Monday, June 15, 2020

PCINU Malaysia Gelar Webinar Dampak Covid-19 Di Indonesia-Malaysia

PCINU Malaysia Gelar Webinar Dampak Covid-19 Di Indonesia-Malaysia

Baca Juga

Kuala Lumpur — Pasti Aswaja — Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Malaysia mengadakan web-seminar (Webinar) Internasional membahas dampak pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), Ahad (14/06/2020), via aplikasi Zoom.

Muhammad Abdullah Rois, Ketua Tanfidziyah PCINU Malaysia mengatakan, acara bertema “Dampak Covid-19 Terhadap Aktualisasi Keberagamaan di Indonesia dan Malaysia" tersebut merupakan webinar yang mengangkat topik Covid-19 pertama kali yang diadakan oleh PCINU Malaysia.

"Semoga hal ini akan memberikan manfaat kepada keberagamaan di Indonesia dan Malaysia, yang saat ini sedang sama-sama berjuang melawan wabah ini," harapnya.

Bertindak sebagai pembicara: Muhammad Ayman Al-Akiti, Ketua Lembaga Bathsul Masail Nahdlatul Ulama Malaysia (NA’AM); M. Mahbubi Ali, Rais Syuriah PCINU Malaysia; Rumadi Ahmad, Ketua Lakpesdam NU, dan Dosen UIN Jakarta; Yon Mahmudi, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia. Bertindak sebagai moderator, Muhammad Taufiq Ahaz, Wakil Ketua PCINU Malaysia, Dosen Fakultas Syariah IAIN Madura yang juga kandidat Ph.D Universitas Islam Internasional Malaysia.

Mahbubi Ali dalam penyampaiannya menjelaskan dampak Covid-19 berdasarkan sudut pandang maqashid al-syariah, terutama tentang perbandingan antara hifdz al-din (melindungi agama) dengan hifdz al-nafs (melindungi jiwa).

"Kehadiran Covid-19 memberikan peluang kepada kita untuk mempelajari kembali teks-teks dalam menghadapi wabah. Agama telah memberikan solusi dan jalan keluar, baik yang disampaikan oleh Alquran, hadis, maupun melalui kajian-kajian cendikiawan muslim," ujar peneliti di Research Fellow IAIS Selangor ini mengawali pembahasan, sebagaimana rilis yang diterima Pasti Aswaja.

Sedangkan Ayman memaparkan perbedaan definisi antara tha'un dan wabah. Ia memaparkan awal mewabahnya Covid-19 di Malaysia. Malaysia, menurutnya, termasuk negara yang lambat dalam merespon datangnya wabah ini. Baru ketika klaster baru dideteksi melalui pertemuan Jemaah Tabligh Dunia, negeri jiran mulai membatasi pergerakan rakyatnya agar penularan tidak meluas.

"Adanya klaster-klaster baru bermunculan, menyebabkan pemerintah mengambil langkah berjaga-jaga. Salah satu contohnya adalah penutupan masjid oleh uli al-amri atas nasehat mufti untuk menghindari klaster-klster baru terbentuk," imbuh dosen Universitas Islam Internasional Malaysia itu.

Pembicara selanjutnya, Rumadi Ahmad, melihat keberadaan Covid-19 ini perspektif paradigma agama dan sains, baik paradigma independen, pendukung, integrasi, dan paradigma dialisis.

"Di Indonesia dalam minggu terakhir ini, terjadi perdebatan saling menundukkan antara pro agama dan pro sains. Semestinya agama dan sains saling mengintegrasikan dalam menghadapi wabah ini, sains ada keterbatasan dan agama juga begitu. Mau tidak mau, akhirnya manusia harus mengadaptasikan kebiasaan baru, termasuk di dalamnya hal ibadah, seperti jarak shaf dalam salat," jelas Staf Ahli Kepresidenan itu.

Pernyataan Rumadi Ahmad di atas, ditimpali oleh Yon Mahmudi. Kaprodi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia ini mengatakan, agama dan pengetahuan harus adaptif, fleksibel terhadap adanya perubahan.

"Menjauhi wabah jauh lebih baik, untuk menghindari penyebaran yang lebih besar. Kita perlu jaga diri dan keluarga. Di saat kita begitu perhatian dengan kehidupan akhirat, maka semestinya juga kita harus memberikan perhatian yang sama kepada kehidupan dunia," ujarnya menutup pemaparanya dalam giat tersebut.

Webinar yang diikuti sekira 200 orang ini, memakan waktu sekitar tiga jam. Kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Mustasyar PCINU Malaysia, KH. Liling Sibromilisi. (bor/ahn)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts

Blog Archive