Friday, September 20, 2019

Perbedaan Kiai Pesantren dan Kiai, Ustaz Dadakan Itu

Perbedaan Kiai Pesantren dan Kiai, Ustaz Dadakan Itu

Baca Juga

Oleh: H Taufik Hasyim (Ketua PCNU Pamekasan)

1. Perbedaan dalam menjawab satu masalah
Kiai pesantren tidak memosisikan dirinya sebagai mujtahid dalam menyikapi setiap masalah umat, hingga mereka tidak sembarangan menjawab hukum dengan jawaban: "Haram, tidak boleh, kafir, sesat" dan lain-lain. Kiai pesantren selalu membandingkan pendapat dari beberpa ulama dab terkadang disertai dengan alasan, latar belakang maslah bahkan cara istidlal dari ulama tersebut. Beda dengan kiai, ustaz dadakan yang dalam menjawab masalah langsug menjwab "Haram, halal, tidak boleh", yang sudah mmosisikan dirinya seakan mujtahid.

2. Perbedaan dalam menganalisa pendapat ulama
Kiai pesantren khususnya NU, ada tradisi Bahtsul Masail. Dalam bahtsul masail ini, satu masalah membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibahas, dianalisa dan dirumuskan. Bisa jadi dalam satu kitab menimbulkan pamahaman berbeda dan mnimbulkan hukum berbeda pula. Bahkan satu qaul ulama bisa terjadi beberapa penafsiran. Maka, produk hukum dari bahtsul masail akan lebih komprehensif karen sudah melalui proses diskusi dan analisa dari berbagai dimensi. Hal ini berbeda dengan pendapat satu ulama yang hanya dibaca oleh satu orang. Maka jika pendapat ulama hanya dibaca satu orang tanpa didiskusikan dan tanpa dianalisa, hasilnya sangat bisa ditebak: "Ini haram, ini halal". Bahtsul masail sebelum keluar hukum "ini haram, ini halal", terlebih dahulu dikaji, dipadukan dengan pendapat ulama lain, lalu dicarikan dalil yang lebih kuat, dipakai kaidah fikih, dilacak ulama tersebut, lebih kredibel mana antara ulama yang berpndapat halal dan ulama yang berpndapat haram. Baru setelah perdebatan panjang, diserahkan kepada mushahih (kiai sepuh) untuk diputuskan hukumnya.

3. Perbedaan dalam pengambilan keputusan
Sering kali dalam forum bahtsul masail NU, terjadi perdebatan panjang yang tidak ada habisnya. Masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri dengan berbagai argumen dan logika. Mereka juga menjadikan pendapat ulama sebagai dasar bahkan hadis nabi juga mnjadi rujukan pengambilan pendapatnya. Nah, dalam kondisi seperti itu, di tengah hebatnya perdebatan yang melelahkan, kiai sepuh yang ditunjuk sebagai mushahih (biasanya jajaran Syuriah NU) keluar ruangan, mencari musala atau masjid. Di situ beliau berwudu lalu salat dua rakaat. Setelah salat, beliau bermunajat pada Allah. Beliau adukan pada Allah apa yang terjadi di forum bahtsul masail tersebut. Baru setelah fikiran tenang dan Ainul bashirah-nya mulai jernih, beliau kembali ke ruang bahtsul masail tadi. Lalu, beliau menyimpulkan dan memutuskan apa yang diperdebatkan tersebut dengan bahasa yang tenang, gaya bahasa yang sederhana, dengan sikap yang penuh tawadu, dan sikap penuh kehati-hatian yang obyektif penuh bijak sana. Beda dengan kiai, ustaz dadakan, yang dalam 10 menit bisa mnjawab 15 pertanyaan disesuaikan dengan kehendak nafsunya apalagi terkadang jawabannya penuh tendensi terhadap kondisi politik, hingga jawaban yang keluar dari kiai, ustaz tersebut sulit dibedakan, antara mana pendapat subjektif pribadi dengan pendapat ulama yang dijadikan rujukan.

So, kalau saya, lebih mengikuti pendapat kiai-kiai pesantren NU ketimbang mengikuti uataz-ustaz dadakan itu.

Wallahu a'lam
Share:

1 comment:

  1. Sangat bermanfaat, tetapi saya jadi timbul pertanyaan lagi siapakan ustadz dadakan itu? Mungkin bisa diberi contoh agar umat bisa berhati-hati dan tidak mengikutinya.

    ReplyDelete

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive