Sunday, March 3, 2019

Sebuah Retorika Ala NU

Sebuah Retorika Ala NU

Baca Juga

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Sebuah kisah: suatu ketika Akbar–panggilan Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar, Raja muslim India (suami Joda dalam kisah serial: Joda Akbar) dalam sebuah stasiun televisi swasta beberapa bulan atau mungkin tahun yang lalu–bermimpi kehilangan giginya, kecuali satu. Ia pun memanggil semua ahli tafsir mimpi yang terkenal untuk menafsirkan mimpinya. Hampir semua ahli menafsirkan bahwa semua keluarganya akan meninggal terlebih dahulu sebelum dirinya. 

Akbar tidak berkenan dengan jawaban ini. Lalu mengusir mereka semua, kemudian ia bertanya kepada Birbal—seorang penasihat dalam dewan Kaisar Mughal Akbar. Ia memiliki hubungan yang dekat dengan Kaisar, menjadikannya bagian dari kelompok para abdinya; putra ketiga dari sebuah keluarga Brahmin Hindu yang sebelumnya dikaitkan dengan puisi dan sastra. Birbal menjawab: "Sultan akan hidup lebih lama dibandingkan semua keluarganya yang lain."

Akbar pun puas dengan jawaban ini, dan memberi Birbal hadiah. 

Itulah retorika. Meski maknanya sama tentang akhir hayat dari sang Raja, yang satu ditolak dan yang lainnya diterima; yang satu memuaskan dan yang lainnya sebaliknya. Ini hanya soal diksi yang enak dan tidak enak didengar saja sebagaimana kafir dan non-Muslim. 

Sejauh apa sih sebenarnya perbedaan antara kafir dan nonmuslim? Muslim adalah penganut agama Islam, dan non-Muslim bukan penganut agama Islam. Jadi orang yang bukan penganut agama Islam atau non-Muslim disebut kafir. Jadi kafir dan non-Muslim itu adalah sinonim–bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain.

Hidup berwarga negara, sebaiknya kita menghindari perbuatan yang akan melukai orang lain. Kalau kata kafir selama ini cenderung menyakiti saudara sebangsa, apa salahnya kita memilih kata yang lebih baik tanpa menghilangkan substansi. Toh, non-Muslim itu hakikatnya kafir; non-Muslim dalam kepercayaan kita juga tidak masuk surga–berdasarkan kepercayaan umat Islam, kalau itu akhir yang diinginkan. Yang membahayakan itu, ketika menyebut non-Muslim itu sama dengan beriman.

Meski menurut penulis, menggunakan kata non-Muslim juga kurang tepat. Karena istilah non-Muslim itu sudut pandang yang digunakan adalah kacamata umat Islam. Bukankah Kristen itu juga non-Budha dan non-Hindu. Sebaiknya memang disebut warga negara saja. 

Wallahu a'lam! 

Sampang, 03 Maret 2019
*Sekretaris Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indomesia (Lesbumi) PCNU Pamekasan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive