Monday, March 4, 2019

Penjelasan KH. Afifuddin Muhajir Tentang Keputusan Munas NU

Penjelasan KH. Afifuddin Muhajir Tentang Keputusan Munas NU

Baca Juga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Keputusan Komisi Bahtsul Masail Maudlu'iyah dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Jawa Barat beberapa hari lalu tentang status non muslim di Indonesia banyak menuai komentar.

Berkenaan hal itu, KH. Afifuddin Muhajir, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, selaku bagian tim perumus dalam bahtsul masail tersebut angkat bicara menjelaskan keputusan Munas melalui sebuah video yang diunggah channel YouTube Ma'had Aly, Sukorejo, Situbondo, Sabtu (02/03/19).

"Perlu diketahui bahwa bahtsul masail Munas di situ tidak membahas tentang apakah non muslim yang ada di Indonesia ini kafir apa bukan. Akan tetapi yang dibahas adalah kategori mereka. Apakah mereka itu harbi, apa mu'ahad, apa musta'man, apakah dzimmi. Jawabannya, mereka itu bukan harbi, bukan mu'ahad, bukan musta'man, dan bukan dzimmi. Karena, memang definisi-definisi tersebut tidak bisa diterapkan kepada non muslim yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, sebut saja mereka non muslim," papar penulis buku Fiqh Tata Negara tersebut.

Lebih lanjut, dalam video berdurasi 04:02 itu, Kiai Afifuddin menyatakan, harus dibedakan antara keyakinan dan pernyataan. Karena menurutnya, hal yang boleh, bahkan wajib menjadi keyakinan belum tentu bisa dinyatakan.

"Misalnya suatu kelompok yang oleh Al-Qur'an dinyatakan sebagai kafir, kita wajib meyakini mereka kafir. Akan tetapi mengatakan 'kamu kafir', 'dia kafir', 'mereka kafir', itu bisa menciptakan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat plural yang sudah damai dan sudah diusahakan dan diciptakan dengan susah payah oleh pendahulu-pendahulu kita," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Kiai Afifuddin, perlu dicari kalimat-kalimat yang lebih santun, misalnya menggunakan istilah non muslim. Hal ini, lanjutnya, tanpa harus mengubah istilah kafir yang digunakan dalam Al-Qur'an.

Mengutip kitab mazhab Hanafi bernama Al-Kinyah, Kiai Afifuddin menegaskan, jika misalnya seorang muslim berkata kepada penganut agama Yahudi atau agama Majusi "Wahai si kafir", maka muslim tersebut berdosa dan berhak dihukm atau mendapat ta'zir apa bila ungkapan ini membuat penganut agama tersebut sakit hati.

Berkenaan berita tentang keputusan Munas yang sudah menjadi bola liar, Kiai Afifuddin mengajak masyarakat, khususnya kaum santri, mengklarifikasi terlebih dahulu berita yang diterimanya dari berbagai media.

"Perlu diketahui, bahwa persoalan serumit ini tidak mungkin dipahami oleh orang yang pengetahuan agamanya rendah; orang yang ngajinya sudah bertahun-tahun sekalipun barangkali masih sulit untuk memahami persoalan ini. Apa lagi mereka yang tidak pernah ngaji," pungkasnya. (mad/ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive