat pagi (22/02/19).

Selain itu, pria kelahiran Bangkalan Madura ini menuturkan, rencana tersebut juga sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan pemerintah menerapkan sistem pembayaran non tunai. "(Kebijakan pemerintah. Red.) itu kita dukung dengan ikut serta meluncurkan E-Money Generasi Muda NU ini," lanjutnya.

BRIZZI GMNU merupakan sebuah produk uang elektronik atau berbentuk kartu yang diterbitkan oleh BRI guna melayani dan memproses transaksi digital. Sebagai sebuah produk e-Money, kartu ini bisa digunakan sebagai pengganti uang tunai dalam transaksi pembayaran sehari-hari.

"Kartu ini bisa dimiliki oleh siapa saja tanpa harus memiliki rekening BRI. Saldo maksimum atau limit sebesar Rp. 2.000.000, minimum jumlah top up Rp. 20.000, maksimum top up per bulan Rp. 20.000.000. Kartu ini tidak dibatasi masa berlaku," papar Zain.

Sebagaimana produk kartu E-Money lainnya, kartu BRIZZI dilengkapi teknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang memungkinkan penggunanya melakukan transaksi pembayaran dengan menempelkan kartu ke mesin pembaca dan transaksi bisa langsung diproses.

Melalui kartu ini, lanjut Zain, pemilik bisa melakukan berbagai jenis pembayaran dan transaksi di tempat-tempat berlogo BRIZZI seperti: pembayaran tol (Jabodetabek, Bandung, Medan, Palikanci, Semarang, Bali, Surabaya, Makassar), pembayaran parkir dan TPE, pembayaran transportasi umum (kereta, Trans Jakarta, dll), pembayaran SPBU, pembelanjaan toko retail, (Indomaret, Alfamart, dan lain-lain), pembayaran wahana hiburan atau restoran.

"Sekarang sudah dibuka pemesanan sistem pree order melalui WA 081617088964 dengan harga Rp. 50.000. Itu saldonya nol. Insya Allah awal Maret sudah kita launching secara resmi," pungkasnya. (ahn/dur)
Share:

Thursday, February 21, 2019

Dilantik, PKC PMII Jatim Usung "Global Economic Youth"

Surabaya — Pasti Aswaja — Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur masa khidmah 2018-20120 resmi dilantik, Kamis siang (21/02/2019), di Gedung Islamic Center Surabaya.

Pelantikan pengurus yang dihadiri Wakil Gubernur, Alumni PMII dan ribuan kader PMII Jawa Timur tersebut dikukuhkan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar PMII, Agus Mulyono Herlambang.

Usai dilantik, Abdul Ghoni, Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur dalam sambutannya menyampaikan, dengan mengusung Global Economic Youth, kader PMII Jawa Timur harus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman. 

"Guna menyongsong revolusi industri 4.0, kader PMII harus mempersiapkan diri, sehingga tidak dikalahkan oleh perkembangan digital yang pesat," tegasnya. 

Dalam kesempatan itu, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, menyampaikan orasi ilmiah mewakili Gubernur Jawa Timur membedah tema "Economic Global Youth".

Emil mengajak seluruh kader PMII Jawa Timur bersama-sama maju dan memberikan dukungan penuh upaya pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui program Nawa Bhakti Satya.

"Nawa Bhkati Satya artinya sembilan bakti kami untuk Jawa Timur mulia. Kader PMII harus terlibat penuh demi suksesnya semua program yang akan kami jalankan," ujarnya. (bor/ahn)
Share:

Safari Jurnalistik Perdana, LSO PMII Pamekasan Kunjungi PMII STISA

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan melalui Lembaga Semi Otonom (LSO) mengunjungi sekretariat PMII Sekolah Tinggi Ilmu Syariah As-Salafiyah (STISA) jl. Raya Waru, Sumber Duko, Pakong, Pamekasan, Kamis siang (21/0219).

Kunjungan tersebut merupakan salah satu program kerja LSO, yakni Safari Jurnalistik. Dalam program ini, lembaga tersebut mendatangi komisariat-komisariat di bawah koordinasi PC PMII Pamekasan guna memberikan kajian jurnalistik kepada kader dan pengurus PMII setempat.

Pemilihan daerah pantai utara (Pantura) Pamekasan sebagai sasaran pertama, karena daerah ini jauh dari perkotaan. Program tersebut, menurut Ghafur diharapkan dapat menumbuhkan jiwa jurnalisme kader-kader PMII Pamekasan.

"Semoga dengan safari Jurnalistik ini bisa melahirkan jurnalis ala Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah. Red.) yang memiliki nilai tawar," harapnya.

Fiqi Wahyudy selaku Kordinator PMII STISA menuturkan, kedatangan LSO PC PMII Pamekasan tersebut memberikan banyak manfaat yang besar, mengingat PMII di STISA masih minim kader karena baru beberapa waktu terbentuk.

"Semoga tidak hanya berhenti di sini, karena kami masih butuh gandengan dari PC PMII Pamekasan untuk membenahi kader kami ke depan," pungkasnya. (ahn/dur)
Share:

Kopri PC PMII Pamekasan Kaji Kitab Masail al-Nisa'

Pamekasan — Pasti Aswaja — Korps PMII Putri (Kopri) Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, Rabu siang (20/02/19), menggelar kajian perdana Kitab Masail al-Nisa' di sekretariatnya, Jl. Brawijaya No. 52B, Pamekasan.

Acara ini diikuti sekitar 30 kader delegasi 13 Rayon di bawah koordinasi 5 Komisariat Kopri se-Pamekasan. Tidak hanya itu, tampak juga pengurus Kopri PC PMII Pamekasan ikut serta di dalamnya.

Dalam rilis yang diterima Pasti Aswaja, Aan Nurul Qomariyah selaku Ketua Kopri PC PMII Pamekasan berharap, melalui kegiatan yang digelarnya kader-kader Kopri Pamekasan bisa mengetahui masalah-masalah keperempuanan perspektif Islam.

"Saya mengambil tema Masail al-Nisa' ini, karena di dalamnya itu mengkaji pembahasan yang mengenai permasalah-permasalahan perempuan seperti: haid, nifas, istihadah, pernikahan, adab-adab perempuan, dan lain-lain yang harus kita ketahui, sebagai perempuan," ungkapnya.

Mengingat pentingnya pemahaman terhadap masalah-masalah keperempuanan perspektif Islam, Kopri PC PMII Pamekasan akan menjadikan kajian rutinitas ini sebagai agenda wajib bulanan. Hal ini dikarenakan kader-kader Kopri PC PMII Pamekasan tidak semuanya dari kalangan santri, dan hal itu memang sangat penting diketahui oleh kader putri PMII. (ahn/uki)
Share:

Wednesday, February 20, 2019

Kiai Musleh Ajak IHMNU Karangpenang Tidak Ikut Sebarkan Hoax

Sampang — Pasti Aswaja — KH. Musleh Adnan, salah satu lengurus Lembaga Dakwah PCNU Pamekasan, mengajak seluruh anggota Ikatan Hajah Muslimat Nahdlatul Ulama (IHMNU) Kecamatan Karangpenang tidak terpengaruh berita-berita hoax apa lagi turut menyebarkannya.

Ajakan itu disampaikan Kiai Musleh saat menjadi penceramah dalam acara Majelis Ta'lim Muslimat Nahdlatul Ulama di Lapangan Pondok Pesantren (PP) Miftahul Ulum Karang Durin, Tlambah, Karangpenang, Sampang, Rabu pagi (20/02/19).

Dari pada menyebarkan berita hoax, memurut Kiai Musleh, lebih baik ibu-ibu Muslimat memperbanyak baca shalawat. Karena, menurutnya, berkah shalawat seseorang yang ditakdirkan celaka bisa berubah menjadi pribadi yang mulia.

Sebelum itu, pada acara yang didominasi hadirin berpakaian serba putih itu Kiai Musleh menyampaikan, perempuan paling baik ialah anggota IHMNU, karena selalu semangat mencari ilmu dan tidak pernah gengsi mengaji.

Menurutnya, seluruh umat manusia diwajibkan mencari ilmu, mengaji bersama para ulama sekalipun dirinya sudah tidak lagi muda. Kiai kelahiran Jember Jawa Timur ini juga mengajak hadirin tidak sombong. Karena sejatinya, manusia sifatnya pelupa dan salah.

"Tidak dikatan manusia keculai karna sifat lupa. Namun, tidak boleh sombong, karena sombong itu merupakan sifatnya Iblis. Kesalahan yang bermuara dari kesalahan itu akan diampuni oleh Allah. Sedangkan kesalahan yang bersumber dari sombong maka tidak akan diampuni oleh Allah seperti iblis yang tidak mau mematuhi perintah Allah bersujud kepada Nabi Adam karena sifat sombongnya iblis," jelas Kiai Musleh.

Di akhir tausiahnya, Kiai Musleh memberikan amalan kepada hadirin tata cara masuk dalam rumah setelah bepergian: mengucapkan salam, membaca surat al-Ikhlas, dan membaca ayat kursi. "Sebab, dengan membaca al-Ikhlas akan melancarkan rezeki, dan keutamaan membaca Ayat Kursi bisa menghindarkan bertengkar dengan saudara dan sanak famili," pungkasnya.

Nampak hadir dalam acara tersebut: Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Karangpenang, Ny. Hj. Halimah Hifni yang juga majelis keluarga PP. Karang Durin. Tampak juga Ny. Hj. Laila Muzayana, salah satu Majelis Keluarga PP. Sidogiri Pasuruan. (mad/ahn)
Share:

Masyarakat Ponorogo Deklarasi Pemilu 2019 Damai

Ponorogo — Pasti Aswaja — Di tengah hiruk-pikuk menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April mendatang, ribuan masyarakat Ponorogo mendeklarasikan Pemilu 2019 Damai, Selasa malam (19/02/19) di Aloon-Aloon Ponorogo dalam acara Tabligh Akbar Kebangsaan yang digelar Polres setempat.

Dalam deklarasi itu, hadirin sepakat dan menyatakan kesiapan menyukseskan serta mendukung Pemilu 2019 yang aman, damai, sejuk dan bebas hoax.

Tampak puluhan personil Barisan Ansor Sebaguna (Banser) Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Kecamatan Ponorogo ikut membantu suksesnya kegiatan tersebut. Baik dalam hal pengamanan maupun membantu panitia menyambut undangan yang hadir.

Dikutip Pasti Aswaja dari fans page Generasi Muda NU, AKBP. Radiant selaku Kapolres Ponorogo meminta kepada hadirin supaya menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) menjelang Pemilu mendatang dengan semangat Hubbul Wathan Minnal Iman.

Selain itu, Radiant juga mengajak masyarakat mewaspadai berita bohong. Menurutnya, penyebar berita hoax dapat dikenakan hukuman penjara sesuai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Hadir dalam kegiatan ini para alim-ulama, tokoh masyarakat dan pemuda, unsur Pemda setempat, pimpinan dan utusan pondok pesantren se-Ponorogo, Ormas keagamaan, MUI, Fatayat NU, serta tamu undangan masyarakat setempat lainnya. (uki/ahn)
Share:

Monday, February 18, 2019

Dua Santri Pamekasan Ciptakan Dua Motif Batik Milenial

Pamekasan — Pasti Aswaja — Abd. Rasyid dan Salim, santri Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, yang berprofesi sebagai pebatik tulis asal Desa Klampar, Proppo, Pamekasan mencetuskan dua motif baru batik Madura: Junjung Derajat Kontemporer dan motif Daun Pacar Cina.

Motif yang diciptakan oleh kedua alumni PMII STAI Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan tersebut sudah dipatenkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemnkumham RI).

Berawal dari "kejenuhan" Rasyid dan Salim terhadap motif-motif yang selama ini digunakan pebatik di Kampung Batik Pamekasan, kedua pemuda itu berinovasi mengembangkan corak batik klasik dengan sentuhan nuansa milenial, hingga lahirlah dua motif baru tersebut.
Sederhana. Salim menunjukkan sertifikat Kemenkumham atas karyanya. (Beritajatim.com)
“Ide ini (muncul. Red.) karena kami berdua ingin melestarikan budaya lokal, biar sejarah dari Pacar Cina tidak hilang dan bisa menjadi kebanggaan bagi warga Desa Klampar,” tuturnya, melalui rilis yang diterima Pasti Aswaja, Ahad malam (17/02/19).

Rasyid berharap, motif baru yang diciptakan bersama sahabatnya itu dapat menjawab kebutuhan pasar, khususnya para remaja dan pemuda milenial. Karena menurutnya, motif ini tidak hanya pas dipakai kalangan dewasa, tapi juga bisa dipakai remaja dan pemuda.

"Sehingga dengan (motif. Red.) ini anak muda milenial, khususnya di Pamekasan, tidak enggan lagi memakai batik yang merupakan warisan para leluhur Nusantara," pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

PR IPNU-IPPNU Desa Terrak, Tlanakan, Terbentuk

Pamekasan — Pasti Aswaja — Para pelajar Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, kini sudah bisa belajar mengenal Nahdlatul Ulama. Pasalnya, Ahad (17/02/19), di desa tersebut sudah terbentuk pengurus Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

"Karena untuk mengenal lebih jauh tentang NU maka kita harus bergabung langsung dengan NU mulai sejak dini; tentunya di IPNU bagi pelajar putra NU dan IPPNU untuk pelajar Putri NU," kata Sekretaris Pengurus Ranting (PR) NU Desa Terrak, Ust. Najmus Sakib.

Sakib berharap, melalui organisasi yang baru dibentuk itu, para pelajar NU di desa setempat dapat melanjutkan perjuangan para guru dan ulama dalam berkhidmah bersama NU.

"Mari bergabung dengan IPNU dan IPPNU agar kita kelak menjadi kader NU yang betul-betul faham tentang Fikrah , harakah dan amaliyah NU," imbuhnya.

Sebelum itu, beberapa pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Kecamatan Tlanakan sowan kepada Ketua dan Sekretaris PRNU Desa Terrak untuk melakukan sosialisasi kepada para pelajar di desa tersebut.

Gayung bersambut. Setelah Ust. Muktadir selaku Ketua PRNU Terrak bersama Ust. Sakib menyampaikan keinginan para pelajar NU tersebut kepada para kiai di jajaran Mustasyar dan Syuriah, tiga hari kemudian dibentuklah kepengurusan PR IPNU-IPPNU di desa tersebut.

Dikomando pengurus PAC IPNU Kecamatan Tlanakan, peserta rapat memilih Dhofir, mahasiswa semester empat di Universitas Islam Madura (UIM), sebagai Ketua PR IPNU; dan Mubayyanah, mahasiswa semester empat di IAIN Madura, sebagai Ketua PR IPPNU Desa Terrak.

Selain itu, rapat juga menyetujui Zainol sebagai Ketua Pimpinan Komisariat (PK) IPNU dan Musyarrofah sebagai Ketua PK IPPNU SMA Maarif 1 Pamekasan. (mad/ahn)
Share:

Sunday, February 17, 2019

Habib Luthfi Ajak Masyarakat Madura Hormati Pemimpin

Sampang — Pasti Aswaja — Bangsa yang besar, aman, damai dan sejahtera dapat tercapai bila masyarakat selalu memupuk nasionalisme serta menghargai dan menghormati pemimpin yang sudah dipilih bersama. Sebagaimana kebesaran Islam yang dicapai karena hormat dan takzim kepada Rasulullah.

Pernyataan tersebut diungkapkan Rais 'Aam Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah (JATMAN), Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, saat menyampaikan tausiyahnya pada acara Tabligh Akbar Kebangsaan yang digelar oleh Polres Sampang, Sabtu sore (16/02/19), di Lapangan Wijaya Sampang.

Indonesia, menurut Habib Luthfi, sampai kapanpun tidak akan bisa menjadi bangsa yang besar dan dihargai negara-negara lain jika masyarakatnya termakan berita-berita bohong atau hoax dan selalu menghina serta tidak menghargai pemimpin.

Tidak hanya itu, lunturnya nasionalisme juga tidak akan menjadikan bangsa Indonesia berwibawa di mata internasional. Maka dari itu, Habib Lutfi mengajak seluruh masyarakat Madura, khususnya masyarakat Sampang, agar tetap menjaga kecintaannya terhadap tanah air.

"Dalam tabligh akbar ini mari kita lekatkan merah putih di hati dan dada kita sebagai wujud kecintaan dan kebanggaan kita terhadap NKRI. Dengan kecintaan dan kebanggaan kita terhadap NKRI merupakan peningkatan jiwa nasionalisme sebagai benteng untuk menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia," ucapnya.

Di akhir ceramahnya, Habib Luthfi mengajak ribuan umat Islam yang hadir supaya tetap menjaga persaudaraan menjelang Pemilu, sekalipun berbeda pilihan. Karena, menurutnya, umat Islam merupakan dasar pemersatu dalam memperkokoh ukhuwah islamiah, serta menjadi pelopor dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (ahn/uki)
Share:

Saturday, February 16, 2019

PMII Pamekasan Menggelar Ta'aruf Jurnalistik dan Literasi

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan melalui Lembaga Semi Otonom (LSO) menggelar Ta'aruf Jurnalistik dan Literasi, Sabtu (16/02/19) di Aula PCNU Pamekasan.

Ghafur Abdullah selaku pengurus LSO menuturkan, acara tersebut guna mendorong kader PMII bergelut dengan dunia jurnalistik sehingga bisa melahirkan Mahbub Junaidi (pendiri PMII) di era milenial ini. "Karena beliau (Mahbub Junaidi. Red.) selain menjadi penulis, beliau juga jurnalis,” tuturnya.

Lian Fawahan, Ketua PC PMII Pamekasan mengatakan, kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari itu bertujuan mencetak kader PMII jurnalis dan penulis yang produktif di era digital ini sebagaimana Mahbun Junaidi yang bergelar Pendekar Pena

Dalam kegiatan bertema “Tulisan Sebagai Senjata Perubahan” itu, panitia mendatangkan pemateri dari beberapa media massa di Pamekasan: Taufikurrahman (wartawan KOMPAS), Hairul Anam (Direktur koran Kabar Madura), Hasibuddin (Wartawan Portal Madura), Ahnu Idris (Sekretaris Refaksi Pasti Aswaja).

Kegiatan ini diikiti oleh empat puluh orang peserta yang terdiri dari pengurus PC PMII serta delegasi Rayon dan Komisariat PMII se-Kabupaten Pamekasan. Sampai berita ini diturunkan, peserta masih aktif mengikuti forum. (mad/ahn)
Share:

Friday, February 15, 2019

PMII STAI-MU Peringati Kelahiran Mbah Hasyim Dengan Doa dan Ngaji

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan menggelar doa dan ngaji bersama guna memperingati kelahiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Mohammad Hasyim Asyari, Sabtu malam (14/02/19) di sekretariat, Desa Kacok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

Selain memperingati kelahiran Kiai Hasyim Asyari, kegiatan ini merupakan agenda rutin bulanan yang digagas oleh Wakil Ketua III Bidang Keagamaan dan dilaksanakan setiap Jumat legi atau yang biasa disebut Jumat Manisan, sebagaimana tradisi warga NU di Madura.

Ghufron selaku Wakil Ketua III bersyukur agenda rutinan kali ini bertepatan dengan hari keliharan pendiri NU. Momentum ini, tutur Ghufron, akan menjadi semangat perjuangan dalam mengabdi serta melanjutkan cita-cita pendiri  PMII dan NU.

Inisiatif ini mendapatkan respon positif Imam Syafi'i selaku Ketua Komisariat. Melalui keterangan tertulisnya, Imam menyampaikan, tradisi Jumat Manisan harus tetap dilestarikan karena menjadi wasilah mendapatkan aliran barokah para pendiri NU.

Ia juga menambahkan, sebagai kader muda NU, memperingati kelahiran maupun haul Kiai Hasyim Asyari merupakan suatu keharusan bagi PMII. Hal itu, menurut Imam, karena PMII lahir dari NU, organisasi yang didirikan Kiai Hasyim Asyari.

"Jadi, tidak ada alasan untuk tidak memperingati. Ya, paling tidak diperingati secara sederhana dengan berkirim doa dan pahala bacaan Al-Qur'an kepada Mbah Hasyim, seperti agenda yang kita laksanakan ini," pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Thursday, February 14, 2019

Ketua Komisariat se-Madura Sambangi PMII STAI-MU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Beberapa Ketua Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ada di Madura didampingi jajarannya, Rabu siang (13/02/19), menyambangi sekretariat Pengurus Komisariat (PK) PMII Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) di Desa Kacok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

"Alhamdulillah, dari Sumenep ada PK PMII Guluk Guluk, PK PMII Al-Karimiyah; dari Sampang ada PK PMII Wali Songo; dari Bangkalan ada PK PMII STAIS dan PK PMII STKIP PGRI. Dari Pamekasan memang tidak ada, karena hampir setiap hari kita kumpul," jelas Imam Syafi'i, Ketua PK PMII STAI-MU.

Kunjungan tersebut, tutur Imam, guna memperkuat hubungan persahabatan yang sudah lama terbangun sejak ketua-ketua sebelumnya. Selain itu, mereka juga saling berbagi pengalaman dalam menjalankan kepemimpinan di komisariatnya masing-masing, khususnya dalam bidang kaderisasi dan penguatan ideologi.

Imam berharap, hubungan yang sudah terjalin tetap terjaga dan semakin erat. Karena menururnya, kader PMII di komisariat-komisariat tersebut tidak hanya berasal dari daerah setempat, tapi juga dari empat kabupaten yang ada di Madura, bahkan luar Madura.

"Dari sini, kita bisa tahu karakteristik kader PMII dari masing-masing daerah. Dengan demikian, nanti program-program komisariat bisa disesuaikan dengan karakteristik kader, sehingga mereka tidak bosan berproses di PMII," lanjut mahasiswa kelahiran Sampang ini.

Usai beberapa jam sharing, mereka bersama-sama makan siang dengan hidangan sederhana ala aktivis mahasiswa. Pada momen ini, keakraban semakin terlihat. Tanpa canggung mereka menyantap makanan yang disediakan di nampan dengan lahap. (mad/ahn)
Share:

Wednesday, February 13, 2019

PMII UIM Pamekasan Akan Selalu Siap Jadi Garda Depan Aswaja

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sebagai organisasi kemahasiswan yang lahir dari Nahdlatul Ulama (NU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi ujung tombak dalam menjaga, memperjuangkan dan menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah di lingkungan kampus.

Pernyataan ini disampaikan Nurul selaku Ketua Komisariat PMII Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, ketika memberikan sambutan seusai ia dilantik oleh Pengurus Cabang (PC) PMII Pamekasan, Rabu (13/02/19) di Pendopo Ronggosukowati, Jl. Pamong Paraja.

Maka dari itu, lanjut Nurul, proses kaderisasi di lingkungan PMII UIM harus tetap berjalan dengan dinamis, dalam situasi dan kondisi apapun. Hal itu, menurutnya, karena PMII merupakan kader intlektual NU yang harus bisa menciptakan kesejukan dan kedamaian pada masa sekarang dan mendatang.

Dalam kegiatan tersebut, PC PMII Pamekasan juga melantik Pengurus Rayon (PR) di bawah koordinasi PK PMII UIM: PR PMII Ekonomi, PR PMII Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan PR PMII Madani.

Selain itu, agenda tersebut juga dirangkai dengan Talk Show bersama Firmansyah Ali, Bendahara Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jawa Timur. (ahn/mad)
Share:

Monday, February 11, 2019

Habib Quraish Shihab di Mata Gus Mus

Pamekasan — Pasti Aswaja — Quraish Shihab yang memiliki nama lengkap Prof. Dr. Muhammad Quriash Shihab, MA. merupakan seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an. Sudah tidak terhitung berapa jumlah tulisannya yang membahas tentang Al-Qur'an. Selain dikenal sebagai pakar tafsir, mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998) ini juga keturunan Rasulullah atau habib.

Meski demikian, tidak sedikit oknum kelompok tertentu yang masih meragukan kealiman Habib Quraish. Bahkan, banyak di antara mereka yang melabelinya Syiah, sesat serta tuduhan-tuduhan tanpa dasar lainnya.

Berbeda dengan oknum-oknum tersebut, KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Gus Mus memiliki penilaian berbeda. Menurutnya, Habib Quraish merupakan orang alim dan mufassir yang seharusnya dibanggakan oleh masyarakat muslim Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Gus Mus melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ahad (10/02/19). Dalam unggahan ini, terlihat Gus Mus sedang berbincang dengan Habib Quraish.

"Orang alim, Mufassir kebanggaan kita ini, tidak hanya fasih berbicara, tapi juga sangat rendah hati bersedia mendengarkan orang berbicara (sekalipun apa yang dibicarakan orang itu kemungkinan sudah beliau ketahui). Semoga Allah memanjangkan umur beliau, Alhabiib Prof. Dr. KH. Quraish Shihab, wanafa'anã bi'ulűmihi wa akhlãqihih..." tulis Gus Mus.

871 akun yang mengomentari unggahan tersebut semua positif. Salah satunya komentar presenter terkenal, Najwa Shihab, yang tak lain anak Habib Quraish.

"Pas tadi abah @s.kakung video call nana lagi di luar. Pas coba nlp balik udah gak bisa nyambung. Salam sayang utk abah dan abi," tulis Nana sapaan akrab Najwa Shihab.

Sampai berita ini diturunkan, unggahan itu sudah disukai oleh 42.713 akun. Tidak hanya itu, komentar netizen juga masih terus bertambah. (ahn/uki)
Share:

Pendiri: "PMII Merupakan Intelektual NU"

Malang — Pasti Aswaja — KH. Munsif Nachrowi, salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengingatkan, kader PMII harus menjaga semangat pergerakan.

Hal itu disampaikan, saat menerima kunjungan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Ahad (10/02/19) di kediamannya, Jl. Bungkuk No. 13, Singosari, Malang.

"Tetap menjaga semangat pergerakan, karena PMII merupakan intelektual NU," pesan Kiai Munsif.

Maksud kedatangan PKC PMII Jawa Timur tersebut, guna memohon restu menjelang pelantikan pengurus 21 Februari mendatang.

"Kami sowan kepada Kiai dalam rangka memohon restu dan doa kepada beliau selaku pendiri PMII," ungkap Abdul Ghoni, Ketua PKC PMII Jawa Timur, seperti dikutip pmiinews.com. (bor/uki)
Share:

Sunday, February 10, 2019

Nahdliyin Pamekasan Akan Punya Rumah Sakit NU

Pamekasan — Pasti Aswaja — Aspirasi warga Pamekasan, khususnya Nahdlyin, memiliki Rumah Sakit NU (RSNU) sepertinya sudah tidak terbendung lagi. Pengadaan fasilitas kesehatan bagi warga NU sudah menjadi tanggung jawab organisasi selain sektor pendidikan, keagamaan, umum juga sektor ekonomi. 

Salman selaku sekretaris Panitia Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke-2 PCNU Pamekasan, Sabtu (09/02/19) di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumber Panjelin, Akkor, Palengaan, Pamekasan mengatakan, Muskercab dilaksanakan guna mengakomodasi aspirasi keumatan, kemudian menjadi sasaran program strategis di samping memang sudah menjadi amanat dan aturan organisasi.

Amanat mewujudkan RSNU tersebut, menurut Salman, tertuang dalam rekomendasi yang dihasilkan oleh Kelompok Kerja (Pokja) 2 yang membahas masalah kemaslahatan umat yang di dalamnya dimotori beberapa Lembaga: Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU), Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Lembaga Kesehatan Mahdlatul Ulama (LKNU). 

"Aspirasi itu saya kawal sendiri, sehingga akhirnya menjadi salah satu dari sekian rekomendasi Muskercab ke-2 yang lolos. Doakan saja semoga tewujud. Dan ini (akan. Red.) menjadi satu-satunya Rumah Sakit NU di Madura, karena potensi dan sumber daya manusia dari kader-kader NU sendiri yang berprofesi di kesehatan, baik dokter, perawat dan bidan sangat melimpah," tambah Ketua PC PSNU Pagar Nusa tersebut. 

Salman juga mengatakan, hasil rekomendasi Muskercab ke-2 PCNU Pamekasan ini juga akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten, karena peran pemerintah juga sangat dibutuhkan.

Aspirasi tersebut disambut baik Ketua LKNU, dr H. Syaifuddin. Ia menyampaikan, target pendirian RSNU sudah sangat realitis. "Dan kami akan menyiapkan segala sesuatunya untuk proses pendirian dan perizinannya. Kami sudah tidak sabar," pungkas Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pamekasan ini. (ahn/mad)
Share:

Saturday, February 9, 2019

LPBI PCNU Pamekasan Akan Luncurkan Aplikasi Bank Sampah Berbasis Android

Pamekasan — Pasti Aswaja — Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan akan meluncurkan aplikasi Bank Sampah berbasis android.

Hal itu diungkapkan Abdul Muin, Ketua LPBI PCNU Pamekasan saat mengikuti Musyawarah Kerja Cabang (MUSKERCAB) ke-2 PCNU Pamekasan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sumber Panjalin, Akkor, Palengaan, Pamekasan, Madura.

Aplikasi yang diberi nama SIMBA-NUsa itu akan menjadi program kerja unggulan LPBI PCNU Pamekasan dalam upaya pencegahan bencana melalui pemanfaat sampah.  (Sistem Informasi Bank Sampah Nusantara) 

"Kita tahu bersama, di sekitar kita masih banyak sampah-sampah berserakan. Nah, kita akan kelola sampah itu. Jadi, sampah yang awalnya bisa mengundang bencana akan kita ubah menjadi sampah yang membawa berkah," ungkap Mantan Aktivis PMII tersebut.

Mu'in menjelaskan, aplikasi itu nanti akan disosisalisasikan ke seluruh Pengurus Ranting NU (PRNU) di setiap desa yang ada di Pamekasan. Sampah yang dikumpulkan masyarakat akan dibawa kepada PRNU selaku pengelola sampah guna ditindak lanjuti dan pilah antara sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak. Muin juga mengatakan akan menggandeng beberapa warung atau toko yang siap bekerja sama denga PRNU setempat guna dijadikan outlet.

Setelah pengelola memilah dan mengklasifikasi jenis sampah yang dikumpulkan warga, outlet atau PRNU akan menginput jenis klasifikasi sampah tersebut ke dalam aplikasi. Secara otomatis aplikasi akan memunculkan nominal harga.

"Nominal tersebut nanti bisa dibelanjakan langsung di outlet-outlet yang sudah bekerja sama dengan kita dengan cara menunjukkan nominal yang terdapat di aplikasi. Bagi warga yang tidak punya HP android, cukup menunjukkan NIA (Nomer Induk Anggota. Red.) yang tertera di Kartanu," lanjutnya.

Jenis sampah yang bisa bernilai ekonomis, ungkap Muin, merupakan sampah non-organik. Hal ini dikarenakan belum ada perusahan yang siap menjalin kerja sama dalam mengelola sampah-sampah organik.

Dalam waktu dekat, Muin akan berkoordinasi dengan PCNU Pamekasan guna mengingentarisir seluruh NIA warga NU se-Kabupaten Pamekasan. (bor/ahn)
Share:

Thursday, February 7, 2019

PK PMII STAI-MU Pamekasan Masa Khidmat 2018-2019 Dilantik

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sebanyak 31 orang Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan masa khidmat 2018-2019 dilantik di Aula LPI Noun Palengaan Daja, Palengaan, Pamekasan.

Dalam acara yang dirangkai dengan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ke XIII itu, mereka berikrar dipandu Lian Fawahan, Ketua PC PMII Pamekasan, Kamis malam (07/02/19).

Dalam sambutannya saat pembukaan, Hairul Umam selaku Ketua Komisariat Demisioner menaruh harapan besar kepada para pengurus yang baru dilantik itu dapat menjalankan amanah yang dipercayakan oleh kader PMII STAI-MU Pamekasan kepada mereka. Umam, sapaan akrabnya, meminta kepengurusan yang baru mematuhi seluruh bimbingan senioritas selama hal itu masih dalam koridor Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah.

"Kepada calon anggota baru, di PMII masih ada tingkatan-tingkatan kaderisasi. MAPABA ini adalah langkah awal kalian mengenal PMII. Setelah ini masih ada PKD (Pelatihan Kader Dasar. Red.) dan PKL (Pelatihan Kader Lanjut. Red.). Saya harap sahabat-sahabat mengikuti semua tingkatan kaderisasi itu," lanjutnya.

Lian Fawahan dalam sambutannya menyampaikan, mahasiswa organisatoris sangat jauh berbeda dengan mahasiswa non-organisatoris, khususnya kader-kader PMII. Karena PMII, lanjut Lian, merupakan organisasi yang sampai saat ini masih konsisten mempertahankan dan memperjuangkan paham Aswaja An-Nahdliyah.

"Kita ini lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, sahabat-sahabat. Kita ini regenerasi para ulama dalam memperjuangkan paham Aswaja," tegasnya disambut riuh tepuk tangan seisi ruangan.

Hadir dalam kesempatan itu: Sekretaris Lembaga Semi Otonom (LSO) Pengembangan Kaderisasi Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur (Mohammad Abror), pengurus-pengurus PC PMII Pamekasan, Saiful Yadi selaku Ketua Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) sekaligus Ketua Komisariat pertama PMII STAI-MU, serta senioritas lainnya. Tampak juga Ketua Komisariat dan Ketua Rayon dari seluruh Pamekasan.

Selain itu, sebanyak 30 orang calon anggota baru tercatat sebagai peserta pada agenda yang akan berlangsung sampai Ahad (10/02/19) mendatang ini. (ahn/dur)
Share:

Mengaku "Kontrol Sosial", Oknum Tanyakan Aset Negara di PCNU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ketua PCNU Pamekasan, KH. Taufik Hasyim, Rabu (06/02/19), menerima telepon dari seorang yang mengatasnamakan diri Kontrol Sosial. Dalam pembicaraan, penelepon itu mengatakan ingin mengkonfirmasi aset negara yang masuk atau yang ada di Kantor PCNU Pamekasan.

"Saya jawab, bahwa NU adalah Ormas (Organisasi Kemasyarakatan. Red.), dananya dari swadaya. Sekalipun ada dari negara, itu pertanggungjawabannya resmi kepada negara, bukan perorangan," tegas Kiai Taufik, seperti dikutip laman resmi PCNU Pamekasan, pcnu-pamekasan.or.id, Kamis (07/02/2019).

Tidak hanya sekali ini saja, Kiai Taufik mengatakan, PCNU Pamekasan berkali-kali menerima telepon dan tamu, mulai dari mengaku LSM sampai Kontrol Sosial. 

Kantor PCNU Pamekasan, tegas Kiai Taufik, terbuka kepada siapa saja. Siapa saja yang datang dengan tujuan baik, maka akan disambut dengan baik. Namun, jika datang dengan tujuan dan bahasa yang tidak baik, serta berani macam-macam kepada NU, Kiai Taufik mengaku tidak pernah takut dan siap melawan.

Mantan aktivis PMII Kediri ini berharap, para Kiai yang ada di struktural PCNU Pamekasan tetap semangat dan ikhlas mengabdikan diri kepada umat melalui jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Semua pengurus NU Pamekasan, lanjut Kiai Taufik, murni mengabdi, tidak ada satupun yang menerima gaji. Setiap kegitan NU, pengurus turun langsung ke ranting-ranting NU yang ada di pelosok desa menggunakan uang pribadi.

"Semoga para Kiai ini tetap giat dan tabah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya," pungkas pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan ini. (bor/ahn)
Share:

Mahfud MD Ajak Masyarakat Cerdas Memilih Calon Pemimpin

Pamekasan — Pasti Aswaja — Tanggal 17 April mendatang akan menjadi penentu perjalanan Republik ini selama lima tahun ke depan. Pasalnya, pada tanggal tersebut seluruh masyarakat Indonesia yang memenuhi syarat akan memilih Calon Legislatif (Caleg) dan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres).

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Kamis (20/09/18) yang lalu sudah menetapkan nama-nama Caleg dan pasangan Capres-Cawapres yang akan mengikuti kontestasi dalam Pesta Demokrasi lima tahunan ini. Selain itu, melalui surat Nomor 23 Tahun 2018 KPU juga menetapkan masa kampanye mulai tanggal 23 September 2018 sampai 13 April 2019.

Rentang waktu tersebut tidak dibiarkan berlalu begitu saja oleh para calon. Mereka mengampanyekan visi-visi dan program-program unggulan yang akan dilaksanakan lima tahun ke depan.

Menurut Mahfud MD, visi-visi yang disampaikan para Caleg dan calon pemimpin lainnya semuanya mulia, karena tidak ada di antara mereka yang menginginkan Republik ini hancur atau mencelakakan rakyat. Maka dari itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK RI) ini mengajak masyarakat supaya cermat memilih.

Menurut pria kelahiran Sampang, Madura ini, memilih calon pemimpin tidak cukul percaya pada narasi visi-visi yang disampaikan, masyarakat harus melijat rekam jejak calon pemimpin yang akan mewakilinya.

Ajakan itu, disampaikan oleh Mahfud melalui akun Twitter pribadinya, @mohmahfudmd, Kamis pagi (07/02/19).

Sampai berita ini diturunkan, kicauan Mneteri Pertahanan era Gus Dur ini sudaj ditwit ulang sebanyak 2.858 kali, 772 komentar dan 6.680 suka. (bor/ahn)
Share:

LP Ma'arif dan Kemendikbud Sepakat Tarik Buku yang Sebut NU Radikal

Jakarta — Pasti Aswaja — Lembaga Pendidikan Ma’arif (LP Ma’arif) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (06/02/19), mendatangi Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, guna membahas buku panduan SD/MI yang menyebutkan NU sebagai organisasi radikal yang menimbulkan polemik di masyarakat.

Pertemuan antar kedua pihak itu menghasilkan tiga kesepakatan: 1) buku yang sudah terbit sejak 2014 tersebut akan ditarik dari peredaran dan dihentikan pencetakannya; 2) materi buku tersebut direvisi, 3) dilakukan mitigasi guna mencegah penulisan buku yang tidak sesuai fakta dan mendiskreditkan NU.

Kesepakatan hasil pertemuan itu disampaikan oleh Wakil Ketua PBNU, Robikin Emhas, melalui akun Twitter pribadinya, @robikinemhas, Rabu sore (06/02/19).

Dikutip Pasti Aswaja dari laman NU Online, Arifin Junaidi selaku Ketua LP Ma'arif PBNU menilai, kategorisasi NU sebagai organisasi radikal sebagaimana PKI, berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Padahal, sambungnya, pelajaran sejarah seharusnya bisa menumbuhsuburkan nasionalisme.

Selain Arifin, pertemuan tersebut diikuti H. Masduki Baedowi (Wakil Sekjen PBNU) bersama sejumlah pengurus LP Ma’arif PBNU. Sementara dari pihak Kemendikbud diikuti Didik Suhardi selaku Sekjen Kemendikbud dan sejumlah pejabat Kemendikbud yang lain. (ahn/mad)
Share:

Wednesday, February 6, 2019

IPNU Minta Kemendikbud Tarik Buku Panduan SD yang Sebut NU Radikal

Jakarta — Pasti Aswaja — Aswandi selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menarik persebaran buku panduan pelajar kelas V SD/MI yang menyebutkan NU sebagai organisasi radikal dan setara Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca juga: Mendikbud Akan Perbaiki Buku yang Sebut NU Ormas Radikal

Dikutip Pasti Aswaja dari laman NU Online, Rabu (06/02/19), Aswandi menilai penyebaran buku tersebut berpotensi menanamkan pandangan negatif terhadap NU sebagai organisasi yang selama ini konsisten menjunjung moderatisme.

Aswandi khawatir, labelisasi radikal pada gerakan NU pada buku berjudul Peristiwa dalam Kehidupan yang diterbitkan Kemendikbud itu akan memunculkan ambiguitas dan ketidakpercayaan pelajar kepada NU.

Oleh karena itu, pihaknya meminta Kemendikbud menarik persebaran buku tersebut karena potensi negatif yang bisa muncul. Sebab, istilah radikal ini menimbulkan banyak interpretasi. Makna kata radikal, kata Aswandi, mulai bergeser semenjak kasus-kasus terorisme kategorisasikan sebagai tindakan radikalisme. Artinya, istilah ini mengalami peyorasi (merendahkan). Padahal, lanjut Aswandi, kata tersebut mulanya bersifat positif.

Aswandi menjelaskan, arti radikal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) setidaknya memiliki tiga arti: secara mendasar, amat keras menuntut perubahan, dan maju dalam berpikir dan bertindak.

Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi siswa, IPNU meminta agar Kemendikbud dapat mengkaji atau menguji lebih dulu isi buku tersebut. (ahn/mad)
Share:

Mendikbud Akan Perbaiki Buku yang Sebut NU Ormas Radikal

Pamekasan — Pasti Aswaja — Dua hari terakhir, jagad maya dihebohkan oleh unggahan @amrudinnejad_, Senin (04/02/19). Unggahan itu berisi gambar buku panduan bagi pelajar kelas V SD/MI berjudul Peristiwa dalam Kehidupan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI).

Pada halaman 45, salah satu sub pembahasan dalam buku tersebut berjudul Masa Awal Radikal (Tahun 1920-1927-an) yang mengategorisasikan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kelompok radikal dan disetarakan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) serta organisasi lainnya.

Sontak saja, buku tersebut mendapatkan kritik keras warga NU. Salah satunya pemilik akun @qitmr. Akun ini mempertanyakan peristiwa yang telah dilakukan NU sehingga dikategorikan Ormas radikal.

"Coba itu periode 1926 (lahirnya NU) sampai 1927 yang dibuku disebut “masa radikal”, peristiwa sejarah apa yang dilakukan NU? Sholawatan, tahlilan dianggap radikal? Kalo iya fix ni yang bikin buku pasti curut khilafah," tulisnya ditambahi cc kepada akun @noeruzzaman, @mantriss dan @syaltout.

Menanggapi kehebohan tersebut, Muhajir Efendi selaku Menteri Penddidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengaku akan memperbaiki konten buku tersebut.

"Akan segera diperbaiki, Saya sudah minta Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, untuk berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berkeberatan bagaimana baiknya," ujar Muhajir seperti dikutip TIMES Indonesia, Selasa (5/2/19).

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjelaskan, banyak yang menghubungi dirinya melalui WA mempertanyakan isi buku tersebut. Muhajir mengaku buku tersebut sudah beredar sejak tahun 2014 dan mengalami dua kali revisi. Revisi terakhir, ia menandatangani dengan menambahkan muatan informatika. (ahn/uki)
Share:

Kenapa Harus Mempertahankan NKRI?

Mempertahankan NKRI sejatinya mempertahankan eksistensi Islam. (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah: 94) Sebab, dalam konteks ke-Indonesia-an, agama bisa tegak bila masyarakat bersatu damai. Tidak mungkin bersatu damai tanpa memegang teguh prinsip dasar negara yang telah disepakati seluruh warga Indonesia dengan segala kemajemukannya.

Mempertahankan NKRI—yang merupakan bagian dari empat pilar bangsa: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI—adalah menifestasi siyasah syar'iyyah yang paling efektif untuk mengakomodir kemaslahatan hidup beragama, berbangsa dan bernegara di bumi Nusantara dengan segala keberagamannya, (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, al-Thuruq al-Hukmiyah fi al-Siyasah al-Syar'iyyah, al-Maktabat al-Syamilah: 13-14) yang di antaranya dengan pertimbangan sebagai berikut:
  1. Menghindari sikap pengkhianatan konsensus bangsa, dimana konsensus tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam;
  2. Menghindari pertikaian antarpemeluk agama, karena secara faktual tidak mungkin menjadikan warga Indonesia menganut satu agama;
  3. Menghindari terjadinya perang saudara akibat perebutan kekuasaan yang dilakukan secara inkonstitusional;
  4. Menghindari terjadinya disintegrasi bangsa. (Habib Zaid bin Ibrahim bin Yahya, Makalah Konferensi Ulama Sedunia di Pekalongan: 2)
Dalam konteks ini ulama NU lintas generasi konsisten meneguhkan sikapnya atas eksistensi NKRI, sebagaimana berikut:
  1. Merujuk Resolusi Jihad 22 Oktoner 1945, mempertahankan dan menegakkan NKRI menurut hukum agama Islam adalah wajib, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tial muslim jihad fi sabilillah; (Arif Hanafi A.H, Narasi Resolusi Jihad: 7-9)
  2. NKRI merupakan upaya final dari perjuangan seluruh penduduk Indonesia—termasuk umat Islam di dalamnya—dalam mendirikan bangsa; (Choirul Anam, Pemikiran K.H. Ahmad Siddiq Tentang: Aqidah, Syari'ah dan Tasawuf, Khitthah NU 1926, Hubungan Agama dan Pancasila, Negara Kesatuan RI Bentuk Final, Watak Sosial Ahlussunnaj, Seni dan Agama: 71)
  3. NKRI adalah negara yang sah menurut hukum Islam, yang menjadi wadah berkiprah melaksanakan dakwah yang akomodatif dan selektif, serta bertakwa sesempurna mungkin, tidak usah mencari atau membuat negara yang baru; (Choirul Anam: ix)
  4. NU mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, baik dahulu, sekarang, maupun masa mendatang, sesuai Keputusan Muktamar ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, 1 Rajab 1415 H./4 Desember 1994 M.; (Keputusan Muktamar NU No. 02/MNU-29/1994)
Dalam Islam, menjaga persatuan bangsa merupakan perwujudan dari menjaga nikmat aman yang diberikan Allah untuk bangsa Indonesia, sebagaimana firman Allah SWT.:
وإذْ قال إبْراهِيْمُ ربِّ اجْعلْ هذا بلداً آمنًا وارْزُقْ أهْلهُ مِن الثَّمراتِ منْ آمن مِنْهُمْ بالله والْيوْمِ الآخِرِ قال ومنْ كفر فأُمتِّعُهُ قلِيْلًا ثُمَّ أضْطُرَّهُ إلَى عذابٍ النَّارِ وبِئْس الْمصِيْر. (البقرة: ١٢٦)

"Dan (ingatlah), ketika Inrahom berdoa: 'Ya Tuhanku, Jadikanlaj negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.' Allah berfirman: 'Dan kepada orang kafirpun aku neri kesenangan sementata, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulaj seburuk-buruk tempat kembali'." (QS. al-Baqarah: 126)

Demikiam, Nabi Ibrahim AS. terlebih dahulu memintakan kedamaiam negeri baginya sebelum meminta nikmat-nikmat lainnya. Menurut penafsiran al-Imam Fakhruddin al-Razi hal itu menunjukkamn, kedamaian merupakan nikmat Allah yang paling besar dan kemaslahatan dunia akhirat tidak dapat tercapai tanpanya. (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, XIX: 107)

Syaikh Adnan al-Afyuni, Mufti Syahi'iyyah Damaskus, Syiria menegaskan:
"Ketika orang melihat negaranya porak-poranda mengalami kehancuran, menjadi rebutan kuasa-kuasa asing, hingga menjadi medan perang yang sengit dan tidak ada yang tersisa, maka ia akan mengetahui betapa pentingnya nilai eksistensi negara. Di saat orang melihat tanah airnya berwarna merah berlumuran darah, seluruh penjuru negara menjadi sarang burung gagam kematian dan kehancuran, maka ia akan mengetahui betapa pentingnya nilai eksistensi negara. Tatkala sesorang melihat saudara-saidara sebangsanya berlarian tercerai-berai di berbagai belahan dunia, mencari-cari makanan dengan penuh kehinaan, tidak beralaskan ketidakberdayaan dan sehari-hari mengunyah kepahitan serta menahan kesabaran, maka ia akan memahami dan menyadari bagaimana nilai pentingnya eksistensi negara. Di saat orang sudah tidak dapat lagi mendengarkan tawa ceria anak-anak dan kicauan indah burung-burung di negaranya, yang ia dengar hanya suara desingan tank dan peluru, maka ia akan memahami secara baik bagaimana nilai eksistensi negara. Tatkala orang kehilangan asa dan harap, hampa kehilangan semangat cita masa depan dan lenyap segala kebahagiaan, maka ia akan memahami dengan penub keinsafan bagaimana pentingnya eksistensi negara. (Adnan al-Afyuni, al Difa' al-Wathan: 1)

Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive