Wednesday, March 6, 2019

Kemenag Tepis Kampanye Hitam Penghapusan Pelajaran Agama

Kemenag Tepis Kampanye Hitam Penghapusan Pelajaran Agama

Baca Juga

Jakarta - Pasti Aswaja - Sejak kemarin, Selasa (05/03/19), masyarakat dihebohkan beredarnya video ibu-ibu yang berkampanye untuk salah satu pasangan Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) tertentu dengan memfitnah pasangan Capres-Cawapres lainnya. Dalam video itu, tampak seorang ibu sedang bertamu ke rumah penduduk dan kemudian duduk di sebuah kursi. Ibu itu mengajak pemilik rumah memilih salah satu Capres-Cawapres. 

Ibu yang mengenakan rok terusan hitam berukiran dua sabit dan kapas di tengahnya itu mengatakan, jika lawan calon yang didukungnya menang, kurikulum pelajaran agama akan di hapus, pesantren-pesantren juga akan diganti menjadi sekolah umum.

Menanggapi hal itu, Kamaruddin Amin selaku Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) yang membidangi pendidikan agama dan keagamaan menepis kampanye hitam tersebut. Ia menegaskan, tidak mungkin pendidikan agama dihapus dalam kurikulum sekolah, apalagi madrasah.

Melalui siaran persnya, Selasa (05/03/19), Kamaruddin mengatakan, Inggris yang merupakan negara sekuler dan sejumlah negara di Eropa Barat, pelajaran agama menjadi salah satu mata pelajaran wajib di sekolah, tidak hanya sekolah yang diselenggarakan gereja (faith based schools), tapi juga sekolah yang diselenggarakan pemerintah (public schools). Apalagi di Indonesia, negara bangsa yang dikenal sangat religious. Kamaruddin menilai, mustahil pelajaran agama dianggap tidak penting dan akan dihilangkan.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu menambahkan, empat tahun terakhir, Dirjen Pendis terus berupaya meningkatkan akses serta mutu pendidikan agama dan keagamaan melalui program-program afirmatif yang dilakukan.

Sebagai contoh, keberadaan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) yang merupakan madrasah unggulan. Madrasah ini terus dikembangkan hingga jumlahnya semakin banyak dan tersebar di berbagai provinsi.

Tidak hanya itu, pesantren salafiyah dan Ma'had Aly (perguruan tinggi di pesantren) juga direkognisi dalam bentuk mua’dalah (penyetaraan). Pemerintah juga sedang menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren yang bertujuan memberikan afirmasi dan rekognisi, bahkan fasilitasi pada tradisi dan kekhasan keilmuan di pesantren.

Lebih lanjut, Doktor lulusan Universitas Bonn, Jerman itu menambahkan, sarana dan prasarana Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) maju pesat. Sebanyak 58 PTKIN sudah memiliki gedung perkuliahan baru.

Intinya, menurut Kamaruddin, penguatan pendidikan agama dan keagamaan telah banyak dilakukan Kemenag baik fisik maupun aspek pengembangan SDM (beasiswa), kurikulum, dan penguatan proses belajar mengajar.

Ia justru optimis pendidikan agama di Indonesia ke depan akan semakin kuat dan berkualitas. (mad/uki)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive