Wednesday, May 29, 2019

Kiai Tolchah Dapat Izin Imam Ghazali Ngaji Ihya' Kepada Kiai Idris Kamali

Kiai Tolchah Dapat Izin Imam Ghazali Ngaji Ihya' Kepada Kiai Idris Kamali

Baca Juga

Pamekasan — Pasti Aswaja — Warga Nahdlatul Ulama (NU) kembali berduka. Pasalnya, Salah satu Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH. M. Tolchah Hasan, Rabu (29/05/19) siang, kembali ke rahmatullah, di RSUD Saiful Anwar Malang.

Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan di hati warga Nahdliyin. Salah satunya diungkapkan oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia - New Zealand dan juga Dosen Senior di Monash Law School, Prof. Dr. KH. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A., Ph.D, melalui halaman Facebook miliknya, Rabu (29/05/19) sore.

"Kiai Tolchah Hasan meninggal hari ini 29 Mei 2019 bertepatan dengan hari ke 24 bulan suci Ramadhan. Al fatihah ... Ijinkan saya turut mengenang beliau. Beliau adalah pendiri UNISMA (Univ. Islam Malang), Menteri Agama era Gus Dur, dan mantan Wakil Rais Am PBNU era Kiai Sahal Mahfud. Kepergian beliau adalah duka dan kerugian besar untuk umat Islam," tulis Gus Nadir, sapaan akrabnya.

Kiai Tolchah, di mata Gus Nadir, merupakan sosok yang teduh, bersahaja dan penuh dengan gagasan visioner, khususnya masalah pendidikan dan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja). Kiai Tolchah juga terus mengikuti pemikiran keislaman dengan meng-update bacaan kitab kontemporer, seperti yang pernah almarhum diskusikan bersamanya.

Di usianya yang tidak lagi muda, almarhum masih rutin mengelola pengajian kitab Ihya ‘Ulumiddin karya Imam al-Ghazali di rumahnya. Dan yang aneh bagi Gus Nadir, ialah jemaah ikut ngaji tidak hanya masyarakat biasa, tapi juga para kiai.

Gus Nadir mengutip cerita KH. Abdul Adzim Irsyad. Dulu di Tebuireng, Tolchah remaja belajar pada KH. Idris Kamali, sosok kiai yang legendaris di kalangan NU. Saat Kiai Tolchah dan kawannya minta ngaji kitab Ihya', Kiai Idris meminta mereka datang lagi esok hari. Lantas keesokan harinya, Kiai Idris menyampaikan, dirinya sudah minta izin kepada Imam al-Ghazali guna mengajar Ihya'. Bahkan, Imam al-Ghazali sendiri memilihkan nama-nama santri yang layak ikut ngaji Ihya'. Kiai Tolchah termasuk di antara nama-nama yang dipilih Imam al-Ghazali.

"Itu sebabnya yang sudah selevel Kiai pun banyak yang kemudian ngaji Ihya' di rumah Kiai Tolchah untuk ngalap barokah Kiai Idris dan Imam al-Ghazali," lanjut Gus Nadir. (fiq/uki)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive