Wednesday, February 6, 2019

Kenapa Harus Mempertahankan NKRI?

Kenapa Harus Mempertahankan NKRI?

Baca Juga

Mempertahankan NKRI sejatinya mempertahankan eksistensi Islam. (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah: 94) Sebab, dalam konteks ke-Indonesia-an, agama bisa tegak bila masyarakat bersatu damai. Tidak mungkin bersatu damai tanpa memegang teguh prinsip dasar negara yang telah disepakati seluruh warga Indonesia dengan segala kemajemukannya.

Mempertahankan NKRI—yang merupakan bagian dari empat pilar bangsa: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI—adalah menifestasi siyasah syar'iyyah yang paling efektif untuk mengakomodir kemaslahatan hidup beragama, berbangsa dan bernegara di bumi Nusantara dengan segala keberagamannya, (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, al-Thuruq al-Hukmiyah fi al-Siyasah al-Syar'iyyah, al-Maktabat al-Syamilah: 13-14) yang di antaranya dengan pertimbangan sebagai berikut:
  1. Menghindari sikap pengkhianatan konsensus bangsa, dimana konsensus tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam;
  2. Menghindari pertikaian antarpemeluk agama, karena secara faktual tidak mungkin menjadikan warga Indonesia menganut satu agama;
  3. Menghindari terjadinya perang saudara akibat perebutan kekuasaan yang dilakukan secara inkonstitusional;
  4. Menghindari terjadinya disintegrasi bangsa. (Habib Zaid bin Ibrahim bin Yahya, Makalah Konferensi Ulama Sedunia di Pekalongan: 2)
Dalam konteks ini ulama NU lintas generasi konsisten meneguhkan sikapnya atas eksistensi NKRI, sebagaimana berikut:
  1. Merujuk Resolusi Jihad 22 Oktoner 1945, mempertahankan dan menegakkan NKRI menurut hukum agama Islam adalah wajib, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tial muslim jihad fi sabilillah; (Arif Hanafi A.H, Narasi Resolusi Jihad: 7-9)
  2. NKRI merupakan upaya final dari perjuangan seluruh penduduk Indonesia—termasuk umat Islam di dalamnya—dalam mendirikan bangsa; (Choirul Anam, Pemikiran K.H. Ahmad Siddiq Tentang: Aqidah, Syari'ah dan Tasawuf, Khitthah NU 1926, Hubungan Agama dan Pancasila, Negara Kesatuan RI Bentuk Final, Watak Sosial Ahlussunnaj, Seni dan Agama: 71)
  3. NKRI adalah negara yang sah menurut hukum Islam, yang menjadi wadah berkiprah melaksanakan dakwah yang akomodatif dan selektif, serta bertakwa sesempurna mungkin, tidak usah mencari atau membuat negara yang baru; (Choirul Anam: ix)
  4. NU mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, baik dahulu, sekarang, maupun masa mendatang, sesuai Keputusan Muktamar ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, 1 Rajab 1415 H./4 Desember 1994 M.; (Keputusan Muktamar NU No. 02/MNU-29/1994)
Dalam Islam, menjaga persatuan bangsa merupakan perwujudan dari menjaga nikmat aman yang diberikan Allah untuk bangsa Indonesia, sebagaimana firman Allah SWT.:
وإذْ قال إبْراهِيْمُ ربِّ اجْعلْ هذا بلداً آمنًا وارْزُقْ أهْلهُ مِن الثَّمراتِ منْ آمن مِنْهُمْ بالله والْيوْمِ الآخِرِ قال ومنْ كفر فأُمتِّعُهُ قلِيْلًا ثُمَّ أضْطُرَّهُ إلَى عذابٍ النَّارِ وبِئْس الْمصِيْر. (البقرة: ١٢٦)

"Dan (ingatlah), ketika Inrahom berdoa: 'Ya Tuhanku, Jadikanlaj negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.' Allah berfirman: 'Dan kepada orang kafirpun aku neri kesenangan sementata, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulaj seburuk-buruk tempat kembali'." (QS. al-Baqarah: 126)

Demikiam, Nabi Ibrahim AS. terlebih dahulu memintakan kedamaiam negeri baginya sebelum meminta nikmat-nikmat lainnya. Menurut penafsiran al-Imam Fakhruddin al-Razi hal itu menunjukkamn, kedamaian merupakan nikmat Allah yang paling besar dan kemaslahatan dunia akhirat tidak dapat tercapai tanpanya. (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, XIX: 107)

Syaikh Adnan al-Afyuni, Mufti Syahi'iyyah Damaskus, Syiria menegaskan:
"Ketika orang melihat negaranya porak-poranda mengalami kehancuran, menjadi rebutan kuasa-kuasa asing, hingga menjadi medan perang yang sengit dan tidak ada yang tersisa, maka ia akan mengetahui betapa pentingnya nilai eksistensi negara. Di saat orang melihat tanah airnya berwarna merah berlumuran darah, seluruh penjuru negara menjadi sarang burung gagam kematian dan kehancuran, maka ia akan mengetahui betapa pentingnya nilai eksistensi negara. Tatkala sesorang melihat saudara-saidara sebangsanya berlarian tercerai-berai di berbagai belahan dunia, mencari-cari makanan dengan penuh kehinaan, tidak beralaskan ketidakberdayaan dan sehari-hari mengunyah kepahitan serta menahan kesabaran, maka ia akan memahami dan menyadari bagaimana nilai pentingnya eksistensi negara. Di saat orang sudah tidak dapat lagi mendengarkan tawa ceria anak-anak dan kicauan indah burung-burung di negaranya, yang ia dengar hanya suara desingan tank dan peluru, maka ia akan memahami secara baik bagaimana nilai eksistensi negara. Tatkala orang kehilangan asa dan harap, hampa kehilangan semangat cita masa depan dan lenyap segala kebahagiaan, maka ia akan memahami dengan penub keinsafan bagaimana pentingnya eksistensi negara. (Adnan al-Afyuni, al Difa' al-Wathan: 1)

Disadur dari:
Tim Bahtsul Masail HIMASAL. Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan (Kediri: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL, 2018).
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive