Saturday, April 13, 2019

Ijtihad Politik Ulama Menurut Rais NU Australia-Selandia Baru

Ijtihad Politik Ulama Menurut Rais NU Australia-Selandia Baru

Baca Juga

Australia — Pasti Aswaja — Di antara ciri-ciri orang nertakwa ialah mengimani hal-hal ghaib. Ada sejumlah kekasih Allah yang diberikan anugerah mendapatkan pemahaman mengenai rahasia suatu peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Yang demikian, termasuk kategori ghaib yang harus diakui oleh umat Islam.

Berkenaan hal ini, KH. Nadirsyah Hosen mengatakan, ada beberapa poin penting yang harus dipahami oleh masyarakat: pertama, hanya Rasulullah SAW yang ma'shum atau bebas dari kekeliruan, sedangkan para ulama tidak; kedua, boleh jadi isyarat yang dipahami oleh ulama itu benar, tapi ketika diceritakan kepada pihak ketiga, bisa saja pihak ini menafsirkan dan memahami dengan kepentingan masing-masing.

"Ketiga, sebagaimana ayat nasikh dan mansukh (ayat yang menganulir dan ayat yang dianulir. Red.), ketetapan yang Allah berikan pada momen tertentu bisa dirubah pada momen lainnya. Ini bagian dari hak prerogatif Allah," lanjut Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-Selandia Baru itu.

Di samping itu, lanjut dosen tetap di Universitas Monash Australia yang akrab disapa Gus Nadir ini, ada adab atau etika bagi para murid ketika mendapatkan berita ghaib dari seorang mursyid (guru spritual). Tanpa izin mursyid, seorang murid tidak boleh menceritakan berita tersebut kepada orang lain. Jika tidak, murid ini termasuk kategori su' al-adab (beretika buruk) kepada mursyid.

Yang terakhir, semua hal itu termasuk bagian ijtihad para ulama. Ulama dalam menetapkan pilihan-pilihan politik, tentu berijtihad. Termasuk dalam memahami, menangkap isyarat dari Allah SWT. Dan isyarat itu, imbuh Gus Nadir, bisa dipahami berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama yang lain. Itu semua sebagai informasi bagi masyarakat; bukan sebuah konfirmasi.

"Tentu kita harus meyakini bahwa kebenaran itu semata-mata datangnya dari Allah SWT. al-haq min Allah. Karena itu, wajar-wajar saja kalau terjadi perbedaan antara satu ulama dengan ulama lainnya. Semuanya adalah kekasih Allah, semuanya harus kita hormati," pungkasnya.

Hal ini disampaikan oleh Gus Nadir, melalui sebuah video berdurasi 2:15 yang diunggah di akun Twitter pribadinya, Jumat malam (12/04/19). Video ini sebagai jawaban atas banyaknyanpertanyaan warganet kepada dirinya tentang kasyaf dan politik.

Saat berita ini ditulis, video tersebut disukai sebanyak 2.963 akun, 1.014 twit ulang, 3.147 komentar dan ditonton oleh 1,6 juta pengguna Twitter. (ahn/fiq)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive