Monday, March 25, 2019

Ainul Yaqin Serukan Seniman Pasuruan Harus Berkarakter

Ainul Yaqin Serukan Seniman Pasuruan Harus Berkarakter

Baca Juga

Pasuruan — Pasti Aswaja — Perjumpaan diskursif antara seni dan politik harusnya kembali digalakkan. Sebagaimana dalam sejarah, polemik kebudayaan telah memberi sumbangsih yang penting bagi kemajuan pemikiran kebudayaan dan karya cipta seni.

Pernyataan ini disampaikan Ainul Yaqin, pengamat budaya yang juga dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, saat menjadi pembicara pada acara Kongkow Budaya yamg dilaksanakan Forum Seni Pasuruan Pinggiran, Ahad malam (24/03/19) di Cafe Pawon Punakawan, Jl. Ki Hajar Dewantara, Tembok Rejo, Kota Pasuruan. 

Seni dan politik, menurutnya, tidak semestinya terus dibiarkan berkubang dalam relasi traumatik yang berkepanjangan. Seni dan politik sudah sepantasnya kembali dipertemukan guna mewujudkan apa yang diimpikan oleh filsuf fenomenologi Martin Heidegger, politik dan kesenian merupakan bagian tatanan hidup.

Mantan Ketua Presidium Forum  Kumunikasi  Teater Kampus Jendela Jawa Timur ini juga memaparkan tentang perkembangan seni dan media sosial yang berkembang pesat, yang menurut penilaiannya hampir tidak ada lagi batas ruang dan waktu dalam proses dan berkarya, Seni,  politik dan media menjadi Instrumen tersendiri di dalam kelasnya, kadang susah dieja. 

Menurut mantan aktivis Sekolah  Rakyat (SR) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Pasuruan ini, kebudayaan yang berlangsung sepanjang sejarah bangsa Indonesia selalu membicarakan satu tema pokok, yaitu hubungan antara seni dan politik yang fluktuatif.

"Seni dalam konteks bagaimana peran yang mestinya diambil oleh seni untuk membangun bangsa serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Jangan sebaliknya,  menjadi begundal politik atau malah memarginalkan peran sebagai kontrol sosial," tegas Ainul.

Kebudayaan yang berlangsung sepanjang sejarah di Indonesia, lanjut Ainul, melegitimasi teori Hans Kelsen, politik merupakan etik dan teknik. Etik berkenaan dengan tujuan manusia agar tetap hidup secara sempurna, sedangkan eknik berkenaan dengan cara manusia dalam mencapai sebuah tujuan.

"Sebagai pelaku seni minimal juga harus turut membaca dan mengamati kondisi sosial, dengan harapan nantinya memberikan konstribusi  positif melalui proses karya seni," terang Ainul menambahkan.

Mantan Aktivis PMII Surabaya ini juga menyampaikan sikap yang harus dilakukan oleh para pelaku seni dan teater melihat situasi negara saat ini. Kontribusi yang akan diberikan kepada masyarakat, ijtihad nurani bagaimana  yang diharapkan bisa menjembatani etika dan estetika antara seni dan Politik.

Puluhan pegiat kesenian dan teater menggelar kongkow budaya bersama Ainul Yaqin. Hadir pada malam tersebut  beberapa komunitas teater, di antaranya Kabel Teater, Teater Kala Probolinggo, Teater Semar, Teater Manunggal, Teater Izza dan Komunitas Budaya Godong eRI serta Teater Pelajar ex Drim's Pasuruan.

Asep selaku ketua panitia penyelenggara mengatakan, sengaja menyelenggarakan kegiatan tersebut guna menampung kegelisahan-kegelisahan para seniman dan budayawan Pasuruan, serta kebutuhan mengkaji tentang seni dan politik sebagai dialektika. 

"Belakangan ini situasi politik kian hangat, kami rasa sebagai pegiat dan pekerja seni budaya harus ikut andil dalam memberikan warna didalamnya. Peran kita harus jelas sebagai apa dan dimana," ucapnya. (san/ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive