Friday, February 1, 2019

Etika Dakwah

Etika Dakwah

Baca Juga

Realitas di lapangan mengajarkan kita bahwa metode (dakwah. Penj.) yang kasar akan bisa merusak isi yang sebenarnya baik. Oleh karena itu, tersebut dalam atsar, “barang siapa memerintahkan kebaikan, hendaklah memerintahkannya dengan cara yang baik pula.”

Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya' ‘Ulum Al-Din bab al-Amar bi al-Ma'ruf wa al-Nahiyu 'an al-Munkar: “tidak ada orang yang bisa memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah kemunkaran kecuali orang yang lemah-lembut terhadap apa yang dia perintahkan dan lemah-lembut terhadap apa yang dia cegah, penyantun terhadap apa yang dia perintahkan dan penyantun terhadap apa yang dia cegah, mengerti terhadap apa yang dia perintahkan dan mengerti terhadap apa yang dia cegah.”

Di antara kisah yang diceritakan Al-Ghazali dalam kitabnya adalah sebagai berikut:

“Ada seorang laki-laki masuk ke rumah Khalifah Al-Makmun untuk memerintahkan kebajikan kepadanya dan mencegahnya berbuat munkar. Maka orang itu kemudian berkata kasar kepada Khalifah dan keras dalam mengungkapkan sesuatu, dan tidak memperhatikan bahwa setiap kondisi itu ada ungkapan tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut. Sedang Al-Makmun adalah orang yang memahami ‘Fiqih Dakwah', maka beliau berkata kepada laki-laki tersebut: ‘hai saudaraku, bersikaplah lemah lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik dari pada kamu kepada orang yang lebih buruk dari pada aku, namun Allah memerintahkan utusanNya itu untuk bersikap lemah-lembut. Allah telah mengutus Musa dan Harun —dimana keduanya lebih baik dari pada kamu— kepada Fir'aun, yang dia lebih buruk dari pada aku. Allah memberi wasiat kepada Musa dan Harun dengan firmanNya: ‘pergilah kamu berdua kepada Fir'aun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian kepadanya dengan kata-kata yang lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.' (QS. Thaha:43-44). Dengan demikian, maka Al-Makmun dapat mematahkan sikap kasar laki-laki tersebut sehingga dia tidak mampu lagi menjawab.

Di antara sesuatu yang diajarkan Allah kepada Musa adalah agar dakwahnya kepada Fir'aun dilakukan dengan lemah-lembut. Allah mengisahkan kata-kata Musa kepada Fir'an dalan firmanNya: ‘dan katakanlah (kepada Fir'aun), ‘adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan kamu akan aku tunjukkan ke jalan Rabb-mu supaya kamu takut kepadaNya.' (QS. Al-Naziat: 18-19).

Seseorang yang mempelajari dialog antara Musa dan Fir'aun di dalam Al-Quran, niscaya akan mendapatkan dan memahami wasiat Allah kepada Musa, dan bagaimana ia melaksanakannya dengan teliti, meskipun Fir'aun adalah penguasa yang diktator, sombong dan semena-mena, sebagaimana di jelaskan dalam Surat Al-Syu'ara."
Diterjemahkan dari:
Jum'ah Amîn 'Abd al-'Azîz, al-Da'wah: Qawaid wa Ushûl (Alexandria: 1419 H.), 130-131.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive