Thursday, August 27, 2020

Sebut Amaliah Kiai-kiai Palengaan Tak Berdalil, Gasper Kecam Andi Octavian Latief


Pamekasan - Pasti Aswaja -
Pernyataan mantan juara dunia olimpiade fisika, Andi Octavian Latief, dalam sebuah video viral yang menyebutkan kiai-kiai di Kecamatan Palengaan, Pamekasan mengamalkan amaliah tradisional tanpa didasari dalil-dalil dan mempraktekan amaliah yang aneh-anehndikecaman oleh Abdul Wafi, anggota Gerakan Santri dan Pemuda Rahmatan Lil Alamin (Gasper) Madura Bidang Kajian Keagamaan.

Pernyataan Andi yang tak lain juga berasal dari Palengaan itu, menurut Wafi, melukai hati santri, alumni-alumni pesantren Kecamatan Palengaan dan guru-gurunya.

Tidak hanya itu, kepada Pasti Aswaja Wafi menyebutkan, pernyataan Andi juga membuat resah masyarakat Palengaan yang sejak dulu hidup rukun, tenang, damai dan nyaman dalam menjalankan ajaran agama.

"Dulu kami sangat bangga kepadanya, karena prestasi dan pencapaian yang luar biasa. Namun, kali ini situasinya sudah berbeda. Dia mulai berani menyalahkan amaliah masyarakat yang sesuai dengan dalil yang dipelajari di madrasah dan pesantren, sebagaimana ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Itu sikap yang tidak berakhlak," jelas Wafi, sapaan akrabnya.

Wafi memaparkan, pernyataan Andi lainnya yang menyinggung perasaan santri dan alumni pesantren ialah, kebiasaan masyarakat pada Jumat legi (manis. Madura) dan meyakini sesuatu yang tidak ilmiah merupakan syirik ashghar.

Kontrobersial


"Itu pernyataan orang yang tidak mengerti agama dan menunjukkan kalau dirinya bodoh. Padahal, tidak semua yang ada di dalam agama ini bisa diilmiahkan (ta'abbudi.red), seperti siksa kubur, doa dan sedekah untuk mayat, serta hari kiamat. Itu tidak bisa diilmiahkan, tapi ada dalilnya," paparnya.

Wafi menyarankan, agar Andi fokus pada aktifitasnya dan berbicara sesuai dengan kapasitas yang ia miliki.

"Kalau mau berbicara soal agama, belajar dulu tentang agama yang baik dan benar. Ngaji tafsir, fikih, balaghah dan kitab-kitab lain yang ada di pesantren, bukan belajar dari internet. Sebaiknya, kalau memang dia basicnya ahli fisika, tidak perlu bicara soal agama," jelasnya.

Wafi menegaskan, jika Andi tetap menyalahkan dan mengusik amaliah masyarakat, maka pihaknya akan melakukan gerakan penolakan dan turun langsung bersama masyarakat. (bor)

Share:

PAC IPNU-IPPNU Palengaan 2020-2022 Resmi Dilantik


Pamekasan - Pasti Aswaja -
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama - Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Palengaan periode 2020-2022 resmi dilantik, Kamis pagi (27/08/2020) di Aula Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur. Ikrar baiat kepengurusan PAC IPNU dipandu langsung oleh Badrud Tamam, Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Pamekasan dan Kepengurusan PAC IPPNU Fathiyatul Jannah, Ketua PC IPPNU Pamekasan.

Usai dilantik, Ahmad Ghufron, Ketua PAC IPNU dalam sambutannya menyampaikan, pihaknya bersama kepengurusan IPNU dan IPPNU berkomitmen menerima arahan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Palengaan dan bersinergi dengan Badan Otonom (Banom) lainnya.

"Kami mohon doa restu dan bimbingan dari para masyayikh, serta senioritas IPNU-IPPNU, sehingga tujuan-tujuan kami dalam menjalankan tugas organisasi bisa terlaksana secara maksimal," pintanya. 

Sementara itu, K. Mukhlis Natsir, Ketua MWCNU Palengaan mengimbau, agar IPNU dan IPPNU Palengaan bisa memberikan corak dan warna baru, sehingga bisa memaksimalkan sinergitas dengan organisasi lintas pemuda lainnya.

"NU-kan semua lembaga pendidikan di Kecamatan Palengaan. Hijaukan lembaga-lembaga dan berikan pemahaman keagamaan yang santun dan sesuai ala thariqati Ahlussunnah Wal Jamaah," tegas alumni PMII Surabaya itu.

Hadir pada kesempatan itu, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom dan elemen Banom MWCNU Palengaan. (bor)

Share:

Saturday, August 22, 2020

Mustasyar PWNU Jawa Timur Berbelasungkawa Wakil Rais Syuriah PCNU Pamekasan Mangkat

Pamekasan - Pasti Aswaja -
Kepergian Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, KH. Moh. Lutfi Ishaq, menyisakan duka yang sangat mendalam bagi KH. Moh. Muddatstsir Badruddin, Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Dalam rilis yang diterima Pasti Aswaja, Sabtu pagi (22/08/20), Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Miftahul Ulum Panyeppen, Potoan Laok, Palengaan, Pamekasan, itu mengaku sangat bersedih dan terkejut mendengar berita kepergian almarhum. 

"Atas nama saya pribadi sekeluarga dan atas nama keluarga besar PP Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, beserta segenap jajaran pengurus Yayasan Al-Miftah, merasakan kesedihan hati yang sangat mendalam atas wafatnya KH. Moh. Lutfi Ishaq," tulis besan KH. Miftahul Achyar, Rais 'Aam PBNU itu. 

Selain dikenal sebagai Pengasuh di PP Panjalin, Akkor, Palengaan, dan Wakil Rais Syuriyah di PCNU Pamekasan, almarhum juga merupakan pembantu khusus di keluarga besar PP Miftahul Ulum Panyeppen. 

Kiai Muddatstsir mendoakan almarhum agar arwahnya diterima di sisi Allah dengan penuh rahmat dan dapat merasakan kebahagiaan sebagai syahid fi al-akhirah. 

Tidak hanya itu, Kiai Muddatstsir juga mendoakan keluarga almarhum dan pesantren yang ditinggalkan. 

"Semoga keluarga yang ditinggalkan beserta keluarga besar pondok pesantren tersebut diberi tambahan rahmat, taufik dan inayah Allah SWT, penuh sabar, tabah dan tawakal, sehingga memperoleh pahala yang besar,"pungkasnya. 

Sebagai informasi, KH. Moh. Lutfi Ishaq mengembuskan nafas terakhirnya, Kamis malam (20/08/20). (bor/ahn)
Share:

Tuesday, August 4, 2020

Mualaf Asal NTT Bahagia Dibimbing Mustasyar PWNU Jawa Timur

Pamekasan - Pasti Aswaja - Seorang mualaf asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Alosius Kadi Malo, mengaku bahagia dirinya dibimbing oleh Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang juga pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Palengaan, Pamekasan, KH. Moh. Muddatstsir Badruddin.

Pria 30 tahun itu menuturkan, dirinya mengenal Islam sejak tahun 2018 silam. Ia mengaku hatinya tersentuh melihat ketenangan umat Islam saat melaksanakan salat. Ketika itu pula, ia bertemu Iwan, mantan Kepala Desa Blumbungan Pamekasan. Kepada Iwan, Alosius mengutarakan niatnya memeluk agama Islam. Iwan pun membimbing Alosius membaca dua kalimat syahadat.

Ketika di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas 2 Pamekasan, Alosius bertemu Ustaz Fathorrohman dan dibimbing membaca dua kalimat syahadat disaksikan oleh Junaidi (Kepala Desa Blumbungan), Muhammad Saleh (Pegawai Lapas), Kris (Dokter Lapas).

"Kemudian saya sungguh merasa bahagia bahwa saat ini saya dikukuhkan dan dibimbing ulang oleh RKH. Moh. Muddatstsir Badruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Pembina Yayasan Al-Miftah dan Mustasyar PWNU Jawa Timur," ucapnya, Selasa malam (04/08/2020).

Dilaksanakan di Masjid Jami’ An-Nashor kompleks Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, pengukuhan tersebut disaksikan oleh para kiai, ustaz, dan para santri. Hadir juga Ketua Majelis Ulama Indinesia (MUI) Pamekasan, KH. Ali Rahbini Abd. Latif, dan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Pamekasan, Fandi, serta Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Palengaan, mewakili Kepala Kepolisian Resor Pamekasan.

Sebagaimana tradisi umat Islam, usai mengikrarkan kalimat syahadat, pria yang tinggal di Jl. Jokotole Pamekasan itu mendapatkan nama baru, yakni Mohammad Sulaiman Malo. (bor/ahn)
Share:

Ekspresikan Cinta Lingkungan, PMII Pamekasan Adakan 'Rokat Tana'

Pamekasan - Pasti Aswaja - Sebagai ungkapan kecintaan terhadap lingkungan dan keprihatinan atas pengrusakannya, Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan menggelar doa bersama yang dikemas dengan 'Rokat Tana', Senin sore (03/08/2020), di Desa Larangan Badung, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur.

Kegiatan yang dilaksanakan di kediaman Lutfi, Ketua Cabang PMII Pamekasan tersebut disambut antusias seluruh anggota dan Kader PMII, serta masyarakat sekitar yang merasakan dampak keberadaan Galian-C Ilegal.

"Ini merupakan ungkapan kecintaan kami bersama masyarakat di Kabupaten Pamekasan terhadap lingkungan hidup, sekaligus upaya menghidupkan kembali tradisi 'Rokat Tana' yang sudah turun-temurun," ungkap Lutfi.

Lebih lanjut, Lutfi mengatakan, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk merespon krisis ekologi tanah di Kabupaten Pamekasan yang berakibat maraknya tambang batuan ilegal yang dapat merusak lingkungan hidup.

"Karena dalam kajian agraria antropologis, tanah meupakan tempat bertemunya segala kehidupan, sehingga kegiatan 'Rokat Tana' menjadi upaya tanding terhadap pengrusakan lingkungan hidup," jelasnya.

Hadir pada kesempatan itu, Raden Panji Ahmad Wazirul Jihad, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Pamekasan, yang memimpin ritual keagamaan khas tradisi rokat, dilanjutkan dengan sarasehan 'Rokat Tana'. (nal/bor)
Share:

Home Style

Contact Form

Name

Email *

Message *

Quotes

Quotes

Latest News

Popular Posts