Tuesday, March 19, 2019

Suami Korban Tragedi Masjid Al Noor Maafkan Teroris Pembunuh Istrinya

Suami Korban Tragedi Masjid Al Noor Maafkan Teroris Pembunuh Istrinya

Baca Juga

Christchurch — Pasti Aswaja — Kepergian Husna Ahmad (44) yang terbunuh dalam tindak terorisme di Masjid Al Noor Christchurch, Selandia Baru, menyisakan duka yang sangat mendalam bagi suaminya, Farid Ahmad (59).

Meski demikian, Ahmad mengaku tidak dendam dan tidak memiliki rasa benci kepada teroris pembunuh istrinya. Karena, menurutnya, memafkan, kemurahan hati, cinta dan perhatian merupakan jalan terbaik dalam menjalani kehidupannya di masa depan. Tapi, tidak berarti Ahmad membenarkan apa yang dilakukan teroris Brenton Tarrant.

"Saya akan mengatakan kepadanya 'Saya mencintainya sebagai pribadi', Aku tidak bisa menerima apa yang dia lakukan. Apa yang dia lakukan adalah hal yang salah," kata Farid Ahmad kepada kantor berita AFP seperti dikutip ndtv.com, Ahad siang (17/03/19).

Husna Ahmad merupakan pendidik anak-anak di Masjid Al Noor. Ia menjadi korban pertama di antara dua korban sasaran tembak yang ada di hadapan teroris waktu itu.

Lima puluh orang, setidaknya empat di antara mereka perempuan, terbunuh dalam serangan terhadap jemaah Shalat Jumat di dua masjid di Christchurch.

Ahmad dan istrinya beremigrasi dari Bangladesh ke Selandia Baru pada tahun 1990. Dia memiliki satu anak perempuan.

Ketika tragedi penembakan, Husna membantu beberapa orang melarikan diri dari aula wanita dan anak-anak. Sambil berteriak mengajak orang-orang, dia membawa anak-anak dan wanita menuju taman yang dianggapnya aman.

"Kemudian dia kembali untuk memeriksa keadaanku, karena aku berada di kursi roda, dan ketika dia mendekati gerbang dia ditembak. Dia sibuk menyelamatkan nyawa, melupakan dirinya sendiri," kenang Ahmad.

Ahmad percaya dirinya lolos dari hujan peluru karena pria bersenjata itu fokus pada target lain.

"Orang ini menembak satu orang dua sampai tiga kali tembakan, mungkin kondisi itu memberi kita waktu untuk pindah ... bahkan orang yang sudah meninggal dia tembak lagi," lanjut laki yang duduk di kursi roda sejak 1998 karena ditabrak pengemudi mabuk.

Awalnya, Ahmad tidak melihat Husna ketika meninggalkan masjid. Ia mengetahui kematian Husna setelah seseorang memotret tubuhnya.

"Fotonya ada di media sosial, jadi seseorang menunjukkan padaku fotonya dan aku dengan mudah mengidentifikasi," jelasnya.

Dengan suara pelan mengenang istrinya, jika dia bisa duduk bersama tersangka pembunuh massal itu, dia akan mendorongnya supaya memikirkan kembali pandangannya tentang kehidupan.

Sebenarnya, menurut Ahmad, pelaku tindak terorisme itu di dalam dirinya memiliki potensi besar menjadi orang yang baik, murah hati, yang akan menyelamatkan orang lain daripada menghancurkan mereka.

"Aku ingin dia mencari sikap positif dalam dirinya, dan aku berharap dan aku berdoa untuknya suatu hari dia akan menjadi warga sipil yang hebat. Aku tidak punya dendam," pungkasnya. (ahn/dur)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive