Saturday, March 23, 2019

Follow Up lll MAPABA, PMII STAI-MU Bahas Keislaman dan Kebangsaan

Follow Up lll MAPABA, PMII STAI-MU Bahas Keislaman dan Kebangsaan

Baca Juga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan menggelar Follow Up ke III yang dikemas dengan diskusi bertema "PMII dan Kebangsaan" Sabtu (23/03/19) di Sekretariat PMII STAI-MU Jl. Raya Palengaan, Kacok, Palengaan Pamekasan.

Syaifullah Yusuf sebagai pembicara menjelaskan, keislaman dan kebangsaan ini tidak bisa dipisahkan, seperti ibu dan bapak. Meski demikian, ada organisasi kemasyarakatan yang memisahkan antara keislaman dan kebangsaan.

"Contoh konkret Islam dan kebangsaan yang tidak menyatu yaitu organisasi masyarakat yang anti pada Pancasila, Bhenika Tunggal Ika dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia. Red.). Nah, itulah yang hanya bisa memahami pada keislaman tapi tidak memahami terhadap kebangsaan," kata mantan President Mahhasiswa STAI-MU priode 2014-2015 itu.

Pemuda yang akrab disapa Kak Ipunk oleh kader PMII STAI-MU ini menjelaskan, PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) harus bisa menunjukkan antara kebangsaan dan keislaman sebagai satu kesatuan. PMII juga harus bisa menginternalisasikannya baik dalam ranah kampus, pergerakan dan ranah umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kalau yang mau pada kebangsaan seperti kita ini, 'anak yang lahir dari rahimnya Nahdhatul Ulama (NU. Red.)', hidup ini akan rukun. Maka dari itu, jika ada anak pergerakan yang berada di PMII, tapi masih saling mencaci dan membenci, itu harus dipertanyakan keislaman dan wawasan kebangsaannya," lanjut Ipunk.

Di akhir penjelasanya, Ipunk mengatakan, dalam tubuh keislaman PMII ada tasamuh (toleransi), ta’addul (keadilan) tawazzun (seimbang atau netral), tawassuth (moderat).

"NU mengajarkan kita, khususnya di PMII kemaren di MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru. Red.), Aswaja tidak hanya sebagai mazhab, tapi juga sebagai metodologi berfikir. Kita sebagai mahasiswa harus tahu bagaimana cara berfikir positif sesuai nilai-nilai Aswaja, karena yang diharapkan pendiri NU tidak hanya tersebarnya paham Aswaja, juha untuk mempersatukkan bangsa ini agar tidak terpecah-belah dan tetap menjaga keutuhan NKRI," tandasnya. (ari/ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive