Tuesday, July 7, 2020

NU tetap Setia pada Pancasila

NU tetap Setia pada Pancasila

Baca Juga

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

Sudah mafhum, bahwa dalam mengawal Pancasila Nahdlatul Ulama (NU) tidak perlu diragukan. Dalam yel-yel saja, yang sering dikumandangkan dalam setiap momen kegiatan ke-NU-an salah satunya adalah "Pancasila jaya!" Secara harfiah jaya dimaknai sukses atau bisa dimaknai hebat. Dalam hal ini sudah diketahui bersama bahwa selama ini Pancasila sudah sukses menjadi ideologi Indonesia dan tetap menjadi pemersatu anak bangsa. Demikian bentuk apresiasi yang sering kami lakukan terhadap adanya Pancasila.

Hal seperti itu akan senantiasa kami hembuskan untuk memengaruhi alam bawah sadar generasi bangsa. Karena sampai kapanpun negara majemuk seperti Indonesia ini tetap membutuhkan Pancasila sebagai perekat keberagaman suku, ras, agama dan lainnya. Yang jelas bukan khilafah, karena khilafah tidak mengenal keberagaman agama meski mungkin mengenal keberagaman lainnya.

Jauh sebelum banyak orang menghembuskan tentang pentingnya menjaga Pancasila, NU sudah berada pada tataran praktis dalam menjaga Pancasila bukan hanya wacana. Ateisme salah satu paham yang diusung oleh banyak negara komunis—yang konon kabarnya sempat menjadi partai di Indonesia—sudah jelas sekali dalam sejarahnya pernah baku hantam dengan NU. Dalam tragedi itu banyak ulama-ulama kita yang wafat akibat propaganda dan aksi anarkistis PKI. Alhasil, akhirnya PKI dibubarkan di Indonesia melalui Tap. MPRS 1966.

Kenapa ateisme harus diperangi? Karena jelas yang namanya ateisme berseberangan dengan Pancasila yang pada sila pertama berisi, "Ketuhanan yang Maha Esa". Selain itu, negara kita adalah negara agama. Jika ateisme dibiarkan hidup di Indonesia lambat laun negara kita akan menjadi sekuler. Sekularisme ini akan mencabut agama dan kebudayaan yang ada di Indonesia sampai ke akar-akarnya. Yang akhirnya bangsa kita akan kehilangan ruhnya dan akan berisi ruh bangsa lain.

Dalam kasus RUU HIP, gerakan diplomatis banyak dilakukan oleh banyak pihak. Menurut hemat saya gerakan yang dilakukan oleh pihak tersebut adalah bentuk kepedulian kepada Pancasila. Gerakan yang dilakukan oleh pihak-pihak itu mengindikasikan pengaruh dan kekuatannya untuk memengaruhi kebijakan negara. Bagi NU untuk mengintervensi kebijakan negara tidak perlu turun jalan, cukup dengan maklumat. Pasca maklumat, ketua MPR langsung silaturahmi kepada PBNU. Itulah, NU.

Dalam kacamata NU, kalau bisa dengan maklumat, ngapain harus turun jalan. Kalau bisa hanya dengan satu lembar kertas, buat apa meluangkan banyak waktu turun jalan peras keringat dan mengeluarkan banyak materi. Yang paling penting dari sebuah gerakan adalah efek atau dampak yang akan ditimbulkan oleh sebuah kebijakan. Dan yakin bahwa maklumat adalah jalan yang lebih baik daripada turun jalan. Catatan: kasus ini hanya untuk soal RUU HIP bukan lainnya. Sebab kalau menyangkut ideologi bangsa memang penting perannya organisasi besar seperti NU.

Dan hikmah dari munculnya RUU HIP adalah banyak orang yang dari dulu membentur Pancasila kini berbalik mendukung Pancasila. Harus dong, kalau tidak ingin negara kita menjadi sekuler. Bukankah masih lebih baik Pancasila daripada sekuler. Pancasila punya Tuhan sementara sekuler akan menyeret manusia-manusia Indonesia sejauh-jauhnya dari Tuhannya. Akhirnya, maksiat akan ada di mana-mana, karena memang manusia-manusia Indonesia masih belum siap. Sebab, iman saja harus dijaga oleh negara dengan menggunakan Peraturan Perundang-undangan.

Wallahu alam.

Pamekasan, 07 Juli 2020
*Sekretaris Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Pamekasan
Share:

0 comments:

Post a Comment

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts