Thursday, May 9, 2019

Ibadah Rahasia

Ibadah Rahasia

Baca Juga

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Sudah merasa banyak amal, lalu menuntut surga kepada Tuhan. Ayo, kita coba berhitung berapa banyak nikmat yang Tuhan berikan dan berapa banyak ibadah yang kita lakukan, belum dipotong dengan kedurhakaan yang kita lakukan. Sejak kita lahir, berapa lama kita sehat dan berapa banyak kita beribadah kepada Tuhan sampai saat ini.

Dengan jumlah nikmat yang kita dapatkan, rasanya surga yang kita inginkan sudah Tuhan berikan di dunia ini. Mau surga seperti apalagi untuk ibadah dan nikmat Tuhan yang sudah kita rasakan. Jika seumur hidup tanpa henti beribadah, tetapi jantung kita masih berdetak; telinga masih mendengar; mata masih bisa melihat; lidah masih nikmat merasa; rasanya balasan Tuhan sudah cukup di dunia ini. 

Dengan tanda di jidat yang menghitam dan kapalan kita sudah merasa berhak mendapatkan surga. Tunggu dulu. Sementara, selama di dunia tanda sujud yang kita agungkan sudah sering kita banggakan, dan kebanggaan itu sudah kita terima dengan perasaan senang dan puas di dunia. Cukuplah di dunia ini balasannya untuk hal yang dibanggakan di hadapan orang lain itu. 

Dengan tanda ibadah, kita merasa bahwa orang sedang berasumsi tentang diri kita adalah ahli ibadah. Dan hati kita mengiyakan tentang asumsi itu. Tanda-tanda lain kita tunjukkan kepada orang lain bahwa kita adalah ahli ibadah, seperti pakaian yang kita kenakan atau akseaoris lainnya. Lalu, jadilah urusan Tuhan dengan kita menjadi kulit luarnya saja. Tuhan menjadi nomor dua setelah kita merasa puas dengan pujian manusia. 

Jejak ibadah itu kadang menjadi hal yang membahayakan bagi manusia minim ilmu, dan minim akhlak kepada Tuhan. Sebab orang yang minim ilmu lebih mengedapankan kuantitas ibadah, bukan kualitas ibadah. Apakah hal itu bermasalah? Jawabannya, "Tidak". Yang bermasalah ketika tidak mampu mengelola hati dengan baik dan benar. Yang semula ibadah urusan hamba dengan Tuhan, melebar menjadi urusan stratifikasi kemanusiaan. Menjadi urusan saya lebih banyak ibadah dengan yang lain.

Surga disiapkan oleh Allah untuk manusia dengan ibadah yang berkualitas. Kualitas ibadah tidak bisa diukur dengan berapa jumlah ibadah yang telah dilakukan, tetapi dinilai dari kesungguhannya dalam beribadah dan betul-betul mempersembahkan seluruh ibadahnya kepada Tuhan. Jika terasa hampa di dunia karena tidak ada jejak yang dapat orang lain lihat tentang ibadah kita, tidak berarti ibadah yang kita lakukan tidak berkualitas. Justru kehampaan di dunia ini akan berbanding terbalik dengan apa yang akan kita terima di akhirat. 

Ibadah kita yang rahasia dan berkualitas akan dibalas dengan sesuatu yang rahasia dan berkualitas juga. Ibadah yang disandarkan pada pengakuan manusia secara lahir, maka juga akan diterima secara lahir saat ini melalui kepuasan sesaat di dunia ini.

Ibadah puasa adalah ibadah rahasia, dalam arti tidak seorangpun dapat mengetahui kecuali Allah. Ketika orang mengaku puasa, dia benar puasa atau tidak, tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Orang mengaku puasa, lalu masuk kamar, di dalam kamar itu ia makan dan minum, ketika keluar dari kamarnya ia mengaku masih berpuasa. Tidak ada orang yang mengetahuinya kecuali Allah. Berbeda dengan ibadah yang lain, seperti shalat, haji, dan shadaqah, ibadah-ibadah itu di samping ibadah batin yakni dalam aspek niatnya, juga ibadah lahir dalam arti dapat dilihat oleh orang lain.

Oleh sebab itu, pada bulan Ramadan ini adalah kesempatan bagi kita ibadah dengan sungguh-sungguh. Semoga kerahasiaan ibadah puasa ini yang mampu membawa kita ke surga Allah kelak. 

Wallahu a'lam.

Pamekasan, 09 Mei 2019
*Sekretaris LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) PCNU Pamekasan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Ads

Ads

Latest News

Popular Posts

Blog Archive