Monday, September 30, 2019

PMII Jatim Minta Polri Usut Tuntas Kematian Randi

Surabaya — Pasti Aswaja — Puluhan Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur (Jatim) datangi Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jatim, Senin siang (30/09/2019) di Jl. Ahmad Yani No. 116 Surabaya.

Kedatangan organisasi kemahasiswaan yang identik dengan simbol bintang sembilan tersebut guna menyampaikan tuntutan kepada Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berkenaan dengan meninggalnya Imawan Randi, salah satu Aktivitas PMII, saat mengikuti aksi demonstrasi di Kendari.

Hal itu diungkapkan Abdul Ghoni, Ketua PKC PMII Jawa Timur, usai keluar dari Mapolda Jatim. Menurutnya, pertemuan yang dilakukan dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jatim merupakan bentuk solidaritas atas sesama kader PMII. 

"Kami meminta kepada bapak Kapolda untuk menyampaikan aspirasi kepada Polri berkenaan dengan meninggalnya Sahabat Randi. Jadi, Kapolri harus ambil langkah tegas untuk mengusut tuntas pelaku penembakan yang merenggut nyawa sahabat kami," ungkap Abdul Ghoni.

Sementara itu, Irjel Pol. Drs. Lucky Hermawan, Kapolda Jatim menyambut baik kedatangan PKC PMII Jatim dan mengamini tuntutan yang disampaikan.

"Saya juga tidak ingin kejadian seperti di Kendari itu justru terjadi di Jawa Timur. Saya akan perintahkan seluruh Kapolres di Jawa Timur untuk memperlakukan massa aksi dengan baik, selama aksi itu tidak melampaui batas," ungkap Lucky.

Pasca pertemuan ini, ke depannya PKC PMII Jatim berkomitmen akan terus mengawasi setiap pengamanan yang dilakukan pihak kepolisian dalam mengawal gerakan aksi mahasiswa. (bor/ahn)
Share:

Sunday, September 29, 2019

Hadiri Pelantikan PMII Tulungagung, Gubernur Jatim Ajak Komitmen Intelektual

Tulungagung — Pasti Aswaja — Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur (Jatim) mengajak seluruh kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berpegang teguh kepada pengembangan intelektual dalam membangun kebangsaan.

Hal itu diungkapkannya saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Pengurus Cabang PMII Tulungagung, Ahad (29/09/2019), di Balai Rakyat Tulungagung.

Mantan Ketua Korp PMII Putri (KOPRI) Pengurus Besar (PB) PMII itu menjelaskan, keberadaan PMII sebagai organisasi kemahasiswaan bisa memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan Indonesia.

"Selama masih ada pergerakan, di situ ada progresifitas. Selama ada mahasiswa, di situ ada intelektualitas. Sehingga keberadaan PMII selama ini bisa memberikan arti untuk kemajuan Indonesia," tegasnya. 

Sementara itu, Abdul Ghoni, Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur menegaskan, salah satu tugas penting kader PMII di kampus ialah membumikan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). 

"Sebagai Speaker of Nahdlatul Ulama (NU. Red.) di kalangan mahasiswa, membumikan Aswaja di kampus-kampus menjadi tugas kader PMII," ungkap pria kelahiran Madura tersebut. (bor/ahn)
Share:

Wednesday, September 25, 2019

Ngaji Aswaja, GP Ansor Palengaan Hadirkan Sekretaris Redaksi Pasti Aswaja

Pamekasan — Pasti Aswaja — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Palengaan, Selasa malam (24/09/2019), menggelar Ngaji Aswaja di Aula Pondok Pesantren (Pon. Pes.) Miftahul Ulum Sekar Anyar, Rombuh, Palengaan, Pamekasan.

Kegiatan bertema "Aswaja Ala NU di Era Milenial" itu merupakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) anggota baru GP Ansor Palengaan yang beberapa waktu lalu mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor Kecamatan Pamekasan.

Saat memberikan sambutan, KH. Afifurrahman selaku pengasuh pesantren setempat, mengapresiasi kegiatan tersebut. Alumni Pon. Pes. Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan itu merasa terhormat karena pesantren yang diasuhnya dipercaya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan itu.

"Sebagai pengasuh pesantren, saya merasa terhormat kedatangan tamu-tamu agung yang terhormat ini. Makanya, semampu saya, saya memberikan penghormatan meskipun ala kadarnya seperti ini," ucap pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Palengaan itu.

Ra Afif, sapaan akrabnya, berharap kegiatan serupa terus dilanjutkan.

"Apa lagi, sekarang ini NU dengan pahamnya di media sosial diserang habis-habisan oleh para pembenci NU. Makanya, kegiatan seperti ini perlu diteruskan untuk menguatkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah," lanjutnya.

Dalam acara yang juga diikuti oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Komisariat SMP dan SMA yang ada di pesantren tersebut, panitia menghadirkan Sekretaris Redaksi Pasti Aswaja, Muhammad Ahnu Idris, yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris di MWCNU setempat. (dur/uki)
Share:

Tuesday, September 24, 2019

Santai, Ketua PCNU Pamekasan Ajak Nahdliyin Nonton Film "The Santri"

Pamekasan — Pasti Aswaja — KH. Taufik Hasyim, Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan sikapi berbagai macam komentar netizen terkait film "The Santri" dengan santai. Bahkan, Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, itu mengajak seluruh warga NU atau Nahdliyin bersama-sama menonton film yang akan tayang pada Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 ini.

"Ayo, ramai-ramai nonton. Yang suka silakan nonton, yang tidak suka ya tidak usah nonton. Gitu aja kok repot," ungkapnya, Selasa (24/09/2019) di Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz no. 95 Jungcangcang, Pamekasan, Madura.

Terkait komentar penolakan dan boikot oleh netizen, mantan aktivis PMII ini mengimbau agar Nahdliyin tidak terpengaruh sedikitpun.

"Paling yang menolak itu orangnya ya itu-itu saja. KH. Ma'ruf Amin yang alim allamah saja mereka tolak. Jadi, tidak usah kaget, jika cuma film karya NU ini ditolak, karena semua yang berbau NU pasti mereka tolak," imbuhnya.

Lebih lanjut, Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur itu menjelaskan, di dalam struktural NU ada Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI NU) yang bergerak di bidang kesenian.

"Film itu kan bagian dari karya seni, jadi serahkan saja kepada LESBUMI NU. Lagipula, Film 'The Santri' ini kado untuk Hari Santri tahun ini (2019. Red.)," tangkasnya.

Film "The Santri" merupakan film yang dimotori PBNU, diproduseri Livi Zheng yang bekerja sama dengan NU Channel. (bor/ahn)
Share:

Sambut HSN, Pergunu Pamekasan Gelar Workshop

Pamekasan — Pasti Aswaja — Menyambut datangnya Hari Santri Nasional (HSN) 2019, Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Pamekasab menggelar Worshop Pembuatan Video Pembelajaran, Selasa (24/09/2019), di Aula Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan.

Kegiatan bertema "Guru Cerdas, Generasi Hebat" tersebut terlaksana berkat kerja sama antara PC Pergunu Pamekasan dengan Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan (BPMPTK) Jawa Timur.

Moh. Nor Kholis selaku Ketua Panitia mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk pengejawantahan semangat resolusi jihad. Kegiatan itu, imbuh Nor Kholis, juga merupakan bentuk manivestasi Pergunu sebagai salah satu Badan Otonom NU yang notabene santri.

"Kami menyampaikan banyak terima kasih atas partisipasi seluruh elemen yang telah turut serta mendelegasikan pengajarnya sebagai peserta dalam kegiatan ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh partisipan yang telah membantu suksesnya acara ini, utamanya Bapak Imam dan Bapak Heru yang datang langsung dari BPMTPK Jatim," pungkasnya.

Tampak hadir dalam acara pembukaan: Kankemenag Pamekasan yang diwakili Hannan, Kadis Pendidikan Pamekasan yang diwakili Moh. Sadikun, jajaran PCNU Pamekasan.

Berdasarkan data panitia, acara ini diikuti oleh 35 peserta yang didelegasikan oleh masing-masing Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pergunu se-Pamekasan, serta beberapa delegasi pondok pesantren. (ahn/uki)
Share:

Monday, September 23, 2019

Lawan Radikalisme, PMII Jatim Gandeng Kemenag

Sidoarjo — Pasti Aswaja — Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur (Jatim) melalui Bidang Keagaman sambangi Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur, Senin (23/09/2019) di Jl. Raya Bandara Juanda No.26, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur. 

Kedatangan organisasi kemahasiswaan yang identik dengan simbol bintang sembilan itu bertujuan membangun sinergi dalam melawan dan menangkal paham radikal di pesantren, madrasah dan masyarakat Jatim. Hal itu diungkapkan Beny Yusman, Ketua Bidang Keagamaan PKC PMII Jatim.

Menurutnya, masyarakat Jatim yang dikenal santun dan erat dengan persaudaraan harus dibentengi dari kelompok-kelompok pemecah-belah persatuan bangsa. 

"Hal itu bisa kita bangun melalui pendidikan madrasah, pesantren-pesantren dan leading sector yang bisa diajak bersinergi, seperti Kementerian Agama wilayah Jawa Timur ini," ungkap Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur tersebut.

Sementara itu, Mohammad Amin Mahfud, Plt. Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur didampingi Kabid PD. Pontren, Kabid Pendidikan Madrasah, Kabid PAIS dan Kasubag Hukum menyambut baik kedatangan PKC PMII Jatim. Pihaknya menyatakan siap membendung gerakan radikalisme bersama PMII.

"Masukan dari Sahabat-sahabat PMII dalam hal menangkal paham radikalisme di Jawa Timur ini sangat kami butuhkan. Ke depannya, kita bisa bersama dengan elemen lain untuk menjawab semua ini," terangnya.

Selanjutnya, hasil pertemuan bertajuk "Lawan Radikalisme" ini akan ditindaklanjuti oleh kedua pihak dalam beberapa hari ke depan. (bor/ahn)
Share:

Sunday, September 22, 2019

Gus Baha', Surah Al-Fatihah Perintahkan Supaya Bermazhab

Pamekasan — Pasti Aswaja — Tradisi bermazhab di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sering kali mendapatkan kritikan dari beberapa kelompol Islam sendiri. Mereka beralasan, tradisi bermazhab tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

KH. Bahauddin Nur Salim atau yang biasa dipanggil Gus Baha', mematahkan anggapan tersebut. Menurutnya, tradisi bermazhab dijelaskan oleh Allah dalam Alquran surah Al-Fatihah ayat enam sampai ayat tujuh, yakni: "Ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm, shirath al-ladzîna an'amta 'alayhim..." yang artinya: "Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat..."

Hal ini diungkapkan Gus Baha' dalam sebuah video yang diunggah oleh channel YouTube Kalam - Kajian Islam. Dalam keterengan video yang diunggah Rabu (18/092019) itu dijelaskan, Gus Baha' sedang menjadi pembicara acara Ngaji Kitab Karya KH. Hasyim Asy'ari Bersama PCINU Korea Selatan di Masjid Al-Mujahidin, Incheon, Korea Selatan.

Alumni Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, itu menjelaskan, kedua ayat tersebut mengisyaratkan, ketika seseorang hendak menuju keberan, maka ia harus mengikuti jalannya orang-orang yang telah dineri nikmat oleh Allah. Artinya, lanjut Gus Baha', ayat ini memerintahkan umat Islam supaya bermazhab.

"Artinya, harus bermazhab. Harus ada yang diikuti. Siapa yang harus diikuti? 'Orang yang telah Engkau beri nikmat'. 'Shirath al-ladzîna an'amta 'alayhim...' 'An'amta' itu fi'il madli (kata kerja lampau. Red.). (Artinya. Red.) 'Yang telah Engkau beri nikmat.' Jangan orang yang potensi dapat nikmat, ndak nyampe jelas. Hanya orang yang punya otoritatif bermazhab, orang yang pintar, yang saleh, yang bahkan ketika meninggal dalam keadaan husnulkhatimah, yaitu imam-imam kita imam Ahlussunnah wal Jama'ah," papar pakar tafsir Alquran itu.

Dalam surah Al-Fatihah itu, lanjut Gus Baha', Allah tidak menggunakan kalimat "Shirathaka" yang artinya "JalanMu", tapi Allah menggunakan kalimat "Shirath al-ladzîna". Mengikuti "al-ladzîna an'amta 'alayhim" sama halnya dengan mengikuti Allah.

"Sebab itu di Alquran ada ayat: 'Man yuthi'i al-rasul faqad atha'a Allah'. Yang taat pada Rasul pasti taat pada Allah. Bukam dibalik, taat pada Allah. Karena kita ndak tahu caranya taat pada Allah tanpa ada Rasul," tambahnya.

Selain itu, keharusan bermazhab, lanjut Gus Baha', karena teks yang tidak manshus atau di luar ketetapan eksplisit akan melahirkan sudut pandang yang berbeda dan akan melahirkan kesimpulan berbeda pula. (ahn/uki)
Share:

Saturday, September 21, 2019

Eks-Sekretaris GP Ansor Pimpin Sakoma Pamekasan

Pamekasan — Pasti Aswaja — Mantan Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Pamekasan, Hasan Al-Mandury, dipercaya memimpin Satuan Komunitas Pramuka Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif (Sakoma) NU Pamekasan.

Tidak hanya itu, dalam musyawarah tersebut juga dibentuk Panitia Pelaksana Perkemahan Penggalang Ma'rif (Pergama) NU ke-5 Tahun 2019.

Ra Hasan, sapaan akrabnya, terpilih melalui musyawarah yang digelar oleh PC LP Ma'arif NU Pamekasan di Aula PC Muslimat NU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95, Sabtu (21/09/2019). Dalam waktu 7x24 jam Ra Hasan juga diharuskan menyelesaikan susunan kepenguruasan yang akan menjadi mitranya dalam menjalankan program.

Ahmad Asir selaku Ketua LP Maarif Pamekasan menaruh hatapan besar kepada Ra Hasan beserta kepengurusan yang akan dibentuknya supaya dapat menjadi wadah pemantapan ideologi Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah, khususnya bagi para anggota Pramuka.

Ra Hasan sesaat usai dirinya terpilih memaparkan agenda prioritas yang akan dilaksanakan pasca pelantikan dirinya ialah Pergama yang akan dilaksanakan bulan November mendatang.

"Selain Pergama juga ada agenda yang tidak kalah pentingnya, yaitu melakukan pendataan lembaga pendidikan berbasis NU, bhakti sosial, melaksanakan KMD, dan latihan Pramuka gabungan lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Ma'arif NU," imbuhnya.

Selain dihadiri pengurus harian PC LP Ma'arif NU Pamekasan, musyawarah tersebut juga diikuti oleh perwakilan seluruh lembaga pendidikan di bawah koordinasi LP Ma'arif Pamekasan. (nal/ahn)
Share:

Kerjasama dengan Yastafiq, Kemenpora Sosialisasi Pantaw

Pamekasan — Pasti Aswaja — Yayasan Wakaf Taufiqus Shibyan (YASTAFIQ), Sabtu pagi (21/09/2019), menggelar Sosialisasi Pemuda Anti Tawuran (Pantaw) di Aula PCNU Kabupaten Pamekasan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda Kementrian Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia (Kemenpora RI) melalui Asisten Deputi Peningkatan Iptek dan Imtaq Pemuda Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda.

Akh Fakih selaku Ketua Yastafiq menyampaikan, kegiatan tersebut pertama kali digelar di Pulau Madura. Diharapkan, kegiatan yang digelarnya dapat mengantarkan para pemuda menjadi generasi emas di masa yang akan datang.

Nurhairiyah menuturkan, kegiatan itu bertujuan memberikan penyadaran dan pelajaran kepada para pemuda tentang efek tawuran, sehingga para pemuda bisa menghindari hal negatif dan dapat menjadi kader pembangunan, menciptkan kerukukan dan kedamaian.

Asisten Deputi Peningkatan Iptek dan Imtaq Pemuda Kemenpora RI itu melanjutkan, kegiata serupa juga digelar di enam titik berbeda di Indonesia, yakni: Lampung Utara, Kepulauan Anambas Kepulauan Riau, Makasar, Sambas, Kalimantan. "Dan alhamdulillah, kegiatan sosialisasi Pantaw dari Kemenpora ini bisa dilaksanakan di Kabupaten Pamekasan," imbuhnya.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Supadi selaku Kepala Bagian Perencanaan SDM dan Arsip Kemenpora RI. Turut hadir juga beberapa perwakilan Forkopimda: Dispora, Komisi 1 DPRD, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Pamekasan. (nal/ahn)
Share:

Friday, September 20, 2019

PMII Pamekasan Turun Jalan Tuntut Profesionalitas KPK

Pamekasan — Pasti Aswaja — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, Jumat (20/9/2019), menggelar aksi menuntut pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mundur. Pasalnya, pimpinan badan anti rasuah itu di nilai gagal memberantas korupsi serta banyak penanganan yang mangkrak.

Lian Fawahan selaku Ketua Umum PC PMII Pamekasan saat berorasi di hadapan mahasiswa dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat menyampaikan empat tuntutan massa yang dipimpinnya.

"Menuntut profesionalitas KPK supaya jangan tebang pilih dalam penanganan korupsi," katanya lantang.

Lian juga menuntut agar kasus-kasus korupsi yang mangkrak segera dituntaskan. Mahasiswa IAIN Madura ini juga menuntut KPK optimal dalam melakukan penanganan kasus korupsi.

"Usir taliban dari KPK," teriak Lian di akhir orasinya.

Dijelaskan, dalam UU No 30 tahun 2002 tentang KPK Pasal 5, KPK dalam menjalankan tugas dan wewenangnya harus berdasarkan pada kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, proporsionalitas.

Hal tersebut yang mendorong massa PMII melakukan aksi yang diawali dengan longmarch dari monumen arek lancor ke kantor DPRD kabupaten pamekasan itu.

Dalam kesempatan tersebut, beberapa anggota DPRD Pamekasan menemui mahasiswa, di antaranya Ismail, Sahur, Hamdi. Para perwakilan DPRD itu berjanji akan menyampaikan segala tuntutan yang disampaikan mahasiswa pada lembaga terkait.

“Kami menyambut baik segala tuntutan yang disampaikan oleh adik-adik mahasiswa. Silahkan berikan pada kami surat tuntutan itu dan nanti kami sampaikan,” ucap Ismail.

Diketahui aksi serupa juga digelar oleh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) dan seluruh Pengurus Cabang se-Indonesia. (nal/ahn)
Share:

Perbedaan Kiai Pesantren dan Kiai, Ustaz Dadakan Itu

Oleh: H Taufik Hasyim (Ketua PCNU Pamekasan)

1. Perbedaan dalam menjawab satu masalah
Kiai pesantren tidak memosisikan dirinya sebagai mujtahid dalam menyikapi setiap masalah umat, hingga mereka tidak sembarangan menjawab hukum dengan jawaban: "Haram, tidak boleh, kafir, sesat" dan lain-lain. Kiai pesantren selalu membandingkan pendapat dari beberpa ulama dab terkadang disertai dengan alasan, latar belakang maslah bahkan cara istidlal dari ulama tersebut. Beda dengan kiai, ustaz dadakan yang dalam menjawab masalah langsug menjwab "Haram, halal, tidak boleh", yang sudah mmosisikan dirinya seakan mujtahid.

2. Perbedaan dalam menganalisa pendapat ulama
Kiai pesantren khususnya NU, ada tradisi Bahtsul Masail. Dalam bahtsul masail ini, satu masalah membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibahas, dianalisa dan dirumuskan. Bisa jadi dalam satu kitab menimbulkan pamahaman berbeda dan mnimbulkan hukum berbeda pula. Bahkan satu qaul ulama bisa terjadi beberapa penafsiran. Maka, produk hukum dari bahtsul masail akan lebih komprehensif karen sudah melalui proses diskusi dan analisa dari berbagai dimensi. Hal ini berbeda dengan pendapat satu ulama yang hanya dibaca oleh satu orang. Maka jika pendapat ulama hanya dibaca satu orang tanpa didiskusikan dan tanpa dianalisa, hasilnya sangat bisa ditebak: "Ini haram, ini halal". Bahtsul masail sebelum keluar hukum "ini haram, ini halal", terlebih dahulu dikaji, dipadukan dengan pendapat ulama lain, lalu dicarikan dalil yang lebih kuat, dipakai kaidah fikih, dilacak ulama tersebut, lebih kredibel mana antara ulama yang berpndapat halal dan ulama yang berpndapat haram. Baru setelah perdebatan panjang, diserahkan kepada mushahih (kiai sepuh) untuk diputuskan hukumnya.

3. Perbedaan dalam pengambilan keputusan
Sering kali dalam forum bahtsul masail NU, terjadi perdebatan panjang yang tidak ada habisnya. Masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri dengan berbagai argumen dan logika. Mereka juga menjadikan pendapat ulama sebagai dasar bahkan hadis nabi juga mnjadi rujukan pengambilan pendapatnya. Nah, dalam kondisi seperti itu, di tengah hebatnya perdebatan yang melelahkan, kiai sepuh yang ditunjuk sebagai mushahih (biasanya jajaran Syuriah NU) keluar ruangan, mencari musala atau masjid. Di situ beliau berwudu lalu salat dua rakaat. Setelah salat, beliau bermunajat pada Allah. Beliau adukan pada Allah apa yang terjadi di forum bahtsul masail tersebut. Baru setelah fikiran tenang dan Ainul bashirah-nya mulai jernih, beliau kembali ke ruang bahtsul masail tadi. Lalu, beliau menyimpulkan dan memutuskan apa yang diperdebatkan tersebut dengan bahasa yang tenang, gaya bahasa yang sederhana, dengan sikap yang penuh tawadu, dan sikap penuh kehati-hatian yang obyektif penuh bijak sana. Beda dengan kiai, ustaz dadakan, yang dalam 10 menit bisa mnjawab 15 pertanyaan disesuaikan dengan kehendak nafsunya apalagi terkadang jawabannya penuh tendensi terhadap kondisi politik, hingga jawaban yang keluar dari kiai, ustaz tersebut sulit dibedakan, antara mana pendapat subjektif pribadi dengan pendapat ulama yang dijadikan rujukan.

So, kalau saya, lebih mengikuti pendapat kiai-kiai pesantren NU ketimbang mengikuti uataz-ustaz dadakan itu.

Wallahu a'lam
Share:

Monday, September 16, 2019

GP Ansor Sampang Ajak Masyarakat Lawan Narkoba

Sampang — Pasti Aswaja — Di antara empat kabupaten yang ada di Madura, Sampang merupakan kabupaten zona merah dalam hal peredaran Narkoba. Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu pihak kepolisian berhasil membongkar jaringan internasional pebisnis barang haram di kabupaten tersebut. Yang lebih miris, kalangan pemuda menjadi target operasi mereka.

Oleh karenanya, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor merasa memiliki kewajiban dalam menanggulangi dan mempersempit peredaran barang berbahaya itu demi keselamatan para pemuda agar memiliki masa depan yang lebih cerah.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh KH. Khioron Zaini selaku Ketua PC GP Ansor Sampang dalam acara Kongkow dan Penyuluhan Bahaya Narkoba oleh Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Karangpenang, Ahad (15/09/2019), di Pendopo Kecamatan Karangpenang, Sampang.

Menurutnya, kunci kesuksesan sebuah negara bergantung pada pemuda. Ketika pemuda di suatu negara berada di jalan yang lurus, istikamah, maka sepuluh sampai lima puluh tahun yang akan datang Indonesia akan jaya dan makmur. Tapi sebaliknya, jika pemuda rusak, hal ini menjadi ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Maka sebelum terlambat, kami GP Ansor Sampang ingin mengajak semua kalangan untuk memberi edukasi, pemahaman dan arahan supaya para pemuda tidak terjerumus terhadap bahaya barang terlarang itu," ungkap Gus Khoiron, sapaan akrabnya.

Sebagaimana diberitakan sebelunya, BAANAR PAC GP Ansor Karangpenang menggandeng Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Sampang dan Kepolisian Sektor (Polsek) setempat menggelar Kongkow dan Penyuluhan Bahaya Narkoba. Dalam kegiatan bertema "Sampang Bermartabat Tanpa Narkoba" itu panitia mengundang Lembaga dan Badan Otonom (Banom) di lingkungan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Karangpenang, Karang Taruna serta pelajar. (iis/ahn)
Share:

Sunday, September 15, 2019

BAANAR Karangpenang Gelar Kongkow dan Penyuluhan Bahaya Narkoba

Sampang — Pasti Aswaja — Menyikapi bahaya narkoba yang marak beredar di daerah Sampang pengurus Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemudan (GP) Ansor Karangpenang menggelar Kongkow dan Penyuluhan Bahaya Narkoba, Ahad (15/09/2019), di Pendopo Kecamatan Karangpenang, Sampang.

Ketua PAC GP Ansor Karangpenang, Ahyak, menyampaikan, kegiatan yang digelarnya merupakan hasil rapat koordinasi pengurus atas instruksi Ketua PC GP Ansor Sampang.

"Dengan adanya agenda kongkow ini diharapkan bisa membawa khidmat serta barokah ilmu pengentahuan, sehingga bisa membawa corong perubahan kepada seluruh lapisan pemuda di setiap daerah utamanya desa Karangpenang," ucapnya.

Suhaimi Baghdadi selaku Kepala BAANAR PC GP Ansor Sampang mengatakan, semua elemen masyarakat dan pemuda mempunyai kewajiban memberantas barang terlarang tersebut mengingat peredaran barang haram tersebut yang tidak hanya menyasar kalangan pemuda, tapi juga anak-anak. Kondisi ini, menurut Suhaimi, jika terus dibiarkan akan menjadi peluru kehancuran bagi generasi emas bangsa di masa mendatang.

"Pengaruh dan bahaya yang di akibatkan dari narkoba sangatlah besar bahkan sampai merenggut nyawa sehingga akan menghancurkan generasi emas bangsa" jelasnya.

Tidak hanya itu, ia juga menyampaikan komitmenya dalam memerangi Narkoba serta memberikan arahan dan edukasi kepada pemuda agar tidak terjerumus bahaya barang hara tersebut.

"Insyalah PC BAANAR Sampang akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk selalu mengadakan kegiatan penyuluhan dan seminar bahaya Narkoba. Ke depan kepengurusan akan masuk ke lembaga pesantren untuk melakukan penyuluhan bahaya narkoba," lanjutnya.

Tampak hadir dalam agenda itu KH. Khoiron Zaini selaku Ketua PC GP Ansor Sampang beberapa perwakilan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Sampang, anggota DPRD Sampang DAPIL V, Kapolsek Karangpenang, Kepala Desa Gunung Kesan, Sekretarus MWCNU Karangpenang, PAC Ansor se-Kecamatan Karangpenang, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Karang Taruna Perkasa Karangpenang Oloh, siswa lembaga pendidikan se-Kecamatan Karangpenang, PMII, serta beberapa komunitas dan organisasi pemuda lainnya. (iis/ahn)
Share:

Monday, September 9, 2019

PMII Pamekasan Tuding Kapolres Pro Khilafah

Pamekasan — Pasti Aswaja — Maraknya kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok yang terindikasi pengasong Khilafah Islamiyah atau kelompok trans-nasional di Pamekasan membuat Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC. PMII) setempat geram.

Pasalnya, Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan terkesan abai. Hal itu diungkapkan Lian Fawahan, Ketua Cabang PMII Pamekasan, saat ditemui pada kegiatan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) di Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Senin (09/09/2019) siang.

Menurutnya, keabaian Polres Pamekasan terhadap kegiatan kelompok trans-nasional menunjukkan adanya indikasi kuat Kapolres Pamekasan pro terhadap Khilafah.

"Hari Minggu kemarin ada acara di salah satu hotel di Pamekasan yang diisi oleh salah seorang tokoh yang terindikasi berpaham khilafah, dan itu dibiarkan oleh pihak kepolisian," ungkap Lian.

Lian menambakan, berkali-kali kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok trans-nasional pengasong khilafah juga dibiarkan begitu saja oleh Polres Pamekasan.

"Harusnya, Polres Pamekasan bisa memonitor segala bentuk kegiatan yang berbau khilafah, jangan dibiarkan begitu saja," pungkasnya.

Pasti Aswaja menghubungi Kapolres Pamekasan, Teguh Wibowo, namun belum merespon, hingga berita ini diturunkan. (bor/uki)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive