Tuesday, July 21, 2020

Ketum PBNU, Ramalan Joyoboyo Berasal dari Kitab "al-Asrar"

Ketum PBNU, Ramalan Joyoboyo Berasal dari Kitab "al-Asrar"

Baca Juga

Pamekasan - Pasti Aswaja - Tidak sedikit warga negara Indonesia, khususnya di Jawa, yang memercayai ramalan Raja Jayabaya atau Joyoboyo, yaitu sebuah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa pada masa datang. Meski demikian, sedikit masyarakat yang mengetahui sumber pengetahuan yang diperoleh oleh raja Kediri tersebut.

Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj menyampaikan, pengetahuan Raja Joyoboyo itu diperoleh dari sebuah kitab berjudul "al-Asrar" yang berarti Rahasia. Kitab ini dibawa oleh Syekh Wasil, utusan raja Persia ke tanah Jawa.

"(Kitab ini, Red.) Diajarkan kepada sahabatnya Raja Joyoboyo, Dhoho, Kediri. Diterjemahkan, jadilah 'Ramalan Joyoboyo'. Padahal itu kitab Arab aslinya 'Kitab al-Asrar', kitab 'Rahasia' yang dinawa Syekh Wasil," papar Guru Besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya itu.

Sebelum itu, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Krapyak, Yogyakarta itu menceritakan tentang kedatangan penyebar agama Islam yang berdakwah di tanah Jawa sebelum wali sembilan.

"Pertama kali seorang ulama datang ke sini bernama Syekh Ahmad Subakir. Itu dari Persi. Karena orang pedagang Persi kalau datang ke Jawa, (datang, Red.) lima puluh mati dua puluh; berangkat seratus, mati tiga puluh. Maka raja sana perintah ulama Ahmad Subakir," tutur ayah empat orang anak itu.

Raja Persia, lanjut Kiai Said, kemudian memerintahkan Syekh Subakir agar mencari informasi tentang penyebab kematian para pedagang. Hasil penelusuran Syekh Subakir, menurut Kiai Said, lantaran di tanah Jawa waktu itu dihuni oleh banyak makhluk halus yang biasa mengganggu manusia.

"Banyak dedemitnya, banyak setannya, banyak makhluk jahat. Maka, oleh Syekh Ahmad Subakir makhluk-makhluk halus itu dirantai, dibuang ke Laut Selatan. Ada dua makhluk halus yang tidak nakal, tidak mengganggu Islam, tidak mau masuk Islam, tapi tidak ganggu Islam. Namanya Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog," kisahnya.

Kisah ini disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah DKI Jakarta itu dalam sebuah forum bertajuk "Dakwah Digital dan Komitmen Keindonesiaan Bersama Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dan Setyanto Hantoro" yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube NU Channel, Selasa sore (21/07/2020). (bor/nal)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts