Sunday, March 3, 2019

Pemuda Muhammadiyah Sepakat Tak Sebut Kafir Non Muslim Indonesia

Pemuda Muhammadiyah Sepakat Tak Sebut Kafir Non Muslim Indonesia

Baca Juga

Pasti Aswaja — Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan hasil Komisi Bahtsul Masail Mudlu'iyyah dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Jawa Barat. Komisi ini menyepakati, non muslim di Indonesia tidak dipanghil kafir tapi muwaththin atau warga negara biasa.

Sudah banyak klarifikasi disampaikan tokoh-tokoh NU yang menyatakan, keputusan itu bukan berarti menafikan istilah kafir dalam Al-Qur'an. Secara i'tiqad, non muslim tetap kafir, tapi dalam konteks sosial kehidupan berbangsa dan bernegara, non muslim Indonesia tidak elok dipanggil kafir. Muslim dan non muslim di negara ini memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum, karena Indonesia negara hukum, bukan negara Islam.

Meski demikian, keputusan tersebut oleh sebagian kelompok dinilai menyalahi Al-Qur'an, karena dalam Al-Qur'an sendiri terdapat istilah kafir.

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto, setuju dengan keputusan Munas tersebut. Bahkan ia sepakat melarang perilaku mengafirkan orang lain karena perbedaan keyakinan. Asal sikap tersebut, menurut pemuda yang akrab disapa.Cak Nanto ini, tidak dilembagakan.

Dikutip Pasti Aswaja dari laman Tirto, Cak Nanto menilai, hal tersebut urusan kultur dan nilai. Semakin dibirokrasikan, kelompok yang gemar mengafirkan kelompok lain akan semakin mengeras, dan bisa saja dianggap pertarungan.

Menurut pemuda asal Madura, Jawa Timur ini, organisasi-organisasi semacam Muhammadiyah dan NU hanya perlu melakukan dialog dengan kelompok-kelompok yang masih gemar mengafirkan yang lain.

"Saya kira itu jalan terbaik yang harus dilakukan," tuturnya, seperti dikutip tirto.id, Jumat 01/03/19).

Tentang istilah kafir, dalam Islam memang ada pembahasannya. Pada dasarnya, siapa saja yang tidak menerapkan laku hidup sesuai ajaran Islam, ia sudah termasuk kategori kafir. Hal ini, memurut Cak Nanto, juga berlaku di agama lain.

Persoalan keyakinan seseorang, lanjut Cak Nanto, berkenaan dengan hidayah yang diberikan Tuhan. Tinggal bagaimana semua penganut agama, khususnya Islam saling memahami perbedaan yang ada saja.

Menurutnya, sesama pemeluk agama tidak boleh menyudutkan keyakinan orang yang sudah memiliki keyakinan sendiri. Perlu dipahami saja perbedaannya, tak perlu justifikasi bahwa kelompok lain kafir. Apalagi sampai berlebihan dan diutarakan di depan umum. Itu yang perlu ditahan. (mad/ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive