Wednesday, July 31, 2019

Kacabdin Pendidikan Pamekasan Kunjungi SMA Maarif 1 Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Pamekasan, Slamet Goestiantoko, didampingi Abd Rasid selaku pengawas Sekolah Menengah Atas (SMA), Rabu (31/01/2019), melakukan kunjungan ke SMA Maarif 1 Pamekasan, Terrak, Tlanakan.

Kunjungan itu guna menindak lanjuti rencana Program Double Track Mandiri di SMA Maarif 1 Pamekasan (Batik Tulis). Juga, agenda memberikan pembinaan kepada dewan guru serta pemberian santunan kepada siswa yatim di sekolah tersebut.

Double Track merupakan suatu sistem pembelajaran yang menggabungkan antara cara belajar di SMA dan SMK.

Slamet mengatakan, kemajuan sekolah salah satunya harus ada keingin berubah ke arah yang lebih baik. Setiap orang, menurutnya, sama-sama berpotensi menjadi baik bahkan maju.

"Selama ada keinginan berubah, pasti bisa. Tidak memandang tempat di mana kita berada," ucap pria kelahiran 12 Oktober 1970 itu.

Dalam kunjungannya, Slamet melihat langsung perkembangan rencana Double Track Mandiri di dampingi para guru dan sebagian siswa. Ia mengapresiasi perkembangan program tersebut.

Ainul Ghurrih selaku Wakil Kepala Sekolah merasa tersanjung dan berterima kasih atas pembinaan dan dukungan kepada lembaganya.

Dalam kesempatan yang sama, Juliana Wulandari, salah satu siswa penerima santunan merasa senang sekaligus terkejut.

"Tahu-tahu dipanggil Kacabdin. Eh ternyata ada rezeki dari Bapak Syaiful Rohman yang disalurkan melalui Kacabdin Pamekasan," ungkapnya girang.

Juliana mengaku akan meningkatkan semangat belajarnya di SMA Maarif 1 Pamekasan.

"Dan kami doakan semoga Bapak Syaiful Rohman dan Bapak Slamet juga Bapak Rasid selalu di Beri kesehatan dan barokah rezekinya. Amien," pungkasnya. (ahn/uki)
Share:

Tuesday, July 30, 2019

Tanpa Persaudaraan yang Kuat, Pamekasan Tidak Akan Hebat

Oleh: Muhammad Abror*

Sejak kemarin, timeline Facebook ramai membicarakan surat dari Ulama & Habaib Pamekasan yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Surat dengan perihal peringatan tersebut —penulis menyebutnya protes— mempermasalahkan acara Talk Show bertema "Pamekasan Setelah Pilpres" yang mendatangkan seorang jemaat Gereja, berbeda dengan isi surat protes tersebut yang ditulis pendeta.

Dalam surat tertanggal 27 Juli 2019 yang ditandatangani 12 ulama dan habaib Pamekasan itu juga mempermasalahkan Halal Bihalal bertemakan "Ketauhidan" dengan mendatangkan seorang pendeta gereja Pamekasan. Melalui surat itu mereka beranggapan, bahwa tidak sinkron antara pemateri dengan teman ketauhidan.

Anehnya, dalam surat itu mereka meminta Pemkab Pamekasan untuk tidak membiarkan kegiatan yang sama dilaksanakan kembali dengan mengaitkan pada Pilres 2019. Menurut mereka, masyarakat Madura baru berangsur sembuh dari sakitnya pembajakan hak suara pada pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019.

Melalui tulisan ini, penulis hanya ingin meluapkan tanda tanya besar atas surat tersebut. Pasalnya, pada bulan Ramadhan lalu penulis terlibat aktif dalam kegiatan lintas agama; Tor-Catoran Pemikiran Gus Dur menghadirkan KH. Mukhlis Natsir (Ketua MWCNU Palengaan) dan Romo Dedy Sulistya (Pastor Paroki Gereja Maria Ratu Para Rasul Pamekasan) sebagai pembicara, dilanjutkan dengan bagi-bagi takjil bersama umat beragama lintas iman di Pamekasan.

Pada bulan yang sama, penulis juga terlibat langsung dalam kegiatan Buka Puasa Bersama Lintas Iman yang dihadiri semua pemuka agama yang ada di Pamekasan; Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Konghucu beserta komunitas pemuda lintas agama di Vihara Avalokitesvara, Larangan, Pamekasan. Dua acara tersebut berjalan lancar dan sukses, tanpa ada secuilpun cacian dan makian, apalagi protes. Saat itu pula, penulis mulai merasakan dampak positif dari jargon "Pamekasan Hebat" yang diusung oleh H. Baddrut Tamam dan Raja'e selaku Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan. Sayangnya, jargon Pamekasan hebat yang sempat dirasakan oleh komunitas lintas agama kini terlihat menakutkan, akibat adanya surat protes, sebagaimana disebut di atas.

Sejak ramainya perbincangan mengenai surat protes itu, penulis banyak menerima pesan singkat dari saudara-saudara komunitas lintas iman di Pamekasan. Sebagian dari mereka mengungkapkan empatinya, sebagian lagi mengungkapkan kegelisahannya. Bagi mereka, persaudaraan antar sesama umat manusia yang mulai dirajut dengan baik di Bumi Gerbang Salam, Pamekasan merupakan ikatan yang wajib dipertahankan dan menjadi harga mati, sehingga kabupaten yang identik dengan batik tersebut layak menyandang predikat "Hebat".

Akhirnya, penulis hanya ingin meminta kepada pemangku kebijakan di Pamekasan, agar tidak menggubris surat itu dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada komunitas-komunitas di Pamekasan, baik itu kesenian, lintas iman, pengembangan intelektual dan lain-lain untuk berkarya dan berekspresi, sebagai upaya mendorong Pamekasan Hebat.
*Penulis adalah Ketua Komunitas Ataretan Pamekasan
Share:

Monday, July 29, 2019

Gus Syafiq Dipercaya Pimpin GP Ansor Jawa Timur

Malang — Pasti Aswaja — Tiga kader terbaik yang dimiliki Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur: Abid Umar Faruq, Syafiq Sauqi dan Ahmad Ghufron Sirodj berkontestasi menduduki kursi Ketua PW GP Ansor Jawa Timur dalam pelaksanaan Konferensi Wilayah (Konferwil) XIV, Ahad (28?07/2019), di Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Gasek, Malang.

Dalam permusyawaratan tertinggi di tingkat wilayah itu, calon ketua ditentukan melalui pemungutan suara yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang (PC) atau Pimpinan Anak Cabang (PAC) selaku peserta Konferwil

Ketentuan penghitungan perolehan suara didasarkan pada hasil akreditasi kelembagaan PC atau PAC. Lembaga terakreditasi A, satu surat suara setara dengan dua suara. Sedangkan nilai akreditasi B hanya memiliki satu suara.

Saat penghitungan, Syafiq Sauqi atau yang akrab disapa Gus Syafiq, berhasil menyingkirkan dua kandidat calon ketua lainnya. Ia memperolehan 212 suara pada kotak khusus akreditasi A dan 195 suara pada kotak akreditasi B.

Sama dengan Syafiq, Gus Abid mendapatkan 212 suata pada kotak akreditasi A, dan 65 pada penghitungan kotam akreditasi B. Sedangkan Ghufron Sirodj hanya meraih delapan suara pada kotak akreditasi A dan empat suara pada kotak akreditasi B.

Satu suara dinyatakan tidak sah pada kotak akreditasi B dan dua suara pada kotak akreditasi A. (dur/ahn)
Share:

Sunday, July 28, 2019

Gus Yaqut: "Jangan Pernah Merasa Ansor Butuh Kita"

Malang — Pasti Aswaja — Gerakan Pemuda (GP) Ansor, organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU), merupakan organisasi besar yang diinisiasi dan didirikan oleh para ulama guna mewadahi para pemuda sebagai generasi penerus organisasi NU.

Pernyataan ini disampaikan oleh Yaqut Cholil Qoumas atau yang akrab disapa Gus Yaqut, Ketua Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) XIV Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur, Ahad (28/07/2019), di Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Gasek, Malang.

Kebesaran Ansor, menurut Gus Yaqut, dibuktikan dengan hirarki organisasi yang tertata mulai PP, Pimpinan Wilayah (PW) di tingkat provinsi, Pimpinan Cabang (PC) di tingkat kabupaten, Pimpinan Anak Cabang (PAC) di tingkat kecamatan, Pimpinan Ranting (PR) di tingkat desa dan Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) yang menjadi perwakilan organisasi di luar negeri.

"Jadi jangan sekali-kali sahabat-sahabat merasa besar dan ingin membesarkan GP Ansor. Dan jangan pernah merasa Ansor butuh kita. Kita ini kecil. Kita yang butuh Ansor. Saya ini tidak ada apa-apanya jika tidak memakai jas ini," lanjut Gus Yaqut sambil menunjukkan jas seragam GP Ansor.

Sebagai organisasi yang didirikan oleh ulama NU, lanjut Gus Yaqut, kader GP Ansor harus serius menjalankan roda organisasi, karena akan menjadi penerus ulama dan penjaga keberlangsungan organisasi NU.

"Jika kalian main-main dalam menjalankan dan tidak berpegangan pada peraturan-peraturan organisasi, kalian akan dibakar nanti di akhirat," lanjutnya.

Ketidakseriusan tersebut, imbuh Gus Yaqut, akan mengecewakan para muassis (pendiri) NU.

"Kalian tidak akan sampai ke neraka duluan, kalian akan menghadapi saya kalau kalian mengecewakan muassis Nahdlatul Ulama," ucapnya disambut riuh tepuk tangan peserta Konferwil XIV. (ahn/uki)
Share:

GP Ansor Jawa Timur Gelar Konferwil XIV di Malang

Malang — Pasti Aswaja — Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Jawa Timur menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) XIV, Ahad (28/07/2019), di Pondok Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek, Malang, yang diasuh Ketua PW Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada KH. Marzuki Mustamar selaku pengasuh pesantren setempat yang bersedia ditempati musyawarah tertinggi di lingkungan organisasi kepemudaan NU tersebut.

"Atas nama GP Ansor kami menyampaikan terima kasih dan mohon maaf kepada Yai Marzuki Mustamar yang telah merelakan pesantrennya dibuat rusuh seperti ini," kelakar Gus Yaqut, sapaan akrabnya, disambut gemuruh tawa dan tepuk tangan kader GP Ansor dari seluruh Jawa Timur yang hadir pada kesempatan ini.

Lebih lanjut, Gus Yaqut menginstrusikan kepada seluruh peserta Konferwil XIV agar tidak meninggalkan sampah sedikitpun sesudah acara. Menurutnya, haram hukumnya kader GP Ansor meninggalkan sampah.

"Mohon maaf, Yai Marzuki. Kalau nanti ada sisa sampah, mohon hubungi saya. Haram hukumnya kader Ansor nyampah. Kalau ada yang nyampah, nanti saya akan evaluasi SK-nya," lanjutnya, kembali disambut gelak tawa hadirin.

Dalam agenda empat tahunan itu, ada tiga kandidat yang akan menduduki kursi Ketua PW GP Ansor Jawa Timur: Moh. Abid Umar, Ahmad Ghufron Sirodj, Syafiq Sauqi. (ahn/uki)
Share:

Tuesday, July 23, 2019

Minta Didoakan, KPU Pamekasan Sambangi PCNU Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, Selasa pagi (23/07/2019) menerima kunjungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat di Aula Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz No. 95 Jungcangcang Pamekasan.

Rombongan yang datang sekitar pukul 09:00 WIB itu dipimpin Moh. Halili, Ketua KPU Pamekasan, didampingi tiga Komisioner lainnya: Fathor Rachman, Moh. Amiruddin, dan Ibnu Hasan Mahfud.

Setiba di Kantor PCNU Pamekasan, mereka ditemui oleh beberapa pengurus Tanfidziah: KH. Taufik Hasyim (Ketua), KH. Abd. Rahman Abbas (Sekretaris), KH. Zainul Hasan (Wakil Ketua), dan mantan Komisioner KPU Pamekasan, Muhammad Subhan, yang juga Wakil Ketua di PCNU Pamekasan.

Fathorrahman, salah satu komisioner KPU Pamekasan menyebutkan, kunjungan yang dilakukan bertujuan silaturahim dan meminta doa barokah kepada para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. 

Pria yang akrab disapa Fathor itu juga menjelaskan, hal lain yang menjadi tujuannya menyambangi PCNU Pamekasan, yaitu pengembangan program dan kegiatan KPU yang melibatkan organisasi kemasyarakatan (Ormas).

"Jadi, kami juga membahas tentang kerja sama yang mungkin dilakukan antara KPU dengan PCNU Pamekasan, terutama dalam hal pendidikan politik, partisipasi masyarakat dalam Pemilu di masa yang akan datang," jelasnya.

Sementara itu, KH. Taufik Hasyim selaku Ketua PCNU Pamekasan menyambut baik kedatangan rombongan tersebut.

"Kami berharap, jalinan silaturrahmi ini bisa terus berlanjut demi kemaslahatan bangsa dan negara, khususnya Kabupaten Pamekasan," ucapnya. (bor/ahn)
Share:

Sunday, July 21, 2019

Rawat Warisan Islam Indonesia, LDNU Pamekasan Gelar Halaqoh ke-NU-an

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sebagai upaya merawat warisan keislaman yang digagas muassis atau pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan para penyebar ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah di Indonesia, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Pamekasan menggelar Halaqoh ke-NU-an, Ahad (21/07/2019) di Aula Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz No. 95 Jungcangcang Pamekasan.

KH. Musleh Adnan, Sekretaris LDNU Pamekasan dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan tersebut guna menjawab kelompok-kelompok trans-nasional di Indonesia yang marak muncul akhir-akhir ini. 

"Orang Indonesia yang tidak punya talaqqi atau persambungan ilmu keislaman langsung, dan tidak pernah mondok, lebih percaya hadis yang dibawa ustaz-ustaz baru daripada hadis yang dibacakan ulama-ulama yang jelas sanad keilmuannya," ungkap KH. Musleh.

Sementara itu, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan menyampaikan, kegiatan bertema "Mengukuhkan Warisan Keislaman dalam Konteks Kebangsaan" itu sangat penting, guna menepis kelompok-kelompok di luar NU yang gencar membusukkan NU.

KH. Taufik menjelaskan, ada tiga cara yang bisa dilakukan para pembenci NU untuk membusukkan dan menjelek-jelelekan NU.

"Pertama, tasykik atau peraguan warga NU terhadap para pengurus NU; kedua, tadhlil atau penyesatan terhadap NU. Jadi, semua yang berhubungan dengan NU disesat-sesatkan; yang ketiga, takfir yaitu mengafirkan NU. Para pengurus NU disesatkan, dikafirkan dan dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kiai Hasyim Asy'ari. Padahal, sanad keilmuan NU itu sangat jelas," jelasnya. (bor/ahn)
Share:

Sunday, July 14, 2019

Aklamasi, Ahya' Kembali Dipercaya Pimpin Ansor Karangpenang

Sampang — Pasti Aswaja — Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Karangpenang Sampang, Ahad (14/07/19) menggelar Konferensi Anak Cabang (Konferancab), di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Karangpenang.

Tujuh Pimpinan Ranting (PR) di bawah koordinasi PAC GP Ansor Karangpenang secara aklamasi menyepakati Ahya' kembali memimpin untuk kali kedua.

Awalnya, hanya ada empat ranting yang mengusulkan Magister Ekonomi ini kembali memimpin, kemudian disusul tiga ranting lainnya. Tanpa debat panjang, forumpun satu suara dan bersepakat memilih Ahya' menduduki posisi Ketua selama tiga tahun ke depan.

Sesaat setelah terpilih, Ahya' menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Menurutnya, sekalipun terasa berat, amanah yang dipercayakan kepada dirinya harus diterima dan dilaksanakan.

"Ini konsekuensi lagis dari pengabdian saya di Ansor. Sebagai seorang kader, apapun amanah organisasi harus saya terima sekalipun itu berat. Semoga berkah para kiai pendiri NU dan Ansor selalui menyertai langkas kami semua di sini (GP Ansor Karangpenang. Red.)," ucapnya.

Ia berharap, seluruh kader GP Ansor se-Kecamatan Karangpenang mendukung penuh program-program yang akan ia susun selama kepemimpinannya di periode kedua ini.

"Tanpa dukungan sahabat-sahabat (panggilan anggota GP Ansor. Red.), khususnya para masyaikh Nahdlatul Ulama, tidak mungkin seorang Ahya' akan menjalankan amanah yang telah dipercayakan ini dengan sempurna," pungkasnya. (ron/ahn)
Share:

NU Pamekasan Punya Tiga Opsi Lokasi Pembangunan RSNU

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan memiliki tiga opsi tanah yang akan dijadikan tempat pembangunan Rumah Sakit NU (RSNU): pertama di Desa Samatan, Kecamatan Proppo, kedua di Kelurahan Lawangan Daya dan Ketiga di Desa Sentol. Ketiga lokas tersebut, sudah disurvey oleh tim. Bahkan tim sudah mengantongi harga ketiga tanah tersebut. 

“Alhamdulillah ada tiga lokasi yang kita proyeksikan. Namun lokasi yang mana yang akan ditempati, masih menunggu keputusan para masyaikh,” terang KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, seperti dikutip NU Online Pamekasan, Ahad (14/07/19).

Meski harga tanah di tiga lokasi tersebut cukup mahal. Namun, menurut Kia Taufik, PCNU Pamekasan akan tetap berupaya mengumpulkan dana. Di antara pola yang digunakan dalam mengumpulkan dana tersebut ialah patungan warga NU sendiri. Pola ini, lanjut Kiai Taufik, pernah dilakukan oleh PCNU Kabupaten Malang. 

Kiai Taufik mengatakan, akhir tahun ini PCNU Pamekasan sudah memiliki tanah yang akan ditempati pembangunan rumah sakit. Sedangkan tahun 2021, di akhir kepengurusannya, pembangunan gedung rumah sakit harus dimulai. Meskipun tidak di tahun 2021, target selanjutnya bisa dilanjutkan oleh kepengurusan setelahnya. 

“Kalaupun tidak bisa dibangun tahun 2021, bisa diteruskan oleh kepengurusan setelah saya. Atau bisa kita jual lagi untuk kebutuhan pembangunan NU yang lainnya,” tegasnya. (bor/ahn)
Share:

Saturday, July 13, 2019

Menpora Letakkan Batu Pertama Rumah Pergerakan PMII Jatim

Surabaya — Pasti Aswaja — Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Rumah Pergerakan Ikatan Alumni dan PMII Jawa Timur (Jatim), Sabtu siang (13/06/2019), di Jl. Kebonsari Elveka III No. 23 Surabaya.

Sebelum meletakan batu pertama pembangunan kantor bersama alumni dan PMII Jawa Timur di bawah naungan Yayasan Khazanah Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Imam Nahrawi mendorong semua alumni agar berperan aktif dalam pembangunan itu hingga selesai.

"Alhamdulilah dan terima kasih saya ucapkan kepada IKA PMII Jawa Timur yang sudah bergotong royong untuk mewujudkan kantor ini. Dari sini mari kita mulai hal-hal besar yang nantinya memiliki manfaat bagi PMII dan alumni. Kita semua harus bersama-sama mendorong pembangunan kantor ini," kata Menteri asal Madura tersebut.

Melalui rumah pergerakan yang diperkirakan selesai bulan November itu, Imam Nahrawi berharap, kantor tersebut nantinya bisa melahirkan kader-kader inovatif dan alumni-alumni PMII yang tangguh. 

"Semoga dengan adanya kantor ini IKA PMII terus melahirkan orang-orang yang hebat, tangguh dan optimis menatap masa depan. Dan yang lebih penting lagi yakni melahirkan gagasan besar untuk kemajuan PMII dan bangsa ini," harapnya.

Sementara itu, Amin Said Husni, Ketua IKA PMII Jatim mengungkapkan kebahagiannya atas sejarah baru dalam perjalanan alumni dan PMII Jatim.itu.

"Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh alumni yang hadir dan membantu pembangunan gedung ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Pak Menteri yang juga membantu pembangunan gedung ini," ungkap Mantan Bupati Bondowoso tersebut.

Usai melakukan peletakan batu pertama, Menpora bersama-sama IKA PMII melakukan pemotongan nasi tumpeng dan makan bersama. (bor/ahn)
Share:

Friday, July 12, 2019

Usia Bukan Alasan Keluar Dari GP Ansor

Pamekasan — Pasti Aswaja — Sejatinya, anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor ialah pemuda Nahdlatul Ulama (NU) yang berusia maksimal 40 tahun. Syarat ini berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) NU.

Meski demikian, syarat tersebut tidak "berlaku" bagi Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Desa Rek Kerrek, Palengaan, Pamekasan. Pasalnya, di desa ini tidak sedikit anggota GP Ansor yang sudah melewati batas maksimal usia. Bahkan, ada yang lebih 50 tahun.

Sekalipun usianya tidak lagi muda, tapi mereka tampak semangat dan tetap aktif menghadiri pertemuan rutin bulanan yang dilaksanakan setiap Jumat awal di kediaman para anggota secara bergantian.

Sudarsono selaku Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Palengaan mengatakan, mereka enggan pindah dari GP Ansor ke Lembaga atau Badan Otonom NU lainnya.


"Ansor ini punya Banser, badan khusus yang tidak ada batas maksimal usia. Tapi mereka tetap tidak mau disuruh gabung Banser. Mungkin karena faktor usia, mereka merasa tidak akan mampu melewati tantangan-tantangan untuk menjadi anggota Banser," jelas Darso, sapaan akrabnya, Jumat (12/07/19).

Selain itu, menurut Darso, alasan yang biasa diutarakan anggota GP Ansor Rek Kerrek ialah takut tua. "Mungkin yang mereka khawatirkan, kalau mereka keluar dari GP Ansor, otomatis mereka bukan pemuda lagi," kelakarnya.

Mantan aktivis PMII ini mengaku sudah berkoordinasi dengan kepengurusan PC GP Ansor sebelumnya. "Dan Cabang (GP Ansor Pamekasan. Red.) tidak mempermasalahkan hal itu," pungkasnya. (uki/ahn)
Share:

BKNU Pamekasan Surati Pemerintah RI Soal Garam Madura

Pamekasan — Pasti Aswaja — Berdasarkan hasil temuan lapangan terkait perkembangan pergaraman saat ini, Badan Kemaritiman Nahdlatul Ulama (BKNU) Pamekasan mengirimkan surat rekomendasi kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Hal itu, menurut Mahfud Effendy, Ketua BKNU Pamekasan, dilakukan atas dasar keprihatinan terhadap petambak garam. Menurutnya, kegiatan produksi garam di Pulau Madura saat ini sedang berlangsung, dimana hampir semua petambak garam sudah, sedang dan akan memanen garam bertepatan dengan berlangsungnya musim kemarau.

"Sementara, stok garam yang diproduksi oleh pegaram rakyat pada tahun sebelumnya masih menumpuk di gudang penyimpanan garam milik petambak maupun di gudang garam nasional milik koperasi," ucap Doktor yang kini menjadi dosen di Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan ini, Jumat pagi (12/07/2019).

Mahfud melanjutkan, harga garam di tingkat petambak pada beberapa sentra garam sebesar Rp. 400/kg (garam KP1). Harga ini, menurutnya, di bawah harga ketetapan pemerintah, yakni Rp750/kg untuk garam KP1, sebagaimana Peraturan Dirjen Perdagangan Luar Negeri (Daglu) No 02/DAGLU/PER/5/2011 tentang penetapan harga penjualan garam di tingkat petani garam. Terlebih jika dibandingkan dengan  harga garam tahun sebelumnya yang mencapai Rp.4000/kg.

"Apalagi, sebagian besar perusahaan garam tidak melakukan pembelian garam milik petambak. Beberapa perusahaan melakukan pembelian dengan jumlah frekuensi rendah, volume sedikit dan masa yang terlalu pendek. Kondisi ini menimbulkan keresahan petambak garam dan masyarakat pesisir di sentra garam, mengingat usaha garam merupakan sumber utama pendapatan mereka," lanjut Mahfud.

Lebih lanjut Mahfud menyampaikan, jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan serius dari pihak terkait, maka dikhawatirkan akan terjadi konflik sosial.

"Kami khawatir akan memicu konflik sosial antara  petambak dengan perusahaan garam dan berkurangnya kepercayaan petambak dan masyarakat pesisir terhadap pemerintah,” jelasnya.
Makhfud mengatakan, surat rekomendasi itu tidak hanya ditujukan kepada Pemerintah, dalam hal ini Presiden. Tapi, juga ditujukan kepada beberapa lembaga: Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kemenko Perekonomian dan Kemenko Kemaritiman, PT. Garam, serta Badan Pusat Statistik.

Kepada Presiden atau Pemerintah, BKNU Pamekasan meminta supaya mengadakan evaluasi secara serius berkenaan tata kelola terutama tata  laksana sinergi kelembagaan kementerian atau lembaga pembina garam nasional dan meninjau ulang regulasi pergaraman khususnya yang berkaitan dengan karut-marut impor garam seperti dalam Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri Perindustrian No.88  Tahun  2014. Penerbitan peraturan ini telah menjadi preseden buruk bagi penataan perundang-undangan, dan bagi tata kelola pemerintahan yang baik karena bertentangan dengan amanat Undang-Undang No. 7 Tahun 2016 sebagai lex specialis yang seharusnya menjadi rujukan dalam tata niaga impor garam.

“Kepada lembaga-lembaga lain itu, kami meminta agar mereka turut andil dalam menyelesaikan permasalahan ini sesuai tugas dan fungsinya,” pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, July 10, 2019

Empat 'Harimau' Muda NU

Oleh: Muhammad Abror*

Mengutip pernyataan Gus Dur, sebagaimana yang diceritakan oleh Nyai Shuniyya Ruhama, bahwa anak muda NU akan bangkit melawan radikalisme.

Melihat perkembangan dakwah Islam di Indonesia beberapa tahun terakhir, prediksi Gus Dur itu benar-benar terjadi. Terbukti, terus bermunculan Kiai Muda Nahdlatul Ulama yang semakin gencar menyuarakan dan menebar ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah.

Saya menyebut para Kiai Muda ini dengan 'Harimau' Muda NU. Beliau-beliau ini tidak pernah gentar sedikitpun untuk menangkal paham radikal dan menghadapi kelompok trans-nasional yang menginginkan Indonesia menjadi negara khilafah.

1. Sayyid Seif Alwi
Nama lengkap beliau adalah Seif Alwi Iskandar bin Muhammad Misbah bin Muhammad Ali Hasan bin Ahmad bin Muhammad Syarif. Beliau merupakan keturunan Sunan Gunung Jati ke-19. Sayyid Seif Alwi merupakan salah satu Kiai Muda NU yang tegas menyatakan, bahwa tidak ada yang namanya NU garis lurus, NU garis bengkok atau garis-garis yang lain. Bagi beliau, NU adalah NU yang ada di bawah komando Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.

2. Gus Muwaffiq
Pernah menjabat sebagai asisten pribadi Gus Dur, Kiai asal Sleman, Yogyakarta ini memiliki nama asli Ahmad Muwaffiq. Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini dikenal sebagai Kiai dengan pemahaman sejarah yang sangat mendalam, mulai sejarah peradaban manusia secara umum, sejarah Agama Islam pada masa kenabian, hingga sejarah Nusantara. Begitu pun sejarah agama Islam di Indonesia, mulai awal perkembangan hingga saat ini.

3. Gus Miftah
Kiai muda yang memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburahman, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta ini dikenal sebagai ulama muda yang gencar berdakwah bagi kaum marjinal. Akhir-akhir ini, nama Gus Miftah menjadi topik hangat netizen Indonesia. Hal itu tidak lepas dari peran beliau menuntun Deddy Corbuzier mengucap kalimat syahadat.

4. Gus Baha'
Kiai muda Alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang di bawah asuhan KH. Maimoen Zubair ini memiliki nama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim. Pemahaman Gus Baha tentang ragam keilmuan di dalam Islam dan ilmu-ilmu al-Quran telah diakui oleh penulis kitab Tafsir Misbah, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab.

Masih banyak Kiai-kiai muda NU lainnya yang turut serta berperan aktif dalam menangkal paham dan gerakan radikal. Semoga beliau semua diberkahi oleh Allah, sehingga tetap semangat mengawal dan menjaga keutuhan NKRI.
*Reporter Pasti Aswaja
Share:

Sunday, July 7, 2019

Sekjen PBNU Tuntun Pemuda Katolik Bersyahadat

Jakarta — Pasti Aswaja — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Helmy Faishal Zaini, menuntun seorang pemuda Katolik, Robertus Hari Agung, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Proses pengikraran dua kalimat syahadat itu diunggah di akun instagram pribadinya, @ahmadhelmyfaishalzaini, Ahad, (07/07/19).

Berdasarkan caption pada unggahan itu, Robertus mengucapkan syahadat di tengah acara halalbihalal yang digelar Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) di Aula Kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Jakarta Pusat.

"Alhamdulillah.. Ahad, 7 Juli 2019 di tengah acara Halal bihalal GMNU @generasi_muda_nu di Aula @gp.ansor kembali seorang yang bernama Robertus Hari Agung (sebelumnya beragama Katolik) menyatakan masuk Islam dengan membaca 2 kalimah syahadat yang langsung dibimbing oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini @ahmadhelmyfaishalzaini," tulisnya.

Pasca bersyahadat, nama depan mualaf itu ditambah Muhammad sehingga menjadi Muhammad Robertus Hari Agung.

Dalam kesempatan itu, Helmy menyampaikan Islam merupakan agama yang penuh rahmah dan cinta kasih, agama yang menjunjung tinggi perdamaian, kemanusiaan, toleransi dan akhlaq al-karimah.

"Kita doakan semoga Muhammad Robertus menjadi seorang muslim yang istiqomah. Al Fatihah," pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, video tersebut sudah ditonton oleh dua ribu lebih pengguna instagram. (uki/ahn)

Berikut video selengkapnya:

Share:

Saturday, July 6, 2019

Prihatin 'Matinya Gerakan Perempuan', KOPRI STAI-MU Gelar SIG

Pamekasan — Pasti Aswaja — Korp PMII Putri (KOPRI) Komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAI-MU) Pamekasan menggelar Sekolah Islam dan Gender (SIG), Jumat-Sabtu (05-06/07/19), di Desa Banyupelle, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

Mengambil tema "Matinya Gerakan Perempuan", kegiatan itu, menurut Istianah selaku Ketua KOPRI STAI-MU, bertujuan memberikan pemahaman kepada kader-kader putri PMII akan peran dan eksisitensinya di masyarakat.

"Budaya patriarki di negeri ini masih sangat dominan. Hal ini semakin ironis ketika kaum perempuan hanya menerima begitu saja tanpa adanya nalar kritis, ditambah lagi aktivis-aktivis gender yang seakan-seakan menutup mata dengan fenomena ini," tutur mahasiswi program studi Pendidikan Agama Islam itu.

Kondisi ini, lanjut Istianah, semakin diperparah ketika budaya patriarki itu melegitimasi dirinya dengan memanfaatkan agama melalui pengutipan ayat-ayat Alquran dan hadis, meski kadang ayat-ayat dan hadis tersebut masih diperdebatkan di kalangan ulama.

"Maka dari itu, dalam kegiatan ini peserta diberi materi fikih perspektif perempuan, gender perspektif Alquran dan hadis. Di sini peserta juga diberi materi tentang hukum Islam di Indonesia, supaya setelah dari acara ini peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk menjawab budaya patriarki yang sudah tertanam di masyarakat," tangkasnya. (bor/uki)
Share:

Gandeng LKNU, Lazisnu Pamekasan Gelar Sunatan Massal

Pamekasan — Pasti Aswaja — Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) menggandeng Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Pamekasan menggelar sunatan massal di Pondok Pesantren Al-Bukhori, Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Sabtu (06/07/19).

Selain LKNU, Lazisnu juga menggandeng Dinas Kesehatan Pamekasan dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pademawu dalam agenda yang diikuti oleh 36 anak.

Mahmudi, Bendahara Lazisnu Pamekasan mengatakan, agenda tersebut mendapatkan respon positif masyarakat sekitar. Ia menuturkan, pasca acara banyak masyarakat yang mengapresiasi kegiatan tersebut.

Ia juga mengatakan, kegiatan sosial di bidang kesehatan akan terus dilanjutkan di waktu-waktu mendatang. Bahkan, pihaknya tengah merencanakan pengobatan gratis bagi masyarakat tidak mampu.

"Mohon doa dan dukungannya. Tanpa dukungan semua pihak, khususnya pengurus NU Pamekasan, tidak mungkin bakti sosial ini terlaksana dengan lancar, terlebih doa para masyaikh. Sekali lagi, terima kasih atas doa dan dukungannya," pungkasnya. (bor/ahn)
Share:

Thursday, July 4, 2019

Tertarik Dakwah NU, Warga Negara Ukraina Ucap Syahadat di PBNU

Jakarta — Pasti Aswaja — Ivan Mykhailov, warga negara Ukraina, mengikrarkan dua kalimat syahadat dibimbing Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H. Helmy Faishal Zaini, di ruangannya, Gedung PBNU, Jl. Kramat Jaya, No. 164, Jakarta, Kamis (04/07/19).

Disaksikan Ketua PBNU Bidang Dakwah dan Masjid, KH Abdul Manan A. Ghani, dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ishfah Abidal Azis, Ivan mengucapkan syahadat berbahasa Arab kemudian diterjemahkan menggunakan bahasa Inggris mengikuti bimbingan Helmy Faishal. Setelah prosesi tersebut usai, dilanjutkan dengan doa dipimpin Kiai Manan.

Setelah resmi memeluk Islam, Ivan ditambah Ahmad di bagian depan namanya. Ia kini menjadi Ahmad Ivan Mykhailov.

PBNU, kata Helmy Faishal, semakin sering kedatangan orang-orang membaca dua kalimat syahadat, dan berirkrar memeluk Islam. Hal tersebut, menurutnya, menjadi indikasi keberhasilan dakwah NU yang sejuk dan ramah, sehingga tdak hanya membuat orang Indonesia tertarik, tapi juga warga negara asing.

Helmy melanjutkan, akhir-akhir ini di Indonesia terjadi politik identitas. Kelompok ini tidak menampilkan Islam yang sejuk, tapi garang, sehingga menyebabkan problem bagi nama agama.

Dalam situasi seperti itu, menurut Helmy, NU dengan pandangan Islam wasathiyah menjadi angin segar yang membuat masyarakat tertarik, dan dakwah NU menjadi solusi memberikan ketenangan batinnya.

Ivan mengenal NU dan pandangan keislamannya setelah dirinya tinggal di Indonesia selama satu tahun. Di lingkungan timpatnya tinggal, ia mulai mengenal NU, dan kemudian menggali informasi melalui dunia maya.

Setelah memiliki pengetahuan yang cukul tentang NU, Ivan sangat tertarik dengan ajaran Islam, hingga dirinya memutuskan datang ke PBNU dan meminta bimbingan mengucap dua kalimat syahadat. (mad/uki)
Share:

Wednesday, July 3, 2019

Kunjungi PBNU, Dubes Arab Saudi Bahas Radikalisme

Jakarta — Pasti Aswaja — Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Esam Abid A. Althagafi, mendatangi Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jl. Kramat Jaya, No. 164, Jakarta, Selasa (02/07/19).

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas perselisihan atas nama umat Islam terutama yang dilakukan oleh organisasi terlarang seperti ISIS, serta pembidahan terhadap tradisi umat Islam oleh beberapa kelompok yang dinilai bertentangan dengan ajaran dakwah Islam.

Kedua pihak juga membahas upaya kerja sama dalam beberapa bidang seperti pendidikan, ekonomi dan sosial budaya.

"Beliau seorang diplomat ulung, diplomat senior yang memang diberi amanah khusus oleh Raja Salman bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman agar memperkuat, meningkatkan, mengembangkan hubungan antara Saudi Arabia dengan Indonesia di semua lini, baik itu haji, umrah, maupun hubungan dagang, hubungan budaya, hubungan sosial," jelas KH. Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU.

Kiai Said merasa bangga dan gembira, karena Dubes yang baru tersebut sangat terbuka dan memiliki wawasan luas serta memiliki pandangan yang sama dengan NU, yakni Islam wasathiyah yang menjadi start point kebersamaan antara kedua pihak.

"(Islam wasathiyah. Red.) ini harus kita bangun bersama. Karena di hari-hari ini nama baik Islam, kredibilitas Islam rusak, hancur, karena munculnya pemahaman-pemahaman Islam radikal, ekstrem, bahkan sampai teroris," ucapnya.

Guru Besar Ilmu Tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengajak umat Islam bersama-sama memperbaiki dan mengembalikan nama baik agama Islam yang tercoreng oleh tindakan kelompok-kelompok radikal yang melakukan aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.

Pada kesempatan yang sama, Esam mengungkapkan kebahagiaannya bisa mengunjungi kantor PBNU. Ia berharap pertemuan tersebut dapat membuka pintu baru dalam mengembangkan Islam wasathiyah yang selama ini dikampanyekan oleh NU.

Selain Kiai Said, Esam juga ditemui oleh beberapa pengurus PBNU: Helmy Faishal Zaini (Sekretaris Jenderal), Robikin Emhas, KH. Nurul Yaqin Ishaq, H. Bina Suhendra, H. Eman Suryaman, H. Umarsyah, Ishfah Abidal Aziz. (ron/ahn)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive