Tuesday, March 26, 2019

Rais PCNU Pamekasan: 'Hati-Hati Penyebar Ajaran Khilafah'

Rais PCNU Pamekasan: 'Hati-Hati Penyebar Ajaran Khilafah'

Baca Juga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017 tentang Pencabutan Status Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), secara resmi pemerintah membubarkan organisasi politik pan-Islamis yang didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani 65 tahun lalu itu.

Meski demikian, gerakan bawah tanah kelompok ini dalam memperjuangkan berdirinya khilafah tetap berjalan. Di antara strategi mereka ialah menggunakan nama lain yang terkesan tidak memiliki hubungan dengan HTI. Hal ini bertujuan menyamarkan identitas asli mereka dan mengelabui masyarakat.

Kamis (07/03/2019) lalu, sebuah kelompok yang menggunakan diksi "Islam Madura" di belakang namanya menggelar kajian keagamaan di salah satu kafe di kawasan Jl. Kemayoran Pamekasan. Melihat pamflet publikasinya, ditengarai kajian tersebut mengarah pada upaya penegakan khilafah.

"Kelompok kajian eks HTI terbaru. Hati-hati penyebar ajaran khilafah yang sementara bergerak dibawah tanah, karena organisasinya dibubarkan, dan akan bangkit lagi setelah 17 April 2019," kata Rais Syuriah PCNU Pamekasan, KH. Afifuddin Thoha, via WA dengan menyertakan gambar pamflet publikasi kajian tersebut, Selasa (26/03/2019).

Kiai Afif berharap, para masyaikh dan tokoh NU dapat menahan gelombang besar agenda kelompok yang diduga afilian HTI tersebut, guna mengantisipasi terjadinya 'kemungkinan terburuk'.

Tidak hanya itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kadur ini juga menyoroti penggunaan diksi "Islam Madura" pada nama komunitasnya. Hal itu, menurut Kiai Afif, sangat bertentangan dengan propaganda mereka yang menyalahkan istilah "Islam Nusantara" yang sering dikampanyekan NU.

"Mereka bukan tidak faham maksud sebenarnya dari istilah itu yang sebenarnya sangat tidak kontroversial. Yang mereka inginkan sebenarnya: menyerang NU, sehingga timbul stigma terhadap NU, dan itu merata di tengah masyarakat, sampai  dikalangan Nahdliyyin sekalipun, dan itu sudah menampakkan hasilnya," jelasnya.

Kiai Afif menilai, propaganda dalam membangun stigma NU melalui "Islam Nusantara" juga terjadi di Pamekasan. Hal ini, lanjut Kiai Afif, merupakan hasil jerih payah mereka sejak 4-5 tahun yang lalu. Secara agresif mereka menyerang dan memfitnah NU dan tokoh-tokoh kuncinya, sehingga warga Nahdliyyin di kabupaten ini banyak terperangah dan kelimpungan menyikapi kondisi tersebut.

"Kulminasinya: diakuinya 'bendera' mereka sebagai 'bendera bersama milik umat', sehingga semakin memperkuat posisi mereka di tengah umat, dan menemukan momentumnya pada Pilpres ini. Jadilah NU sebagai 'musuh bersama' umat, dan terbentuklah kolaborasi besar dari umat, yang siap menghadang NU. Apa yang terjadi dengan kita?  Dan Bangsa ini tentunya," pungkasnya. (ahn/dur)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive